
"Bagaimana sekarang Vizgraf?" Tanya salah satu anggota batalion Toni. Sudah dua hari sejak kepergian Toni dan Red Ascend untuk memeriksa kondisi tempat kemunculan Dungeon. Namun sampai detik ini, tidak ada kabar sama sekali dari kedua sejoli tersebut. Bahkan kedua player tersebut tidak bisa dihubungi melalui panggilan sistem yang ada.
"Mau bagaimana lagi? Kita hanya bisa menunggu..." Vizgraf menghela nafas panjang, yang mengetahui lokasi kemunculan Dungeon tersebut hanya Toni seorang. Jika dirinya memimpin batalion untuk menyusul pun juga percuma.
"Hah... Jangan jangan mereka berdua sedang berbulan madu..." Celetuk anggota yang lainnya.
Bukan suatu rahasia jika Toni dan Red Ascend memiliki suatu hubungan yang khusus. Setiap anggota Light Guardian tahu, jika gadis cantik berambut merah yang dipanggil Red Ascend tersebut adalah kekasih Toni. Membuat semua anggota Light Guardian menyerah untuk mendapatkan hati elementalist api tersebut. Mereka tentu sadar diri, tidak mungkin bisa menang jika bersaing dengan Toni dalam hal merebut hati wanita. Sudah kuat, kaya, wajah di atas rata-rata.
"Kalian masih disini?" Tara tiba tiba memasuki ruangan yang dijadikan tempat peristirahatan anggota Light Guardian.
"Nona Tara..." Salam Vizgraf yang melihat kedatangan Tara. Selama tidak ada Toni dan Red Ascend dirinya lah yang mengambil alih komando kepemimpinan, meskipun dirinya tidak ingin, tapi mau bagaimana lagi? Dirinya lah player terkuat di batalion Toni saat ini.
"Aku kira kalian sudah berangkat..." Jawab Tara tanpa membalas sikap hormat yang ditunjukkan oleh Vizgraf, tidak ada yang perlu dirinya hormati selain Toni yang menjadi Kapten Light Guardian. Bahkan jika orang tersebut memberi hormat kepadanya, dirinya yang seorang biarawan di Kuil Cahaya, tentu memiliki derajat yang lebih tinggi daripada seorang anggota Light Guardian biasa.
"Ya... Kami masih menunggu perintah dari Toni. Beliau masih memeriksa kondisi di tempat kejadian." Jawab Vizgraf, acuh pada sikap Tara yang terkesan angkuh.
"Hem... Kenapa lama sekali? Seharusnya mereka sudah kembali saat ini..." Tara memegang dagunya, lokasi yang di datangi Toni dan Red Ascend memang cukup jauh. Namun dua hari seharusnya sudah lebih dari cukup bagi mereka berdua untuk kembali ke Kuil Cahaya.
"Apa mungkin terjadi sesuatu?" Vizgraf mulai mempertanyakan suatu kemungkinan yang lainnya.
"Untuk hal semacam itu... Aku kira kamu tidak perlu memikirkannya. Sangat jarang ada orang yang bisa menandingi kekuatan seorang Kapten Light Guardian di Kerajaan ini." Tara langsung menyanggah pemikiran Vizgraf akan adanya bahaya yang menimpa Toni dam Red Ascend.
"Anda benar Nona Tara..." Vizgraf membenarkan perkataan Tara. Meskipun dirinya khawatir, akan tetapi apa yang disampaikan oleh Tara memang benar adanya. Toni dan Red Ascend sangatlah kuat, lebih dari 3 item epic tersemat di tubuh mereka. Apalagi senjata yang dipakai oleh Toni adalah senjata legendary item. Tentu sangat sedikit jumlahnya player yang bisa mengimbangi kekuatan mereka berdua.
"Kamu tidak usah mengkhawatirkan keselamatan mereka berdua. Lebih baik kalian membantuku mengurus sesuatu hal..." Tara menyampaikan maksud sebenarnya dirinya datang ke tempat peristirahatan Light Guardian.
"Tentu Nona Tara... Jika ada yang bisa kami bantu... Akan kami bantu..."
"Kalian tahu jika di Kerajaan ini perkembangan Kuil Cahaya sedikit terhambat oleh adanya sebuah kepercayaan Satanisme. Aku minta bantuan kepada kalian untuk membantu Kuil Cahaya melenyapkan aliran sesat tersebut."
"Itu..." Vizgraf sedikit ragu untuk menjawab permintaan dari Tara. Melenyapkan aliran Satanisme bisa berarti membunuh para NPC yang tidak sepaham dengan Kuil Cahaya. Merupakan sebuah keputusan besar jika dirinya setuju untuk menerima permintaan dari Tara. Mengingat tugas utama yang diberikan oleh Poska adalah memeriksa akan kemunculan suatu Dungeon yang baru, bukan untuk melenyapkan ajaran sesat bernama Satanisme.
"Apa kalian keberatan? Bukankah Light Guardian dibentuk untuk mendukung Kuil Cahaya?" Tara langsung memasang raut wajah ketidaksukaannya. Mempertanyakan kesetiaan para pasukan Light Guardian yang ada di bawah komando Toni.
"Tidak Nona Tara... Hanya saja untuk keputusan besar seperti itu, haruslah Kapten kami yang memutuskan." Buru buru Vizgraf menjawab, sebelum Tara mengambil kesimpulan lainnya.
"Toni pun tentu akan langsung setuju jika dia ada di sini." Tara tidak kalah cepat menjawab. Tidak ingin momentum pemaksaan yang dirinya dapatkan hilang begitu saja.
Vizgraf terdiam sejenak. Dirinya melihat ke arah semua anggota Light Guardian lainnya. Dan semua anggota Light Guardian yang ada di tempat tersebut hanya memberi tanda menggunakan mata mereka. Tanda jika semua keputusan ada di tangan Vizgraf.
"Semoga semua akan baik baik saja..." Batin Vizgraf, sedikit ragu dengan keputusan yang dirinya buat. "Baiklah Nona Tara... Tapi jika Toni sudah kembali dan dia ingin kami menghentikan apa yang kami lakukan... Kami akan menuruti Toni, bukan Anda..."
__ADS_1
"Tentu saja... Lagipula dia pasti akan bangga, memiliki satu pasukan yang begitu bersemangat seperti kalian." Jawab Tara dengan senyum khasnya.
"Persiapkan diri kalian terlebih dahulu. Akan aku jelaskan nanti mengenai tugas kalian." Tara segera meninggalkan ruangan tempat peristirahatan anggota Light Guardian.
"Apa kamu yakin ini akan baik baik saja Vizgraf?" Bisik salah satu anggota Light Guardian setelah melihat Tara pergi.
"Entahlah... Semoga saja semua akan baik baik saja..." Timpal Vizgraf.
###
"Alan...." Sapa Andre dengan hangatnya begitu melihat kedatangan Alan bersama Toni. Sudah setahun lebih Andre tidak melihat Alan datang ke dojo. Rasa bahagia tentu menyelimuti hatinya, melihat salah satu murid didikan kesayangannya tersebut kembali sembuh.
"Bagaimana? Siap untuk berlatih?" Goda Andre sembari memberikan pukulan ringan ke arah bahu kanan Alan.
"Aaawww..." Rintih Alan secara refleks.
"Ah... Maaf... Maaf... Aku hanya bercanda..." Andre baru menyadari jika tubuh Alan masih lah belum pulih sepenuhnya. Untung saja tadi dirinya tidak terlalu keras memukul Alan, jika saja pukulannya dipenuhi tenaga. Bisa bisa bahu Alan langsung patah.
"Mungkin lain kali Pak Andre... Saya hanya datang untuk berkunjung... Sudah lama kita tidak bertemu kan?" Alan mencoba mencairkan suasana yang sempat canggung karena kesalahan Andre.
"Ya... Sembuhkan dulu tubuhmu... Aku siap menjadi partner latih tandingmu kapan saja kamu mau..." Goda Andre sekali lagi sembari mengajak Alan dan Toni untuk masuk ke dalam ruang tamu.
"Tidak perlu repot Pak Andre..."
"Sudah... Anggap saja rumah sendiri..." Andre masuk ke dalam untuk mencari May. Dirinya bisa menebak jika kedatangan kedua pemuda tersebut untuk mencari May, bukan dirinya.
Beberapa hari dirinya bisa melihat akan adanya perubahan sikap dari May. Ditambah lagi raut wajah Toni yang nampak begitu murung, dirinya tahu jika telah terjadi sesuatu yang tidak diinginkan antara Toni dan May.
Memang secara personal Andre belum merestui hubungan mereka berdua, namun dirinya juga tidak keberatan jika anaknya menjalin asmara dengan anak bungsu Keluarga Wellington tersebut.
Dirinya masih menunggu apakah Toni benar benar serius dengan May atau tidak. Lagipula... Bayangan sindiran orang jika dirinya memanfaatkan status Keluarga Wellington masih menjadi momok terbesar dalam pikirannya.
May pun datang membawakan dua gelas jus jeruk. Tidak ada sapaan ataupun tatapan yang ditunjukkan May pada kedua tamunya tersebut.
"Silahkan diminum..." May mempersilahkan, dirinya mulai melangkahkan kaki untuk kembali ke dalam.
"May..." Panggil Toni dengan tatapan sayunya. Dirinya tidak kuasa melihat raut wajah May yang nampak begitu tertekan.
Langkah kaki May pun terhenti. Namun dirinya tidak berbalik, keengganan menyelimuti dirinya. Tidak tahu apa yang harus dirinya lakukan maupun katakan kepada Toni. Semua hal telah berubah setelah penolakan dirinya akan lamaran Toni.
"Ehem... Aku akan menemui Pak Andre dulu... Kamu duduklah dulu May... Temani Toni... Kasihan jika dia aku tinggal sendiri di sini." Alan tahu bagaimana mengambil sikap. Yang akan disampaikan oleh Toni kepada May adalah hubungan personal, sangat tidak sopan bagi dirinya jika dia ikut membaur di ruang tamu tersebut.
__ADS_1
"Apa ada yang Anda inginkan Tuan Wellington?" May tidak tahu harus bersikap bagaimana... Haruslah dirinya tetap bersikap normal atau menghormati status Toni. Di tengah kebingungan, menghormati status Toni adalah pilihan terbijak. Dirinya tidak cukup percaya diri jika Toni datang kesini untuk memperjuangkan cintanya.
"Apa kamu bisa bersikap seperti biasanya May? Aku tetaplah Toni... Kekasihmu May..." Jawab Toni dengan sedikit geram, mendengar May memanggil dirinya menggunakan nama keluarganya.
"Ahh..." May tidak bisa berkata kata. Dirinya hanya bisa mendudukkan diri di salah satu kursi yang ada di ruang tamu tersebut.
"May... Apa ada yang ingin kamu jelaskan? Aku pasti akan selalu mendengarkan semua penjelasanmu May..." Toni mendekatkan diri pada kursi yang diduduki May. Mencoba untuk menggenggam tangan May yang masih membawa nampan.
"Tidak ada Ton... Semua sudah berakhir Ton..." May menjawab perlahan, pandangannya hanya menunduk, tidak berani menatap wajah Toni di dekatnya.
"Tapu kenapa May? Semua baik baik saja sebelum aku melamarmu... Jika kamu memang belum siap... Cukup katakan kalau kamu belum siap... Tidak perlu sampai seperti ini May..." Genggaman tangan Toni sedikit menguat pada tangan May. Apa yang disampaikan oleh Toni benar benar penuh emosional.
"Aku bukannya belum siap Ton... Tapi aku tidak mungkin untuk bisa siap. Aku sadar siapa diriku ini Ton..." Air mata tak kuasa menetes di pipi May.
"Apa maksudmu May?"
"Aku tidak pantas untuk dirimu Ton... Kamu berhak untuk mendapatkan yang lebih dari diriku." May bangkit dari duduknya dan mulai melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam. Dirinya sudah tidak kuat jika harus tetap berada di samping Toni. Lama kelamaan, dirinya pasti akan luluh jika terus berada di dekat Toni.
"Jika ini semua karena status keluargaku... Maka aku rela melepaskannya demi kamu May..." Teriak Toni mencegah May berjalan lebih jauh ke dalam.
Deg...
Jantung May serasa berhenti sejenak mendengar apa yang Toni katakan. Tidak percaya jika Toni rela melepas status keluarganya hanya demi dirinya.
"Jadi benar? Ini semua karena keluargaku? Jika mereka memang menghalangiku untuk mencintai dirimu, maka aku rela melepaskan semua yang aku punya demi dirimu May..." Melihat apa yang May tunjukkan, Toni bisa membuat kesimpulan tentang pikiran yang menjadi penghalang May menerima lamarannya.
May tidak bisa berkata apa apa lagi. Bibirnya terkunci, air mata tidak hanya lagi menetes di pipinya, berganti dengan banjir air mata yang seakan tidak akan ada habisnya.
"Meskipun seluruh dunia ini menentang diriku untuk mencintaimu May. Aku tidak akan pernah selangkah pun mundur demi mendapatkan dirimu..." Toni mendekap May dari belakang, pelukan hangatnya mendekap tubuh May yang masih terisak dalam tangisnya.
Tangan May pun dengan refleknya memegang tangan Toni yang memeluk dirinya. Berdua saling menikmati keintiman akan pelukan hangat berbalut isak tangis mereka.
"Kurang ajar... Dia mengambil kesempatan..." Andre yang mengintip di samping ruang tamu mencoba untuk keluar dan memberi pelajaran kepada Toni. Berani beraninya Toni memeluk anak gadisnya di dalam rumahnya sendiri.
"Jangan ganggu mereka..." Alan sekuat tenaga mencoba mencegah Andre yang seakan telah berubah menjadi hewan buas.
"Tidak... Aku tidak rela..." Andre mencoba melepaskan tarikan Alan yang menghambat dirinya keluar ke ruang tamu.
Namun apalah daya... Tubuh Alan masih terlampau lemah untuk bisa menahan tubuh Andre yang begitu kuat. Hanya beberapa detik saja dirinya bisa menghambat laju Andre yang akan menerkam Toni.
"Maaf Ton... Tapi aku masih belum kuat untuk membantu dirimu..." Batin Alan yang melihat Andre siap memberi pelajaran pada Toni. Pelajaran yang nantinya akan selalu dikenang oleh Toni dan diceritakan kepada anak cucunya nanti.
__ADS_1