
Alan membayar 2 silver untuk biaya hotel satu kamar per malam. Alan sampai menggigit giginya sendiri karena harga penyewaan yang mahal. Perlu usaha satu hari berburu monster untuk mendapatkan uang 2 silver dari drop item monster. Bahkan hotel tempatnya menginap tidak cocok untuk dikatakan hotel. Fasilitas yang disediakan bahkan lebih buruk dari asramanya Alan.
"Apakah semua hotel di New World seperti ini?" Gumam Alan.
Hotel di New World memang tersedia untuk pemain atau NPC. Pemain bisa beristirahat di hotel untuk mengembalikan Hp. Tidak hanya itu, pemain yang beristrahat di hotel selama satu malam juga akan mendapatkan Buff Double Exp selama 12 jam dan mengurangi penggunaan stamina.
Stamina adalah salah satu atribut yang tidak ditampilkan, tapi dimiliki oleh pemain. Stamina yang dimaksud adalah kekuatan daya tahan otak untuk melakukan aktifitas di dalam game. Semakin tinggi intensitas permainan dan lingkungan, semakin tinggi pula pemakaian stamina.
Contohnya jika pemain yang bertarung selama 3 jam, pemakaian staminanya akan lebih banyak daripada pemain yang hanya berjalan jalan.
Sedangkan untuk NPC, beristirahat di hotel mengembalikan Stamina dan Hp mereka. NPC juga mendapatkan extra atribut 50% selama 6 jam. Yang membuat NPC menjadi lebih kuat.
Seperti itulah informasi yang Alan dapat dari receptionist hotel. Nama desa ini juga Alan dapatkan dari receptionist hotel. Desa ini bernama South Hill. Tapi Alan lupa menanyakan kenapa desa ini begitu sepi.
Alan, clara dan Freya pun masuk ke kamar. Alan meminta Clara dan Freya untuk beristirahat sedangkan Alan memilih log out. Dia perlu untuk mengistirahatkan otaknya.
####
Kegiatan Alan di dunia nyata juga hanya seperti biasanya. Kuliah sampai sore, berlatih di dojo, dan kembali lagi ke New World menjelang malam.
Alan kembali lagi di dalam kamar penginapan. Matahari belum terbit di New World. Clara dan Freya pun juga masih tidur. Mereka berdua tidur berpelukan, sangat lucu melihat kedua gadis ini tidur berpelukan. Terlihat seperti kakak adik yang sangat akur.
Alan pun enggan membangunkan mereka berdua. Alan memilih untuk berjalan jalan di desa. Dia ingin lebih mengetahui tentang desa South Hill ini.
Jalanan di desa ramai akan warga desa. Para warga desa ini semuanya membawa gancu dan keranjang.
"Kenapa sekarang banyak orang di jalanan?" Gumam Alan pelan.
Alan pun mengikuti para warga desa yang berjalan ke satu arah. Alan penasaran apa yang akan dilakukan warga di pagi buta seperti ini.
Langkah Alan terhenti di sebuah bukit tandus sebelah timur desa South Hill. Di kaki bukit itu terdapat sebuah gua yang cukup besar. Mulut gua itu setinggi 3 meter dan lebar 5 meter.
Yang lebih mengherankan Alan adalah, di mulut gua itu terdapat penjaga. Tapi yang menjaga mulut gua itu bukanlah pasukan kerajaan, melainkan player.
"Player? Apa yang mereka lakukan disini?" Gumam Alan sambil mengawasi di atas pohon. Dirinya mengaktifkan zoom sehingga dapat melihat ke mulut gua.
'Joker... Kamu tahu tempat ini?'
[Berdasarkan data sistem, tempat ini adalah tambang biji besi.]
'Tambang biji besi?'
[Benar... Biji besi dapat digunakan untuk membuat senjata dan armor.]
Alan pun hanya mengawasi dari kejauhan. Dia tidak ingin mendekat, karena bisa menimbulkan masalah yang tidak perlu.
Akhirnya Alan memilih kembali ke hotel. Dia perlu mencari tahu informasi yang lebih tentang desa South Hill.
Alan mendapati Clara dan Freya sudah menunggu Alan di dalam kamar. Mereka seakan sudah bersiap untuk melanjutkan perjalanan.
"Kakak... Kamu sudah kembali?" Clara sumringah setelah Alan datang.
"Ya... Aku habis berkeliling desa." Jawab Alan sekenanya.
"Kalian sudah siap? Ayo berangkat..."
Mereka pun melanjutkan perjalanan. Tujuan utama mereka adalah ke Kerajaan South Mountain untuk memberikan surat titipan kepala desa Middlemist, dan mencoba bernegosiasi tentang perburuan Wood Elf.
__ADS_1
Alan, Clara, dan Freya melewati pasar yang tidak terlalu besar. Jalanan di pasar sedikit lebih hidup daripada di jalan lainnya. NPC berjualan bahan makanan, tanaman herbal, bahkan ada yang menjual senjata. Clara sempat terpikat dengan senjata senjata yang di pajang, tapi karena tidak memiliki uang Clara pun cuma bisa menahan air liurnya.
" Ahh.... Ahh... "
Terdengar suara rintihan anak kecil dari sebuah gang kecil. Alan, Clara dan Freya pun langsung berlari masuk gang tersebut.
"Dasar pencuri kecil... Masih berani kamu mencuri lagi?" Teriak seorang pria sambil menendang perut anak kecil tersebut. Anak kecil itu pun hanya meringkuk di lantai sambil memegangi perutnya.
"Hentikan..." Teriak Alan yang tidak tega melihat anak kecil dipukuli dengan sadisnya.
"Siapa kamu? Jangan ikut campur." Teriak pria tersebut dan berusaha menendang anak itu lagi.
Alan langsung bergerak cepat. Seketika dia menghilang dan sudah berada di samping pria tersebut. Ujung belati Alan menempel pada leher pria tersebut.
Pria tersebut sangat terkejut Alan sudah berada di sampingnya dan sebuah belati menempel di lehernya. Keringat dingin langsung menetes dari mukanya yang memucat.
"Ka... kau... "Geram pria tersebut.
"Berapa harga barang yang dia curi?" Tanya Alan pada pria tersebut dan sedikit menekan belatinya ke leher pria itu.
"Du... Dua... pu..luh.. chopper. " Pria itu terbata bata takut Alan akan menebaskan belatinya.
" Hnya untuk 20 chopper kamu memukuli anak ini?" Seru Alan sambil melemparkan koin 1 silver ke muka pria tersebut.
"Ambil itu dan pergi dari hadapanku." Bentak Alan sekali lagi sambil melepaskan belatinya.
Pria itu tidak berpikir dua kali, dia langsung mengambil uang tersebut dan lari secepat dia bisa sebelum Alan berubah pikiran.
"Terima kasih kakak..." Kata anak kecil itu setelah diberi Heal potion oleh Alan. Luka luar dan rasa sakit yang dimiliki anak itu langsung hilang.
"Dengan senang hati bisa membantumu... Siapa namamu?" Balas Alan sambil tersenyum melihat anak kecil itu yang tampak seperti anak berusia 6 tahun.
Krucuk krucuk...
Jawaban anak itu bersamaan dengan suara perut Ole yang menandakan rasa lapar.
"Sepertinya kamu lapar... Bagaimana kalau kita sarapan? Kebetulan aku dan teman temanku juga belum sarapan." Tawar Alan.
Ole pun hanya mengangguk, dia mengikuti Alan dan kedua temannya ke sebuah restoran kecil yang ada di desa.
"Kenapa kamu tidak makan? Kamu lapar kan?" Tanya Alan pada Ole yang hanya memandangi makanannya di atas meja.
"Bolehkah aku membawa makanan ini pulang?"
"Kenapa?" Tanya Alan dengan senyum hangatnya.
"Aku ingin memberikan makanan ini pada ibuku." jawab Ole dengan nada sedikit takut.
"Makanlah saja... Nanti aku bawakan makanan untuk ibumu. " Alan memberikan senyuman hangat lagi.
Ole pun tersenyum bahagia dan bergegas makan makanannya yang di atas meja. Cacing cacing di perutnya sudah menagih jatah untuk makanan.
Selesai makan Alan bersama Clara dan Freya mengantar Ole pulang kerumahnya. Rumah kecil, reot, tidak terawat dan terletak di pinggiran desa ini adalah rumah Ole.
Dari cerita Ole, Ole tinggal dengan ibunya seorang. Ayahnya sudah meninggal setahun yang lalu karena sakit.
"Ibu... Aku pulang... " Teriak Ole sambil menenteng makanan yang dia bawakan untuk ibunya.
__ADS_1
"Ole... Uhuk... uhuk... Kamu sudah pulang... " Jawab ibunya yang sedang tiduran di ranjang sambil terbatuk.
Rumah Ole tidak memiliki sekat atau ruangan apapun. Jadi begitu masuk rumah, yang terlihat adalah sebuah ranjang, meja makan dan sebuah dapur kecil.
"Ibu... Aku bawakan makanan enak untuk ibu... Ibu makanlah...Biar ibu cepat sembuh..." Kata Ole dengan penuh semangat.
"Darimana kamu dapat makanan ini nak?" tanya ibunya dengan senyuman hangat Karena melihat Ole begitu bersemangat.
"Kakak itu yang memberikan bu... Ibu makanlah... "
"Terima kasih banyak anak anak muda. kalian sudah membantu kami. Maaf kami tidak bisa menyambut kalian dengan layak?" Kata Ibu Ole.
"Dengan senang hati bisa membantu bu... Dimakanlah dulu... Ole sudah membawakannya untuk ibu, sayang jika tidak segera di makan." Alan menjawab dengan sopan, hatinya begitu tersentuh melihat ibu dan anak ini.
Alan benar benar merindukan sosok ibunya ketika melihat ole dan ibunya. Selesai makan Ibu Ole memperkenalkan dirinya. Ibu ole bernama Lily. Alan tersentak mendengar nama Lily. Rasa rindu kepada ibunya benar benar telah memuncak, sehingga tidak bisa Alan tahan lagi.
"Maaf bu Lily.. Saya permisi keluar sebentar..." Pinta Alan dengan suara yang sedikit parau.
Alan pun keluar dari rumah dan berlari menjauh dari rumah. Hingga sampailah Alan di tengah padang rumput yang sepi...
"Aaaaaaaaaa........ " Teriak Alan sambil merebahkan badannya ke rerumputan.
Tatapan Alan menatap ke langit biru. Pikirannya tergambar sosok ibunya yang sudah berada di alam lain.
"Ibu.... " Gumam Alan pelan, tanpa terasa air mata Alan menetes dengan sendirinya.
Lebih dari 1 jam Alan hanya terbaring di rerumputan. Memandangi langit, melamunkan masa masa dia bersama dengan ibunya.
"Ahh.... Disini kamu rupanya..."
"Freya???" Seru Alan yang terkejut dengan kedatangan Freya.
"Kenapa? Butuh teman cerita?" Tanya Freya sambil duduk di samping Alan.
Alan hanya terdiam tidak menjawab pertanyaan Freya.
"Benar benar menyenangkan ya bisa merasakan kasih sayang seorang Ibu?" Kata Freya sambil menatap ke langit biru.
Alan langsung tersentak mendengar perkataan Freya. Dia tidak menduga Freya bisa mengerti perasaan Alan saat ini.
"Hah.... Aku iri pada Ole..." Kata Freya lagi sambil menghela nafas panjang.
"Iri? Kenapa?"
"Ya.... Bisa merasakan kasih sayang seorang ibu." Jawab Freya dengan sedikit malu malu.
"Memangnya ibumu kemana?" Tanya Alan dengan santainya.
"Meninggal sewaktu melahirkan diriku." Freya menjawab dengan pelan, pandangannya kosong ke arah langit biru.
Alan kembali tersentak. Dia sudah menanyakan hal yang tidak patut dia tanyakan.
"Maaf?" Kata Alan pelan, menyesali perbuatannya.
"Tidak masalah... Lagipula ibuku juga pasti akan sedih di alam sana jika aku bersedih." Kata Freya sambil berdiri dan meregangkan badannya.
Perkataan Freya benar benar menusuk Alan. Alan termenung sebentar untuk meresapi perkataan Freya.
__ADS_1
Freya pun pergi meninggalkan Alan sendiri. Namun Alan tidak berlama lama merenung.
"Aaaaa..... " Teriak Alan sambil bangkit dari tidurnya, dan berlari menyusul Freya.