New World

New World
Jalur Tercepat


__ADS_3

"Ahh..." Teriak Tiranity, dirinya baru saja terbangun dari pingsannya.


"Anda tidak apa Wakil Guild Master?" Tanya salah satu temannya yang menunggu di samping ranjang tempat Tiranity terbaring.


"Dimana aku? Apa yang terjadi?" Tiranity memegangi kepalanya yang masih terasa sedikit pening. Dirinya tidak ingat, kenapa dirinya bisa berada di atas salah satu ranjang yang empuk saat ini.


"Apa Anda lupa? Anda pingsan setelah meminum segelas wine di tempat ini." Jawab


"Ahh... Iya..." Wajah Tiranity kini merah padam. Dirinya merasa malu karena bisa pingsan hanya karena meminum satu gelas wine.


"Tidak usah malu... Semua yang meminum wine itu untuk pertama kalinya juga seperti itu..." Suara seorang perempuan membuat Tiranity mengalihkan pandangannya. Heaven Sins yang mengetahui Tiranity sudah sadar langsung menemuinya.


"Benarkah?"


"Tentu... Untuk apa aku berbohong kepada pelanggan?" Heaven Sins menarik sebuah kursi untuk duduk di samping ranjang. " Jadi... Bagaimana rasa wine yang kami miliki?" Heaven Sins bertanya dengan wajah yang penuh senyuman. Dirinya sudah bersiap untuk mendapatkan pujian setinggi langit dari salah satu Wakil Guild Master Phoenix Crown.


"Harus aku akui... Aku baru satu kali ini merasakan minuman yang busa berefek pada tubuh player... Darimana kamu mendapatkannya?"


"Hahaha...." Heaven Sins tertawa puas. Jawaban dari Tiranity sudah bisa dirinya tebak.


"Anda tidak perlu tahu dari mana saya mendapatkan minuman itu... Tapi jika Anda ingin mendapatkannya, kami akan selalu memiliki persediaan untuk Anda..."


"Sudah aku duga... Kamu memang berniat mempromosikan minuman itu melalui diriku..."


"Anda terlalu berburuk sangka Tuan Tiranity... Saya hanya mencoba menjual barang dagangan yang saya miliki..." Heaven Sins mencoba mengelak, meskipun apa yang dikatakan oleh Tiranity memang ada benarnya.


Sepulangnya Tiranity ke Kerajaan asalnya, West Dragon Empire. Heaven Sins sangat yakin, Tiranity pasti akan menyebarkan keberadaan Abyssall Wine yang hanya bisa didapatkan di Heaven Throne. Cara pemasaran dari mulut ke mulut adalah cara pemasaran yang paling efektif. Apalagi yang menyebarkan informasi adalah sosok yang cukup terkenal seperti Tiranity.


"Dasar rubah tua... Kamu tidak pandai dalam menyangkal... Tapi aku justru harus berterima kasih kepadamu untuk hal itu... Siapkan 50 botol untuk aku bawa kembali ke West Dragon Empire."


"Tentu Tuan Tiranity... Semua permintaan Anda selalu bisa dipenuhi di tempat ini..."Heaven Sin bangkit dari kursinya dan bergegas meninggalkan ruangan tempat Tiranity beristirahat.

__ADS_1


"Apa tidak apa kita membeli begitu banyak wine di tempat ini Wakil Guild Master?" Tanya salah satu teman Tiranity. Dirinya takut jika Tiranity akan mendapatkan masalah yang tidak diperlukan karena telah membeli begitu banyak wine.


"Kamu bisa bilang seperti itu karena kamu belum merasakannya..." Jawab Tiranity dengan senyum khasnya. Memang Abyssall Wine akan membuat pingsan ketika diminum satu gelas sekaligus.


Namun Tiranity juga mendapatkan efek lainnya, dirinya merasakan jika semua inderanya bekerja di luar batas kemampuannya. Bahkan dirinya bisa mendengar rintihan suara seorang wanita yang ada di kamar sebelah. Padahal ruangan tempat dirinya berada adalah ruangan kedap suara.


###


"Hooam..."


Alan menguap beberapa kali, ketika dirinya mengikuti perkuliahan siang ini. Hari ketiga dirinya kembali masuk dalam universitas masih menjadi hari yang berat bagi dirinya. Begitu membosankannya ketika dirinya harus terus duduk dan mendengarkan penjelasan yang diberikan oleh Ibu Dosen yang ada di depan kelas.


Jika saja buka karena keinginan kuat Alan untuk bisa segera lulus, mungkin Alan sudah memilih untuk keluar dari kelas dan bermain New World. Ada banyak proyek yang masih harus dirinya kerjakan, tapi dirinya tentu harus bisa menyeimbangkan kedua dunia yang harus dijalaninya.


"Hei lihat... Anak baru itu... Badannya cukup keren ya?"


"Ya... Matching banget sama wajahnya, duh... duh... jadi deg deg sir kali liat dia..."


Alan tentu bisa mendengar bisikan bisikan kaum hawa yang ada di baris belakangnya. Namun apapun pujian yang terarah kepada dirinya, dirinya tidak ingin menanggapinya. Waktu dalam hari-harinya sudah habis untuk mengejar cita cita dan acara balas dendam miliknya. Dirinya tidak memiliki banyak waktu luang untuk bisa sekedar bermain dengan satu kaum bernama wanita.


Bel pun berbunyi, perkuliahan bidang tata kelola perkebunan pun harus selesai saat itu juga.


"Baiklah.... Sekian mata kuliah dari saya hari ini... Dua bulan lagi kalian akan mulai mengambil praktek kerja nyata di perkebunan. Saya harap kalian semua sudah menentukan pilihan untuk perusahaan perkebunan mana yang akan kalian jadikan tempat praktik."


"Baik bu..." Jawab semua mahasiswa secara serentak. Dosen pun keluar dari ruangan setelah membereskan tas dan buku-bukunya, diikuti dengan para mahasiswa yang langsung berpencar ke segala arah bagaikan segerombol semut yang baru saja keluar dari sarangnya.


"Hem... Praktek kerja nyata? Sepertinya aku benar benar tertinggal begitu jauh di perkuliahan..." Alan hanya bisa menghela nafas panjang, jika bukan karena Dosen tadi memberikan penjelasan di depan kelas, mungkin Alan tidak akan pernah tahu bakal ada praktek kerja nyata untuk dirinya.


"Aku harus mulai mencari informasi dan mengatur rencana..." Alan tahu betul. Jika dirinya nanti praktek kerja nyata, dirinya akan kesulitan untuk mengatur waktu bermain New World. Dirinya benar benar harus menyelesaikan segala urusannya di New World sebelum dirinya mulai praktek kerja nyata.


Tanpa berdiri dari kursinya, Alan mengambil handphone di kantong saku celananya. Menghubungi seseorang yang akan membantu dirinya.

__ADS_1


[Log in dalam setengah jam! Ada hal yang harus kita kerjakan.] Pesan singkat Alan terkirim pada seseorang bernama Nadia.


[Ada apa memang? Kenapa mendadak? Aku sedang ada urusan.] Sebuah pesan masuk ke dalam handphone milik Alan.


[Aku tidak suka dengan satu hal bernama penolakan.] Jawab Alan tanpa basa basi. Diambilnya tas yang ada di sandaran kursi lalu dirinya pergi dari ruang kelas.


###


""Aku harap ini masalah yang penting..." Cleo memasang wajah penuh kejutekan ketika dirinya bertemu dengan Alan di Heaven Throne. Alan yang tiba tiba menghubungi dirinya benar benar telah merusak waktu bersantai miliknya. Seharusnya dirinya kini masih berendam di dalam kolam susu untuk memperhalus kulitnya.


Jika apa yang akan Alan sampaikan bukan suatu hal yang penting, Cleo sudah bersiap untuk memberi pelajaran kepada Alan.


"Bagus kamu datang..." Jawab Alan dengan tampang datar, Alan nampak sedang menggambar sesuatu di atas salah satu meja kayu milik Heaven Throne dengan belati miliknya. Membuat meja kayu berkualitas tinggi itu kini dipenuhi dengan goresan goresan belati Alan.


"Apa kamu sudah meminta ijin pada pemilik meja?" Tanya Cleo ketika mendekati Alan, dirinya ingin melihat apa yang sedang Alan gambar di atas meja kayu tersebut.


"Itu tidak penting, jika mereka keberatan pun aku bisa membeli meja ini..." Alan menghentikan aktifitasnya, dan sebuah peta kota Black Dessert City kini terukir dengan rapi di hadapan Alan dan Cleo.


"Tidak ku kira... Kamu jago mengukir..." Puji Cleo pada hasil ciptaan Alan.


"Itu tidak penting, sekarang beritahu aku... Berapa banyak prajurit Sun Flower Guild yang menjaga perkebunan Violet Cactus mereka?"


"Apa? Jangan bilang...." Cleo tentu terkejut mendengar pertanyaan Alan. Dari pertanyaan Alan saja dirinya sudah tahu kemana Alan akan membawa topik pembicaraan.


"Benar... Aku memilih jalur yang lebih cepat sekarang..." Jawab Alan tanpa basa basi. Tadinya dirinya ingin menghancurkan Sun Flower Guild tanpa kekerasan. Dirinya benar benar ingin menang dalam adu pertarungan ekonomi dengan Sun Flower Guild.


Tadinya... Tapi Alan harus merubah rencananya ketika dirinya mengetahui jika dirinya harus praktek kerja nyata dalam dua bulan lagi. Jika dirinya tidak bisa teratur log in nanti ketika praktek kerja nyata, tentu semua usaha yang dirinya bangun akan sia-sia belaka. Semua cabang bisnis yang dirinya jadikan tumpuan untuk menghancurkan Sun Flower Guild tentu akan terhambat operasionalnya ketika dirinya tidak bisa log in secara teratur.


Untuk itulah... Dirinya memilih jalur yang lebih cepat dari rencana semula. Menghancurkan perkebunan Violet Cactus milik Sun Flower Guild. Dengan hancurnya perkebunan mereka, Sun Flower Guild tentu akan kesulitan mengatur stock Violet Wine, Abyssall Wine milik dirinya yang ada di Heaven Throne pun dapat berkembang dengan semestinya.


"Baiklah... Tapi paling tidak kita perlu sepuluh ribu pasukan. Perkebunan itu adalah harta paling berharga milik Sun Flower Guild, delapan ribu player bergantian berjaga setiap harinya. Dan mereka akan selalu siap ketika diminta datang untuk melindungi perkebunan." Jawab Cleo dengan mantapnya. Dirinya sedang mencoba mengecilkan niat Alan yang terdengar begitu gila.

__ADS_1


"Delapan ribu ya? Ini menarik..." Bukannya terkejut, Alan justru tersenyum mendengar jawaban dari Cleo.


Cleo yang melihat senyuman Alan pun kini begitu yakin, jika Alan memang benar benar telah gila.


__ADS_2