
"Aku tidak menyangka... Kamu akan bisa belajar dengan begitu cepat..." Puji Ken setelah melihat AS mulai bisa mengeluarkan aura mana dari dalam tubuhnya. Tidak seperti biasanya dimana Alan mengeluarkan aura gelap atau abu-abu. Aura putih nan bersih kini memancar tipis di seluruh tubuh Alan.
Setelah menghancurkan perkebunan Violet Cactus milik Sun Flower Guild, Alan lebih memfokuskan diri untuk memperkuat diri. Dirinya tidak boleh jemawa dengan apa yang dirinya miliki saat ini.
Shadow Zone memang begitu kuat dan bermafaat dalam pertarungan... Namun Shadow Zone bukanlah suatu skill yang bisa digunakan untuk meningkatkan damage serangan.
Selain mengupgrade item dan perlatan dengan yang lebih kuat, menguasai penggunaan mana adalah satu satunya jalan yang bisa diandalkan oleh para player yang memiliki level maksimal seperti Alan. Dan Alan sudah terlanjur nyaman dengan semua item yang dirinya miliki. Akan merubah begitu banyak metode bertarung jika Alan mengganti item miliknya saat ini.
"Ini terlalu mudah..." Balas Alan dengan begitu santainya. Dirinya sudah terbiasa mengeluarkan aura semacam ini. Hanya saja yang biasanya dirinya keluarkan adalah aura dari Shadow Zone miliknya. Sedangkan kini dirinya mengeluarkan aura dari mana yang berasal dari darah elf miliknya.
"Cuih... Bacot besar..." Umpat Ken melihat kesombongan murid barunya satu ini. Meskipun juga tidak bisa disebut sebagai murid asli. Tapi paling tidak saat ini dirinya sedang mengajar Alan.
"Tapi mana yang kamu keluarkan masih begitu kecil. Serangan yang kamu hasilkan tidak akan berbeda jauh dengan damage aslinya." Lanjut Ken tidak ingin murid dadakannya menjadi semakin besar kepala.
"Aku tahu itu... Ajarkan aku untuk memperbesar aura ini..." Alan sudah mencoba mengeluarkan semua yang dirinya bisa keluarkan. Dirinya pun juga bingung sendiri, kenapa aura putih yang dirinya hasilkan tidak bisa sebesar aura gelap yang biasanya dirinya pakai.
"Ahh... Dasar murid tidak sabaran..." Keluh Ken mendengar permintaan Alan. Jika bukan karena hutang janjinya, mungkin dirinya tidak ingin mau repot repot seperti ini.
"Sebelum lanjut... Aku perlu tahu semua sumber mana dari dalam tubuhmu..." Ken menatap curiga pada Alan. Melihat aura yang Alan keluarkan tidak seperti yang biasanya dirinya lihat ketika bertarung. Dari satu hal itu pun Ken bisa menarik kesimpulan jika Alan menyimpan satu rahasia besar.
"Hah... Aku memang tidak bisa menyembunyikannya darimu..." Alan sudah bisa menebak jika Ken menuntut penjelasan.
"Ini adalah aura asliku... Aura dari darah pertamaku, Elf."
"Darah pertama?" Ken memasang wajah terkejut. Baru tahu jika sebenarnya Alan adalah seorang Elf. Tadinya Ken mengira jika Alan adalah seorang Demon Albino.
"Benar... Ras pertamaku adalah Elf, dan ras kedua milikku adalah Demon. Aura hitam yang biasa kamu lihat itu bukanlah aura mana seperti aura saat ini. Itu adalah sebuah teknik khusus yang disebut sebagai Shadow Zone."
"Shadow Zone?" Ken justru semakin bingung mendengar penjelasan Alan.
"Ya... Shadow Zone... Seperti ini..." Alan mempraktekkan bagaimana dirinya menggunakan Shadow Zone. Memberikan demonstrasi agar Ken bisa menyelidiki perbedaan antara pengaturan mana dengan Shadow Zone.
Meskipun itu harus membuka rahasia Alan, tapi paling tidak Alan akan bisa mendapatkan petunjuk untuk bisa mengendalikan Shadow Zone dengan lebih sempurna. Syukur syukur Alan akan mendapatkan petunjuk untuk bisa menggunakan keduanya secara bersamaan. Karena aura putih miliknya langsung lenyap setelah Alan mengaktifkan Shadow Zone.
"Sepertinya kedua kekuatan ini saling bergantian. Kamu tidak akan bisa menggunakannya secara bersamaan." Satu kesimpulan Ken setelah melihat Shadow Zone Alan.
__ADS_1
"Bukan tidak bisa... Belum bisa... Karena itu aku meminta bantuan darimu..." Ketus Alan.
"Ok... Ok... Lalu apa yang bisa Shadow Zone ini lakukan?"
"Kamu ingin tahu?" Alan menaikkan satu alis dan tersenyum nakal.
"Cepat lakukan! Jangan banyak bicara! Bikin penasaran!"
"Baiklah... Kamu yang memaksa..."
Gubrak...
Tubuh Ken langsung terjatuh menghantam ke tanah dengan begitu keras. Dirinya kini tengkurap di atas tanah dan tidak mampu untuk berdiri. Bagaikan di atas tubuh Ken terdapat sebuah gunung yang menghimpitnya.
"Apa ini?" Ken mengumpat sembari menahan sakit akan serangan Alan yang tiba tiba.
"Aku hanya menaikkan gravitasi di area mu berdiri tadi menjadi 100 kali lipat." Alan tersenyum kecil melihat Ken yang nampak kesakitan.
"Ku.. Kurang ajar..."
"Le... Lepa... Lepaskan..."
"Gila... Kekuatan macam apa itu?" Sembari membersihkan bajunya yang kotor dengan tanah, Ken memuji akan kedahsyatan Shadow Zone.
"Bahkan kamu bisa menghancurkan satu kota hanya dengan kekuatan itu..."
"Hahaha... Mungkin... Aku pun belum pernah mencobanya. Lagipula tidak ada kota yang ingin aku hancurkan..."
"Tapi aku yakin... Kekuatan sebesar itu... Pasti berefek kepada tubuhmu kan?"
"Dari mana kamu tahu?" Alan sedikit terkejut Ken bisa mengetahuinya. Menggunakan Shadow Zone memang sangat menguras daya tahan otaknya.
"Tidak ada... Hanya menerka... Lagipula kamu tidak akan memintaku untuk mengajarimu cara mengontrol mana jika kamu begitu percaya diri dengan kekuatan itu." Ken merasa menang besar akan tebakannya tadi.
"Sudahlah... Cukup pertunjukkannya... Apa yang bisa kamu jelaskan?"
__ADS_1
"Sedikit membingungkan... Tapi kemungkinan besar... Aura putihmu terlalu tertekan oleh kekuatan dari darah Demonmu. Itulah sebabnya aura putihmu tidak bisa berkembang seiring dengan jumlah manamu."
"Tertekan?" Alan langsung teringat akan Demon yang ada di dalam tubuhnya. Meskipun telah terkunci oleh segel Chiro, Demon di dalam tubuhnya masih tetap ada. Tidak disangka Demon itu masih bisa menekan Alan meskipun sudah terkunci.
"Ya... Aku sarankan kepadamu untuk tidak menggunakan kekuatan Demon milikmu terlebih dahulu. Biarkan aura putihmu berkembang seiring dengan penggunaannya."
"Hah... Itu pasti akan sangat merepotkan..." Alan hanya bisa menghela nafas. Membayangkan jika dirinya harus bertarung tanpa menggunakan Shadow Zone.
"Ya... Itu pilihanmu... Semua terserah padamu..." Ken mengangkat kedua tangannya ke depan dada. Tidak ingin memikirkan lebih jauh akan masalah Alan.
###
[Player berada di Kerajaan Black Dessert. Player akan memulai petualangan dari level 0. Dapatkan Exp untuk menaikkan level. Kematian dalam petualangan akan mengurangi level player. Selamat bermain.]
"Jadi ini New World..." Isabel baru saja memasuki New World. Dengan nama Third Flower, Isabel siap untuk menjalankan rencana pribadinya.
Bisa dirinya saksikan saat ini, bangunan bangunan tinggi yang ada di Ibukota tersebut nampak tidak ada bedanya dengan dunia nyata. Hanya mungkin saja gaya arsitektur dan corak khasnya saja yang berbeda.
Jika sekilas mata, Isabel tidak akan bisa membedakan mana dunia nyata dan New World. Dari satu penglihatan saja Isabel sudah paham, kenapa begitu banyak Perusahaan besar yang mau berinvestasi di New World. Semua karena New World memang suatu dunia baru untuk para manusia.
"Kemana aku harus pergi sekarang?" Isabel pun nampak bingung. Baru kali ini dirinya pergi tanpa pengawalan. Biasanya di dunia nyata, dirinya akan selalu dikawal oleh bodyguard bodyguard yang siap mempertaruhkan nyawa untuk dirinya.
"Apa kamu player baru?" Suara seorang wanita terdengar di belakang Isabel.
"Ah... Iya... Kalau boleh tahu... Kemana aku harus pergi ya? Apa ada suatu pusat informasi untuk para player baru?" Isabel mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara. Terlihat seorang wanita berpakaian sexy tengah berada di belakangnya.
"Kamu bisa pergi ke Asosiasi Petualang untuk mendapatkan Class."
"Asosiasi Petualang? Dimana itu?"
"Ehm... Kebetulan kita searah... Mungkin aku bisa menunjukkannya kepadamu..." Tawar player wanita tersebut.
"Tentu..." Isabel dengan senang hati menerima tawaran wanita tersebut. "Ah iya... Kita belum berkenalan... Namaku Isa... Ah... Third Flower."
"Hahaha... Masih terbiasa dengan nama di dunia nyata ya? Kamu bisa memanggilku Heaven Sins..." Jawab wanita di hadapan Isabel sembari berjalan. Menunjukkan arah mana yang harus Isabel ambil untuk pergi ke Asosiasi Petualang.
__ADS_1
"Senang berkenalan denganmu Heaven Sins... Kamu teman pertamaku di dunia ini..." Isabel nampak senang bisa mendapatkan teman pertama di New World.
"Ya... Aku juga senang bisa berteman denganmu..." Jawab Heaven Sins dengan senyumnya, tanpa mengetahui siapa jati diri Isabel yang sesungguhnya. Jika saja Heaven Sins tahu siapa sebenarnya Isabel, mungkin Heaven Sins akan lebih memilih membunuh Isabel di tempat tadi dirinya pertama kali melihat Isabel.