New World

New World
toni kah ini?


__ADS_3

"Instruktur?"


May yang baru saja datang dengan membawa baki dan 3 gelas berisi es sirup terkejut mendengar tawaran dari Alan untuk ayahnya.


Keluarga Andre adalah keluarga yang secara turun temurun mengurus dojo dimana sekarang dia tinggal. Dulu dojo ini sangat populer. Karena ayahnya Andre adalah petarung handal, pernah menjuarai turnamen tingkat internasional.


Tapi kejayaan itu tidak bisa diteruskan oleh Andre. Karena semakin berkembangnya jaman, dan minat dari masyarakat yang semakin berkurang. Dojo ini menjadi semakin sepi. Seperti sekarang tidak ada satupun murid yang tergabung dalam dojo yang di kelola Andre.


Andre tentu saja sangat gembira di dalam hatinya mendengar tawaran dari Alan. Tapi dia menahan kegembiraan itu agar bisa menaikkan harga pelayanan jasanya.


"Hem... Cukup menarik tawaranmu. Tapi apa yang aku dapat kalau aku bersedia menjadi instruktur di kelas kurikuler mu?" Tanya Andre.


"Kira kira apa yang Pak Andre inginkan?" Alan sengaja membiarkan Pak Andre membuka harga penawaran, karena Alan tidak punya pengetahuan apapun tentang penyewaan jasa instruktur beladiri. Dia memilih Andre pun karena hanya Andre lah instruktur beladiri yang dia kenal.


"Baiklah kalau kamu memaksa,b1000 dollar perbulan. Aku akan menjadi instruktur kalian, dan kalian bisa menggunakan dojo ini sebagai tempat latihan." Kata Andre dengan pandangan yang lebih tajam dari biasanya.


Alan tercengang dengan perkataan Andre. 1000 dollar bukanlah nominal yang kecil untuk dirinya. Dia sempat bertanya ke bagian kemahasiswaan kalau setiap kelas kurikuler mendapatkan dana dari Universitas. Tapi tidak sampai 1000 dollar, bahkan kelas yang sudah lama berdiri dan menorehkan prestasi paling banyak mendapatkan 600 dollar. Apalagi kelas yang akan dia dirikan, paling paling dana yang turun dari universitas berkisar sekitar 100 dollar.


Tapi sebelum alan mengeluarkan pendapatnya, "Maaf pak andre. Saya kira 1000 dollar terlalu tinggi untuk standar kami." Celetuk Toni.


Andre yang mendengar jawaban Toni langsung kecewa di dalam hatinya. Dia tidak mengira kalau Alan dan Toni akan langsung menyerah tanpa menawar harga terlebih dahulu. Padahal kondisinya sekarang Andre sangat membutuhkan uang.


"Ohhh.... Baiklah... Bagaimana kalau 800 dollar?" Andre mencoba untuk tetap menampilkan muka tenang, meskipun dalam hatinya jantungnya sedang bergejolak. Takut kesempatan untuk mendapatkan uang lepas.


Toni tersenyum licik, dari senyumnya terpancar kemenangan. "200 dollar, itulah penawaran kami." Tawar Toni dengan mantap.


Alan tercengang sendiri mendengar penawaran Toni. Dia tidak mengira Toni akan menawar dengan begitu sadis.


Andre benar benar geram dengan penawaran Toni. "200 dollar? Apa kamu gila? Untuk perawatan dojo saja itu belum cukup."


Toni tetap tenang meskipun Andre menjawab dengan nada sedikit tinggi. "Maaf Pak Andre sebelumnya. Tapi coba bapak pikirkan kembali. Dojo bapak benar benar sedang dalam keadaan kritis. ini merupakan peluang emas untuk bapak."


Andre membenarkan perkataan Toni di dalam hatinya. Dia juga tidak menyangka anak semuda Toni bisa melakukan analisa yang tepat. "Tapi tetap saja. 200 dollar itu terlalu kecil nilainya."

__ADS_1


"Pak andre jangan terburu buru menolak. 200 dollar yang kami tawarkan adalah untuk harga pokok jasa instruktur bapak. Untuk biaya perawatan dojo kami akan tanggung sendiri." Toni memajukan badannya, seakan sedang menekan Andre dalam proses negosiasi ini.


"200 dollar plus biaya perawatan dojo?" Andre berpikir sejenak. Tapi belum sampai Andre menjawab.


"Kalau bapak masih belum yakin, bagaimana kalau kita gunakan 200 dollar ini dalam 3 bulan pertama. Setelah 3 bulan kita evaluasi lagi harganya. Bagaimana?" Toni bersandar ke sandaran kursi seakan hasil dari negosiasi ini sudah dia ketahui.


"Ahh... Baiklah... 200 dollar untuk 3 bulan pertama. Tapi aku ingin di bayar di muka dan dalam 3 bulan paling tidak ada 50 murid yang bergabung dengan dojo ini." Andre serasa tak berdaya dalam proses tawar menawar dengan Tini. Dia meminta 50 murid tentunya untuk membantu mengembalikan ketenaran dojo yang dia kelola. Paling tidak dia mendapatkan suatu nilai lebih dalam negosiasi ini.


"Deal!" Jawab Toni mantap. Toni langsung mengeluarkan selembar check, mengisi angka 200 dollar dan menandatanganinya.


"Silahkan Pak Andre. Tolong di periksa terlebih dahulu." Toni menyerahkan check kepada Andre.


Andre memeriksa check tersebut, nilai dan keasliannya. Andre sebenarnya agak terkejut melihat Toni mengeluarkan kertas check. Anak semuda Toni bisa mempunyai kuasa atas check pasti bukanlah anak biasa.


"Toni Wellington?" Andre tercengang begitu melihat nama terang di check tersebut.


"Ka..ka..kamu dari keluarga Wellington?" Muka Andre sedikit gusar setelah tahu nama keluarga toni.


"Ahh... Pantas saja..." Andre dalam hati sambil menggelengkan kepala.


Andre sekarang merasa pantas kalau kalah bernegosiasi dengan Toni. Anak dari seorang bangsawan pastinya mendapatkan pendidikan tentang bisnis oleh keluarganya sedari kecil.


Alan yang dari tadi terdiam merasa bingung sendiri. Dia tidak menyangka Toni yang biasanya tidak pernah serius berubah 180 derajat ketika membahas masalah bisnis dan uang.


"Ok... Kalian sudah menyewa ku untuk 1 bulan ke depan. Aku antar kalian melihat lihat dojo ini."


Mereka berempat lalu berkeliling dojo. Melihat tempat latihan, gudang, kamar mandi. Hampir semua ruangan kecuali kamar yang di tempati Andre dan may untuk tidur. Dojo Pak Andre terlihat terawat, meskipun ada beberapa bagian yang perlu di perbaiki.


Selesai berkeliling Alan dan Toni berpamitan untuk kembali ke asrama karena waktu juga sudah hampir malam.


###


"Ton... Apakah tidak apa apa kita bayar Pak Andre pakai uangmu pribadi?" Alan yang merasa tidak enak hati bertanya pada Toni.

__ADS_1


"Lah... Kenapa? Cuma uang segitu juga." Balas Toni dengan santai.


Alan hanya menghela nafas setelah mendengar jawaban Toni. Dia tahu kalau Toni adalah anak orang kaya, tapi Alan tetap saja tidak ingin di cap memanfaatkan kekayaan temannya.


"Baiklah kalau kamu tidak mempermasalahkannya, tapi untuk bulan depan kita usahakan untuk pakai uang kelas. bukan uang mu sendiri." Alan dengan tegas


"Ok... Aku juga berencana seperti itu kok. Tapi paling tidak biarkan aku memperbaiki dojo itu dulu. biar beban kelas tidak terlalu berat nantinya." Ucap Toni masih dengan santainya.


Toni langsung mengambil handphonenya dan menelepon seseorang.


"Halo Milton. Aku ada sedikit pekerjaan untukmu. Tolong kamu periksa dojo yang ada di atas bukit di dekat kampus. Aku berencana membuat kelas beladiri disana. Siapkan semua yang diperlukan." Kata Toni.


smSetelah mendengar jawaban dari Milton, Toni menutup teleponnya.


"Ok... Satu masalah sudah selesai. Kita urus masalah selanjutnya." Kata Toni.


"Masalah selanjutnya?" Alan bingung sendiri dengan perkataan Toni.


"Ya... Masalah minimal jumlah murid yang harus terpenuhi dalam 3 bulan." Kata Toni


"Ohh... Kan masih ada waktu 3 bulan, kenapa terburu buru?"


"Dasar anak kampung... Kalau kita menunggu 3 bulan lagi, semua mahasiswa baru pasti sudah mendaftar ke kelas yang lainnya. Akan lebih sulit mencari anggota kelas."


"Ahh... Benar juga kamu Ton... Tapi bagaimana caranya merekrut anggota?" Alan benar benar merasa **** sendiri dia tidak menyangka membentuk kelas kurikuler akan menjadi rumit.


"Tenang aku punya cara ampuh."


"Cara ampuh? Bagaimana?"


"Dengan game tentunya..."


"Game?"

__ADS_1


__ADS_2