
Mimik muka Naga Yang langsung berubah pucat, melihat pohon spiral yang biasanya dirinya jaga kini sudah mulai layu. Gelembung cahaya putih yang biasanya mengisi bagian dalam pohon spiral kini sudah tidak dirinya dapati.
"Ini gawat... Kedua Demon itu telah membawa segel pintu keluar itu..."
Alan dan yang lainnya tentu tidak terkejut dengan apa yang terjadi, mengingat tujuan utama siapapun yang datang kesini pastilah segel yang tadinya berada di dalam pohon spiral tersebut.
"Tenang... Kita tinggal merebutnya kembali kan?" Alan mengelus salah satu bagian tubuh Naga Yang, yang kini telah berubah kembali ke ukuran normal. Menjadikan Naga Yang terlihat tidak lagi lucu dan imut seperti ketika Alan pertama kali melihatnya.
"Tapu kemana kita harus mencarinya? Dunia Abyss ini begitu luas." Naga Yang langsung masuk ke pertanyaan terbesar yang mengisi pikirannya. Merebutnya mungkin bisa, tapu kalau tidak bisa mengetahui dimana lokasi pembawa segel? Bagaimana mereka akan merebutnya? Tidak mungkin mereka akan terus terusan berkelana di Dunia Abyss demi mencari segel pintu keluar dari Dunia Abyss.
"Serahkan hal itu kepadaku! Cukup diam dan ikuti saja kata kataku." Alan tidak mau beradu pendapat dengan Naga Yang, lebih cepat jika dirinya langsung meminta kepada Joker untuk mencari lokasi segel tersebut.
'Joker! Lakukan tugasmu!'
[Identifikasi objek. Scanning position.]
Alan sedikit mengerutkan dahi melihat posisi segel pintu keluar Dunia Abyss sedang bergerak dengan cepat. Melihat kecepatan gerak segel tersebut, kemungkinan terbesar adalah Behemout sedang terbang, tidak berjalan kaki.
'Bisa kamu tampilkan kemungkinan tujuan segel itu?'
[Memeriksa lokasi sekitar objek. Identifikasi...]
Joker menampilkan beberapa lokasi yang berada di dalam satu jalur dengan arah terbang segel tersebut.
"Hem... Sepertinya kita harus bergerak dengan cepat. Segel itu sedang terbang menuju ke daerah yang lumayan jauh."
"Terbang katamu?" Naga Yang nampak terkejut, mengingat dirinya tidak melihat kedua Demon yang menyerangnya bisa terbang. "Jangan jangan..." Wajah Naga Yang semakin buruk, membayangkan kemungkinan terburuk yang mungkin saja terjadi.
"Ada apa?"
"Tidak... Lebih baik kita cepat menyusul mereka. Lagipula lebih baik aku memastikan semuanya secara langsung."
Naga Yang mengepakkan kedua sayapnya, mengajak Alan dan yang lainnya untuk naik ke atas punggungnya. Alan, Flyin dan Rendemiz tentu menuruti kemauan Naga Yang, mereka bertiga segera melompat dan naik ke atas punggung Naga Yang.
Dengan Satu kali kepakan sayap, tubuh Naga Yang sudah melayang di udara, satu kali lagi kepakan sayap. Tubuh Naga Yang melesat menembus angin yang tadinya hanya diam di tempat, memaksa setiap angin untuk menyingkir ketika Naga Yang lewat.
__ADS_1
"Tuan... Apa Anda yakin?" Flyin menanyakan sekali lagi tentang keputusan Alan yang ingin merebut segel tersebut dari tangan Behemout. Jika Alan benar benar ingin merebutnya, maka dirinya harus menghubungi Azazel. Mengingat pasti akan ada bahaya yang Alan hadapi nantinya.
"Tentu Flyin... Untuk apa aku punya kekuatan sebesar ini tapi tidak bisa keluar dari Dunia Abyss. Lagipula Azazel pasti juga akan melakukan hal yang sama jika dia tahu tentang segel itu." Meskipun Alan belum tahu tugas apa yang akan Azazel berikan kepadanya nantinya, tapi Alan yakin jika Azazel tidak memberikan kekuatan besar Shadow Blood ini untuk hanya sekedar diam di Dunia Abyss. Pasti Azazel memiliki suatu keinginan yang tidak bisa dipenuhi sendiri. Dan Alan lah yang nantinya akan diminta untuk melakukan hal tersebut.
"Hah... Baiklah... Tapi biarkan saya menghubungi Tuan Azazel terlebih dahulu. Saya tidak ingin membuat beliau harus terburu buru datang untuk membantu Anda lagi.
"Terserah kamu Flyin... Lagipula semakin banyak orang akan semakin baik." Alan tidak terlalu memusingkan jika Azazel muncul, justru Alan bisa lebih tenang jika Azazel muncul. Ada bala bantuan kuat yang bisa Alan andalkan.
Sementara Rendemiz yang sedari tadi diam hanya bisa berpegangan erat di punggung Naga, takut jika dirinya terlempar dari punggung Naga dan terjatuh bebas dari ketinggian. Dirinya tidak peduli kemana Alan dan Flyin akan pergi, bahaya apa yang nantinya akan menanti, yang terpenting dirinya bisa mendapatkan kembali Timeless Blade. Jika nantinya keadaan tidak bisa teratasi, dirinya cukup bersembunyi dengan kekuatan specialnya.
###
"Behemout kurang ajar..." Azazel membanting gelas kaca yang tadinya dirinya genggam. Gelas kaca tersebut langsung terbelah menjadi serpihan serpihan kaca yang berserakan di atas lantai.
"Aku sudah bersusah payah mengumpulkan jiwa jiwa Demon untuk membentuk Shadow Blood. Tapi kalau pintu keluar dari Dunia Abyss ini tidak bisa digunakan, maka semuanya akan sia sia saja."
Azazel merasa begitu geram dengan ulah Behemout, seharusnya pintu keluar Dunia Abyss itu akan bisa dibuka sebentar lagi. Mengingat segel pengunci akan berada pada titik terlemah ketika telah seribu tahun setelah peperangan. Namun jika segel itu sampai hancur, maka tidak akan ada lagi pintu keluar dari Dunia Abyss. Semua rencana yang dirinya bangun terhadap Alan pun akan sia sia belaka.
"Baiklah jika itu maumu. Aku akan ikut campur urusan Dunia Abyss kalau begitu..." Azazel melangkahkan kakinya untuk keluar dari Istananya.
###
Seorang pria paruh baya tengah duduk di sebuah kursi empuk yang bisa diputar. Di hadapannya terdapat sebuah layar komputer yang menampilkan grafik grafik yang begitu rumit. Bagi orang awam, mungkin grafik grafik tersebut akan menyulitkan untuk dibaca. Tapi bagi pria tersebut, grafik grafik tersebut bagaikan sebuah tulisan yang bisa dirinya baca dengan jelas. Sebuah senyuman tergambar di wajahnya, menandakan kepuasan akan grafik yang ditampilkan oleh layar di hadapannya.
"Bagus... Tiga puluh Juta pengguna... Dan masih akan terus bertambah..." Sosok pria tersebut bernama Remi Malan, pimpinan Microboot yang mengurusi bagian pemasaran.
Thok...
Thok...
"Masuk..." Suara Remi keluar dari mulutnya setelah mendengar pintu ruangannya diketuk dari luar. Sosok wanita cantik sekretarisnya yang biasanya duduk di meja depan ruangannya kini masuk untuk mengawal seseorang yang mengikuti di belakangnya.
"Tuan Remi... Tuan Mason datang untuk menemui Anda." Sekretaris tersebut buru buru memberitahu pimpinannya, takut jika tamu di belakangnya keburu masuk ke dalam ruangan.
"Ah... Tuan Mason... Ada perlu apa bagian Humas datang ke bagian pemasaran? Apa yang bisa saya bantu?" Remi buru buru berdiri dan bertanya kepada Mason yang tiba tiba datang ke ruangannya tanpa membuat janji terlebih dahulu. Dengan tangan kanannya Remi menggestur Mason agar duduk di kursi yang ada di depan meja kerjanya.
__ADS_1
"Ini permintaan pembayaran rumah sakit anak yang hilang kesadarannya ketika bermain New World. Aku ingin ini masuk ke dalam budget pemasaran." Mason menaruh sebuah map yang berisi tagihan rumah sakit di atas meja kerja Remi.
"Apa?" Remi terbelalak melihat daftar tagihan rumah sakit yang menyentuh angka 7 digit dalam dollar.
"Aku tahu kamu akan terkejut, aku juga sama terkejutnya ketika melihat itu pertama kali. Untuk itulah aku meminta kepadamu untuk memasukkan tagihan itu ke dalam budget pemasaran.
"Kenapa bisa? Ini tidak ada hubungannya dengan pemasaran." Remi mencoba menolak apa yang Mason inginkan. Menambahkan satu setengah juta dollar dalam budget pemasaran, sama halnya dirinya mematikan proyek pemasaran yang sedang dirinya jalankan.
"Hah... Sudah kuduga..." Mason menghela nafas panjang mendengar apa yang Remi katakan.
"Dengar... Kita masih beruntung anak ini sudah tidak memiliki orang tua. Jika saja dia masih memiliki orang tua, berapa banyak kompensasi yang harus kita berikan?"
"Tapi... Kenapa harus bagian pemasaran yang menanggungnya?"
"Dengar... Bagaimana jika berita ini sampai tersebar keluar? Kita tentu tidak ingin itu terjadi. Ingat... Keluarga Wellington ada di balik anak itu. Jika kita tidak menanggung biaya rumah sakit sampai anak itu sadar. Maka keluarga Wellington pasti akan bertindak di luar kendali kita." Mason sedikit tersulut emosi mendengar keluhan Remi. Bagaimana bisa Remi berpikir jika demi menjaga nama baik perusahaan tidak bersangkutan dengan bagian pemasaran.
"Lalu sampai kapan anak itu harus kita rawat?" Remi tidak ingin berdebat lagi. Bagaimanapun juga dirinya tahu jika Mason sudah melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan nama baik perusahaan.
"Entahlah... Bagian tekhnik dan pengembangan bilang jika dia tidak akan bisa log out sampai update New World selanjutnya."
"Update selanjutnya?" Remi langsung lemas... Membayangkan budget bagian pemasaran akan semakin membengkak.
"Itu saja dariku... Ingat... Jangan sampai kamu berulah untuk tidak membayarkan tagihan itu." Mason berdiri dari tempat duduknya dan mulai melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan kerja Remi.
"Aku bisa saja melemparmu ke jalanan jika sampai nama baik perusahaan kita tercoreng." Mason menjeda langkah kakinya, memperingatkan jika dirinya tidak akan segan segan jika sampai melakukan tindakan ekstrim jika sampai masalah kecil seperti ini berefek pada nama baik perusahaan.
"glek..."
Suara Remi menelan ludahnya dalam dalam. Dirinya tahu betul jika Mason tidak main main dengan apa yang dirinya katakan. Hilang sudah rasa bahagia yang tadi dirinya dapat setelah melihat grafik perkembangan New World, diganti dengan masalah pembayaran rumah sakit yang harus bagian pemasaran tanggung.
Setelah Mason menghilang, Remi pun langsung mengambil gagang telepon untuk menghubungi sekretarisnya.
"Suruh semua supervisi berkumpul sekarang. Kita akan melakukan perubahan rencana pemasaran."
Glek...
__ADS_1
Remi menyandarkan diri di kursi empuknya, memikirkan rencana pemasaran yang harus dirinya ubah secara keseluruhan.