New World

New World
Pembebasan Puteri Leoni 4


__ADS_3

Deathmark tengah berdiri di salah satu atap bangunan tinggi di pusat ibukota. Di belakang Deathmark berdiri 30 player anak buahnya. Setiap orang dari 30 player tersebut memancarkan aura kegelapan yang pekat. Deathmark tersenyum puas setelah mendapat panggilan dari Sander melalui crystal link yang menghubungkan dirinya dan Sander.


"Zegra... Waktunya kita beraksi." Deathmark menghubungi Zegra yang tengah bersiap di tempat lainnya beserta anak buah Deathmark lainnya. Seribu player anak buah Deathmark kini telah resmi menjadi pengikut setia Sander untuk mendapatkan kekuatan kegelapan dari Sander.


Deathmark pun menyebar anak buahnya ke seluruh penjuru ibukota untuk menghabisi pasukan revolusi yang berhasil menerobos pintu masuk ibukota.


"Waktunya untuk balas dendam..." Deathmark mematikan panggilan sistemnya dengan Zegra dan melompat ke atap bangunan lainnya untuk mencari keberadaan Alan. Deathmark sangat yakin jika Alan akan ikut serta dalam penyerangan pasukan revolusi ini.


###


Kedatangan Jonta, Clara dan Freya membuat pasukan revolusi lebih mudah untuk menembus blokade pasukan kerajaan. Pasukan kerajaan pun dipaksa untuk mundur ke dalam ibukota.


"Jonta... Jangan gunakan monster monstermu di dalam ibu kota!" Perintah Freya yang tengah berdiri di pintu selatan ibukota.


Jonta yang masih berlari di belakang Freya pun menuruti perintah Freya. Jonta tahu apa yang ada dipikiran Freya. Monster monster panggilannya tentu akan membuat panik para warga ibukota. Belum lagi monster monster yang Jonta panggil dapat merusak rumah rumah warga.


"Bagaimana sekarang?" Freya menanyakan kepada Olsen tentang rencana selanjutnya.


"Akan membahayakan para warga jika sampai terjadi peperangan di dalam ibukota. Usahakan untuk evakuasi warga terlebih dahulu."


Walaupun pasukannya berhasil masuk ke dalam ibukota, Sander belum menganggap peperangan sudah usai. Apalagi masih adanya Sander, sang Great Wizard kerajaan South Mountain. Olsen yakin Sander tengah menyiapkan banyak taktik untuk mencegah pasukan revolusi berhasil menyelamatkan puteri Leoni.


Freya dan Clara mengangguk setelah mendengar instruksi dari Olsen. Pasukan revolusi yang tersisa sekitar 2000an orang langsung berpencar menjadi grup grup kecil ke seluruh penjuru kota untuk mengevakuasi para warga ibukota.


Apa gunanya memenangkan perang tapi para warga ikut menjadi korban. Tujuan pasukan revolusi tidak hanya semata mata memenangkan perang, tapi juga membawa kesejahteraan para warga. Memastikan keselamatan para wargalah salah satu caranya.


"Cepat... Tinggalkan ibukota... Ikuti arahan dari pasukan revolusi."


Ibukota South Mountain dihuni lebih dari tiga puluh ribu warga. Mengeksekusi mereka semua tentu bukan perkara mudah. Apalagi pasukan revolusi juga masih harus berhadapan dengan pasukan kerajaan yang mencoba menghalangi mereka. Pertempuran di beberapa bagian luar ibukota pun tetap tidak bisa terhindarkan.


Para player yang berada di dalam ibukota pun juga tidak sedikit jumlahnya. Ada player yang merasa cuek dan tidak ingin ikut campur dengan pertempuran yang terjadi. Ada pula yang merasa iba dengan para warga ibukota sehingga membantu mengevakuasi warga. Namun adapula player yang mencoba mencari muka di hadapan pasukan kerajaan, mereka membantu pasukan kerajaan untuk ikut memberantas pasukan revolusi.


Para player yang mencari muka di hadapan pasukan kerajaan tersebutlah yang membuat masalah semakin runyam. Berbeda dengan pasukan kerajaan yang masih memikirkan keselamatan para warga jika menyerang pasukan revolusi secara brutal, para player tersebut sama sekali tidak memikirkan keselamatan para warga. Para player pun menggunakan skill skill destruktif mereka, membuat beberapa rumah warga menjadi imbasnya. Kobaran api, kepulan debu pun tercipta dari rumah rumah warga yang terkena dampaknya.


"Clara... Tahan mereka!" Freya bersama pasukan revolusi yang sedang mengevakuasi puluhan warga mendapat serangan dari salah satu kelompok player berjumlah 20 player. Tidak adanya lambang guild di dada mereka, menandakan para player tersebut adalah player independen.


"Serahkan padaku!" Clara berhenti berlari untuk menghadang para player yang mengejar kelompoknya. Clara menggenggam erat oread sword yang kini dipakainya.


"Fire strike!"

__ADS_1


Teriak salah satu player yang menyerang Clara dengan tujuh buah bola api. Tujuh bola api sebesar buah semangka langsung mengarah ke arah Clara.


Slash...


Slash...


Dengan cepat Clara menebas ketujuh bola api tersebut, tidak membiarkan satupun bola api berhasil melewatinya. Kedua puluh player yang melihat apa yang Clara tunjukkan pun terdiam sesaat, baru kali ini mereka melihat ada orang yang bisa menebas bola api dengan pedang.


"Pedangnya pasti berkualitas sangat bagus. Ayo rebut pedangnya!" Teriak salah satu pria yang menggunakan pedang.


"Merebut pedangku? Kalian bisa mencobanya kalau bisa." Clara langsung menebaskan pedang bergagang emas yang dirinya pakai ke arah kelompok player yang ada di hadapannya.


"Hand of Gaia!"


Sepuluh tebasan cahaya langsung menyasar ke kelompok player tersebut. Semua orang dari kelompok tersebut tahu jika serangan yang menyasar ke arah mereka bukanlah serangan biasa, mereka pun melompat untuk menghindari serangan dari Clara.


"Apa?" Sepuluh orang dari 20 player mendapati diri mereka tidak bisa melompat untuk menghindar. Kaki mereka terlilit oleh tanah yang membungkus kaki mereka.


Duar...


Serangan dari Clara telak mengenai sepuluh player tersebut, ke sepuluh player tersebut langsung mati terkena serangan dari Clara. Kesepuluh player yang terkena serangan tersebut adalah player range class.


"Hati hati... Atributnya pasti tinggi!" Peringatan keluar dari pria yang tadi menginginkan pedang Clara. Melihat pria tersebut mengkoordinasi teman temannya, Clara bisa menduga jika pria tersebut adalah pimpinan dari player tersebut.


Clara langsung menjadikan pria tersebut sebagai sasaran utamanya. "Kau ingin pedangku? Ambillah!" Clara yang tengah berlari ke arah pria tersebut mencoba memprovokasi pria tersebut.


Thang...


Thang...


Clara dan pria tersebut bertukar serangan beberapa kali, keunggulan Clara sudah terlihat jelas dari beberapa luka yang berhasil Clara daratkan pada pria tersebut.


"Cepat bantu aku!" Pria tersebut merasa terdesak sehingga meminta teman temannya untuk membantu. Melee player yang lainnya langsung menyerang Clara secara bersamaan, Ada yang membawa tombak ada pula yang menggunakan belati.


Mendapat kepungan dari sepuluh player nampak tidak membebani Clara, Clara bisa melihat jika atribut player yang kini mengepung dirinya tidak terlalu tinggi. "Dibandingkan kakak AS... Kalian nampak seperti anak kecil." Clara yang terbiasa berlatih tanding dengan Alan mampu menghindari setiap serangan yang mengarah kepadanya. Clara pun selalu bisa mendaratkan serangan di sela sela dirinya menghindari serangan.


Pertarungan mereka tidak berlangsung lama. Tidak sampai sepuluh menit Clara tengah berhasil mengalahkan kesembilan player yang mengepungnya, menyisakan pria yang tadi menginginkan pedangnya. Setelah pertukaran serangan pertama tadi, nampaknya pria tersebut langsung mundur dan membiarkan teman temannya mengepung Clara. Itulah sebabnya pria tersebut menjadi orang terakhir yang selamat.


"Bagaimana?" Clara tersenyum polos ke arah pria tersebut. Senyum polos yang mengartikan jika pria tersebut telah salah memilih lawan.

__ADS_1


"Am... Ampun..." Pria tersebut mundur beberapa langkah dan terduduk jatuh. Ketakutan mendalam menghantui pikirannya.


Melihat lawannya sudah tidak memiliki semangat bertarung, Clara mengalihkan langkahnya untuk menyusul Freya. Namun baru saja dirinya berjalan beberapa langkah, tiga orang player menghadang langkah Clara. Ketiga orang tersebut memancarkan aura kegelapan dari sekujur tubuhnya.


"Tuan... Aku melihat salah satu teman dari laki laki itu." Lapor salah satu player tersebut kepada Deathmark melalui panggilan sistem.


###


Alan, Shoote sun, dan Nightwalker berlari menyusuri gang gang kecil untuk menuju ke taman tengah ibukota. Alan memang sengaja mencari jalan kecil agar lebih mudah untuk mencapai taman tengah ibukota.


Sesekali Alan bertemu dengan beberapa pasukan kerajaan yang ada di ibukota, Alan beserta Nightwalker pun menggunakan skill assassination mereka untuk menghabisi mereka tanpa suara.


"Bagaimana sekarang?" Bisik Nightwalker pada Alan yang tengah memantau situasi dari sebuah atap bangunan. Dari tempat Alan berdiri, dirinya bisa melihat kepulan asap mulai membumbung dari bagian selatan ibukota.


"Kita langsung ke tengah ibukota. Tujuan utama kita adalah menyelamatkan puteri Leoni." Alan sempat berpikir untuk merubah arah ke selatan ibu kota setelah melihat adanya kepulan asap. Namun dirinya mencoba menahan diri, prioritas utamanya saat ini adalah membebaskan puteri Leoni.


Alan dan Nightwalker langsung melompat ke bawah untuk menjemput Shoote sun yang menunggu di bawah. "Bagaimana keadaanya?" Shoote sun bertanya kepada Alan.


"Nampaknya pasukan revolusi sudah memasuki ibukota. Kita harus bergegas sekarang. Aku takut..." Alan takut jika raja Robert akan mempercepat eksekusi puteri Leoni setelah mengetahui pasukan revolusi berhasil menerobos masuk ibukota.


"Kalau begitu kita harus cepat!"


Alan dan Nightwalker mengangguk, mereka bertiga pun bergegas menuju ke tempat eksekusi.


"Awas!" Teriak Alan setelah mendeteksi adanya panas dalam jumlah besar menghampiri mereka bertiga.


Duar...


Ledakan langsung terjadi di tempat Alan dan yang lainnya tadi berdiri. Sebuah bola api berukuran 2 meter nampak masih membara di tempatnya mendarat. Alan langsung memeriksa sekitarnya, mencoba mencari tahu siapa yang memberikan serangan dadakan.


"Nampaknya kalian sedang terburu buru." Suara seorang pria dari atap bangunan membuat Alan dan yang lain mengarah ke sumber suara.


"Zegra..." Alan sekali lihat bisa mengetahui jika orang tersebut adalah Zegra. Bagaimana tidak? Alan sudah 2 kali membunuhnya, dan orang tersebut tidak jera untuk mencari masalah dengannya. Namun ada yang berbeda dengan Zegra kali ini. Tubuh Zegra mengeluarkan aura kegelapan dari sekujur tubuhnya. Zegra nampak tidak sendirian, sekitar 12 orang tengah bersama dengan Zegra berdiri di atap bangunan tersebut.


"Lama tidak jumpa bocah... Apa kamu rindu?" Zegra langsung meluncurkan panahnya ke arah Alan.


"Cuih... Rindu? Kepadamu?" Alan menangkis panah yang Zegra kirimkan dengan pedangnya. Alan langsung mengerutkan dahi setelah menangkis anak panah tersebut. Tangan Alan langsung bergetar setelah menangkis anak panah yang Zegra kirimkan kepadanya.


"Nampaknya ada yang berbeda darimu kali ini?" Alan tetap memberikan senyuman meskipun tangannya masih sedikit bergetar. Bukan karena apa, Alan mencoba memainkan emosi Zegra. Memancing Zegra agar sedikit kehilangan kewaspadaannya.

__ADS_1


"Hahaha... Nampaknya kamu bocah yang pintar. Tapi itu tidak akan berguna!" Zegra memberi aba aba kepada anak buahnya untuk maju menyerang Alan dan yang lainnya.


__ADS_2