
Suatu sosok Demon tengah berdiri di dalam ruangan yang cukup besar. Di hadapan sosok Demon tersebut terpampang lebih dari sepuluh layar datar yang menunjukkan gambar gambar yang berbeda. Demon tersebut berdiri dengan tenang, namun kedua irish matanya tetap tajam mengawasi setiap layar datar yang ada di hadapannya. Dirinya mengawasi setiap pergerakan yang ditampilkan oleh layar datar di hadapannya.
Layar datar tersebut bukanlah kekuatan special dari Demon tersebut. Layar datar yang ada di hadapannya adalah sebuah proyeksi tampilan dari sebuah item bernama The Eye. Dengan The Eye... Demon tersebut dapat mengawasi beberapa tempat yang ingin dirinya ketahui tanpa harus meninggalkan ruangan.
Sosok Demon tersebut tersenyum kecil ketika melihat salah satu tampilan layar menunjukkan Zepar dipukul mundur oleh dua ekor naga yang menjaga pohon spiral.
"Mary bodoh... Bisa bisanya dia mempercayakan hal seperti itu kepadanya..." Demon tersebut bergumam pelan, sambil senyum kecil terngiang di ujung bibirnya.
"Kamu pikir aku tidak akan tahu semua rencanamu? Baiklah kalau begitu..."
"Aku... Asmodias akan dengan senang hati meladeni semua permainanmu."
Asmodias... Jenderal besar bangsa Demon yang paling lama menduduki posisi Jenderal besar. Asmodias juga merupakan Jenderal besar terkuat dari tujuh Jenderal besar lainnya saat ini. Wajar saja... Asmodias telah hidup lebih dari 2000 tahun. Bahkan saat pertempuran besar dengan para dewa 1000 tahun yang lalu, Asmodias sudah menjadi salah satu Jenderal besar dan menjadi satu satunya Jenderal besar yang selamat dari pertempuran besar tersebut. Baginya para Jenderal besar demon yang sekarang, hanyalah anak kecil yang akan sangat mudah bagi dirinya untuk dipermainkan.
Asmodias merupakan sosok demon yang memiliki ambisi besar. Dirinya sangat tidak suka dengan yang namanya kekalahan. Ambisi dirinya untuk bisa membalas kekalahan dalam pertempuran besar 1000 tahun yang lalu pun masih dirinya pendam sampai saat ini. Hanya saja Asmodias perlu menyiapkan rencana yang tepat, agar kekalahan telak 1000 tahun yang lalu tidak terulang lagi.
"Ayah..." Seorang demon wanita memasuki ruangan tempat Asmodias berada. Demon wanita tersebut langsung memberi hormat kepada Asmodias yang masih menatap layar datar di hadapannya.
"Bagus kamu datang Selene... Ada beberapa hal yang harus kamu selesaikan."
"Apapun itu Ayah..." Selene hanya menundukkan wajah, mengiyakan seluruh perkataan Ayahnya. Baginya Ayahnya adalah panutan yang sempurna di matanya. Tidak pernah sekalipun Selene menolak perintah yang Ayahnya berikan kepadanya.
"Rebut kembali Timeless Blade dari Zepar, dan bawakan kepadaku!" Asmodias sangat senang dengan puteri satu satunya tersebut. Walaupun Selene masih tergolong berusia muda untuk bangsa Demon, namun Selene sudah menunjukkan kemampuan yang mengagumkan. Tidak pernah sekalipun Selene gagal dalam menjalankan tugas yang diberikan olehnya.
Selene langsung mengerutkan dahi ketika mendengar tugas yang diberikan oleh Ayahnya. Dirinya memang sudah mengetahui jika Kakaknya telah pergi dari istana dan mencuri Timeless Blade. Namun dirinya tidak menduga jika Timeless Blade akan ada di tangan Zepar sekarang. "Lalu kakak?"
"Jangan pikirkan anak tidak berguna itu. Aku sudah cukup berbaik hati tidak membunuhnya kala dia pergi meninggalkan istana ini." Asmodias sebenarnya mengetahui Rendemiz mencuri Timeless Blade di malam Rendemiz kabur dari istana.
__ADS_1
Namun Asmodias sengaja membiarkan Rendemiz pergi membawa Timeless Blade. Asmodias ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh Rendemiz, lagipula Asmodias bisa menggunakan kesempatan tersebut untuk mengajarkan rasa tanggung jawab kepada Rendemiz. Namun rupanya harapan Asmodias hanya angan angan belaka. Bukannya menjaga benda warisan keluarga, Rendemiz malah menjual Timeless Blade hanya demi beberapa makanan.
Kalau saja bukan karena Rendemiz yang telah kabur jauh ke ujung pelosok dunia Abyss, mungkin Asmodias sudah mengajarkan suatu pelajaran berharga pada Rendemiz.
Selene tentu hanya mengiyakan perkataan Ayahnya. Walaupun hubungan dengan kakaknya terbilang dekat, tapi dirinya juga tidak bisa berkata sembarangan di hadapan Ayahnya. Selene benar benar Demon yang selalu bisa memposisikan dirinya dengan tepat, tahu kapan harus bertindak dan tahu kapan harus tetap diam. Saat ini lah waktunya Selene untuk tetap diam.
Selene pun pergi meninggalkan ruangan tempat Ayahnya berada tanpa ada sepatah kata lagi yang keluar dari mulutnya. Dirinya perlu menyiapkan pasukan untuk dirinya bawa menuju ke daerah kekuasaan Demon Raider.
###
Slash...
Slash...
Suara tengkorak kepala tanpa daging dan kulit yang terpotong begitu nyaring terdengar. Alan benar benar menikmati sensasi pertarungannya kali ini.
Jiwa jiwa para Litch Demon yang dihabisi Alan pun masuk ke dalam tubuh Alan dengan sendirinya. Memberikan sensasi hangat yang secara perlahan menjadi panas, seiring dengan semakin banyaknya jiwa Demon yang dirinya serap.
Apa yang Alan rasakan sekarang bukannya langsung instan dan tanpa proses. Alan benar benar harus belajar mengendalikan Shadow Zone dengan sempurna setelah Alan berhasil mengeluarkan Shadow Zone dengan sempurna.
Mula mulanya Alan harus mengetahui dengan persis bagaimana cara kerja Shadow Zone. Alan berulang kali melebarkan Shadow Zone ke daerah yang terdapat banyak Litch Demon. Namun para Litch Demon tidak bereaksi apapun. Bahkan seakan akan tidak terjadi apa apa dengan Litch Demon. Barulah setelah Alan bertanya kepada Joker dan Joker menjelaskan cara kerja Shadow Zone, Alan bisa mengerti cara kerja Shadow Zone seperti apa.
Shadow Zone merupakan suatu kekuatan special dimana pengguna dapat mengendalikan wilayah Shadow Zone sesuai kehendak pengguna. Seperti medan gravitasi, kecepatan gerak, arah serangan, dan lain lainnya dapat dikendalikan oleh pengguna Shadow Zone. Bahasa mudahnya pengguna Shadow Zone dapat memiliki kontrol penuh pada semua benda hidup atau mati yang ada di area Shadow Zone.
Tapi tentu saja pengguna Shadow Zone tidak dapat membuat sesuatu yang hidup langsung mati ketika di dalam Shadow Zone. Tidak ada kekuatan yang bisa membunuh seseorang dengan pikirannya saja. Kecuali kekuatan Tuhan tentunya, namun ini dunia game. Tidak ada yang namanya Tuhan di dunia game.
Alan berkali kali mencoba mengontrol Shadow Zone sesuka hatinya. Mulai dari memberatkan gravitasi di sekitarnya, melambatkan gerak para Litch dan mempercepat gerakannya sendiri, sampai membelokkan serangan para Litch yang mengincar dirinya agar berganti menjadi menyerang sesama Litch Demon.
__ADS_1
Dari berbagai hal yang Alan coba, yang paling efektif bagi Alan untuk menghadapi para Litch Demon adalah kemampuan Shadow Zone yang dapat merubah struktur benda. Tulang kepala Litch Demon yang tadinya begitu keras dan susah untuk dihancurkan. Kini berubah menjadi roti bolu empuk ketika berada di dalam Shadow Zone.
Bagaikan anak kecil yang mendapatkan mainan baru. Alan begitu antusias dalam membunuh para Litch Demon yang ada di tempat tersebut. Satu menjadi sepuluh, sepuluh menjadi dua puluh, dan seterusnya sampai Litch Demon yang Alan hancurkan kepalanya mencapai ratusan, bahkan hampir ribuan.
Bangsa Litch Demon adalah bangsa undead dari Demon. Mereka tentu tidak mengenal yang namanya rasa takut atau gentar. Walaupun mereka sedang berada di hadapan kematian mereka, lagipula mereka semua juga sudah mati. Litch Demon tidak pernah berpikir untuk kabur, meskipun teman teman mereka dihabisi oleh Alan dengan sangat mudahnya. Yang mereka tahu hanyalah... Mereka bisa menyerang dan membunuh Alan untuk memakan jiwa Demon Alan.
Alan tentu dengan senang hati menjadi pengantar kematian untuk kedua kalinya bagi para Litch Demon yang ada di hadapannya. Lagipula kematian Litch Demon tersebut menjadi berkah tersendiri bagi Alan. Shadow Zone yang bisa dirinya kendalikan semakin luas, seiring dengan semakin banyaknya jiwa Litch Demon yang dirinya serap.
Flyin yang menatap bagaimana bengisnya Alan dalam menghancurkan kepala setiap Litch Demon yang ada sampai merinding sendiri. Bahkan bangsa Demon yang terkenal kejam pun belum tentu akan seperti Alan, tersenyum sembari menghancurkan kepala musuh musuhnya.
Flyin hanya tidak tahu saja... Jika Alan bukan tersenyum karena menikmati sensasi membunuh para Litch Demon. Alan tersenyum karena menikmati menggunakan kekuatan Shadow Zone. Baginya Shadow Zone benar benar suatu kekuatan yang sangat bernilai, bahkan Alan tidak menyesal telah memutuskan pergi ke dunia Abyss setelah merasakan menggunakan Shadow Zone.
"Saya rasa cukup Tuan..." Flyin mencoba mendatangi Alan yang masih terus membantai para Litch Demon dengan wajah gembira. Seakan akan Alan sedang bermain poker dan mendapatkan black jack. Pekatnya Shadow Zone yang menyelubungi tubuh Alan, membuat Flyin begitu kesulitan untuk mendekati Alan. Bahkan Flyin harus mengeluarkan segenap kekuatannya hanya untuk mencapai tempat Alan berdiri.
"Ada apa Flyin?" Alan hanya menatap Flyin dengan heran. Tidak biasanya Flyin akan menghentikan dirinya ketika dirinya sedang melatih kekuatannya seperti ini.
"Demon yang Anda bunuh sudah terlalu banyak Tuan. Saya takut..." Flyin pun menjelaskan jika Litch Demon yang ada di tempat ini adalah Demon yang dipanggil oleh Chigaza. Akan berbahaya jika sampai Alan menghabisi mereka semua dan Chigaza mengetahuinya. Padahal Azazel sudah berpesan kepada dirinya agar keberadaan Alan jangan sampai diketahui oleh para Jenderal besar Demon lainnya.
"Ok... Aku mengerti..." Alan tahu apa yang dikhawatirkan oleh Flyin. Dirinya juga tahu jika Flyin pasti akan melakukan hal yang terbaik untuk menjaga dirinya.
Alan pun mengontrol fungsi Shadow Zone agar membuat para Litch Demon yang mencoba mendekatinya langsung berubah arah. Entah itu berbalik ke arah sebaliknya, atau hanya berubah arah ke kanan atau ke kiri. Membuat tidak ada satupun Litch Demon yang bisa mendekati Alan dan Flyin. Tidak lupa pula Alan melonggarkan tekanan Shadow Zone yang berada di sekitar tubuh Flyin. Dari wajah Flyin yang begitu tertekan, Alan bisa mengerti seperti apa rasanya ditekan oleh Shadow Zone.
Alan dan Flyin pun berjalan dengan mulus tanpa adanya hambatan sama sekali. Bahkan mereka berdua seperti seorang selebriti yang sedang berjalan di atas red karpet. Bedanya hanya biasanya para selebriti dikerubungi oleh orang orang yang ingin minta tanda tangan, tapi Alan dan Flyin dikerubungi oleh Litch Demon yang ingin memakan jiwa mereka berdua.
"Hey tunggu..." Rendemiz berteriak sekeras kerasnya. Melihat Alan dan Flyin yang berjalan bebas tanpa hambatan sambil dikerubungi oleh para Litch Demon.
"Oh... Dia masih hidup?" Alan benar benar lupa dengan keberadaan Rendemiz. Tadinya dirinya berpikir jika Rendemiz sudah dimakan oleh para Litch Demon, mengingat Alan sama sekali tidak melihat batang hidung Rendemiz sewaktu bertarung tadi.
__ADS_1