
Wiu.... Wiu...
Suara Sirine ambulans yang datang membuat gempar seluruh mahasiswa yang tinggal di Asrama Mediteran University. Mereka berbondong bondong menutupi taman di antara dua bangunan, guna menjadi saksi apa yang terjadi.
"Siapa? Ada apa?"
Pertanyaan demi pertanyaan terus terngiang diantara para mahasiswa. Namun tidak ada yang bisa memberikan jawaban. Pihak tenaga kesehatan yang datang bersama ambulan terkesan menutup nutupi semuanya. Baik itu identitas pasien yang dibawa maupun kondisi pasien. Sampai ambulan tersebut meninggalkan area Mediteran University pun pertanyaan tersebut tidak terjawab.
Hanya Toni seorang yang mengetahui detailnya secara pasti. Itupun karena dirinya lah yang memanggil ambulan untuk datang ke asramanya.
"Bangunlah..." Toni menatap pilu pada sahabatnya yang kini tergeletak lemas di dalam ambulan. Tatapan matanya dipenuhi rasa bersalah yang sangat besar pada sahabatnya satu ini. Berkali kali dirinya menggoyangkan badan sahabatnya tersebut, namun tidak ada respon sama sekali.
Ya... Alan lah sahabat Toni yang dimaksud. Sudah tiga hari ini Alan sama sekali tidak melepas helm VRnya. Kondisi badannya pun begitu lemah, denyut nadi maupun nafas Alan hampir mencapai ambang batasnya.
Ambulan pun sampai ditempat yang seharusnya mereka datangi, Mediteran Hospital. Langkah para perawat begitu cepat ketika mendorong tempat tidur dorong yang membawa tubuh Alan dari mobil ambulan menuju ke ruangan pelayanan cepat. Dokter pun langsung memeriksa tubuh Alan, sedangkan para perawat yang tadinya mendorong tempat tidur dorong tersebut, kini berganti memasang alat alat penunjang kehidupan ke tubuh Alan.
Krek... Suara pintu terbuka.
Selang setengah jam, Dokter yang memeriksa kondisi Alan keluar dari ruangan pelayanan cepat. Raut wajah dokter tersebut begitu sayu, seakan akan baru saja menghadapi masalah yang tidak bisa dirinya pecahkan.
"Bagaimana kondisinya Dokter?" Toni yang menunggu di depan ruangan sudah tidak sabar untuk mengetahui kondisi sahabatnya. Jika sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, Toni tidak bisa untuk tidak menyalahkan dirinya sendiri.
Toni lah yang memaksa Alan untuk ikut bermain New World, Toni lah yang memperkenalkan Alan pada sebuah game Virtual Reality. Tidak dirinya sangka sama sekali, Game yang biasanya akan memberikan hiburan kepada pemainnya. Kini malah memberikan nestapa pada sahabatnya. Perasaan sangat bersalah terus saja memenuhi pikirannya.
"Kita bisa menyelamatkan nyawanya. Untung saja bantuan cepat diberikan kepadanya. Kalau saja terlambat beberapa jam saja..."
"Lalu bagaimana kondisinya sekarang dokter? Apakah dia sudah sadar?" Tanpa menunggu Dokter menyelesaikan kalimatnya, Toni sudah membanjiri Dokter tersebut dengan pertanyaan yang menghantuinya.
"Maafkan saya... Tapi kasus pasien ini benar benar baru dalam tenaga medis. Kita hanya bisa menunggunya untuk bisa sadar sendiri."
"Apa maksud anda dokter?" Toni yang kurang mengerti akan ilmu kedokteran tentu tidak paham, lagipula dirinya sedang tidak bisa berpikir dengan jernih.
__ADS_1
"Otak pasien terhubung dengan helm yang dipakainya. Kita tidak bisa mengembalikan kesadarannya selama helm itu masih terus terpasang."
"Kenapa tidak dilepas saja dokter?" Toni mulai terbakar emosi setelah mengetahui jika Dokter tidak mengupayakan yang paling maksimal kepada Alan.
"Maafkan aku Tuan Wellington... Jika kami paksakan untuk melepas helmnya, kami takut akan terjadi kecacatan otak. Kami tidak berani mengambil resiko. Untuk saat ini hanyalah ini yang bisa kami lakukan."
Emosi Toni langsung mereda setelah mendengar penjelasan Dokter tersebut. Dokter bukannya tidak mengupayakan yang paling maksimal, mereka hanya tidak bisa. Toni pun tertunduk lesu setelah mengetahui kondisi sahabatnya tersebut.
"Kita hanya bisa berdo'a untuk kesadarannya. Bersabarlah..." Dokter tersebut menepuk pundak Toni dan melangkahkan kaki dari koridor tempat mereka berdiri.
"Hanya bisa berdo'a?" Toni memandang pilu tubuh Alan dari celah kaca yang tertempel di pintu. Terlihat bagaimana tubuh Alan terpasangi alat alat penunjang kehidupan.
Thit...
Thit...
Bunyi pendeteksi denyut jantung menjadi satu satunya suara yang ada di dalam ruangan tempat Alan dirawat. Toni masih setia duduk di sampingnya, menunggu datangnya sebuah keajaiban dengan Alan yang membuka mata.
"Maafkan aku Alan..." Air mata Toni mulai menetes dari ujung matanya. Penyesalan terus menerus menjadi tamu yang sama sekali tidak berniat untuk pergi dari pikirannya.
###
"Aaa...."
Jeritan Alan menggema di seluruh sudut ruangan tempat dirinya berada. Tubuh Alan sedang meringkuk di lantai, di tengah tengah lingkaran sihir yang terbuat dari darah. Di lingkaran sihir tersebut tertulis huruf huruf yang tidak bisa dimengerti.
Rasa sakit yang begitu hebat sedang menusuk ke dalam tubuhnya. Beberapa bayangan hitam tengah beterbangan di sekitar tubuh Alan, bayangan tersebut terus menerus mencoba untuk masuk ke dalam tubuh Alan.
"Kamu ingin kekuatan bukan? Tahanlah rasa sakit itu... Jadikan rasa sakit itu sebagai sumber kekuatanmu yang baru!" Suara Azazel tidak kalah keras dari jeritan Alan. Bedanya di dalam suara Azazel terdapat tekanan akan kekuatannya.
"Ah... Sial... Kenapa ini sakit sekali..." Alan menggigit giginya sendiri menahan rasa sakit yang dirasakan. Rasa sakit tersebut datang dari bagian tubuh yang diresapi oleh bayangan. Bayangan tersebut bagaikan jarum yang menusuk lalu meresap dan menjadi satu dengan darah Alan. Hingga akhirnya berakhir di Jantung, membuat Jantung Alan berdenyut lebih kencang.
__ADS_1
Alan sama sekali tidak menduga jika dirinya harus menghadapi rasa sakit yang begitu hebat ketika harus menerima kekuatan kegelapan yang diberikan Azazel.
Memasukkan darah Demon dengan paksa ke dalam tubuhnya. Untuk mendapatkan kekuatan kegelapan yang sejati dari Azazel, Alan perlu merubah rasnya menjadi ras demon. Dan inilah salah satu proses yang harus Alan lalui untuk menjadi Demon.
"Nikmati rasa sakit itu! Nikmati... Dan akan kamu nikmati hasilnya setelah kamu berhasil melaluinya."
Perkataan Azazel sama sekali tidak masuk ke telinga Alan. Tubuh Alan terlampau sibuk dengan rasa sakit yang dirinya rasakan daripada harus mendengarkan perkataan Azazel.
Bayangan bayangan hitam yang terbang di sekitar Alan pun mulai berkurang sedikit demi sedikit. Alan pun mulai terbiasa dengan rasa sakit yang dirinya rasakan. Sensasi tertusuk ketika bayangan tersebut merasuk ke dalam tubuh Alan pun mulai berkurang seiring dengan terbiasanya tubuh Alan.
Detak jantung yang meninggi akibat darah Demon yang masuk ke dalam tubuhnya pun kini hanya menjadi irama pengiring rasa sakit Alan. Bayangan terakhir yang terbang di sekitar tubuh Alan kini mulai memasuki tubuh Alan.
"Aaa..."
Berbeda dengan yang sudah sudah. Bayangan terakhir yang masuk ke dalam tubuh Alan masuk tepat di dahi Alan. Memberikan sensasi tertusuk yang berlipat lipat untuk kepalanya. Tubuh Alan sampai mengejang akibat rasa sakit yang dirinya rasakan.
Alan mencoba bertahan sekuat tenaga untuk menahan rasa sakit yang dirinya rasakan. Namun setelah bayangan tersebut masuk seutuhnya ke kepala Alan. Rasa sakit yang tadinya dirinya rasakan dari luar, kini beralih dari dalam kepala Alan. Menusuk keluar dari tubuh Alan tepat di dahinya. Sebuah bayangan kecil berhasil keluar dari dahi Alan, berkumpul di depan dahi Alan dan membentuk sebuah simbol berbetuk bulan sabit gelap di dahinya. Simbol tersebut menyala sebentar, lalu menghilang kembali. Seakan akan simbol tersebut tidak pernah ada sama sekali.
"Hah... hah..." Nafas Alan terengah engah setelah rasa sakit yang dirinya rasakan menghilang. Alan masih tidak bisa bangkit dari ringkukannya. Dirinya hanya bisa merebahkan badannya, menghadap ke langit langit ruangan yang suram.
"Apa? Bagaimana bisa?" Azazel tidak mengerti kenapa tubuh Alan tidak berubah bentuk menjadi seperti demon pada umumnya. Harusnya tubuh Alan paling tidak mengeluarkan sepasang tanduk, yang menandakan dirinya adalah ras demon.
"Apakah gagal?" Azazel memeriksa tubuh Alan dengan memegang dahinya. Dirinya sedikit termenung, mencoba mencari tahu apa yang membuat Alan tidak berubah bentuk.
"Jadi begitu... Sudah kuduga kamu memang special." Azazel tersenyum setelah memeriksa tubuh Alan.
Alan yang melihat Azazel tersenyum pun tidak menghiraukannya, tubuhnya terlalu letih dengan rasa sakit untuk sekedar bertanya ada apa dengan tubuhnya.
"Nampaknya darah Elf mu bukan darah Elf biasa. Bahkan Shadow Blood sekalipun tidak bisa merubahmu menjadi demon secara seutuhnya. Namun itu akan menjadikanmu semakin luar biasa." Azazel pergi meninggalkan Alan yang masih terbujur lemas di tengah lingkaran sihir. Ingin sekali Alan bangkit dan bertanya kepada Azazel tentang apa yang Azazel ketahui. Namun tubuhnya terasa tidak sanggup lagi.
"Sudah selesai kah?" Alan menutup matanya untuk mengistirahatkan tubuhnya, tidak memperdulikan jika dirinya masih berada di tengah lingkaran sihir. Yang dirinya inginkan sekarang hanyalah bisa memulihkan tubuhnya yang terasa lelah.
__ADS_1