
Bug...
Bug...
Suara sarung samsak yang alan pukuli terus menerus. Jika sarung samsak itu bisa mengeluh, pasti sudah mengeluh sedari tadi.
"Nampaknya ada yang sedang emosi." Andre yang sedari tadi melihat bagaimana Alan menyiksa sarung samsak mencoba memperingatkan Alan untuk tidak terlalu keras. Andre takut jika Alan sampai merusak samsak tinju tersebut.
"Ah... Pak Andre..." Alan menghentikan pukulannya ke arah samsak tinju. Irish mata Alan kini beralih ke pria berambut sebahu tersebut.
"Kamu sudah beberapa hari tidak kesini. Sekali kesini ingin merusak samsak tinju?" Andre menegur Alan sambil melingkarkan tangannya ke leher Alan. membuat Alan sedikit tercekik.
"Ah... Ampun... Ampun pak..." bukan karena sakit dari cekikan Andre. Alan tidak tahan akan bau ketiak Andre yang kini hampir menempel dengan wajahnya.
"Ayo... latihan tanding denganku saja..."
Alan bisa bernafas dengan lega setelah terbebas dari kempitan makhluk berbau tersebut. "Ini yang aku tunggu sebenarnya..." Alan langsung mengambil dua buah pedang kayu yang ditempel di dinding.
"Pedang?" Andre melirik Alan yang tiba tiba mengambil pedang. tidak biasanya Alan mengajak Andre untuk berlatih tanding menggunakan pedang.
"Ya... Kenapa? Pak Andre takut?" alan memberikan senyum mengejek.
"Terlalu cepat sepuluh tahun bagimu untuk membuatku takut." Andre menangkap pedang kayu yang dilemparkan Alan ke arahnya.
Latihan tanding mereka berdua pun dimulai. Berkali kali mereka bertukar serangan. Bagi orang lain yang melihat, mungkin terlihat jika mereka berdua berimbang. padahal Andre sedang kualahan menghadapi alan. Andre tidak tahu darimana alan belajar menggunakan pedang. Perkembangannya bisa dikatakan meningkat sangat pesat.
"Bagus sekali... Sepertinya aku meremehkan dirimu." Andre mengambil jarak dari alan. Dirinya memasang kuda kuda untuk menyerang. Kedua tangannya menggenggam erat pedang kayu yang kini hampir sejajar dengan bahu kanannya.
"Kamu beruntung bisa melihatku menggunakan tekhnik ini." Andre mencondongkan badannya ke depan dan langsung maju ke arah alan dengan cepat.
Alan tentu bersiap siap ketika melihat Andre memasang kuda kuda untuk menyerang dirinya. Kedua tangan alan memegang pedang kayunya di depan badannya. Alan yakin tekhnik yang akan digunakan oleh Andre bukanlah tekhnik sembarangan.
thas...
thas...
"Ascend screet tekhnik, delapan cakar elang."
Alan langsung menekuk kedua lututnya, pedang yang tadinya dirinya genggam erat terlepas dari tangannya. Tanpa alan ketahui secara pasti bagaimana cara Andre bisa mendaratkan 8 tebasan dalam sekejap. Tubuh alan terasa sakit semua, jika saja ini adalah pertarungan menggunakan pedang asli. Tubuh Alan pasti sudah tercabik cabik sekarang.
"Bagaimana?" Giliran Andre kali ini yang memberikan senyum mengejek.
"Aku kalah pak... Aku menyerah..." Alan membaringkan badannya ke lantai dojo. Rasa sakit dari tebasan pedang kayu yang Andre berikan masih dirinya nikmati.
__ADS_1
"Apa yang mengganggu pikiranmu?" Andre mendudukkan dirinya di samping Alan. Dirinya bisa mengetahui jika Alan sedang dalam kondisi butuh teman bercerita.
"Hah..." Alan menghela nafas panjang. Mencoba menyusun kata kata untuk diucapkan. Alan merasa malu jika harus bercerita kepada Andre jika dirinya kalah ketika bertarung dengan diri sendiri.
"Tidak perlu dipaksakan. Berceritalah ketika kamu bisa menceritakannya." Andre bangkit dari duduknya dan melangkahkan kakinya. Percuma saja Andre memaksa Alan untuk bercerita jika Alan memang tidak bisa bercerita saat ini.
"Apa Pak Andre pernah bertarung dengan diri sendiri?" Pertanyaan Alan membuat langkah Andre terhenti. Andre langsung mengalihkan pandangannya ke pemuda berambut acak acakan tersebut.
"Pernah..."
Alan langsung bangkit dari rebahannya ketika mendengar jawaban Andre. "Benarkah? Lalu hasilnya?"
"Tentu saja aku menang." Ucap Andre dengan bangganya.
"Hah... Mungkin hanya aku saja yang kalah ketika bertarung dengan diriku sendiri." Alan kembali membaringkan badannya.
"Jangan berkecil hati karena satu kekalahan. Terkadang kita perlu merasakan kekalahan agar bisa menghargai bagaimana rasanya kemenangan."
"Dan satu hal lagi... Aku bisa menang melawan diriku sendiri setelah 2 tahun bertarung dengannya." Andre melangkahkan kakinya kembali untuk meninggalkan Alan.
"2 tahun?" Perkataan Andre membuat Alan sedikit terhibur. "Benar kata Pak Andre. Sepertinya aku terlalu terlena dengan setiap kemenangan yang aku dapatkan." kembali Alan membangkitkan badannya.
"Kalau Pak Andre perlu 2 tahun. Aku harus bisa lebih baik darinya." Alan tidak tahu dimana Andre bisa bertarung dengan dirinya sendiri. Hal tersebut juga tidak ingin Alan permasalahkan. Alan kembali berlatih menggunakan pedang kayunya. Setelah melihat tekhnik pedang yang digunakan Andre tadi, Alan merasa sangat tertarik untuk bisa mempelajarinya.
"Kakak AS... Kamu sudah datang." Sambutan Clara selalu menjadi permulaan Alan ketika Alan memasuki New World. Harus alan akui, dirinya sedikit bosan mendengar Clara yang melakukan kebiasaan seperti itu.
"Bagaimana persiapan para peri?" Alan melihat jika dirinya adalah orang terakhir yang datang ke New World. Semua orang yang ada di ruangan tersebut nampak sudah bersiap siap untuk melanjutkan perjalanan.
"Mereka sudah siap. Hanya tinggal menunggu kamu." Shoote Sun nampak sedikit sewot.
"Apa gadis ini sedang datang bulan?" Melihat Shoote Sun yang sewot, tentu Alan hanya bisa mengutarakannya dalam hati. Bunuh diri namanya jika Alan langsung bilang hal seperti itu di hadapan Shoote Sun.
Rombongan alan, pasukan revolusi dan para peri Oread akhirnya meninggalkan istana Oread. Alan nampak lega melihat pasukan revolusi dan para peri nampak bisa menyatu, walaupun mereka berbeda bangsa. Butuh sehari perjalan sendiri bagi mereka untuk bisa sampai di desa Wood Elf, Kampung halaman freya.
Monster yang harus mereka hadapi di dalam hutan pun juga tidak sedikit. namun pasukan revolusi didikan Alan kali ini benar benar menunjukkan taringnya. Tanpa bantuan Alan dan yang lainnya pun pasukan revolusi bisa menghadapi monster monster yang ada di hutan tanpa kendala. Memang setelah pertarungan melawan Guardian Golem, monster monster yang ada di hutan nampak seperti anak anak monster bagi pasukan revolusi. "Hah... Monster monster disini sudah tidak menantang." Ucap salah satu pasukan revolusi. Alan yang mendengar perkataan salah satu prajuritnya tentu tertawa geli sendiri. Mereka seakan lupa bagaimana wajah mereka ketika pertama kali melihat monster yang ada di hutan.
"Putriku..." Arwen sang kepala desa langsung memeluk putrinya dengan erat setelah melihat kedatangan putrinya dan rombongan. Sudah berbulan bulan sejak terakhir kali dirinya memeluk satu satunya putri kesayangannya tersebut. Arwen langsung mengajak Alan dan yang lainnya untuk beristirahat di kediamannya.
"Tuan Arwen... Kami ingin minta tolong." Alan tidak berbasa basi setelah dipersilahkan untuk duduk di kediaman Arwen.
"Tentu AS... Kalau bisa aku bantu, pastilah aku bantu. Apa yang kalian perlu dariku?"
"Kami ingin menitipkan para peri Oread untuk bisa tinggal di desa ini. Apakah tuan Arwen mengijinkan?"
__ADS_1
"Tentu... Tentu... Kenapa tidak? Leluhur kami dulu sangat mengagumi bangsa para peri Oread. Tidak aku sangka, aku akan berkesempatan untuk bertemu dengan mereka."
Alan bernafas lega setelah mendapat persetujuan dari Arwen. Tadinya Alan sudah berencana untuk membawa para peri ke Middlemist jika Arwen menolak untuk menampung mereka. Obrolan di kediaman Arwen dilanjutkan dengan pertanyaan pertanyaan Arwen tentang petualangan yang dilakukan Alan dan putrinya. Sesekali Arwen menahan nafasnya ketika mendengar cerita yang dibawakan oleh Clara. Clara nampak sangat bersemangat menceritakan bagaimana Alan dan yang lainnya menyerang pasukan kerajaan.
"Haha... Aku tidak bisa membayangkan bagaimana wajah Raja Robert saat mengetahui para menterinya mati karena kalian." Arwen tertawa begitu puas. Freya sampai memberi tanda kepada ayahnya agar menjaga sikapnya di depan teman temannya.
Ketika semua orang sedang asyik mengobrol di dalam ruang tamu kediaman Arwen. Seseorang tiba tiba masuk ke dalam ruang tamu tersebut. Orang tersebut adalah Nightwalker, seorang assassin yang mengawal para tahanan elf untuk mengungsi ke desa Wood Elf.
"Nightwalker... Bagaimana kabarmu?" Alan bangkit dari duduknya untuk bersalaman dengan Nightwalker. "Bukan waktunya untuk itu AS." Raut muka Nightwalker menunjukkan kepanikan. Dari raut mukanya saja Alan sudah bisa menebak jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
"Ada apa? Apa ada serangan?" Alan sudah bersiap untuk berlari keluar ruangan.
"Bukan... Ada hal yang lebih penting." Nightwalker menghentikan Alan dengan menepuk pundaknya.
"Lebih penting?"
"Puteri Leoni akan dieksekusi besok pagi!" Nightwalker mengatakan kalimat itu dengan enggan.
"Puteri Leoni?" kedua kelopak mata Alan langsung terbuka lebar. Dirinya menggosok kedua telinganya, takut jika dirinya salah mendengar apa yang barusan Nightwalker sampaikan.
"Benar... Aku baru saja dihubungi oleh temanku yang ada di ibukota. Katanya besok akan ada acara eksekusi untuk Puteri Leoni."
Alan terduduk lemas. Alan sadar jika masalah ini disebabkan oleh dirinya. Identitas Puteri Leoni pasti terbongkar setelah dirinya menemui Puteri Leoni waktu itu.
"Apa yang harus kita lakukan AS?" Shoote Sun paham jika Alan sedang menyalahkan dirinya sendiri. Namun Shoote Sun mencoba untuk bersikap wajar. Tidak ada gunanya menyalahkan diri sendiri, yang paling penting adalah langkah apa yang akan diambil selanjutnya.
"Aku tidak tahu... Jikapun kita berangkat kesana sekarang, kita tidak akan bisa sampai disana tepat waktu."
Semua orang selain clara mengangguk setuju. Jarak antara desa Wood Elf dengan ibukota teramat jauh, jikapun terbang paling cepat mereka bisa sampai disana dalam 2 hari.
"Bagaimana jika kita berteleportasi?" Ucap Clara dengan senyum terhangatnya.
"Jangan bercanda... Sihir teleportasi memerlukan kekuatan yang sangat besar. Lagipula kita tidak memiliki Alatnya." Alan memang mengetahui dari joker jika ada alat yang bisa digunakan untuk berteleportasi di New World. Namun alat teleportasi sangat susah untuk dibuat, dan lagipula perlu tenaga yang besar untuk pengoperasiannya.
"Kita memang tidak punya, tapi para peri punya." Ucap Clara dengan bangganya.
"Maksudmu?" Pandangan semua orang di ruangan tersebut langsung beralih ke Clara. Mencoba mendapatkan penjelasan yang lebih rinci dari perkataan Clara.
"Ya... Para peri memiliki alat teleportasi di dalam istana mereka."
"Apa lagi yang kita tunggu... Kita kembali kesana." Alan mengajak teman temannya untuk bergegas kembali ke istana peri oread.
Freya, Shoote Sun dan Jonta langsung menatap tajam ke arah Clara. seakan menyalahkan Clara yang mengucapkan hal tersebut. Mereka bertiga kesal, baru saja mereka beristirahat beberapa jam dan harus kembali berangkat lagi. Berangkat ke tempat awal mereka tadi pula. Orang mana yang tidak kesal dengan hal seperti itu.
__ADS_1
"Apa? Apa salahku?" pandang Clara dengan polosnya kepada ketiga temannya.