
Setelah mengembalikan Heaven Sins dan Jack Wilshere ke Ibukota, Alan memilih untuk menepi ke area padang pasir. Jati diri dirinya telah diketahui oleh Sun Flower Guild, akan sangat berbahaya bagi Heaven Throne jika sampai pihak Sun Flower Guild mendapati keterlibatan Heaven Throne.
Bersama Ken, Chiro dan Grestal... Alan memilih untuk menepi ke suatu daerah bebatuan yang dulunya merupakan tempat pembantaian Bangsa Titan. Alan memberi kesempatan kepada Grestal untuk memberikan penghormatan terakhir kepada semua Bangsa Titan yang telah dibantai sebelum nantinya Grestal akan selalu ikut bersama dengan Alan.
"Kenapa kamu terlihat tidak senang? Bukannya kamu bisa membalas dendam semalam?" Ken yang melihat Alan duduk di pojokan tebing. Dari tempat Ken berdiri, terlihat jika Alan sedang mengawasi Grestal yang sedang memberikan penghormatan kepada para Bangsa Titan yang tengah terkubur di bawah tanah.
Namun Ken tahu betul, jika Alan tidak sedang mengawasi Grestal. Lebih tepatnya Alan sedang memikirkan sesuatu hal.
"Darimana kamu tahu isi pikiranku?" Alan hanya menoleh ke arah Ken. Alan yakin jika dirinya sudah berusaha menampilkan ekspresi yang jauh isi pikirannya. Namun bagaimana Ken bisa mengetahuinya? Apa Ken juga memiliki kemampuan seperti Flyin?
"Haha..." Ken pun ikut duduk di samping Alan. Memposisikan dirinya agar nyaman untuk mereka berdua berbicara.
"Aku juga pernah berada dalam keadaanmu..." Ken terdiam sejenak. Memikirkan semua yang ingin dirinya ceritakan kepada Alan.
"Hidup dalam bayang-bayang dendam... Memang dendam bisa menjadi pemicu semangat untuk kita menjadi lebih kuat. Tapi nyatanya?" Ken mengalihkan pandangannya ke arah Alan.
"Kamu tidak mendapatkan kesenangan meskipun kamu bisa membalaskan dendam mu bukan?" Lanjut Ken.
"Omong kosong... Aku belum senang karena aku belum melihat kehancuran mereka sampai dasar mereka." Alan menatap Ken, dari sorot mata Alan terlihat jika kebencian yang mendalam memang sudah terpupuk di dalam diri Alan.
"Percayalah padaku... Semua balas dendam yang ingin kamu lakukan... Tidak akan merubah apapun yang telah terjadi..." Ken tidak berusaha melawan tatapan mata Alan. Tapi bukan berarti Ken tidak bisa memberikan nasehat untuk Alan.
"Aku tahu itu... Tapi paling tidak aku akan memberikan penderitaan yang pernah aku rasakan kepada mereka." Alan berdiri dari tempat duduknya dam melompat dari atas tebing tersebut, menemui Chiro dan Grestal yang sudah menunggunya di bawah tebing. Semakin lama dirinya duduk bersama Ken, akan semakin banyak nasehat yang keluar dari mulut Ken.
__ADS_1
"AS..." Ken mencoba mencegah Alan. Namun nyatanya itu adalah hal yang sia sia belaka.
Grestal pun Alan kembalikan ke dalam The Forgotten World, lalu dengan beberapa kepakan sayap Chiro, Alan beserta Chiro pergi meninggalkan tempat peristirahatan terakhir para Bangsa Titan tersebut.
"Hey... AS... Kenapa aku ditinggal?" Ken mencoba memanggil Alan yang meninggalkan dirinya seorang diri.
"Ahh... Sialan bocah itu... Bagaimana aku harus kembali ke ibukota kalau seperti ini?" Ken tidak bisa menghentikan perginya Alan beserta Chiro. Sepertinya dirinya memang harus menerima nasib untuk berjalan kaki kembali ke Ibukota Kerajaan Black Dessert.
"Ah... Kenapa di dunia ini tidak ada mobil..." Ken mengutuk developer pembuat game, yang mengharuskan para player untuk berjalan kaki kemana mana jika tidak memiliki hewan atau item yang bisa membawanya terbang.
###
Sun Flower Guild mencoba untuk menutupi sebisa mungkin hancurnya pabrik dan perkebunan milik mereka. Akan menjadi kerugian besar bagi Sun Flower Guild jika sampai berita hancurnya pabrik beserta perkebunan Violet Wine mereka tersebar luas. Guild guild maupun pihak luar yang tengah menjalin kerja sama dengan Sun Flower Guild tentu akan berpikir ulang jika mendengar tentang hancurnya salah satu komoditas usaha mereka.
Sebagai salah satu organisasi yang bekerja sama dengan Sun Flower Guild, tentu Kuil Cahaya memiliki banyak telinga dan mata yang bisa mereka andalkan untuk mendapatkan informasi tentang Sun Flower Guild.
Second Priest sebagai salah satu pihak yang memiliki banyak mata dan telinga di Sun Flower Guild hampir tidak percaya mendengar pesan suara yang dikirimkan dari sumbernya di Sun Flower Guild. Sudah begitu banyak berita berita yang diberikan oleh mata matanya tersebut, namun baru kali ini dirinya mendapatkan sebuah berita yang berada di luar nalar.
"Siapa yang berani mencoba mengusik Sun Flower Guild?" Pertanyaan itu pun langsung terngiang di kepala player yang memiliki nama asli Terasect tersebut. Posisinya yang dirinya duduki di Kuil Cahaya, membuat semua orang lebih memilih untuk memanggil dirinya dengan Second Priest.
Meskipun sebenarnya dirinya tidak begitu suka dengan panggilan tersebut. Second? Itu berarti yang kedua, ada seseorang yang menjadi yang pertama selain dirinya. Dan Terasect sangat tidak menyukai hal itu.
"Kalau seperti ini rencanaku bisa gagal semua..." Second Priest membanting gelas emas berisi wine yang ada di genggamannya. Memuntahkan seisi wine yang ada ke atas lantai.
__ADS_1
"Aku tidak bisa tinggal diam..." Second Priest tahu betul sebesar apa masalah yang menimpa Sun Flower Guild.
[Beri aku informasi tentang si penyerang pabrik itu... Aku akan mengusahakan agar Kuil Cahaya membantu menyelesaikan masalah Sun Flower Guild.]
Wajah Second Priest terlihat tidak senang setelah mengirim pesan tersebut pada mata mata yang dirinya miliki. Raut wajahnya menunjukkan jika dirinya kini tengah berpikir dengan keras mengenai langkah yang harus dirinya ambil.
"Padahal tinggal sedikit lagi... Kenapa harus ada pihak luar yang mengganggu?" Second Priest ingin marah sebisa mungkin. Namun dirinya juga tidak bisa berbuat apa apa.
Jika Sun Flower Guild mengalami kemunduran yang signifikan, maka kerja sama antara Kuil Cahaya dan Sun Flower Guild bisa terancam putus. Padahal dirinya sedang berusaha memanfaatkan Sun Flower Guild untuk mendukung dirinya merebut posisi First Priest.
Thing...
Sebuah pesan video masuk ke dalam sistem milik Second Priest. Mata mata yang dimilikinya langsung mengirimkan informasi yang diminta oleh dirinya.
"Ini?" Second Priest langsung terperanjat, melihat video singkat yang diterimanya.
Dalam video tersebut terlihat seekor Naga hitam putih nampak sedang terbang meninggalkan area perkebunan yang terlalap api. Namun pandangan Second Priest bukan ke arah Naga di dalam video tersebut, melainkan pada Bangsa Titan yang ikut dibawa terbang oleh Naga hitam putih tersebut.
"Bangsa Titan?" Bukan lagi sebuah kerutan, namun kini justru sebuah senyuman yang menghiasi wajah Second Priest.
"Ini benar benar bisa aku gunakan..." Second Priest tersenyum, melihat akan gambaran rencana selanjutnya yang harus dirinya ambil.
***Terima kasih yang sudah mendukung cerita ini dengan tip ataupun poin. Saya sangat menghargai hal tersebut. Saya hanya bisa meminta maaf karena memang belum bisa memberikan update seperti yang kalian harapkan...***
__ADS_1