
Seminggu setelah mendapat perintah dari Poska, Toni membawa batalyon yang dirinya pimpin untuk pergi ke Kerajaan Demon God. Ya... Seminggu waktu yang diperlukan oleh Toni untuk menyiapkan semua kebutuhan selama di Kerajaan Demon God. Namun bukan kebutuhan untuk berperang yang Toni siapkan. Melainkan kebutuhan untuk membuat acara surprise pada Red Ascend.
"Kalian siap?" Toni sekali lagi bertanya pada semua anggota batalyon yang dirinya bawa, memastikan tidak ada satu pun anggota batalyonnya yang tertinggal.
"Yes Kapten..." Jawab semua anggotanya serentak, yang terdiri dari player dan NPC tersebut.
Dengan menunjukkan kartu pass yang Toni miliki. Penjaga gerbang teleportasi pun langsung mengirimkan ke 150 orang tersebut ke Ibukota Kerajaan Demon God.
Pandangan setiap orang pun berganti sepenuhnya. Dari sebuah Kota yang dipenuhi dengan berbagai ragam tanaman dan warna warni bunga, berubah menjadi bangunan bangunan beraksen timur yang penuh dengan warna hitam dan merah darah. Melihat ke sekeliling pun juga jauh berbeda dengan Ibukota Kerajaan Hidden Forest.
Di Hidden Forest sebagian besar penduduk dan player mengambil ras Manusia dan Elf. Sedangkan di Kerajaan Demon God, ras penduduk dan player begitu beragam. Ras seperti Troll, Dwarf, bahkan Vampire sekalipun bisa ditemui di Kerajaan Demon God.
"Kemana kita akan pergi Kapten?" Tanya Red Ascend pada Toni. Meskipun dirinya begitu dekat dengan Toni, namun di hadapan prajurit batalyon Red Ascend mesti menunjukkan sisi hormat pada Toni. Dirinya tentu tidak ingin Toni dipandang sebagai seorang Kapten yang takut pada bawahannya. Bisa bisa semua bawahan Toni menjadi bersikap kurang ajar pada Toni nantinya.
"Kita ke Kuil Cahaya terlebih dahulu. Kalian bisa beristirahat di sana." Toni mengajak semua anggota batalyonnya untuk pergi ke Kuil Cahaya. 150 orang dalam satu rombongan tentu merupakan jumlah yang besar. Toni tidak yakin akan ada satu penginapan yang bisa menampung semua anggota batalyonnya dalam satu penginapan. Meskipun jika ada... Berapa biaya yang harus dikeluarkan?
Pernah merasakan hidup tanpa sokongan dana dari orang tuanya membuat Toni semakin sering berpikir ulang dalam pengaturan keuangan. Dirinya kini lebih menghargai setiap koin Silver maupun Gold yang dirinya dapatkan.
Light Guardian mempunyai hubungan yang begitu erat dengan Kuil Cahaya. Hubungan antara organisasi dan kelompok kepercayaan tersebut bagaikan sebuah kepala dengan tangan. Kuil Cahaya menjadi kepala, dan Light Guardian menjadi tangannya.
Kuil Cahaya mengatur semua langkah langkah yang akan dilakukan untuk menyebarkan ajaran Dewa Helios. Sedangkan Light Guardian, menjadi tangan Kuil Cahaya, untuk mengatasi semua masalah dan kendala yang mereka temui untuk menyebarkan ajaran Dewa Helios.
Toni tentu tidak keberatan dengan hal tersebut. Mengingat dirinya mendapat imbalan yang setimpal dengan apa yang dirinya lakukan. Lagipula dirinya merasa Kuil Cahaya memberikan suatu pencerahan pada para NPC di Benua Midgard. Pencerahan atas sebuah kepercayaan yang mengajarkan untuk saling tolong menolong.
Meskipun Toni tidak keberatan dengan ajaran Kuil Cahaya, bukan berarti dirinya juga percaya akan ajaran Kuil Cahaya. Ini hanya di dalam game. Semua ajaran dan kepercayaan yang dibuat tentu juga hanya merupakan sebuah sistem yang diatur oleh Microboot. Toni hanya menganggap keberadaan Kuil Cahaya sebagai salah satu bagian dari serangkaian Main Stori yang ada di New World.
Gerakan Toni dan anggota batalyonnya menarik perhatian semua orang yang ada di Ibukota Demon God. Semua orang memilih untuk menyingkir dan memberi jalan, daripada harus berurusan dengan kelompok besar tersebut. Meskipun tidak semua player takut dengan rombongan batalyon Toni, namun mereka tentu tidak ingin membuat kekacauan yang tidak diinginkan. Apalagi melihat simbol Light Guardian yang tersemat di dada setiap anggota batalyon Toni. Membuat siapapun yang mencoba mencari masalah langsung mengurungkan niat mereka.
Sebuah gerbang setinggi 6 meter langsung menyambut Toni dan rombongannya. Gerbang dengan pintu kayu kembar berhiaskan ukiran emas berdiri kokoh, lengkap dengan penjagaan empat Angel bersayap satu pasang. Sebuah kelas Angel terendah dari semua Angel yang ada.
__ADS_1
Namun tetap saja... Angel memiliki berkah kekuatan cahaya, meskipun Angel tersebut hanyalah Angel kelas terendah. Membuat lima player biasa tidak akan sanggup untuk menghadapinya.
Dengan menunjukkan lencana emas yang dimiliki Toni, keempat Angel yang berjaga di pintu gerbang membukakan gerbangnya. Memperlihatkan bagian dalam Kuil Cahaya yang lebih megah daripada bagian luarnya.
Tidak sembarang orang bisa memasuki Kuil Cahaya di Kerajaan Demon God. Berbeda dengan Kuil Cahaya di Kerajaan lain, dimana Kuil Cahaya dijadikan tempat beribadah umat umat pemuja Dewa Helios. Kondisi Kerajaan Demon God yang tidak stabil, memaksa Kuil Cahaya memperketat pengamanan. Hanya umat umat terpercaya dan orang orang tertentu saja yang diizinkan untuk memasuki Kuil Cahaya.
"Selamat Datang di rumah suci Dewa Helios..." Seorang biarawan wanita berpakaian serba putih langsung menyambut Toni dan rombongannya. Pihak Kuil Cahaya telah dihubungi oleh Light Guardian, jika Light Guardian akan mengirimkan satu batalyon ke Kerajaan Demon God dan Kuil Cahaya akan menjadi tempat persinggahan sementara mereka.
"Terima kasih banyak Nona..." Toni memberi tanda dengan matanya, menanyakan harus dengan apa dirinya memanggil sosok biarawan di hadapannya.
"Panggil saya Tara..." Jawab Tara seraya dirinya mempersilahkan rombongan Toni untuk memasuki Kuil Cahaya semakin dalam.
"Tentu Nona Tara..." Langkah kaki Toni mengikuti Tara yang membimbing dirinya beserta rombongannya.
Tidak banyak yang Toni bicarakan dengan Tara, Toni hanya menitipkan anggota batalyonnya untuk bisa beristirahat di Kuil Cahaya. Sedangkan dirinya dan Red Ascend kembali meninggalkan Kuil Cahaya. Toni beralasan jika dirinya harus memeriksa lokasi yang akan dirinya datangi terlebih dahulu.
Padahal itu hanya tipu muslihat Toni, Toni memerlukan waktu berdua dengan Red Ascend untuk melakukan rencana brilian yang sudah dirinya susun. Toni tentu tidak mau acara sakral yang akan dirinya lancarkan terganggu dengan adanya anggota batalyon lainnya. Dirinya benar benar harus memiliki waktu yang begitu intim berdua bersama Red Ascend.
"Sudah kuduga dia akan datang..." Alan menatap langit senja yang sudah mulai memerah. Mungkin kalau orang biasa hanya akan melihat satu keindahan akan pemandangan yang tersaji dari langit senja. Namun Alan bisa melihat jika ada seekor Winged Lion yang sedang terbang mendekati Desa Fortina.
"Apa perlu saya bereskan Tuan?" Flyin menawarkan satu pekerjaan ringan tersebut. Sebagai pelayan yang baik, tentu Flyin tidak ingin melihat tuannya mengotori tangannya untuk seekor semut kecil seperti Winged Lion.
"Tidak perlu Flyin... Kita lihat dulu apa yang dia inginkan." Alan mencegah Flyin untuk langsung bertindak. Dirinya perlu mengetahui maksud dan tujuan kedatangan player Ranger tersebut. Lagipula Alan yakin, Ranger tersebut datang menemuinya bukan untuk membalas dendam. Alan sudah memperlihatkan kepada Ranger tersebut, jika balas dendam merupakan suatu hal yang mustahil bagi Ranger tersebut.
"Kaik..." Bukan raungan dari Winged Lion yang terdengar begitu sosok Winged Lion tersebut mendarat di hadapan Alan dan Flyin. Melainkan satu suara eraman manja, bagaikan suara eraman kucing manis.
"Hahahaha..." Sontak Alan dan Flyin tertawa, melihat tingkah Winged Lion yang sudah tidak menunjukkan keganasannya.
Cleo pun tertunduk malu dengan apa yang Willi lakukan. Dirinya merasa gagal membesarkan Willi menjadi seekor Winged Lion yang terlihat garang.
__ADS_1
"Ada apa? Masih penasaran?" Alan berbicara dari balik tudungnya, walaupun tidak melihat wajah dan rupa Alan, Cleo bisa menebak jika Alan sedang tersenyum mengejek pada dirinya.
'Sabar Cleo... Sabar... Ini perintah Commandermu...' Batin Cleo di dalam hati. Jika bukan karena perintah Commandernya, Cleo sudah menyerang Alan. Lebih baik dirinya mati sekali lagi dan kehilangan lima level daripada merasa terhina seperti ini.
"Maaf telah mengganggu waktumu... Aku membawakan undangan dari Commanderku untukmu." Setelah menenangkan emosinya sesaat, Cleo langsung menyampaikan maksudnya. Dirinya tidak ingin terjadi lagi suatu kesalahpahaman dengan Alan.
"Hem... Commandermu? Memang siapa dia?" Alan tidak terkejut dengan apa yang disampaikan Cleo, dirinya hanya ingin tahu organisasi mana yang berdiri di belakang Ranger tersebut.
"Kamu..." Cleo menahan geramnya. Tidak menduga sama sekali dengan jawaban pria bertudung hitam di hadapannya. Namun dirinya segera tersadar, jika dirinya belum memperkenalkan diri dan mungkin pria di hadapannya masih belum tahu siapa dirinya.
"Maaf kalau aku belum memperkenalkan diri. Namaku Cleo, salah satu anggota Death Mask. Commanderku ingin bertemu dengan dirimu di markas kami." Cleo sedikit berbangga diri memperkenalkan dirinya. Dirinya yakin tidak ada satupun player di New World yang belum pernah mendengar kebesaran nama Death Mask.
"Death Mask? Kenapa kalian tidak pakai topeng?" Goda Alan, setahun lebih terkurung di Dunia Abyss tentu membuat Alan tidak mengetahui organisasi seperti apa Death Mask tersebut.
"Kau..." Cleo benar benar geram. Dirinya masih tidak percaya sosok pria bertudung hitam di hadapannya mengejek Death Mask.
"Jangan marah... Aku hanya bercanda..." Alan tahu jika dirinya terus mengejek Cleo, dirinya tidak akan bisa mengetahui organisasi seperti apa Death Mask itu.
"Jadi... Kalian mau ikut bersama kami?" Cleo lebih mementingkan tugasnya, daripada menuruti emosinya. Dirinya tentu tidak siap harus menerima hukuman lanjutan dari Commandernya karena gagal menjalankan tugas yang diberikan.
"Tentu..."
"Bagus... Naiklah..." Ajak Cleo kepada kedua sosok berjubah hitam tersebut.
"Naik itu? Lebih cepat jika kita naik ini..." Alan memberi tanda pada Chiro yang tengah duduk manis di pundaknya.
Dengan tanda dari Alan, tubuh Chiro mengeluarkan aura putih yang kuat. Alan mengimbanginya dengan mengeluarkan aura kegelapan dari dalam tubuhnya. Kedua aura tersebut bersatu, dan masuk ke dalam tubuh Chiro. Membuat tubuh Chiro yang tadinya hanya seukuran burung hantu, membesar menjadi satu sosok Naga dewasa.
"Uargh..." Raung Chiro setelah tubuhnya tidak lagi membesar. Membuat Winged Lion yang tengah dinaiki Cleo menyembunyikan kepalanya, tidak ingin melihat sosok Naga yang berdiri dengan perkasanya di hadapannya.
__ADS_1
Cleo pun hanya bisa menelan ludah dalam dalam. Pikirannya campur aduk antara malu, takut dan bahagia karena melihat sosok Naga dewasa.
"Tunggu apa lagi? Ayi tunjukkan jalan..." Ajak Alan setelah dirinya naik ke punggung Chiro. Cleo dan Winged Lion pun malu malu ikut naik ke punggung Chiro. Menumpang pada orang yang dirinya tawari tumpangan.