
Jerit tangis terdengar dari mulut anggota keluarga kerajaan yang ikut bersama rombongan kerajaan ketika tubuh raja Robert terbakar dan berubah menjadi abu. Mereka tidak percaya jika tangan kanan raja mereka telah membakar rajanya sendiri hidup hidup.
Puteri Leoni yang melihat kejadian tersebut juga merasa geram. Walaupun dirinya sangat benci dengan perilaku dan gaya kepemimpinan raja Robert, tetap saja raja Robert adalah ayah kandungnya.
Seakan belum puas dengan apa yang dirinya lakukan, Sander mengalihkan pandangannya ke arah keluarga kerajaan yang ikut bersama rombongan raja Robert.
Boom...
Sekali lagi... Api hitam merubah tubuh keluarga kerajaan menjadi abu. Walaupun mereka berusaha melarikan diri, namun mereka tetap tidak bisa lari dari api hitam Sander.
"Cukup Sander..." Puteri Leoni tidak tahan lagi harus melihat keluarganya dibakar habis oleh Sander. Rasa perih tetap saja merembes dari lubuk hatinya ketika melihat keluarganya terbakar menjadi abu.
"Hahahaha..." Sander tertawa puas melihat puteri Leoni begitu putus asa setelah hanya tinggal dirinya yang tersisa dari keluarga kerajaan.
"Apakah kamu sudah tidak sabar untuk menyusul mereka?" Senyum penuh kemenangan muncul di bibir Sander.
"Lakukanlah..." Puteri Leoni sudah pasrah menerima nasibnya untuk dieksekusi hari ini. Dirinya hanya bisa memejamkan matanya menunggu Sander mengeluarkan api hitam seperti yang Sander lakukan kepada keluarganya.
Melihat puteri Leoni sudah tidak bisa memberikan hiburan lagi, Sander mulai merapalkan mantra untuk mengeluarkan api hitamnya sekali lagi. Dengan diangkatnya tangan Sander ke depan, sebuah lingkaran sihir muncul di atas kepala puteri Leoni.
Jleb...
Sebuah panah tepat menusuk ke tangan kanan Sander yang membuat sihirnya berhenti bekerja. "Kurang ajar..." Sander langsung mengerang kesakitan sambil memegangi tangan kanannya yang terluka. Matanya langsung mencari ke sekitar area taman untuk mencari siapa sosok yang berani menyerangnya.
Puteri Leoni yang masih menutup mata pun terheran, seharusnya Sander sudah mengeluarkan api hitamnya untuk membakar tubuhnya. Teriakan dari Sander langsung membuat puteri Leoni membuka matanya. Pandangannya tertuju kepada sekelompok orang yang tengah berdiri di ujung taman. Satu orang yang berada di paling depan masih memegang busur panahnya, tanda dirinya baru saja melepaskan sebuah anak panah dari busur tersebut.
"Pergilah..." Puteri Leoni bukannya merasa senang akan kedatangan Egner dan pasukannya. Puteri Leoni malah meminta mereka untuk segera meninggalkan tempat tersebut. Puteri Leoni tahu betul jika Egner dan pasukannya sama sekali bukan tandingan Sander.
"Kalian... Cari mati rupanya..." Sander mencabut anak panah yang ada di tangan kanannya dan menyembuhkannya dengan sihirnya. Matanya kini menatap tajam ke arah tiga puluh pasukan revolusi yang baru saja datang. Digenggam eratnya bola cristal rugbi hitam dengan tangan kanan yang baru saja dirinya sembuhkan.
Bola cristal tersebut langsung bersinar, sebuah lingkaran sihir berukuran lima meter langsung muncul di depan panggung eksekusi.
__ADS_1
Uargh...
Raungan monster langsung terdengar dari dalam lingkaran sihir tersebut, sosok kepala ular mulai keluar dari dalamnya. Dengan perlahan, Kepala ular tersebut diikuti oleh tubuh dan ekornya. Hingga wujud monster ular hitam sepanjang 12 meter menghadang Egner beserta pasukannya.
slep...
slep...
Lidah ular tersebut keluar dan masuk dari mulutnya, pandangan ular tersebut begitu tajam mengarah ke Egner beserta pasukannya.
"Egner..." Zein yang bingung harus berbuat apa di hadapan monster ular tersebut langsung bertanya kepada Egner.
"Menyebar! Kita serang dari berbagai sisi." Tidak seperti yang lainnya, Egner masih bisa merasa tenang dihadapan monster ular tersebut. Walaupun dirinya juga tidak yakin apakah dirinya dan pasukannya bisa membunuh monster tersebut.
"Bagaimana kalau kita nikmati dulu hiburan ini?" Sander merasa mendapatkan hiburan sekali lagi. Rencana mengeksekusi puteri Leoni pun Sander tunda sampai monster ularnya menghabisi Egner dan pasukannya.
"Egner! Pergilah! Tinggalkan aku!" Puteri Leoni berteriak untuk meminta kepada Egner dan yang lainnya pergi. Puteri Leoni tidak ingin melihat Egner dan pasukannya mati dihabisi oleh Sander ataupun monster panggilannya.
Peringatan puteri Leoni sama sekali tidak diindahkan oleh Egner maupun yang lainnya. Pilihan mereka untuk datang ke ibukota hari ini sudah final. Mereka hanya akan meninggalkan ibukota jika mereka berhasil merebut kekuasaan dan menyelamatkan puteri Leoni atau mereka pergi ke alam kematian.
###
"Sial... Aku tidak bisa terus begini..." Alan mengumpat di dalam hati ketika mendapati pandangannya mulai sedikit kabur. Berkali kali Alan mencoba untuk mendaratkan serangan ke arah Deathmark, namun Deathmark selalu sudah bersiap untuk menyerangnya ketika dirinya baru saja muncul dari dalam bayangan.
Pertarungan Alan dengan Deathmark tinggal di ujungnya. Batas penggunaan otak mereka hampir di ambang batas. Nafas Deathmark mulai tidak beraturan karena terus menyerang menggunakan rush modenya. Sementara pandangan Alan mulai sedikit kabur, akibat efek penggunaan skill shadowingnya yang terus menerus.
"Mati..."
"Sial..."
Deathmark selalu mengumpat ketika dirinya hampir berhasil mendaratkan serangan ke tubuh Alan tapi hanya udara yang ditebasnya.
__ADS_1
'Joker... Ada solusi?' Di tengah pertarungan yang intens Alan tidak berani membagi konsentrasinya untuk memikirkan rencananya. Bisa bisa dirinya terkena tebasan Deathmark ketika dirinya memikirkan rencana.
[Kamu bisa menggunakan Black Breath lagi. Masa cooldown skill Black Breath tinggal 10 detik lagi.]
"Bagus..." Alan tidak menduga skill Black Breathnya sudah bisa aktif lagi. Itu berarti hampir sepuluh menit dirinya dan Deathmark terus bertarung seperti ini.
"Black Breath!"
Ketika skill Black Breath Alan telah aktif, Alan tidak membuang waktu lagi. Dirinya langsung mengaktifkannya ketika dirinya muncul dari bayangan Deathmark.
Kepulan gas beracun langsung memenuhi udara di sekitar tubuh Deathmark. Deathmark yang sudah mengetahui akan skill Alan satu ini langsung bereaksi menutup hidungnya. Dirinya langsung melompat ke atas untuk menghindari area gas beracun.
"Kamu pikir aku bisa terkecoh dengan skillmu berulang ulang?" Deathmark yang tengah melompat tinggi di udara tersenyum sinis melihat Alan terlalu mengandalkan skill racunnya.
Jleb...
Jleb...
Jleb...
[Player terkena white fog poiton!]
Deathmark mungkin bisa terbebas dari kepulan gas beracun Alan. Namun Alan masih memiliki ratusan jarum beracun yang siap untuk ditembakkan di dalam gauntletnya. Tanpa Deathmark sadari, Alan memanfaatkan gas Black Breath untuk membuat Deathmark lengah.
"Critical Wind Spear!"
Sebuah tombak angin langsung melesat ke arah Deathmark yang tidak bisa menggerakkan tubuhnya secara leluasa karena efek racun white fog poiton.
Jleb...
Tombak angin menancap tepat di jantung Deathmark, membuat tubuh Deathmark terpental ke belakang mengikuti arus tembakan tombak angin hingga berhenti ketika membentur tembok bangunan. Alan mendekati tubuh Deathmark yang tidak bisa bergerak, menebas lehernya untuk memastikan kematian Deathmark.
__ADS_1
"Aku harus cepat!" Alan mengalihkan pandangannya ke arah pusat ibukota. Takut jika dirinya terlambat untuk menyelamatkan puteri Leoni. Segera dirinya melompat ke atap bangunan satu ke atap bangunan lainnya untuk segera menuju ke taman tengah ibukota.
Namun baru saja Alan melompati 2 bangunan, pandangan Alan mulai kabur sekali lagi. Terlihat kunang kunang hitam terbang di sekitar Alan. Semakin lama kunang kunang hitam tersebut semakin banyak hingga menutupi seluruh pandangan Alan. Tubuh Alan pun terjatuh ke tanah ketika pandangannya gelap sempurna. Sekali lagi kesadarannya hilang akibat kerja otak yang terlalu berat.