New World

New World
Rahasia Alan dan Toni


__ADS_3

Mendapatkan kembali kepercayaan ayahnya, merupakan sebuah pedang dua sisi bagi Toni. Toni kembali bisa menikmati kehidupan mewahnya dengan uang keluarganya. Namun ada hal lain juga yang membuat Toni begitu khawatir, hubungan Toni dengan May.


Dirinya perlu berpikir keras untuk sekedar mendapatkan restu dari kedua orang tuanya, terutama ayahnya. Hal itu wajar tentunya, mengingat Toni berasal dari keluarga yang begitu terpandang, sementara May? May hanyalah anak dari pemilik sebuah Dojo. Yang tentunya status dan kedudukannya jauh di bawah Keluarga Wellington.


Meskipun selama ini Ayah dan Ibunya tidak pernah memperdulikan Toni berhubungan dengan siapa. Tapi jika itu menyangkut ke jenjang yang serius, Keluarganya pasti akan menilai pasangan Toni dari 3B. Bibit, Bebet, Bobot.


Dan kini... Toni tengah termenung sendiri di dalam sebuah ruangan. Termenung dengan sebuah cincin berhiaskan batu permata biru di tangan kanannya. Dirinya memainkan cincin tersebut, sembari memikirkan cara terbaik untuk bisa menyarungkan cincin tersebut di jari manis May.


Ya... Toni begitu menyayangi May, Dirinya berencana untuk melamar May. Meskipun dirinya dan May belum lulus kuliah, tapi bukan berarti Toni tidak serius dengan May. Sudah terlalu lelah Toni harus bersaing dengan pria pria lainnya yang mencoba mendekati May. Jika dirinya melamar May, paling tidak pria pria yang mencoba mendekati May akan berpikir ulang setelah melihat cincin di jari manisnya.


Secara kebetulan juga Toni mendapatkan sebuah item berbentuk cincin di New World. Jujur saja dirinya sangat menyukai bentuk dan motif cincin tersebut. Dirinya ingin menggunakan cincin tersebut untuk melamar May, dan nantinya akan memesan cincin dengan motif yang sama di dunia nyata.


"Bagaimana cara aku mengatakannya ya?" Toni sedang dipusingkan dengan kata kata yang akan dirinya ucapkan untuk melamar May. Dirinya bukan tipe pria yang romantis, yang bisa merangkai kata kata indah untuk memperindah suatu momen. Tidak mungkin kan jika Toni hanya berkata 'Mau kah kau menikah denganku?'


Ini adalah proses melamar calon pasangan hidup, bukan melamar pekerjaan atau sejenisnya. Harus ada sesuatu yang special yang terkandung di dalam momen yang mungkin hanya akan terjadi satu kali dalam seumur hidup tersebut.


Dan di tengah tengah pusingnya Toni memikirkan kata kata yang akan dirinya ucapkan pada May, sebuah panggilan tidak terduga datang melalui sistemnya.


Nama yang tidak dirinya sangka sangka tertera di layar kanan atas, sebuah nama yang begitu dirinya pertanyakan keberadaannya.


Dengan segera Toni menjawab panggilan tersebut, ingin segera tahu kebenaran dari orang yang melakukan panggilan kepadanya tersebut.


"Ha.. Halo..." Toni merasa sedikit bingung untuk berkata apa, pikirannya terasa linglung melihat nama dari orang yang memanggilnya.


"Suaramu tidak berubah ternyata dari dulu..." Jawab lawan bicara Toni dari seberang sana.


Mendengar suara yang begitu dirinya kenal, air mata Toni menetes dengan sendirinya. Sudah lebih dari satu tahun dirinya mencari keberadaan lawan bicaranya tersebut. Dan kini... Secara tidak terduga, sosok yang dirinya cari tengah menghubunginya. Sosok yang merupakan sahabatnya, Alan, atau AS di dalam New World.


"Hei... Kenapa diam? Kamu masih disana kan?"


"Bodoh!" Jawab Toni yang masih sesenggukan dan mengatur nafasnya. Dirinya begitu mengkhawatirkan keselamatan sahabatnya satu itu, namun nampaknya sahabatnya tersebut tidak mengetahui sama sekali apa yang Toni rasakan.


"Hahaha... Aku tahu itu... Aku tidak akan menjadi sahabatmu jika aku tidak bodoh."


Toni sedikit tersenyum mendengar jawaban Alan dari seberang panggilan. Selera humor mereka benar benar sejalan, satu tahun tidak bertemu, tentu tidak merubah kesepahaman mereka berdua dalam cara bergurau.


"Dimana kamu? Lelah aku mencari keberadaan dirimu tahu!" Toni menyandarkan kepalanya pada sandaran kursinya, menikmati momen leganya perasaan setelah mendengar suara Alan.

__ADS_1


"Dimana ya? Aku belum tahu pasti... Tapi aku perlu bantuanmu saat ini."


"Dasar teman yang merepotkan. Kamu selalu datang di saat kamu butuh." Toni tentu tidak serius dalam mengucapkan hal tersebut, dirinya tahu betul seperti apa Alan. Teman yang akan selalu ada untuk membantu teman temannya ketika dirinya bisa. Dan Toni juga tahu betul, jika Alan tidak akan meminta bantuan jika memang Alan bisa melakukan apa yang akan dirinya kerjakan sendiri.


"Hahaha... Seperti itulah gunanya teman. Apalagi teman yang kaya seperti dirimu."


"Sudah... Apa yang kamu mau?" Toni tidak ingin terlalu berbasa basi. Dirinya ingin segera bisa bertemu dengan Alan. Sudah tidak sabar dirinya untuk menjitak kepala Alan karena kebodohan yang Alan lakukan.


"Kamu tahu dimana tubuh utamaku? Bisa kamu datang sekarang? Ada hal yang perlu aku bicarakan."


"Tubuh utamamu? Kamu sudah tergeletak satu tahun lebih di rumah sakit bodoh. Jika saja aku tidak membawamu tepat waktu dulu... Mungkin tubuh utama sudah termakan cacing sekarang."


"Ya... Ya... Aku tahu itu... Tapi ini penting sekali. Ada satu hal yang hanya kamu yang bisa melakukannya. Satu hal lagi... Pastikan kamu bawa helm VR mu!"


"Baiklah... Aku akan segera kesana."


Dengan persetujuan Toni, Alan pun menutup panggilan sistemnya. Membuat suara Alan tidak bisa lagi Toni dengar.


"Hah... Dasar... Apa yang akan dia lakukan malam malam begini?" Toni menghela nafas panjang setelah dirinya log out. Kerlip bintang bintang masih bisa dirinya lihat melalui jendela asramanya. Menandakan malam masih belum mau beranjak dari bentangan langit nan luas.


Toni segera memacu mobil barunya untuk pergi ke rumah sakit, mobil baru yang menjadi hadiah dari ayahnya karena Toni telah berhasil membuka cabang bisnis baru untuk keluarganya di New World, WMC.


Klek...


Dengan hati berdebar debar, Toni membuka pintu ruangan tersebut. Entah kenapa dirinya merasa gugup untuk bertemu dengan Alan, sahabat yang dirinya coba selamatkan selama satu tahun lebih.


"Hey..." Sapa Alan yang terlihat sudah bisa membuka matanya. Namun dari suaranya yang begitu serak, Toni bisa mengerti jika Alan masih tidak memiliki tenaga yang cukup untuk sekedar mendudukkan badannya di ranjang.


"Ini... Ini nyata kan?" Toni tidak kuasa untuk menahan tangisnya. Tidak percaya sama sekali jika Alan kini telah sadar dari tidur panjangnya. Hampir setiap hari Toni mendatangi ruangan ini, dan selalu melihat tubuh Alan yang terbaring lemas dengan mata yang terus tertutup. Namun kini... Meskipun masih terbaring lemas, paling tidak mata Alan sudah terbuka. Dan yang terpenting, Alan sadar, Alan telah kembali menjadi Alan sahabatnya. Bukan lagi mayat hidup yang tergeletak di atas ranjang rumah sakit.


"Kamu bisa memukul wajahmu jika kamu tidak percaya." Canda Alan dengan suara serak yang lemas.


"Apa tidak sebaiknya aku memukul kepalamu saja? Siapa tahu otakmu yang sedikit geser itu bisa menjadi pulih." Toni membalas candaan Alan dengan sebuah ancaman kecil. Ancaman yang sebenarnya juga hanya sebuah candaan semata.


"Hahaha..."


"Yah... Paling tidak kamu sudah kembali... Tapi... Kamu berhutang banyak penjelasan kepadaku." Toni menarik sebuah kursi untuk bisa duduk di samping ranjang Alan. Entah kenapa... Meskipun kebanyakan orang akan merasa kantuk saat ini, dirinya tidak merasakan sama sekali hal tersebut. Rasa rindu untuk saling bercerita dan bercanda dengan Alan telah menghilangkan rasa kantuknya.

__ADS_1


"Ok... Nanti aku ceritakan... Tapi sebelum itu... Bantu aku melepas helm ini. Ada satu hal yang ingin aku tunjukkan padamu."


"Hah... memang kamu tidak bisa melakukannya sendiri?" Toni membantu Alan melepaskan helm VRnya. Meskipun dirinya mengeluh, dirinya tahu jika Alan tidak memiliki cukup tenaga untuk melakukannya. Terbaring di atas ranjang selama setahun lebih tentu menghilangkan semua tenaga yang dimiliki tubuh Alan.


"Sudah... Apa lagi?" Toni meletakkan helm VR Alan di meja samping ranjang.


"Bisa kamu buka tempat chip helm itu? Ada sesuatu yang mesti kamu ganti di dalamnya."


Toni menuruti permintaan Alan. Dengan gunting yang ada di laci meja, Toni membuka tempat chip helm VR Alan.


"Ini... Apa ini?" Toni tentu tahu seperti apa bentuk chip helm VR miliknya. Dirinya pun bingung melihat chip helm VR Alan berbeda jauh dengan miliknya. Padahal dirinya juga pernah membuka chip helm VR milik May, dan bentuknya sama persis dengan miliknya. Apa lagi sebuah tulisan MCNW tertera pada chip berwarna merah yang tertera di helm VR Alan. Membuat Toni semakin berpikir ada yang special dari helm VR milik Alan.


"Aku tahu kamu bingung... Ceritanya panjang..." Alan mulai bercerita tentang bagaimana dirinya menemukan chip tersebut. Dari bagaimana dirinya melihat kematian Hiro Tamada, sampai bagaimana dirinya mengetahui fungsi dari Chip tersebut.


Ekspresi wajah Toni pun naik turun ketika dirinya mendengar cerita Alan. Dirinya tidak menduga sama sekali jika Alan melihat kematian Hiro Tamada secara langsung.


"Itu semua tidak penting... Yang terpenting sekarang adalah... Menyembunyikan chip itu dari Microboot. Tukar chip di helm mu dengan Chip merah itu!" Alan merasa keberadaan Joker harus tetap dirahasiakan. Untuk itulah kenapa dirinya memanggil Toni untuk langsung datang ke rumah sakit begitu dirinya sadar.


Microboot tentu bisa mendeteksi akunnya, jika dirinya sudah bisa log out. Mereka tentu pasti akan memeriksa apakah ada yang salah dengan helm VR Alan, sehingga Alan sampai harus terjebak di dalam New World selama lebih dari satu tahun.


"Apa aku boleh mencobanya?" Toni sedikit penasaran dengan fungsi chip yang Alan miliki. Pastinya chip tersebut merupakan senjata rahasia Alan sampai Alan bisa menjadi begitu kuat di New World.


"Tentu saja... Tapi jaga rahasia ini hanya untuk kita berdua! Jangan sampai keberadaan chip itu menimbulkan masalah yang tidak kita inginkan."


"Apa kamu tidak takut jika aku mencurinya darimu dan tidak mengembalikannya?" Canda Toni pada Alan.


"Percayalah... Jika aku menjadi kamu... Aku tidak akan melakukan hal itu. Aku bisa menghancurkan guild keluargamu dengan satu ayunan tangan." Balas Alan dengan sedikit nada ancaman. Joker merupakan harta terbesarnya, dan senjata terkuat untuk mewujudkan impiannya. Jika Toni sampai melakukan hal itu. Alan tentu tidak akan segan untuk membalas Toni.


Mendengar nada bicara Alan yang terlihat serius, Toni tahu betul bagaimana Alan memposisikan chip tersebut. Dirinya masih belum tahu, sekuat apa Alan saat ini di New World.


Tapi tentu saja... Toni tahu jika Alan tidak pernah bermain main dengan kata katanya. Jika Alan bilang dirinya bisa menghancurkan guild keluarga Toni dengan mudah, itu berarti Alan memang bisa melakukannya.


"Hahaha... Aku hanya bercanda... Akan ku pastikan chip ini kembali padamu lagi." Toni menyimpan chip tersebut di dalam helm VRnya. Menjaga rahasia antara dirinya dan Alan hanya diketahui oleh mereka berdua.


"Jadi... Apa yang kamu lakukan selama setahun ini?" Toni tertarik untuk mendengar cerita Alan. Dirinya tahu betul jika Alan tidak akan bermain game dengan jalan yang aman dan nyaman. Alan yang penyuka tantangan, pasti akan menempuh banyak petualangan hebat.


"Darimana aku harus mulai ya?" Alan nampak berpikir keras. Dirinya tidak tahu harus memulai ceritanya darimana.

__ADS_1


Namun Alan pun tetap bercerita, dengan awal mula dirinya memasuki Dunia Abyss. Ekspresi Toni pun begitu terkejut mendengar semua cerita Alan yang terdengar begitu menegangkan. Sampai sampai dirinya tidak sadar jika matahari pagi telah bersinar, menggantikan bintang bintang yang tadinya menghiasi langit malam.


__ADS_2