
Meskipun Shadow Puppet yang Asmodias ciptakan tidak sekuat tubuh asli Asmodias. Namun tetap saja... Empat puluh persen dari atribut Asmodias dimiliki oleh Shadow Puppet. Ditambah dengan jumlah mereka yang ada 23 buah, tentu menimbulkan masalah tersendiri bagi Azazel dan Shadow Blood.
"Sial... Mereka sangat merepotkan..." Shadow Blood sedari tadi terus mengumpat, menghadapi Shadow Puppet yang seakan tidak ada titik lemahnya.
Dirinya dan Azazel berhasil menebas beberapa Shadow Puppet yang mengepung mereka berdua. Namun Shadow Puppet merupakan boneka yang terbentuk dari bayangan. Bentuk tubuh mereka akan kembali utuh seperti semula, meskipun Azazel ataupun Shadow Blood telah menebas mereka hingga potongan potongan kecil.
Berbeda dengan Shadow Blood yang terus mengumpat, Azazel nampak tidak kehilangan ketenangannya. Tadinya dirinya juga terkejut mendapati Shadow Puppet terus bisa kembali menjadi utuh, walaupun sudah diserang habis habisan. Namun Azazel lebih memilih untuk tetap tenang dan memikirkan jalan keluar terbaik untuk kondisinya, daripada terus mengumpat seperti Shadow Blood.
"Kamu bisa menahan mereka untuk beberapa menit? Aku perlu beberapa menit untuk menyiapkan serangan terkuatku." Azazel yang saling berbagi punggung dengan Shadow Blood meminta kepada Shadow Blood untuk melindunginya selama beberapa menit.
"Apa? Beberapa menit?" shadow Blood mengerutkan dahi mendengar perkataan Azazel. Untuk menghadapi 12 Shadow Puppet saja dirinya sudah kesulitan, apalagi harus menghadapi 23 Shadow Puppet bersama Asmodias secara bersamaan. Ditambah lagi dirinya masih harus melindungi Azazel. Shadow Blood merasa sedang dipermainkan oleh Azazel.
"Kita tidak punya pilihan lain. Atau kamu punya cara lain yang lebih efektif mungkin?" Azazel yang terus menyerang para Shadow Puppet di sekitarnya malah menjadi geram sendiri pada Shadow Blood. Shadow Blood tidak mau memberikan solusi, tapi malah seakan memperkeruh suasana.
"Baiklah... Tapi cepat... Aku tidak tahu masih bisa bertahan berapa lama dengan tubuh anak ini." Shadow Blood mengambil alih jatah Shadow Puppet yang menjadi jatah Azazel. Dengan Mengaktifkan Shadow Zonenya, Shadow Blood membuat siapapun tidak bisa mendekati dirinya dan Azazel. Sehingga Azazel bisa mempersiapkan rencananya dengan leluasa.
"Terima kasih..." Azazel langsung terbang tegak... Kedua tangan dan enam pasang sayapnya terbentang lebar. Seakan sedang menunjukkan keperkasaannya.
"Apa yang akan dia lakukan?" Asmodias tentu melihat apa yang akan Azazel lakukan. Asmodias tahu jika Azazel sedang merencanakan sesuatu yang bisa membahayakan. Dirinya tentu tidak ingin membiarkan Azazel menyelesaikan rencananya yang sedang dibangunnya. Dengan menggenggam erat Abysal Spear, Asmodias ikut membantu para Shadow Puppet yang sedang mencoba mendekati Azazel dan Shadow Blood.
Shadow Blood bukan tanpa halangan sama sekali dalam melindungi Azazel. Dirinya harus mengatur Shadow Zone sampai ke batas maksimal yang bisa dirinya gunakan saat ini. Karena semakin kuat objek yang harus dimanipulasi oleh Shadow Zone, semakin besar pula kekuatan yang harus dibutuhkan untuk memanipulasinya.
Bahkan jika objek yang harus dimanipulasi lebih kuat daripada Shadow Zone sendiri, Shadow Zone bisa gagal dalam memanipulasi objek tersebut. Itulah kenapa Asmodias tidak terlalu terpengaruh dengan tekanan Shadow Zone selama ini, semua karena Asmodias memiliki kekuatan yang berada di atas Shadow Zone.
"Cepatlah... Azazel... Mereka terus terusan datang..." Shadow Blood Memaki Azazel yang terkesan sangat lamban dalam mempersiapkan rencananya.
Azazel tidak menanggapi makian dari Demon besar mulut tersebut. Dirinya lebih memilih berkonsentrasi untuk mengumpulkan kekuatan, sebelum menggunakannya sebagai serangan pamungkas. Lagipula Azazel baru meminta Shadow Blood untuk melindunginya tiga puluh detik yang lalu. Belum genap satu menit dan Shadow Blood sudah mengeluh lama.
"Jangan harap kalian bisa melakukan apa yang kalian mau!" Asmodias mulai memasuki Shadow Zone. Asmodias nampak tidak kesulitan sama sekali menerobos Shadow Zone yang menginginkan dirinya untuk berbalik arah. Asmodias mengerahkan segala kekuatan yang dirinya punya untuk bisa menembus blokade Shadow Zone.
Thang...
"Tidak akan kubiarkan kamu mendekatinya..." Shadow Blood dengan cepat menghalangi Asmodias yang siap menusukkan tombaknya kepada Azazel. Membuat kedua Demon tersebut harus sekali lagi bertegur sapa menggunakan senjata senjata mereka.
"Tidak bisakah kamu minggir?" Asmodias merasa geram karena Shadow Blood menghalangi dirinya untuk mencapai Azazel. Asmodias tentu tidak lupa memerintahkan Shadow Puppet untuk mendekati Azazel dari arah yang berbeda. Mencoba untuk memecah konsentrasi Shadow Blood.
"Apakah ada peraturan bagiku untuk tidak boleh menghalangi langkahmu?" Shadow Blood Memperlebar Shadow Zone yang menutupi area Azazel. Mencegah para Shadow Puppet untuk bisa sekedar mendekati Azazel. Tapi tentu saja Shadow Blood juga berhati hati ketika menggunakan Shadow Zone, takut jika Shadow Zone malah mengganggu konsentrasi Azazel.
"Kau..." Asmodias merasa begitu geram kepada sosok Demon bermulut besar di hadapannya. Dirinya yakin sekali jika tubuh Alan telah diambil alih oleh kepribadian lain yang ada di dalam tubuhnya.
Shadow Blood benar benar membuat Asmodias sama sekali tidak bisa mendekati Azazel. Berbagai serangan yang Asmodias kerahkan selalu bisa dimentahkan oleh Shadow Blood.
Terus menerus mementahkan serangan Asmodias, ditambah harus berkonsentrasi untuk mencegah para Shadow Puppet untuk mendekati Azazel, memberikan beban yang sangat berat untuk tubuh Alan. Shadow Blood benar benar harus memaksakan tubuh Alan hingga ke batas maksimalnya.
"Berapa lama lagi?" Teriak Shadow Blood yang merasa matanya mulai berkunang kunang. Tubuh Alan serasa mulai mendekati batas kemampuan yang bisa ditahan.
Azazel tetap tidak bergeming mendengar pertanyaan Shadow Blood. Dirinya sibuk mengumpulkan kekuatan untuk bisa mengeluarkan satu serangan penghabisan.
__ADS_1
Azazel sedang berusaha mengumpulkan berkah cahaya. Sebuah kekuatan yang dimiliki oleh setiap angel dan dewa. Jika setiap Demon memiliki satu kekuatan special sejak mereka dilahirkan, Dewa dan angel diberikan berkah kekuatan cahaya oleh sang pencipta. Sang pencipta mencoba bersikap adil bagi setiap makhluk ciptaannya.
Jika Azazel mengumpulkan berkah cahaya di Main World atau di dunia para Dewa, dirinya bisa mengumpulkannya dengan sangat cepat. Tidak perlu sampai harus bersusah payah selama beberapa menit. Namun jika di Dunia Abyss, Azazel tentu harus berusaha sangat keras.
Kekuatan di Dunia Abyss didominasi oleh kekuatan kegelapan, yang tentunya membuat kekuatan cahaya begitu sedikit jumlahnya. sehingga sangat sulit bagi Azazel untuk bisa mengumpulkan kekuatan cahaya dalam jumlah yang besar.
Ditambah lagi Azazel sudah lama sekali tidak menggunakan kekuatan cahaya, terakhir kali dirinya menggunakan kekuatan cahaya adalah ketika dirinya bertarung dengan para penjaga dunia dewa. Yang membuat dirinya dibuang dari dunia dewa, dan harus menetap di dunia Abyss sampai saat ini.
Tubuh Azazel pun perlahan berubah, aura coklat yang menutupi tubuhnya perlahan berubah menjadi keemasan. Sayap sayap hitamnya pun kini tercorak sedikit warna emas di bagian tengahnya.
"Kurang ajar..." Asmodias begitu geram. Sosok Azazel yang tertutupi aura keemasan mengingatkan sosok dewa yang begitu dibencinya. Dendam seribu tahun lalu pun mencuat kembali di pikirannya.
Asmodias mengganti posisi Abysal Spear. Bersiap untuk melemparkan Abysal Spear ke arah Azazel yang terbang tertutupi aura keemasan. "Mati kau!" Teriak Asmodias sambil melemparkan Abysal Spear ke arah Azazel.
Shadow Blood yang pandangannya mulai berkunang terlambat menyadari apa yang dilakukan oleh Asmodias. Dirinya pun tidak bisa menghalau Abysal Spear yang tengah meluncur ke arah Azazel.
"Awas..." Teriak Shadow Blood yang memperingatkan Azazel agar menghindari Abysal Spear yang meluncur dengan cepat ke arah Azazel.
Thang...
Bagaikan membentur sebuah perisai pelindung yang kuat. Abysal Spear yang meluncur cepat terpental begitu jauh ketika membentur aura keemasan yang menyelubungi Azazel, hingga akhirnya Abysal Spear menancap di atas tanah.
"Apa?" Asmodias terbelalak, melihat lemparan Abysal Spearnya dimentahkan begitu saja. Ini kedua kalinya dirinya melihat ada sosok yang bisa menghalau lesatan Abysal Spearnya. Yang pertama adalah sosok dewa yang bertarung dengan dirinya seribu tahun lalu.
"Tidak ada kegelapan yang bisa mengalahkan cahaya..." Suara Azazel bertambah keras setelah tubuhnya tertutup aura keemasan. Azazel pun mengayunkan pedangnya satu kali ke arah Shadow Puppet yang ada.
Slash...
"Kali ini giliranmu..." Azazel menatap Asmodias dengan tatapan siap mengadili. Kedua bola matanya yang sudah berubah menjadi warna emas tidak menunjukkan sedikit pun pengampunan.
"God Spell... Light of Sanctification!"
Azazel mengarahkan tangan kirinya ke atas. Dan seketika keluarlah cahaya keemasan dari langit. Seakan akan langit dunia Abyss sedang terbelah oleh cahaya keemasan tersebut.
Slash...
Cahaya keemasan meluncur dengan cepat ke arah Asmodias. Menutupi Asmodias dengan jutaan partikel cahaya yang siap membakar tubuh Asmodias hingga tak bersisa.
Tidak ada suara ledakan atau pun dentuman ketika cahaya keemasan tersebut mengenai tubuh Asmodias. Semua terjadi seakan cahaya keemasan tersebut sedang menyucikan tubuh Asmodias yang penuh dengan kekuatan kegelapan.
Silau, namun senyap... Itulah yang Shadow Blood maupun Flyin rasakan. Mereka harus menutup kedua mata mereka dengan tangan mereka agar tidak terbutakan sesaat oleh cahaya yang menutupi tubuh Asmodias. Mereka berdua sangat tidak terbiasa akan adanya cahaya keemasan yang begitu menyilaukan di dunia Abyss.
"Semoga semua kegelapan di dalam dirinya bisa tersucikan." Cahaya keemasan yang menyelimuti Azazel pun menghilang. Menandakan dirinya sudah kehabisan berkah cahaya yang sedari tadi dirinya kumpulkan. Tubuh Azazel kini terasa begitu lelah.
"Hahaha... Lumayan... Lumayan..." Suara tawa terdengar dari dalam cahaya keemasan yang mulai perlahan surut.
Azazel, Shadow Blood dan Flyin tentu hafal dengan suara tawa tersebut. "Tidak mungkin..." Kedua bola mata Azazel yang sudah kembali pulih seperti sedia kala seakan ingin keluar dari lubangnya. Melihat sosok Asmodias yang terlihat compang camping setelah menerima serangan Azazel.
__ADS_1
"Sudah lama sekali sejak ada orang yang bisa melukaiku seperti ini." Asmodias tersenyum puas. Meskipun dirinya harus kehilangan jubah pelindung dan sebagian baju zirahnya, namun pertukaran tersebut terasa wajar. Karena Asmodias bisa selamat dari spell tingkat tinggi yang Azazel keluarkan.
"Jangan senang dulu..."
Slash...
Sebuah tebasan dari Shadow Blood tepat mendarat ke bahu kiri Asmodias. Membuat Asmodias harus merasakan luka tebasan yang cukup dalam. Untung saja Asmodias sempat merasakan kedatangan Shadow Blood, sehingga dirinya bisa sedikit menghindari serangan yang tadinya mengarah ke jantungnya tersebut.
"Apa kamu pikir serangan seperti itu bisa membunuhku?" Asmodias tersenyum kecut. Menganggap remeh serangan yang baru saja Shadow Blood berikan.
"Memang itu tidak akan membunuhmu... Tapi paling tidak itu sudah cukup untuk mengalahkanmu."
"Forgotten World!" Bisik Shadow Blood setelah puas memberikan senyum jahat kepada Asmodias. Setelah sekian lama, akhirnya kini Shadow Blood bisa mengaktifkan skillnya. Abysal Spear yang sudah terlepas jauh dari Asmodias, tidak bisa lagi menghalangi dirinya untuk mengaktifkan skill skillnya.
"Apa yang...?" Perkataan Asmodias terpotong di tengah jalan. Sebuah lubang hitam langsung muncul dan menghisap dirinya dari bekas luka yang Shadow Blood berikan. Menelan Asmodias hingga tidak lagi berada di halaman Istana Chigaza.
"Cepat menyingkir..." Perintah Shadow Blood pada Azazel dan Flyin yang seakan masih terdiam mematung. Memperingatkan mereka berdua agar tidak ikut terhisap oleh lubang hitam yang akan membawa siapapun yang terhisap ke Forgotten World.
Tanpa perintah dua kali pun Azazel dan Flyin langsung bergerak cepat menjauh dari lubang hitam yang menghisap apapun di sekitarnya. Tidak ingin menjadi salah satu korban tambahan.
Shadow Blood pun ikut menjauhi lubang hitam tersebut. Walaupun lubang hitam tersebut tidak menghisap tubuh pengguna The Forgotten Dagger. Namun tetap saja... Shadow Blood tidak ingin terkena bebatuan tembok maupun gumpalan tanah yang sedang terhisap oleh lubang hitam tersebut.
"Apa yang kamu lakukan? Cepat masuk ke dalam lubang itu!" Suara di dalam pikiran Shadow Blood membuat Shadow Blood mengerutkan dahi. Dirinya tahu jika yang sedang berbicara adalah sosok Alan, bukan Joker.
"Apa maksudmu?" Shadow Blood tidak bisa mengerti maksud Alan yang meminta dirinya masuk ke dalam lubang hitam yang baru saja dirinya ciptakan.
"Nanti aku jelaskan... Cepat masuk sebelum lubang itu tertutup!" Bentak Alan di dalam pikiran Shadow Blood.
"Her... Awas saja kalau kamu menjebakku!" Shadow Blood tahu jika Alan adalah orang yang licik, tapi Alan juga adalah seorang yang cerdas. Alan tentu tidak akan meminta memasukkan tubuhnya sendiri ke dalam lubang hitam jika tanpa alasan.
Shadow Blood pun mengalihkan langkahnya untuk menuju ke dalam lubang hitam. Mencoba menuruti sang empunya tubuh yang dirinya pakai.
"Apa yang dia lakukan?" Azazel melihat tubuh Alan memasuki lubang hitam tanpa ragu. Dirinya tentu ingin mencegahnya, namun Azazel tentu tidak yakin jika melakukan hal tersebut adalah pilihan yang bijak. Mengingat Azazel tidak tahu kemana lubang hitam tersebut akan membawa mereka.
Sementara Flyin yang berdiri di samping Azazel hanya bisa tersenyum sendiri. Dirinya telah membaca isi pikiran Alan dan Shadow Blood, tidak disangkanya Alan akan melakukan hal yang tidak pantas dilakukan kepada seorang Jenderal Besar Demon, Bahkan Jenderal Besar Demon terkuat.
"Tenang Tuan... Anak itu lebih dari yang Anda bayangkan..." Flyin menenangkan Azazel yang tampak gusar melihat lubang hitam yang mulai mengecil. Hingga akhirnya lubang hitam tersebut menghilang dengan sendirinya. Seakan akan tidak pernah ada di tempatnya berada tadi.
"Semoga kamu benar Flyin..." Azazel hanya bisa menghela nafas panjang. Dirinya tidak bisa membayangkan jika sampai Alan mati. Semua usahanya yang telah dirinya bangun pasti akan sirna semua.
*****Hai semua... jujur aku sedikit tidak puas dengan chapter ini...
maaf kalau kualitasnya agak menurun? saya sedang banyak pikiran tentang pekerjaan saya. jadi mohon pengertiannya jika chapter ini sedikit kurang enak dibacanya.
Terima kasih atas pengertiannya.
Semoga kesehatan selalu melimpahi kita semua.
__ADS_1
Aaamiiin*...**