
"Bagaimana dia bisa menjadi kuat?" Selene terpukau akan apa yang Rendemiz perlihatkan.
Dua detik... Hanya dua detik Rendemiz bisa mempertahankan tubuhnya untuk menggunakan Time Space. Namun dua detik sudah cukup bagi Rendemiz untuk memberikan luka luka pada tubuh Marry.
Jika saja tubuh Rendemiz lebih kuat, mungkin Rendemiz bisa mempertahankan Time Space lebih lama. Dan dirinya tentu bisa mengakhiri nyawa Marry. Namun sayangnya... Itu masih menjadi impian Rendemiz semata. Rendemiz masih perlu berlatih dalam jangka waktu yang lama untuk bisa memperkuat tubuhnya. Sehingga Rendemiz bisa menggunakan Time Space dengan leluasa.
"Sepertinya pedang itu memang sangat cocok untuknya..." Gumam Selene sekali lagi. Setelah melihat Rendemiz muncul di sisi yang berbeda dengan nafas yang terengah engah. Menandakan Rendemiz benar benar baru saja menguras tenaganya sampai ke titik yang paling maksimal.
Anggapan Selene bukan hanya anggapan sepihak, Alan pun berpikir demikian. Kemampuan special yang dimiliki Rendemiz benar benar cocok untuk dikombinasikan dengan Timeless Blade. Serangan cepat dan tidak terlihat, siapa yang bisa bertahan dari kombinasi seperti itu? Hanya saja Rendemiz memang masih perlu memperkuat tubuhnya untuk saat ini.
"Kalian semua... Kalian semua berani memperlakukan diriku seperti ini?" Marry bukan hanya marah, melainkan berganti menjadi murka. Alan dan yang lainnya benar benar telah mempermalukan dirinya disini.
"Akan aku tunjukkan kepada kalian... Apa itu yang namanya penyesalan..." Marry bersiap untuk mengerahkan seluruh kemampuannya. Dengan sepasang sayap hitamnya yang terbentang lebar, dan kedua tangan yang membentang. Absolute Domain milik Marry mengecil dengan sendirinya.
Mengecil bukan berarti melemah, Absolute Domain yang dimiliki Marry seakan membentuk sebuah kekuatan yang jauh lebih pekat, berkumpul menjadi satu untuk membuat suatu yang kuat menjadi super kuat.
"Tidak ada yang boleh memperlakukanku seperti ini!" Marry melepaskan kekuatan yang begitu besar. Menyebar ke segala penjuru, bahkan hampir menutupi separuh Kota Morelia.
[Player memasuki Absolute Domain. Segala sesuatu di kontrol oleh pengguna kekuatan.]
Suara peringatan sistem membuat Alan mengerutkan dahi. Baru kali ini dirinya merasakan tertekan di dalam sebuah Domain musuh. Rasa berat langsung menghinggapi seluruh tubuhnya. Jangankan untuk bergerak, untuk bernafas pun Alan memerlukan usaha yang ekstra.
"Kalian... Akan aku berikan kematian yang paling menyakitkan!" Marry tersenyum puas. Melihat semua lawan lawannya terpatung, terdiam kesulitan untuk bergerak.
"Apa yang terjadi?" Selene merasakan perubahan pada tubuhnya. Mutasi tubuhnya pun kini telah berubah menjadi normal lagi, tidak pada mode terkuatnya.
Slash...
Sebuah cakar tiba tiba menyayat tubuh Selene. Tanpa Selene sadari, Marry telah muncul di dekatnya dan memberikan luka sayatan pada dada kanannya.
"Selene..." Rendemis berteriak sekuat tenaga, melihat Selene yang tiba tiba terluka. Namun dirinya juga tidak bisa berbuat apa apa, tubuhnya terasa berat untuk menolong Selene. Dan pada akhirnya... Dirinya pun juga harus ikut tersayat oleh cakar Marry yang tiba tiba muncul di dekatnya.
"Wind Shield!"
Alan tahu jika dirinya juga akan menjadi sasaran Marry. Dirinya segera mengaktifkan skill pelindungnya untuk menghalangi serangan Marry.
Thang...
Thang...
"Sepertinya kamu sedikit bersiap..." Marry tertawa sinis. Melihat Alan melindungi dirinya menggunakan perisai pelindung yang melindungi seluruh tubuhnya. Namun itu tentu bukan masalah bagi Marry, dirinya tahu jika perisai pelindung yang dimiliki Alan tidak akan melindungi Alan selamanya. Dirinya cukup menghabisi teman temannya terlebih dahulu, dan menjadikan Alan yang terakhir. Dengan begitu Marry justru akan memberikan penderitaan dua kali lipat pada Alan. Melihat teman temannya terbunuh, dan pada akhirnya ikut terbunuh.
Marry kembali muncul di dekat Flyin, Cakar tajamnya menyasar leher Flyin. Flyin yang melihat kemunculan Marry di dekat Alan tentu sudah membaca isi pikiran Marry, jika dirinya yang menjadi sasaran selanjutnya. Namun langkah Flyin terlihat terlambat, Flyin tidak bisa mereaksikan tubuhnya sesuai dengan keinginannya. Cakar Marry terpaksa harus dirinya rasakan menebas pundak kirinya.
__ADS_1
"Tidak buruk..." Marry kembali tersenyum, melihat Flyin bisa sedikit menghindarkan kematian cepat. Namun sosok Marry kembali menghilang. Dirinya kembali muncul di dekat Selene untuk menyayat Selene.
"Aaahh..." Teriakan Selene bisa Rendemiz dan yang lainnya dengar.
"Hentikan!" Teriak Rendemiz, yang melihat Selene begitu kesakitan disiksa oleh Marry.
"Kenapa kamu mengkhawatirkan dia? Khawatirkan saja dirimu!" Marry telah muncul di dekat Rendemiz, bersiap memberikan luka sayatan sekali lagi pada Rendemiz.
Marry benar benar menikmati menyiksa keempat orang lawannya. Dirinya memang berencana memberikan kematian yang begitu menyakitkan, tidak ada kematian yang lebih menyakitkan selain dengan tersiksa secara perlahan. Membuat korbannya meminta untuk segera dibunuh, daripada terus merasakan kesakitan akibat disiksa.
'Joker... Ada cara untuk melawan Domain ini?'
[Satu satunya cara adalah dengan Real Counter AS. Tapi itu berbahaya untuk tubuhmu saat ini. Kamu bisa kehilangan kesadaran karena kehabisan stamina.]
"Ah... Sial... Jika saja..." Alan benar benar menyayangkan dirinya yang telah membuang buang staminanya tadi. Jika saja dirinya lebih bijak mengatur staminanya, mungkin saja dirinya kini masih bisa menghadapi Marry.
Namun Alan juga tidak mau terus terusan melihat teman temannya disakiti oleh Marry, meskipun mereka hanya NPC, mereka telah banyak membantunya, terutama Flyin. Flyin telah berjasa besar kepada dirinya selama dirinya berada di Dunia Abyss.
"Jika pun aku harus mati... Biarlah..." Alan menggigit giginya sendiri Memantapkan hati atas pilihan yang dirinya buat.
"Real Counter!"
Wuing...
"Ini..."Marry mendapati kekuatan di dalam tubuhnya menghilang, menjadi begitu lemah lebih tepatnya.
"Tuan..." Flyin yang terluka begitu parah tahu jika ini semua adalah ulah Alan. Dirinya bisa merasakan tekanan yang ditimbulkan dari kekuatan Marry lenyap. Namun dirinya juga tahu, jika Alan sedang berjudi saat ini.
"Rendemiz!" Alan tetap berdiri terdiam, tidak berani bergerak. Pandangannya sudah mulai menghilang. Jika dirinya memaksakan tubuhnya untuk bergerak, maka kesadarannya akan hilang, dan Real Counter pun akan lenyap. Kekuatan Marry akan kembali seperti sedia kala.
"Time Space!" Rendemiz menggunakan kekuatan specialnya, dan menggunakan Time Space sekali lagi. Dirinya tahu jika Alan sedang bersusah payah untuk menekan kekuatan Marry.
Jleb...
Sebuah tusukan Timeless Blade tepat mendarat di jantung Marry. Membuat Marry benar benar tidak bisa berkutik lagi. Tepat saat Timeless Blade menancap, Alan kehilangan kesadarannya. Membuat Kekuatan Marry kembali seperti sedia kala lagi.
"Kalian... Benar benar..." Marry merasakan rasa sakit yang sangat di dada kirinya. Dirinya tahu jika nyawanya sudah tidak akan tertolong, meskipun dirinya menarik paksa Timeless Blade.
"Jika kalian benar benar ingin mati. Maka kalian akan mati bersamaku!" Marry merapatkan kembali Absolute Domainnya ke dalam tubuhnya, siap untuk meledakkannya.
"Kakak..." Selene tahu apa yang akan dilakukan Marry, Rendemiz yang berada tepat di hadapan Marry tentu tidak akan bisa menghindarinya.
"Tenang saja... Kota ini akan hancur bersamaku!" Marry tersenyum puas. Di akhir nafasnya dirinya siap meledakkan Absolute Domain, ledakan yang akan menghancurkan dirinya beserta Kota Morelia secara keseluruhan.
__ADS_1
###
Naga Yang tidak bisa menggerakkan tubuhnya secara bebas. Kekuatan Absolute Domain milik Marry benar benar telah menekan tubuhnya seutuhnya. Dirinya hanya bisa melihat Marry menyiksa Alan dan teman temannya secara perlahan.
Naga Yang bisa sedikit tersenyum, ketika melihat Alan bisa membalikkan keadaan dengan Real Counternya. Membuat keadaan kini berubah 180°. Senyum Naga Yang semakin lebar, melihat Rendemiz berhasil menusuk jantung Marry. Dirinya yakin Marry tidak akan bisa selamat dari luka yang diberikan oleh Rendemiz.
Namun senyum Naga Yang langsung menghilang, ketika dirinya menyadari kekuatan Marry telah kembali pulih seutuhnya. Naga Yang melihat kondisi Alan yang sudah tergeletak tidak sadarkan diri.
"Kenapa di saat seperti ini bocah itu..." Naga Yang tahu jika Alan tidak lah mati, jadi dirinya beranggapan jika Alan tertidur atau pingsan karena kelelahan.
Wajah Naga Yang semakin panik, menyadari Marry menarik semua kekuatan yang dirinya sebarkan. Dirinya tahu apa yang akan dilakukan oleh Marry.
"Maafkan aku Yin... Sepetinya aku yang harus terlebih dahulu pergi..." Naga Yang tidak punya pilihan lain. Dirinya harus segera menghentikan Marry jika tidak ingin Marry menghancurkan seluruh Kota beserta isinya. Dirinya tahu, hanya dirinya yang bisa menghentikan Marry melakukan apa yang akan Marry lakukan.
"Naga Yang melesat secepat mungkin ke arah Marry dan Rendemiz. Ketika sampai di hadapan Marry, Naga Yang langsung menarik paksa Rendemiz. Membuang sejauh mungkin tubuh Rendemiz dari dirinya dan Marry.
"Aku tidak akan membiarkanmu!"
Naga Yang mengeluarkan kekuatan cahaya yang tidak kalah besarnya dari kekuatan kegelapan yang akan Marry lepaskan. Kekuatan yang belum pernah sekalipun dirinya gunakan, karena dirinya harus mengorbankan nyawanya untuk menggunakan kekuatannya itu.
Slash...
Hitam dan putih beradu di tempat Naga Yang dan Marry berdiri. Kekuatan hitam dan putih bersatu padu hingga akhirnya terbentuk sebuah keseimbangan, keseimbangan antara Yin dan Yang.
"Apa itu tadi?" Rendemiz terpukau melihat apa yang baru saja dirinya lihat. Sebuah kekuatan cahaya menghentikan kekuatan kegelapan milik Marry yang akan meledakkan diri.
Namun dirinya harus segera mengalihkan pandangannya ke arah Naga Yang dan Marry, mencari tahu apakah masih ada yang selamat dari salah satu pihak yang saling beradu kekuatan tersebut.
"Mereka berdua telah mati." Flyin tahu apa yang Rendemiz pikirkan. Dirinya tidak menduga jika Naga Yang akan mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan dirinya dan yang lainnya. Rasa hormat setinggi tingginya dirinya sematkan pada tubuh Naga Yang. Tubuh tang tergelatak lemas, tidak memiliki lagi sumber tenaga untuk menggerakkannya.
"Kita berhasil?" Rendemiz kembali bertanya pada Flyin. Seakan tidak percaya jika mereka semua baru saja mengalahkan sosok Super Demon.
"Begitulah..." Flyin hanya mengangguk, menjawab pertanyaan bodoh Rendemiz. Meskipun terkesan pertanyaan bodoh, sebenarnya dirinya juga ingin bertanya tentang hal itu. Dirinya juga masih tidak percaya akan apa yang baru saja terjadi.
*** **Hai pembaca semua... Selamat menikmati bagian akhir dari Arc 2. Chapter selanjutnya adalah penutup Arc 2.
Tapi saya masih tidak tahu, apa bisa rilis tepat waktu atau tidak. Untuk 3 hari ke depan saya ada tugas luar kota. Jadi mohon maaf jika ada hari dimana tidak rilis.
Tetap semangat meskipun kehidupan sedang sulit. Jaga kesehatan...
Dan... Salam kopi pagi hari...
(EfekBeberapaHariGakUpdatePagi*)**
__ADS_1