
"Apa yang aku ketahui di Dunia ini ternyata belum seberapa." Alan tersenyum kecut setelah melihat pertarungan babak 16 besar. Selama ini dirinya berpikir telah mengetahui begitu banyak hal di New World, karena dirinya memiliki Joker.
Namun... Semua pikiran tersebut terbantahkan seketika setelah melihat pertarungan para player di turnamen Abyss Colloseum. Begitu banyak item item yang belum pernah Alan dengar wujud dan fungsi kegunaannya. Skill skill dan tekhnik bertarung baru pun bisa Alan serap selama dirinya memantau turnamen Abyss Colloseum dari ruang VIP tempat dirinya berada saat ini.
Terlebih lagi ketika Alan melihat pertarungan antara Coward dan Dealova. Kedua player yang sama sama menggunakan senjata pedang tersebut benar benar menunjukkan tekhnik tingkat tinggi.
Dealova yang menggunakan sebuah pedang tipis dan ramping, nampak bisa mengimbangi Coward yang menggunakan pedang berukuran biasa. Bisa terlihat dengan jelas, jika Dealova merupakan seorang ahli Anggar. Tekhnik berpedang yang Dealova tunjukkan begitu halus dan lembut, setiap gerakan pedang Dealova seakan bisa menyerap kuatnya tenaga serangan dari Coward, bahkan Dealova bisa menggunakan tenaga serangan Coward untuk bisa mendaratkan serangan balik.
Sayangnya... Keberuntungan tidak berpihak pada Dealova, Special Class milik Coward terlalu perkasa untuk bisa dikalahkan oleh Dealova. Dalam pertandingan tadi, Coward akhirnya menunjukkan jati dirinya sebagai seorang Dragon Swordman. Sebuah Special Class yang begitu diminati oleh semua player, mengingat sang pemilik Class akan bisa mendapatkan kekuatan seekor Naga sejati.
Tapi bukan pertandingan antara Dealova dan Coward yang paling menarik perhatian Alan, pertandingan terakhir babak 16 besar adalah pertandingan yang paling mengejutkan semua orang.
Burning Moon... Salah satu favorit kandidat juara harus merasakan rasa sakitnya terbunuh untuk pertama kali. Tidak ada satupun yang menyangka, jika seorang player bernama XXX atau Tripel X akan bisa mengalahkan salah satu player yang masuk dalam sepuluh besar player terkuat keluaran Microboot.
Dari satu hasil pertarungan itu saja... Para penonton bisa berasumsi, jika daftar pemain terkuat yang dikeluarkan oleh Microboot tidak bisa menjadi patokan ranking yang sebenarnya. Masih banyak player player yang tidak mau nama mereka tercantum dalam daftar pemain terkuat tersebut.
Kekalahan Burning Moon di pertandingan terakhir juga membuat kehebohan di bursa taruhan Abyss Colloseum. Semua penonton yang telah memasang taruhan mereka kepada Burning Moon, harus merelakan semua koin koin mereka untuk masuk ke dalam pendapatan Abyss Colloseum. Tidak sedikit player yang langsung memasang taruhan sekali lagi. Mencoba peruntungan untuk bisa mengembalikan koin koin mereka yang telah hilang, atau malah mereka akan semakin kehilangan koin koin yang tersisa di wallet mereka.
"Tripel X? Sepertinya dia player yang menarik..." Gumam Alan sembari menatap seorang player yang tengah beristirahat di kursi peserta. Jubah hitam yang menutupi kepala player tersebut bukanlah sebuah jubah biasa, mengingat Joker perlu waktu yang cukup lama untuk bisa membuka identitas yang sebenarnya dari player bernama XXX tersebut.
Setelah jeda waktu istirahat selama satu jam, pertandingan delapan besar akhirnya dilanjutkan. Para penonton yang tadinya membanjiri loket taruhan pun mulai kembali ke bangku mereka masing masing. Bersiap untuk menikmati pertandingan pertandingan menegangkan lainnya.
Pertandingan delapan besar akan di awali dengan pertarungan antara Poska melawan Gina. tidak ada yang menyangka sama sekali, jika Archer wanita bernama Gina tersebut akan bisa lolos sampai ke 8 besar. Mengingat Class yang Gina miliki memang membuat dirinya tidak diunggulkan sama sekali dalam turnamen Abyss Colloseum ini.
"Tunggu saja Guild Master... Aku akan membalas kekalahanmu..." Gumam Gina sembari dirinya berjalan ke atas arena pertarungan. Dirinya begitu percaya diri bisa menghadapi Poska, mengingat dirinya telah meninggalkan jejak bayangan di setiap permukaan arena pertarungan. Tidak peduli sekuat apapun kekuatan yang dimiliki Poska, Gina yakin... Dirinya akan bisa membunuh Commander Light Guardian tersebut.
"Kamu satu satunya wanita yang lolos ke 8 besar... Aku salut akan kekuatan yang kamu miliki..." Poska memberi hormat kepada Archer wanita yang akan menjadi lawannya tersebut.
"Cuih... Tidak sudi aku menerima salam hormatmu..." Umpat Gina pada Poska. Rasa benci yang mendalam telah menyelimuti Gina. Bagi dirinya... Poska hanyalah sedang memasang wajah pura pura menghormati dirinya.
"Sungguh gadis yang temperamental.." Keluh Poska setelah mendengar jawaban dari Gina.
Flyin pun hanya tersenyum kecil, dirinya bisa membaca isi pikiran Gina jika Gina begitu membenci Poska. Flyin juga tahu jika Gina telah menyiapkan begitu banyak jebakan di atas arena pertarungan. Namun Flyin tidak ingin mempermasalahkannya.
Jujur saja... Flyin ingin melihat Poska sang Commander Light Guardian itu terbunuh di atas arena pertarungan.
"Pertandingan pertama babak 8 besar... Poska melawan Gina... Di mulai..."
Penonton bersorak begitu tanda di mulainya pertandingan keluar dari mulut Flyin. Mereka tentu sudah begitu penasaran, apa yang akan terjadi di pertandingan pertama babak 8 besar tersebut.
"Majulah... Aku menghargaimu sebagai seorang wanita... Aku akan membiarkanmu menyerang terlebih dahulu..." Poska mencoba bersikap gagah di hadapan para penonton. Dirinya benar benar harus menunjukkan kewibawaannya sebagai Commander Light Guardian.
__ADS_1
"Hish... Sombong sekali..." Gina tidak merasa terhina atau pun terendahkan. Bagi dirinya ini adalah kesempatan emas untuk menjalankan rencananya yang sudah tersusun dengan rapi.
"Akan aku buat kamu menyesal..." Gina tidak melepaskan satu anak panahnya ke arah Poska. Anak panah tersebut merupakan sebuah anak panah berwarna hitam yang menjadi ciri khas dirinya sebagai Shadow Archer. Gina sama sekali belum pernah menggunakan anak panahnya ini, karena dirinya hanya memiliki satu anak panah hitam tersebut. Dirinya harus menunggu selama satu bulan penuh untuk bisa kembali mendapatkan anak panah berwarna hitam itu.
"Shadow Lock!"
Ciu...
Anak panah hitam melesat dengan cepat ke arah Poska. Namun hanya dengan memiringkan kepalanya, Poska bisa dengan mudah menghindarinya. Membuat Poska hanya terkena angin dari lesatan anak panah hitam milik Gina.
"Hanya i...? Poska sedikit terkejut, mendapati Gina sudah tidak berada di posisinya tadi, padahal belum ada satu detik Poska melihat Gina melesatkan anak panahnya di tempatnya berdiri tadi.
Ciu...
Anak panah hitam kembali melesat ke arah Poska, kali ini dari sisi belakang Poska. Poska yang menyadari Gina telah berpindah posisi dan menyerang dirinya dari belakang, langsung mencoba menghindari lesatan anak panah Gina.
Poska kembali bisa menghindari lesatan anak panah Gina. Namum dirinya merasa jika lesatan anak panah Gina bertambah cepat daripada lesatan anak panah yang pertama.
Ciu...
Anak panah hitam milik Gina kembali melesat dari arah yang berbeda. Poska pun terpaksa harus melompat untuk menghindari lesatan anak panah Gina.
"Cepat sekali dia..." Keluh Poska yang sedikit terkejut akan kecepatan Gina berpindah tempat dan melesatkan serangan lanjutan.
Ciu...
Ciu...
"Bagaimana? Menyesal?" Senyum Gina terpancar dengan jelas. Dirinya benar benar merasa puas mempermainkan Poska. Dengan jejak bayangan di setiap arena pertarungan, Gina mampu berpindah tempat dengan begitu cepat. Dirinya bisa kembali melayangkan serangan anak panah Shadow Lock dari arah yang berbeda ke arah Poska.
Anak panah Shadow Lock akan semakin bertambah cepat dan kuat seiring dengan semakin banyaknya dirinya kembali melesatkan serangan. Gina sangat yakin, jika Poska cukup pintar untuk tidak menangkis atau mencoba menahan serangannya. Jika memang Poska berniat seperti itu, maka Poska harus bersiap untuk tertelan ke dalam bayangan miliknya sendiri.
"Dasar wanita licik..." Poska sedikit menyesal telah membiarkan Gina melesatkan satu serangan pertama, tidak dirinya sangka... Jika serangan pertama Gina akan menjadi satu rangkaian serangan berkesinambungan.
Poska pun semakin kesulitan untuk menghindari lesatan anak panah Gina. Menangkis serangan Gina pun bukan pilihan yang bijak, Poska tahu jika serangan anak panah tersebut semakin bertambah kuat seiring dengan berjalannya waktu.
"Aku tidak bisa terus seperti ini!" Poska merasa semakin terdesak. Tidak mungkin jika dirinya akan terus menghindari serangan Gina terus menerus.
"Guardian Blade!"
Poska menebas anak panah yang Gina mengarah dirinya. Mau tidak mau dirinya harus berspekulasi untuk menangkis serangan Gina.
__ADS_1
Boom...
Angin kencang terhembus ke segala arah ketika Poska menebas anak panah hitam milik Gina. Semua penonton pun sampai harus memicingkan mata untuk mengetahui kejadian yang terjadi dengan lebih jelas. Meskipun mereka dilindungi perisai sihir, namun debu yang beterbangan membuat kondisi di atas arena sedikit kurang jelas.
"Bodoh..." Gina mentertawakan apa yang dilakukan oleh Poska. Shadow Lock miliknya akan mengunci bayangan Poska jika Poska terkena serangan.
Setelah menangkis serangan Gina, Poska pun mendapati kakinya tidak bisa digerakkan. Namun tidak hanya kakinya rupanya, seluruh anggota badannya kini terasa membeku. Tidak bisa bergerak walaupun sedikitpun.
Lambat laun, tidak hanya Poska tidak bisa bergerak. Perlahan lahan kaki Poska masuk ke dalam bayangannya sendiri. Seakan akan bayangan Poska sedang berusaha menelan tubuh utamanya.
"Apa ini?" Poska panik seketika. Dirinya berusaha melepaskan diri dari jeratan bayangannya sendiri. Namun usahanya begitu sia sia. Meskipun dirinya telah mencoba mengaktifkan semua kekuatan di dalam dirinya, tubuh Poska seakan tidak menuruti apa keinginannya.
Penonton pun terkesima dengan apa yang ditunjukkan oleh Gina, mereka sama sekali tidak menduga. Jika Archer wanita tersebut bisa mengalahkan Poska dengan cukup mudah.
Ya... Dibilang cukup mudah bagi para penonton, karena para penonton tidak mengetahui sama sekali jika Gina telah menyiapkan segala kebutuhan untuk melawan Poska.
"Berhentilah melawan... Itu akan jauh lebih mudah bagimu..." Gina mendekati Poska yang separuh badannya sudah terhisap ke dalam bayangannya sendiri.
"Rupanya aku terlalu meremehkanmu..." Gumam Poska yang cenderung menyalahkan dirinya sendiri. Jika saja dirinya tidak terlalu memandang rendah kekuatan Gina, mungkin dirinya tidak akan berada dalam posisi seperti ini.
"Aku akui kamu menang..." Poska sudah menerima kekalahannya, mungkin dirinya bisa lolos dari jeratan bayangannya jika dirinya mencoba untuk melepaskan semua mana miliknya, namun itu tentu bukanlah suatu pilihan yang bijak. Gina masih terlihat begitu kuat dan tidak kelelahan. Jika Poska memaksakan diri untuk mengeluarkan semua kekuatannya, dirinya pasti juga akan kalah juga. Menerima kekalahan adalah salah satu pilihan terbijak, lagipula dirinya tidak perlu takut akan kematian jika kalah. Jiwanya akan dibangkitkan setelah turnamen ini selesai nantinya.
"Bagus lah kalau kamu menurut..."
Jleb...
Anak panah Gina mendarat tepat di kepala Poska, membuat setengah tubuh Poska yang tersisa kehilangan nyawa seutuhnya.
Sebagian besar penonton pun langsung berteriak histeris, mereka kehilangan koin koin emas mereka yang mereka pertaruhkan untuk Poska. Dengan terpaksa mereka harus memberikan koin koin mereka untuk menjadi pendapatan tambahan Abyss Colloseum.
"Hah... Aku berhasil Guild Master..." Senyum kepuasan terpancar di wajah Gina. Dirinya sama sekali tidak menduga akan berhasil mengalahkan lawan yang bahkan tidak bisa dikalahkan oleh Fire Blade. Meskipun dirinya sedikit menggunakan cara licik untuk bisa menang, namun kemenangan tetap kemenangan. Jika ada yang merasa kemenangan Gina tidak pantas karena cara liciknya, Gina hanya akan memberikan sebuah senyuman dan cibiran pada pihak yang mengkritiknya.
"Gina... Shadow Archer... Pintar juga dia membuat rencana..." Alan memuji bagaimana strategi yang ditunjukkan oleh Gina. Alan tahu jika Gina telah menyiapkan semua jejak bayangan di atas arena pertarungan, dan Alan tidak mempermasalahkan hal tersebut.
Justru Alan salut akan persiapan yang telah Gina tunjukkan, menunjukkan jika Gina benar benar seorang player yang berpikir jauh ke depan.
***Babak 16 besar tidak saya cantumkan semua pertandingannya, mengingat panjangnya cerita akan begitu panjang jika saya cantumkan semua, lagipula turnamen ini hanya sebuah cerita selingan dari jalan utama cerita.
Terima kasih bagi kalian yang tetap mendukung cerita ini... Vote, like, comment kalian semua begitu berarti...
Buah mata, buah mengkudu
__ADS_1
Aku bilang cinta, sayangnya kamu tak mau...
eeeaaa...***