New World

New World
pabrik senjata 6


__ADS_3

walaupun rush mode deathmark masih aktif, nyatanya alan tidak mengalami kesulitan yang berarti untuk mengimbangi deathmark. atributnya yang tinggi, ditambah kemampuan beladirinya membuat deathmark kesulitan untuk bisa mendaratkan serangan tepat sasaran ke arah alan.


"harus kuakui... kamu player terkuat yang pernah kuhadapai!" deathmark mengakui kekuatan alan. sangat jarang player independen bisa mengimbangi kekuatan seorang wakil guild master.


"kamu juga player yang paling susah untuk dibunuh..." alan juga mengakui deathmark begitu sulit untuk dibunuh. dirinya hampir mengeluarkan skill andalannya, namun deathmark masih belum juga mati. biasanya alan hanya perlu satu atau dua serangan untuk membunuh player lainnya.


thang...


thang...


pertukaran serangan keduanya benar benar berada dalam tempo yang tinggi. alan mencoba menemukan waktu yang tepat untuk mengeluarkan skillnya. barulah ketika rush mode deathmark berakhir, alan tersenyum licik.


"sepertinya pertarungan ini bisa ku akhiri sekarang." alan langsung mengaktifkan shadow stepnya untuk meningkatkan agilitynya.


deathmark tentu panik ketika rush modenya berakhir, dirinya sadar diri jika tidak bisa mengalahkan alan tanpa rush modenya. deathmark mencoba untuk kabur ke dalam tengah pertempuran untuk bisa menghindari alan.


namun sayang... kecepatan alan yang meningkat dua kali lipat membuat deathmark tidak bisa kabur terlalu jauh. "jangan mencoba coba untuk kabur." alan menebaskan pedangnya ke arah bahu kiri deathmark.


slash...


bahu kiri deathmark langsung terluka. walaupun deathmark sudah berusaha untuk menangkis pedang alan, namun kecepatan alan kali ini jauh di atas dirinya.


"kurang ajar kau!" deathmark membalas menebaskan pedangnya ke arah alan. namun alan langsung menghilang dan langsung muncul di belakang deathmark.


slash...


kali ini bahu kanan deathmark menjadi sasaran alan. pedang deathmark yang dipegang pun langsung terlepas dari genggamannya. tanpa senjata dan skill perlindungan diri, membunuh deathmark menjadi permainan anak anak bagi alan kali ini. deathmark hanya bisa menerima tubuhnya terluka, tersayat oleh pedang alan. alan mencabik cabik tubuh deathmark sebelum dirinya mengakhiri rasa sakit yang deathmark rasakan dengan tusukan tepat di jantungnya.


deathmark pun tergeletak tak bernyawa. matanya kosong, menatap ketidakpercaya akan apa yang baru saja terjadi.


selesai dengan deathmark, alan menyasar para player di tengah area pertempuran. walaupun kondisi peperangan sudah berpihak kepada pasukan revolusi, alan tidak ingin hanya berdiam diri setelah membunuh pimpinan mereka. alan ingin mengakhiri peperangan ini sesegera mungkin. mencoba mengurangi jumlah korban yang mungkin akan timbul.


walaupun cooldown skill massal alan telah berakhir, alan tentu tidak berani mengeluarkannya di tengah area pertempuran. alan takut jika skill massalnya malah melukai pasukan revolusi. begitu juga dengan bola bola poiton.


bola bola poiton akan sangat efektif untuk membunuh para player dalam jumlah besar. namun kemungkinan pasukan revolusi ikut terkena racun juga besar. alan pun memilih untuk menggunakan panahnya. melakukan brust attack dengan panah angin.


ciu...


ciu...

__ADS_1


kelihaian alan dalam memanah tidak bisa diragukan lagi, walaupun di tengah kerumunan pertempuran. panah angin alan selalu mengenai para player. tidak ada satupun panah alan yang mengenai pasukan revolusi.


"ah..."


"ah..."


teriakan para player menggema di semua area pertempuran. para player yang tengah terdesak, semakin terdesak setelah masuknya alan dalam area pertempuran.


"mundur!" salah satu player berteriak kepada teman temannya untuk meninggalkan area pertempuran.


tanpa komando, tanpa formasi yang rapi, dan tanpa support dari lini belakang, para player sudah tidak memiliki harapan untuk memenangkan peperangan ini. satu satunya harapan mereka adalah bisa keluar dari peperangan ini hidup hidup dan tidak turun level.


satu persatu para player mulai berpencar untuk kabur dari peperangan. alan mencoba untuk menghentikan dengan panah panahnya. namun jumlah yang banyak dan arah player yang menyebar, membuat alan hanya bisa membunuh beberapa player saja.


"jangan dikejar!" alan berteriak kepada pasukan revolusi yang mencoba mengejar para player yang kabur. pasukan revolusi tadinya tidak menghiraukan alan. namun begitu olsen ikut berteriak hal yang sama barulah para pasukan revolusi berhenti mengejar para player.


"kita menang..." teriak salah satu pasukan revolusi. dirinya tidak menyangka bisa memenangkan peperangan hari ini.


"kita menang..."


"hidup pasukan revolusi!"


"hidup pasukan revolusi!"


"terima kasih banyak AS. kamu membantu kami sekali lagi." olsen langsung menghampiri alan begitu dirinya melihat sosok alan. rasa hormat dirinya sematkan sedalam dalamnya kepada alan.


"tidak perlu sungkan tuan olsen. sudah menjadi tugas sesama kita untuk saling membantu."


alan tentu tidak ingin berlama lama berbincang dengan olsen. alan lebih memprioritaskan untuk membagikan potion kepada pasukan revolusi yang terluka. melihat apa yang alan lakukan olsen menjadi semakin menaruh rasa hormat.


"sudah kuputuskan..." batin olsen dalam hati. dirinya tersenyum melihat alan yang membagi bagikan potion untuk prajuritnya.


freya berlari terburu buru ke tengah pasukan revolusi yang sedang beristirahat. dirinya tentu ingin segera memberitahu alan tentang kondisi shoote sun yang sedang dirawat di dalam pabrik senjata.


"AS... cepat ikut aku!" freya menarik alan yang masih membagi bagikan potion. alan tentu bingung atas sikap freya, dirinya pun meminta freya untuk tenang dan menceritakan apa yang terjadi.


"shoote... shoote..." nafas freya masih terengah engah karena berlari dari tempat shoote sun dirawat sampai ke depan pabrik.


tanpa freya menyelesaikan kata katanya, alan langsung berlari ke dalam pabrik setelah mendengar nama shoote sun disebut. alan yakin jika sesuatu telah terjadi pada shoote sun. freya pun hanya menghela nafas dan ikut berlari menyusul alan.

__ADS_1


alan melihat tubuh shoote sun terbujur lemah di atas ranjang salah satu ruangan perawatan di dalam pabrik senjata. mata air alan menetes dengan sendirinya, tidak sanggup untuk dirinya tahan.


"kenapa dengan dia?" alan mendekati shoote sun sambil bertanya kepada clara yang berdiri di samping ranjang.


"kami tidak tahu... tiba tiba kakak sun kehilangan kesadaran di tengah pertempuran." clara menjawab dengan nada sedih.


alan memeriksa nadi dan nafas shoote sun, bisa dirasakannya jika nadi dan nafas shoote sun sedikit lemah. tapi alan tahu jika kondisi shoote sun tidaklah kritis.


"syukurlah..." gumam alan pelan setelah memeriksa nadi dan nafas shoote sun. alan tahu jika shoote sun kehilangan kesadaran karena terlalu memaksakan tubuh dan otaknya. alan bisa tahu hal tersebut karena dirinya juga pernah mengalami apa yang shoote sun alami sekarang.


"biarkan dia beristirahat. dia hanya kelelahan." alan meminta clara untuk menemani shoote sun terlebih dahulu. sedangkan alan perlu melanjutkan mengobati pasukan revolusi yang terluka.


ketika alan mengobati pasukan revolusi, olsen datang menemui alan untuk sekedar menemani alan.


"tidak kusangka kamu juga memiliki sihir yang tabu." olsen membuka percakapan kepada alan yang masih membagi bagikan potion penyembuh.


"sihir tabu? maksud anda?" alan tentu tidak tahu yang olsen katakan. dirinya adalah archer class, sihir bukanlah bidangnya.


"kau pura pura tidak tahu... monster monster undead yang tadi membantu kami. itu pasti juga sihirmu kan?"


"ah... jonta..." alan langsung teringat akan jonta begitu olsen mengingatkan tentang monster undead. alan langsung bergegas ketempat jonta bersembunyi untuk menjemputnya.


namun... baru beberapa langkah alan berlari, alan mendapati tiga orang pasukan revolusi sedang menarik paksa seseorang.


"tuan... kami menangkap seorang mata mata yang bersembunyi."


"lepaskan... lepaskan aku... aku bukan mata mata seperti yang kalian tuduhkan." orang yang ditarik tersebut meronta.


"diam!" bentak prajurit yang menarik pria tersebut.


"lepaskan dia!" alan tentu tahu jika pria tersebut adalah jonta setelah mendengar suaranya. tidak dirinya sangka, jonta akan dicurigai sebagai mata mata karena bersembunyi di pepohonan. pasukan revolusi pasti mengira jika jonta adalah gerombolan player yang tadi kabur. dan dirinya mendapat tugas untuk mengawasi pasukan revolusi.


"tapi tuan..." prajurit tersebut tahu jika alan adalah salah satu teman dekat olsen. namun melepaskan orang yang dicurigai sebagai mata mata bukanlah hal yang mudah.


"lepaskan dia... aku yang akan bertanggung jawab... lagipula tanpa dia kalian semua pasti sudah mati tadi."


prajurit tersebut tentu tidak berani membantah alan lebih jauh, dirinya langsung melepaskan jonta. jonta langsung berlagak sebagai orang penting begitu dirinya dilepaskan. "untung saja suasana hatiku sedang senang hari ini. kalau tidak... monster monsterku pasti sudah menghabisi kalian."


"monster?" salah satu pasukan revolusi memastikan apa yang dirinya dengar.

__ADS_1


"benar... dia adalah pemilik monster monster undead yang tadi membantu kalian." alan mencoba menengahi jonta dan tiga orang prajurit tersebut. alan pun langsung mengajak jonta masuk ke dalam pabrik senjata untuk diperkenalkan dengan teman teman yang lainnya.


ketiga prajurit tersebut langsung menelan ludah dalam dalam setelah mendengar perkataan alan. "ini gawat..." ketiga prajurit tersebut membayangkan jika jonta marah kepada mereka dan memanggil monster undeadnya untuk menyerang mereka bertiga.


__ADS_2