New World

New World
Kota Morelia 7


__ADS_3

Pertarungan antara Azazel dengan Selene menjadi berat sebelah, setelah Selene berhasil mengumpulkan kekuatan dari keempat duplikat tubuhnya. Lesatan cambuk maupun serangan cakar Selene pun berhasil mengenai Azazel beberapa kali. Membuat baju zirah yang dirinya kenakan kini tidak lagi utuh.


"Ah... Andai saja aku mengumpulkan berkah cahaya terlebih dahulu tadi." Azazel menyesalkan keputusan dirinya, yang tidak mengumpulkan berkah cahayanya terlebih dahulu sebelum berangkat. Jika saja dirinya mengumpulkan berkah cahaya terlebih dahulu, dirinya tentu bisa mengimbangi kekuatan yang ditunjukkan oleh Selene.


Namun tentu tidak ada gunanya menyesali apa yang telah terjadi. Mau tidak mau kini Azazel harus menghadapi Selene dengan kekuatan yang dimilikinya saat ini.


"Mati kau!" Selene mengayunkan cambuknya sekali lagi. Serangannya tepat mengenai dada Azazel. Baju zirah Azazel yang telah terkoyak tidak lagi bisa melindungi dirinya. Azazel pun harus terlempar dengan bekas luka sayatan dalam di dadanya.


"Hem... Rupa rupanya kamu tetap tidak berubah. Masih tetap menjadi Dewa meskipun sudah dibuang ke dunia ini." Selene berdiri dari kejauhan dengan tersenyum kecil. Melihat darah berwarna emas mulai keluar dari dada Azazel. Yang menandakan Azazel masih seorang dewa. Dari luka yang dirinya lihat, dirinya yakin Azazel akan segera tumbang dengan satu atau dua serangan lagi.


"Jangan terlalu banyak bicara. Mau Dewa atau bukan.. Itu bukan urusanmu." Azazel sekali lagi membesarkan aura kecoklatan yang mengelilingi tubuhnya. Mengeluarkan segenap kekuatan yang tersisa di dalam tubuhnya.


"Ich... Azazel... Mit meinem Blut in meinem Schwert... Mein Schwert wird ein Beschützer... Mein Schwert wird die Dunkelheit beseitigen... Mein Schwert wird dieser Welt Frieden geben..."


Azazel mengambil segumpal darah yang keluar dari luka di dadanya, mengoleskan darah tersebut pada pedang yang dirinya genggam, dan membacakan sebuah mantra. Pedang Azazel langsung bersinar begitu terang, seakan akan darah emas Azazel meresap ke dalam pedang yang dirinya genggam.


"Ingin membuat serangan penghabisan? Baiklah... Aku terima..." Selene yang melihat apa yang dilakukan oleh Azazel tentu paham, jika Azazel sedang mempersiapkan serangan terkuat. Dirinya pun mengikuti kemauan Azazel dengan mempersiapkan serangan terkuatnya.


"Dark Snake!"


Selene mengayunkan cambuknya. Berbeda dengan ayunan ayunan sebelumnya, lesatan cambuk Selene seketika berubah menjadi sebuah ular hitam raksasa. Dengan mulut ular yang terbuka lebar, serangan cambuk Selene siap melahap Azazel menjadi tidak bersisa.


"God Blood Slash!"


Azazel mengayunkan pedangnya, sebuah lesatan cahaya berbentuk bulan sabit langsung melesat ke arah ular hitam yang merupakan perwujudan cambuk Selene.


Duar...


Bagaikan sebuah bom, tabrakan kedua serangan tersebut menghasilkan gelombang angin yang menyebar ke segala penjuru. Suara dari benturan dua kekuatan tersebut pun sampai menyebar ke seluruh penjuru Kota Morelia.

__ADS_1


"Ini? Dimana ini" Selene tidak tahu apa yang telah terjadi... Dirinya bingung mendapati dirinya berada di tempat yang terasa asing. Kepulan debu yang tebal menyelimuti tempatnya berdiri, tidak bisa mengetahui dengan pasti dimana dirinya berada saat ini. Rasa sakit di dadanya pun semakin membuat dirinya bingung dengan apa yang telah terjadi.


Barulah setelah kepulan debu menghilang, dirinya bisa mengetahui secara pasti dimana dirinya berada. Sosok Azazel yang tengah terbaring lemas di atas tanah pun tidak luput dari pandangan Selene.


"Azazel?" Sekali melihat tentu Selene tahu jika sosok tersebut adalah Azazel. Dirinya segera mendekati Azazel untuk mencari tahu apa yang sebenarnya telah terjadi.


"Kamu tidak apa apa?" Selene mengangkat kepala Azazel yang terlihat begitu lemah, darah emas yang bercucuran bisa Selene rasakan mulai membasahi tangannya.


"Ah... Kenapa kamu tiba tiba berubah menjadi baik?" Rintih Azazel pelan. Tangan Azazel memegangi dadanya, dimana luka di dadanya semakin parah setelah mendapat serangan ular hitam dari Selene tadi.


"Baik? Maksud Anda?" Selene tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi, yang dirinya tahu hanyalah dirinya tersadar di dalam sebuah kepulan debu. Seingat dirinya... Terakhir kali dirinya berada di dalam tenda bersama kedua pelayan wanitanya.


Serangan terakhir Azazel berhasil menyadarkan Selene dari pengaruh Absolute Love Marry. Meskipun kedua serangan tersebut bertabrakan, namun masing masing serangan tersebut tetap mengenai kedua belah pihak. Hanya saja serangan Selene lebih kuat, membuat Azazel terluka begitu parah. Sedangkan darah Dewa murni yang terkandung di dalam serangan Azazel, membuat Absolute Love yang menyelubungi pikiran Selene lenyap. Mengembalikan kesadaran Selene seperti sedia kala.


"Uhuk... Uhuk... Kamu benar benar tidak ingat jika kita telah bertarung tadi?"


"Bertarung?" Selene pun mulai memeriksa lagi wilayah sekitar, dirinya juga mendapati jika dirinya berada di dalam mode terkuatnya.


"Marry?" Mendengar nama Marry, Selene menjadi semakin bingung. Seingat dirinya... Dirinya memang mendapatkan tugas dari Ayahnya yang berhubungan dengan Marry. Namun apa yang sebenarnya telah terjadi? Pertanyaan pertanyaan itu pun terus mengisi pikiran Selene.


"Ahh...Sudahlah... Paling tidak... Bocah itu sudah tidak harus menjadikanmu lawan." Azazel sedikit bersyukur, mengetahui Selene rupa rupanya berada di bawah kendali Marry. Meskipun dirinya terluka parah, paling tidak dirinya sudah meringankan beban yang harus ditanggung oleh Alan. Azazel tidak bisa membayangkan jika nantinya Alan harus mengahadapi Marry beserta Selene secara bersamaan.


"Siapa yang Anda maksud?" Selene semakin bingung dengan penjelasan Azazel. Tiba tiba tersadar di tengah area pertempuran di Kota Morelia, dan melihat Azazel yang tengah terkapar karena ulah dirinya. Meskipun dirinya tidak terlalu dekat dengan Azazel, tapi dirinya tahu... Jika Azazel bukanlah pihak yang harus dihilangkan oleh Ayahnya.


"Ah... Lebih baik kamu langsung melihatnya sendiri. Ada kakakmu juga disana."


"Kakak?" Selene semakin bingung dengan semua yang telah terjadi. Namun terus memikirkannya pun sepertinya juga tidak berguna bagi Selene saat ini. Akan lebih cepat jika dirinya segera melihat dengan mata kepala sendiri.


"Lalu bagaimana dengan Anda?" Selene memperhatikan luka yang diderita Azazel. Terlihat jelas jika Azazel akan kesulitan ikut bersamanya. Membawa Azazel ke tempat yang akan dirinya tuju pun juga bukan solusi yang tepat. Mengingat dirinya tidak tahu kondisi sebenarnya dengan tempat yang akan dirinya datangi.

__ADS_1


"Aku tidak apa apa... Luka seperti ini tidak akan membunuhku..." Azazel mencoba menenangkan Selene yang terlihat tidak ingin meninggalkan dirinya seorang diri di tempat tersebut.


"Baiklah... Semoga Anda baik baik saja..." Selene membaringkan kepala Azazel perlahan, dirinya segera meninggalkan Azazel sendirian untuk menuju ke Istana Marry. Rasa penasaran dengan semua yang telah terjadi telah memenuhi seluruh pikirannya.


###


Suara ledakan dari salah satu sudut Kota Morelia membuat Naga Yang menghentikan aktifitas penyadaran Naga Yin. Dirinya menghentikan setiap pukulan dari kedua tangannya yang dirinya layangkan ke kepala Naga Yin. Naga Yin pun melihat ke arah sumber suara, mencoba memastikan apa yang sebenarnya telah terjadi.


"Yang... Apa yang kamu lakukan?" Sebuah suara dari bawah kaki Naga Yang membuat Naga Yang mengalihkan pandangannya.


"Ahh... Sadar juga kamu akhirnya..." Naga Yang turun dari atas tubuh Naga Yin. Membiarkan Naga Yin untuk bisa berdiri dengan tegap.


"Ahh... Kenapa kepalaku pusing sekali? Rasa rasanya seperti aku baru saja dihajar berkali kali." Naga Yin menyentuh kepalanya yang terasa begitu sakit, darah segar bisa dirinya rasakan telah merembes keluar dari ujung mulutnya.


"Ahh... Mungkin kamu terlalu banyak tidur..." Naga Yang bersiul siul. Menutupi segala perlakuan dirinya yang telah dirinya lakukan pada Naga Yin.


"Berapa lama memang aku tidur?" Naga Yin juga tidak menaruh curiga. Dirinya juga berpikir mungkin tadi Naga Yang sedang mencoba membangunkan dirinya.


"Entahlah..." Naga Yang hanya mengangkat kedua bahunya, tidak ingin menjawab pertanyaan Naga Yin lebih jauh. Pertanyaan yang nantinya kan membuat kedok dirinya terbongkar. Jujur saja dirinya tadi begitu menikmati memukuli Naga Yin. Rasa kesal yang menumpuk selama menjadi partner Naga Yin bisa dirinya lampiaskan semua tadi.


"Dimana ini?" Naga Yin mulai menyadari jika dirinya tidak berada di daerah Mischurine. Daerah yang seharunya menjadi tempat tinggal Naga Yin dan Yang, sekaligus daerah yang harus mereka berdua jaga.


"Kita di Kita Morelia."


"Morelia katamu?" Naga Yin tidak menduga, jika dirinya terbangun dan berada begitu jauh dari Mischurine.


"Apa yang kita lakukan disini?" Naga Yin tidak bisa mengerti dengan serangkaian kejadian yang telah terjadi. Seingat dirinya... Dirinya terakhir kali bertarung dengan salah satu Jenderal Besar Demon, Behemeout. Namun kini dirinya tiba tiba berada di Kota Morelia.


"Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Kita harus segera merebut segel pintu keluar Dunia Abyss." Naga Yang mengepakkan sayapnya untuk terbang menuju ke Istana Marry. Tempat segel pintu keluar Dunia Abyss berada.

__ADS_1


"Segel katamu?" Mendengar kata Segel, Naga Yin ikut terbang mengikuti Naga Yang. Meskipun dirinya masih belum tahu apa yang telah terjadi, namun menjaga segel adalah tugas utama mereka berdua. Jika segel tersebut telah dicuri, maka dirinya dan Naga Yang harus segera merebutnya kembali.


__ADS_2