New World

New World
Kegundahan hati


__ADS_3

Suasana Kuil Cahaya Kerajaan Black Dessert begitu meriah malam itu. Kuil yang biasanya digunakan sebagai tempat ibadah, malam ini disulap menjadi sebuah tempat yang begitu megah untuk mengadakan pesta.


Semua tamu larut dalam kegembiraan, tawa dan nyanyian terdengar di semua sudut Kuil Cahaya. Satu kesamaan dari mereka semua, mereka merasa gembira akan keberhasilan memusnahkan salah satu ras yang berbahaya di New World, Bangsa Titan.


Ya... Untuk itulah pesta ini dibuat. Pihak Kuil Cahaya, Sun Flower Guild dan Kerajaan Black Dessert merayakan kemenangan akan perang yang sudah berkecamuk lebih dari satu tahun.


Namun dalam meriahnya suasana pesta, ada seorang wanita berpakaian serba putih dengan aksen emas yang memilih untuk berdiri menyendiri di lantai dua. Dirinya berdiri di suatu balkon, dengan pandangan kosong ke arah hiruk pikuk Ibukota Kerajaan Black Dessert. Jubah putih yang terlampir di punggungnya mengembang, seiring dengan terpaan angin malam Ibukota.


"Kenapa Anda tidak bergabung dengan yang lain?" Tanya seorang wanita yang menghampiri wanita berbaju serba putih tersebut.


"Ah... Ada apa Sienta?" Tanya balik wanita tersebut.


"First Priest... Apa yang menganggu pikiran Anda?" Sienta tidak menjawab pertanyaan First Priest, namun lebih memilih mengajukan pertanyaan sekali lagi.


"Tidak ada..." Hening sesaat tercipta, sebelum First Priest kembali melanjutkan kata katanya. "Aku belum berterima kasih kepadamu untuk pertolonganmu kemarin..."


"Itu sudah menjadi tugas saya untuk membantu perkembangan Kuil Cahaya, First Priest." Sienta mencoba merendah.


Dirinya merasa bala bantuan Light Guardian tidaklah seberapa dalam perang kemarin. Seharusnya First Priest seorang diri saja sudah cukup untuk menghabisi Bangsa Titan. Tapi Sienta tidak tahu, kenapa First Priest tidak pernah melakukan pemusnahan Bangsa Titan sedari dulu. Hal itu justru sedikit menimbulkan pertanyaan pada benak Sienta, apakah First Priest benar benar serius dalam mengembangkan Kuil Cahaya di Kerajaan Black Dessert.


"Sienta... Apa yang kamu pikirkan sewaktu perang kemarin?" First Priest tidak memandang Sienta ketika bertanya. Dirinya memandang langit yang dipenuhi bintang bintang nan indah dan mempesona.


"Apa maksud Anda Nona First Priest?" Sienta memasang wajah penuh tanda tanya. Pertanyaan yang diajukan oleh First Priest bisa diartikan sebagai sebuah gejolak di dalam hatinya. "Apa Anda sedang meragukan tugas yang diberikan oleh Dewa Helios kepada Anda?"


"Aku tidak pernah berkata seperti itu... Aku hanya menanyakan perasaanmu ketika diminta menghilangkan satu ras yang ada di dunia ini." Kini First Priest menatap Sienta dengan cermat. Dirinya tidak ingin terlihat sebagai First Priest yang mudah bimbang di mata Sienta.

__ADS_1


"Jika memang itu adalah tugas yang harus saya lakukan... Saya akan melaksanakannya dengan keteguhan hati." Jawab Sienta dengan mantapnya, tidak ada sedikit pun keraguan yang tersirat dalam kata katanya.


"Oh... Begitu... Aku mengerti sekarang..." First Priest membalikkan badan dan pergi dari balkon tempatnya berdiri.


"Dunia ini ternyata sama saja..." Batin First Priest. Dirinya merasa New World tidak jauh berbeda dengan dunia nyata. Selalu saja ada kepentingan suatu pihak yang akan merugikan pihak lainnya. Padahal bukan dunia seperti itu yang dirinya cari ketika memilih bermain New World.


###


"Rupanya kamu sudah kembali..." Tanya Cleo pada Alan yang kini tengah berdiam diri di lantai 2 Heaven Throne.


"Aku pergi tidak lama... Aku sudah di tempat ini sedari tadi..." Jawab Alan tanpa mengindahkan kehadiran Cleo.


"Ohh... Kamu tidak log out? Atau ada sesuatu lainnya yang harus kamu urus?" Cleo tahu betul seperti apa jalan pikiran Alan. Alan adalah orang yang tidak akan menyia-nyiakan waktu untuk hanya berdiam diri di lantai 2 Heaven Throne seorang diri.


"Tidak... Aku hanya sedang memikirkan sesuatu... Aku butuh tempat yang sedikit sunyi saat ini..."


"Cleo..." Panggil Alan pada gadis Ranger yang sedang berjalan meninggalkannya.


"Ya?" Cleo hanya memalingkan wajahnya, tanpa membalikkan badannya. Berpikir jika Alan akan memberikan tugas baru kepada dirinya.


"Apa kamu pernah takut pada sesuatu hal?" Tanya Alan dengan pelan, seakan akan Alan malu untuk mengakui hal yang sedang dirinya pikirkan saat ini.


"Kamu? Takut pada sesuatu? Aku tidak pernah berpikir jika kamu bisa takut pada sesuatu di dunia ini..." Cleo justru ingin tertawa mendengar pertanyaan Alan.


Siapa Alan? Apa saja yang sudah dia perbuat? Bagaimana bisa seorang Alan takut pada sesuatu? Cleo menganggap Alan sedang mencandai dirinya saat ini.

__ADS_1


"Aku serius..." Alan memalingkan wajahnya, mengharapkan jawaban yang diinginkannya keluar dari mulut Cleo. Bukannya sebuah sindiran untuk dirinya.


"Ahh... Aku tidak tahu apa yang bisa membuat dirimu merasakan ketakutan..." Cleo kembali mendekati Alan yang berdiri di dekat jendela ruangan.


"Tapi apapun itu yang membuat mu takut. Hadapilah! Lama lama ketakutan yang kamu rasakan itu akan menghilang dengan sendirinya." Cleo memberikan senyum hangatnya ketika memberikan saran kepada Alan. Membuat wajah gadis berambut pirang tersebut terlihat begitu mengesankan.


"Hah... Mudah untuk dikatakan..." Balas Alan tanpa ekspresi sedikitpun. Ketakutan adalah suatu hal yang berasal dari dalam hati, bukan suatu hal yang mudah untuk bisa mengatasi satu hal bernama ketakutan.


"Percayalah... Ketakutan hanya akan menjadi beban di dalam hidupmu jika kamu pendam selamanya. Lebih baik kamu coba keluar dan menghadapinya."


"Jika pun nanti kamu gagal, kamu hanya perlu mencobanya lagi. Aku yakin, rasa takutmu akan sedikit berkurang ketika kamu mengulangi usahamu untuk mengatasi ketakutan dalam dirimu." Cleo menepuk pundak Alan dan meninggalkannya sendiri. Cleo paham betul, perlu waktu bagi Alan untuk bisa mencerna kata katanya barusan. Apalagi itu adalah sesuatu hal yang menyangkut keteguhan hatinya.


Alan terdiam mencerna kata kata yang diberikan oleh Cleo. Semua menang benar, Alan pun juga tidak menyangkalnya. Hanya saja dirinya memang merasa ketakutan di dalam dirinya ini tidak bisa dirinya hadapi saat ini. Jika saja ini berkaitan dengan musuh yang kuat, Alan hanya perlu mencoba melawannya lagi. Tapi ketakutan ini berbeda, dirinya benar benar takut jika harus bertemu dengan sebuah nama ya g terlihat di dalam tampilan layarnya.


"Kenapa dia juga ada di sini? Apa yang harus aku lakukan jika aku bertemu dengan dia nanti?" Batin Alan sembari melihat nama Shoote Sun berada di peta yang Joker tampilkan. Nama Shoote Sun terlihat sedang berada di dalam Kuil Cahaya, beserta nama nama orang penting yang ada di Kerajaan Black Dessert.


'Joker... Kamu punya solusi?' Tanya Alan pada sistem penunjang yang memiliki semua informasi di New World, siapa tahu cara bersikap di depan Shoote Sun nantinya ada di data base New World.


[Maaf AS... Tidak ada data yang busa digunakan untuk membantu masalahmu...]


"Hah... Sudah aku duga..." Alan hanya bisa menghela nafas panjang mendengar jawaban dari Joker. Bagaimanapun juga dirinya benar benar harus memikirkan sendiri sikap yang dirinya tunjukkan nanti jika bertemu dengan Shoote Sun. Untuk saat ini dirinya hanya bisa berharap tidak bertemu dengan Shoote Sun dalam waktu dekat.


***Maaf kalau updatenya tidak teratur di bulan ini... Kerjaan dan proyek author lagi banyak... Do'ain saja semuanya lancar ya...


Terima kasih tetap membaca dan mendukung karya ini...

__ADS_1


Satu lagi... Cerita ini tidak akan enak kalau dibaca satu chapter setiap hari... saya sarankan baca ulang dari depan untuk mendapatkan imajinasi yang author bangun... terima kasih...***


__ADS_2