
Vampire adalah sebuah ras yang begitu langka dipilih oleh para player. Pengurangan atribut jika terkena sinar matahari, tidak adanya Kerajaan Vampire yang bisa untuk menjadi tempat bernaung. Itulah sekian alasan dari sekian banyak alasan yang menjadi pertimbangan para player untuk memilih ras Vampire sebagai ras utama mereka.
Begitu juga dengan XXX... Awal mula dirinya bermain New World, dirinya tidak memilih ras Vampire sebagai ras miliknya. Melainkan dirinya memilih ras Elf dengan Assassins sebagai classnya. Namun nasibnya berkata lain ketika XXX beserta teman temannya menemukan sebuah reruntuhan kuno di Kerajaan Blue Phoenix.
XXX berhasil menjadi satu satunya player yang selamat di dalam reruntuhan tersebut. Semua anggota grupnya yang berjumlah 58 orang, mesti merelakan level mereka turun satu level karena kematian. Di dalam reruntuhan tersebut lah XXX mendapatkan ras yang kini dirinya banggakan sekarang.
XXX bertemu dengan seorang ratu vampire terdahulu bernama Bathory, dirinya mendapatkan sebuah Hidden Quest di dalam reruntuhan tersebut. Setelah enam bulan berjuang sendirian, akhirnya XXX berhasil menyelesaikan Hidden Quest tersebut. Dirinya pun mendapatkan satu tetes darah dari Bathory sebagai hadiah dari Hidden Quest tersebut.
Awal mulanya... XXX mengeluh akan hadiah yang dirinya dapatkan tidak sesuai ekspektasinya. Tadinya dirinya berpikir jika akan mendapatkan satu item Legendary class atau paking tidak satu item Epic class. Mengingat betapa sulitnya Quest yang harus dirinya lakukan.
Namun pemikirannya berubah 180° setelah dirinya mengkonsumsi setetes darah tersebut. Setetes darah Bathory tadi membuat dirinya kini memiliki ras Vampire Elf. Tidak hanya perubahan ras saja yang dirinya dapatkan. Melainkan juga peningkatan atribut yang begitu significant. Membuat XXX merasa sama sekali tidak menyesal telah menghabiskan waktu selama enam bulan untuk menyelesaikan Quest tersebut.
Mendapatkan ras Vampire seakan menjadi pedang bermata dua bagi XXX. Meskipun dirinya memiliki kekuatan yang luar biasa, tidak banyak guild yang mau merekrut dirinya. Semua karena ras XXX yang seorang Vampire. Darah Bathory di dalam tubuh XXX merupakan darah Vampire terkuat, darah tersebut terlampau kuat untuk dikendalikan sepenuhnya oleh XXX. Terkadang XXX harus menuruti permintaan darah Bathory yang menginginkan darah merah untuk memuaskan dahaganya. Menjadikan XXX sering membunuh para player untuk diambil darahnya.
Merasa tidak ada yang menerima karena rasnya, akhirnya XXX berkelana seorang diri. Hingga akhirnya dirinya melihat sebuah postingan tentang Bangsa Demon yang juga seperti dirinya. Meminum darah merah untuk memuaskan dahaganya. Untuk itulah XXX mengikuti turnamen yang di selenggarakan di Abyss Colloseum, jika dirinya bisa menang di dalam turnamen ini. XXX akan meminta satu kedudukan yang tinggi di Kerajaan Bangsa Demon. Membuat dirinya akan lebih mudah mendapatkan semua yang dirinya inginkan.
Dan dari sinilah, tinggal satu langkah lagi dirinya akan bisa mendapatkan tujuannya. Tinggal satu pertarungan lagi, dan dirinya bisa masuk ke dalam final. Dirinya begitu yakin, meskipun nantinya dirinya kalah di final, pihak Kerajaan Bangsa Demon akan merekrut dirinya. Mengingat dirinya memiliki kekuatan dan ras yang cocok dengan Bangsa Demon.
"Aku tahu kamu kuat... Tapi lebih baik kamu menyerah... Tidak ada peluang bagimu untuk menang tanpa mode bertarung terkuatmu..."
XXX memperingatkan Coward di sela sela pertukaran serangan mereka. Coward memang cepat dan kuat. Tapi bagi dirinya... Coward tidak lebih dari seorang player dengan Special Class biasa.
Berbeda cerita jika Coward berada dalam mode Dragonizernya. Harus XXX akui, dirinya mungkin tidak akan bisa menang jika harus melawan Coward dalam mode terkuatnya tersebut.
"Jangan sombong dulu... Aku masih belum serius..." Coward menggigit giginya sendiri. Meskipun dirinya berulang kali mencoba mendaratkan serangan ke arah XXX, namun XXX selalu bisa menangkis atau menghindarinya dengan sempurna.
"Kalau begitu tunjukkan..." XXX tidak lagi pasif seperti tadi, kini dirinya ikut memberikan serangan balik dengan kedua cakarnya.
Coward pun terpaksa harus terus bertahan menggunakan pedangnya. Dirinya tahu jika cakar XXX memiliki kekerasan setingkat dengan senjata Epic Class.
Jika saja bukan karena Pedang Coward yang merupakan senjata bawaan Special Class miliknya, mungkin pedang Coward sudah tergores beberapa kali karena benturan dengan cakar XXX. Blue Dragon Sword adalah senjata item pertumbuhan seperti Wind Bow milik Alan. Coward telah mengupgrade senjata tersebut hingga berada pada titik yang maksimal, yaitu Epic Class.
"Dragon Wave!"
Coward mengeluarkan sebuah skill miliknya agar Coward yang sedari tadi menyerang dirinya mundur. Sebuah aura biru langsung menyebar ke segala arah. Memaksa XXX harus menjaga jarak agar tidak terlempar karena aura yang dilesatkan oleh Coward.
[Player terkena stun 2 detik.]
XXX mengumpat di dalam hati. Meskipun dirinya telah mundur, efek Dragon Wave yang dikeluarkan oleh Coward masih berefek pada tubuhnya.
Dan tentu saja Coward menggunakan kesempatan itu dengan maksimal. Coward langsung melompat tinggi untuk mengeluarkan skill andalannya.
"Dragon Roar!"
Gelombang energi yang kuat langsung meluncur ke arah XXX yang masih terkena stun. Dua detik saja, hanya dua detik sudah cukup bagi Coward bagi dirinya untuk memaksa XXX berada dalam tekanan.
Efek stun yang mengenai XXX baru terlepas setelah gelombang energi yang kuat hampir mengenai dirinya. XXX tahu, jika dirinya mencoba menghindar, dirinya tidak akan bisa menghindari serangan Coward dengan sempurna.
"Padahal aku berniat menyimpan ini untuk final..." Keluh XXX yang terpaksa harus mengeluarkan skillnya untuk menghalau serangan Coward.
"Vampire Cry!"
__ADS_1
Gelombang suara yang tidak kalah kuat dengan gelombang energi yang Coward keluarkan pun dikeluarkan oleh XXX. Kedua gelombang tersebut bertemu pada satu titik di udara. Membuat sebuah hempasan angin yang begitu kuat, menyebar ke seluruh arena pertarungan.
XXX terlempar beberapa meter, karena jarak pertemuan antara dua gelombang tersebut lebih dekat kepada dirinya. Namun paling tidak, dirinya bisa selamat dari serangan Coward tadi.
Coward pun tidak berhenti sampai disitu, sembilan gelombang energi sudah kembali Coward lesatkan untuk menyasar lawannya.
"Cih... Merepotkan..." XXX menangkis kesembilan gelombang energi yang Coward lesatkan. Namun dirinya juga sadar, jika sembilan gelombang energi tersebut hanyalah sebuah pengalihan dari Coward.
"Sword Mastery... First step... Three Dragon Slice!"
Coward sudah berada di dekat XXX, dirinya langsung mengeluarkan sebuah tekhnik pedang andalannya.
"Blood Shield!"
Thang...
Thang...
XXX tidak mencoba menghindar, serangan Coward tadi bukanlah sebuah serangan yang bisa dihindari. Hanya dengan menangkisnya saja dirinya bisa selamat dari serangan tersebut.
"Lumayan..." Coward masih bisa tersenyum kecil, setelah melihat XXX bisa menangkis serangannya. Namun serangan Sword Mastery adalah salah satu serangan dari serangkaian serangan yang berkelanjutan.
"Sword Master... Second step... Dragon Roll!"
Bagaikan sebuah Naga yang terus mengitari tubuh XXX. Coward terus berputar putar di sekeliling XXX sembari terus menerus melayangkan serangan ke perisai pelindung yang melindungi XXX. Sekuat apapun perisai pelindung yang melindungi XXX, semua akan hancur jika terus terkena serangan seperti yang Coward lesatkan.
"Serangan berkelanjutan ya..." XXX mengumpat, dirinya sudah terjebak dalam belenggu serangan Coward. Tidak ada jalan bagi dirinya untuk bisa kabur. Kecepatan dan kekuatan yang ditunjukkan Coward benar benar memojokkan dirinya.
Seperti yang Coward duga, perisai pelindung yang melindungi XXX langsung mulai retak. Serangan yang terus dilancarkan oleh Coward tidak akan mampu untuk ditahan sepenuhnya oleh perisai pelindung XXX.
"Sword Mastery... Third step... Dragon Fury!"
Bagaikan sudah tahu apa yang akan terjadi, Coward melancarkan satu tebasan yang penuh dengan tenaga dari atas. Meskipun masih ada perisai pelindung yang melindungi XXX, namun Coward tahu. Jika perisai pelindung XXX tidak akan kuat menghalau serangan dirinya ini.
Thar...
Slash...
Seperti yang Coward yakini, perisai pelindung yang melindungi XXX hancur begitu saja. Dragon Fury miliknya adalah serangan penghabisan yang memiliki data hancur luar biasa pada single target. Tidak akan ada yang bisa selamat dari serangannya tersebut. Tubuh XXX pun terbelah menjadi dua dari atas sampai bawah, karena tertebas pedang Blue Dragon Blade milik Coward.
"Dengan ini berakhir..." Senyum Coward setelah melihat tubuh XXX terbelah menjadi dua. Meskipun dirinya harus mengeluarkan semua kartunya sebelum final, tapi dirinya tahu betul. Jika tanpa kartu kartu itu dirinya tidak akan bisa menang.
"Hahahaha...."
Tidak ada yang menyangka sama sekali. Tubuh XXX yang tadinya terbelah menjadi dua, kini berubah menjadi kelelawar kelelawar kecil yang terbang menjauhi Coward. Semua kelelawar tersebut akhirnya bersatu kembali dan membentuk sebuah tubuh yang Coward kenal sebagai XXX, lawannya di semifinal.
"Bagaimana?" Mata Coward seakan ingin lepas dari kedua kelopak matanya. Seakan akan mata tersebut tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dirinya telah mengeluarkan skill terbaiknya untuk membunuh single target. Meskipun tanpa bentuk Dragonizernya, seharusnya skill skillnya tadi bisa dirinya andalkan untuk membunuh XXX.
"Harus aku akui kamu memang kuat... Tapi seperti yang aku bilang... Kamu tidak akan bisa menang tanpa bentuk terkuatmu..." Senyum kemenangan terpancar di bibir XXX. Dirinya telah mengaktifkan skill Bathory Blood di dalam tubuhnya. Membuat dirinya bisa merubah diri menjadi kelelawar kelelawar kecil ketika dirinya menginginkannya.
"Tidak..." Coward tidak tahu lagi apa yang harus dirinya lakukan. Semua skill skill andalannya masih dalam cooldown. Item item di dalam tasnya juga tidak ada yang cocok untuk dirinya gunakan dalam pertarungan saat ini.
__ADS_1
"Bisa kita bertukar posisi sekarang?" XXX tersenyum kecut. Setelah di bombardir serangan oleh Coward tadi dan mampu selamat. Kini giliran dirinya untuk berganti memberikan bombardir serangan pada Coward.
"Blue Aegis!" Coward tahu dirinya akan berada dalam bahaya. Oleh karena itu, dirinya langsung mengaktifkan skill perlindungan dirinya.
"Hahaha... Bodoh..." XXX masih saja tersenyum sebelum dirinya berubah menjadi kelelawar kelelawar kecil. Kelelawar kelelawar kecil tersebut langsung mengelilingi Coward seutuhnya.
"Ultrasonik!"
Wang...
Wang...
Bukan gelombang energi atau serangan kasar. XXX menyerang Coward dengan sebuah serangan suara yang memekikkan telinga.
Coward terpaksa harus menutup kedua telinganya. Mencegah semua suara yang menyayat telinganya tersebut masuk ke dalam kepalanya. Namun apalah daya? Perisai yang melindungi Coward hanyalah perisai untuk melindungi diri dari serangan kasar. Bukan suatu perisai kedap suara. Coward terpaksa harus jatuh berlutut sembari menahan rasa sakit yang hebat di kepalanya.
Wang...
Wang...
Penonton mungkin juga mendengat gelombang suara yang menyerang Coward. Namun mereka tentu tidak ikut merasakan apa yang Coward rasakan. Penonton hanya bisa berdecak kagum akan skill perubahan diri yang XXX miliki. Tidak ada yang menyangka sama sekali, XXX ternyata begitu kuat selama ini. Padahal XXX bukanlah seorang player yang dijadikan kandidat juara seperti Coward.
Tidak bisa menahan serangan suara, membuat Coward harus pasrah. Lagipula suara yang memekikkan telinganya memang benar benar menyiksa dirinya. Perlahan namun pasti.. Suara suara yang menusuk ke dalam telinganya menggerogoti dirinya dari dalam. Kedua gendang telinganya pecah, darah keluar dari setiap lubang tubuhnya. Coward harus merasakan sebuah penyiksaa dari XXX. Seakan akan tubuhya telah meledak dari dalam karena serangan XXX.
"Sadisnya..."
"Gila... Kejam sekali..."
Gumam para penonton yang melihat bagaimana XXX membunuh Coward. Mereka tidak bisa membayangkan sesakit apa Coward ketika merasakan ajal mendekatinya.
"Tripel X... Awas saja..." Ken mengepalkan kedua tinjunya. Apa yang ditunjukkan oleh XXX benar benar sebuah penyiksaan yang tragis. Seharusnya XXX bisa memberikan sebuah kematian yang mudah bagi Coward, bukannya dengan menyiksa Coward secara perlahan seperti itu.
Flyin pun mengumumkan pemenangnya, dan menjadikan XXX akan menjadi lawan Ken di final esok hari. Tidak ada penonton yang bersorak dalam kemenangan XXX, semua penonton sependapat. Jika cara menang yang ditunjukkan oleh XXX terlalu sadis. Tidak layak untuk disebut sebuah kemenangan.
###
"Kenapa tersenyum?" Alan bertanya kepada Selene yang ikut melihat pertandingan semifinal di ruang VIP.
"Bukankah dia seperti dirimu?" Jawab Selene sembari melirik ke arah Alan.
"Sepertiku?" Alan hanya mengangkat kedua alisnya. Tidak mengerti dengan apa yang Selene tanyakan.
"Lihatlah cara dia membunuh lawannya... Sama dengan dirimu yang suka mempermainkan lawan terlebih dahulu... Memberikan sebuah kematian yang begitu menyakitkan..." Selene mengingat bagaimana Alan membunuh para Demon yang tidak mengikuti rencananya dulu di Dunia Abyss.
"Itu berbeda... Aku melakukan itu untuk membujuk para Demon. Sedangkan dia melakukan itu untuk menunjukkan kekuatannya..." Gumam Alan yang merasa tidak terima dengan perkataan Selene. Meskipun cara membunuhnya sama sama terlihat kejam, namun maksud tujuannya berbeda.
"Kejam tetaplah kejam... Apapun tujuannya akan tetap terlihat kejam..." Balas Selene sembari meninggalkan ruang VIP. Tidak ada lagi pertarungan yang bisa dirinya saksikan dari sini.
Alan langsung mematung, mendengar satu kalimat dari Selene. Seakan akan perkataan tersebut menjadi sebuah tamparan keras bagi dirinya. Selama ini dirinya menunjukkan sebuah kekejaman untuk membuat Bangsa Demon tunduk kepada rencananya. Namun satu teguran dari Selene tadi benar benar menjadi sebuah teguran keras kepada dirinya. Bahwa mungkin akan ada satu dua pihak yang tidak akan setuju dengan cara yang dirinya lakukan.
'Joker... Apa yang harus aku lakukan?'
__ADS_1
Alan hanya bisa duduk dengan kepala terpangku satu tangan. Memikirkan cara terbaik untuk bisa membuat Kerajaan yang nyaman untuk ditinggali Bangsa Demon. Joker pun tidak bisa menjawab apa yang Alan tanyakan, karena apa yang Alan tanyakan tidak ada jawabannya di basis data New World.