
Kepulan asap bekas adanya ledakan ataupun benda yang terbakar dapat terlihat dari tempat Alan yang baru saja membunuh beberapa player yang menghadang jalannya. Para player tersebut bukanlah anak buah Deathmark, namun para player yang mengenali Alan dan mengetahui nilai buronan untuk kepala Alan. Mereka mencoba memanfaatkan situasi kericuhan ibukota untuk mencari keuntungan mereka sendiri.
Alan pun tidak segan segan kepada para player yang menghadangnya tadi. Naas bagi para player tersebut, bukannya bisa mendapatkan 1000 gold untuk kepala Alan, penurunan 3 level beserta kehilangan item malah mesti mereka derita. Belum lagi rasa sakit akibat racun dari Alan. Hem... benar benar menjadi bumbu pelengkap untuk penderitaan para player tersebut.
"Sepertinya pertempuran sudah sampai di bagian tengah ibukota. Aku harus cepat." Alan bergegas melompat ke atap bangunan. Melompati satu bangunan ke bangunan yang lain akan membuat jalan Alan lebih cepat. Walaupun kondisi badannya masih belum pulih sepenuhnya, Alan tidak bisa berdiam diri untuk mengistirahatkan badannya.
Waktu... Itulah yang sedang menjadi musuh utamanya kali ini. Jika dirinya terlambat memberikan bantuan, bisa jadi teman temannya akan mengalami hal yang tidak diinginkannya.
Ciu...
Ciu...
"Sial... Kenapa banyak sekali player yang mencoba membunuhku di saat seperti ini." Alan menghindari panah yang mencoba menyasar dirinya ketika melompat dari satu atap bangunan ke atap bangunan lainnya. Memang dengan melompati bangunan seperti ini akan membuat Alan menjadi objek yang bisa di serang dari segala arah. Namun inilah kiranya jalan tercepat yang bisa alan ambil.
Alan mengambil Wind Bownya dari tas sistemnya. "Sudah lama aku tidak memakaimu." Alan tersenyum melihat senjata pertama kali yang dirinya dapatkan di New World.
Sambil terus melompati bangunan, Alan membalas serangan para player yang mengincarnya dengan panah angin miliknya. Setiap panah Alan benar benar bisa akurat mengenai titik vital para player yang mengincarnya. Ditambah atributnya yang tinggi, membuat lesatan panah anginnya begitu cepat hingga para player yang menjadi targetnya terlambat untuk menghindari.
Setalah setengah jam sendiri Alan melompati bangunan satu ke bangunan lainnya, Alan mulai bisa melihat taman tengah ibukota. Total player yang dirinya bunuh di sepanjang perjalanan dengan busurnya pun lebih dari 30 player. Alan bisa melihat adanya seekor monster ular yang sepanjang 12 meter sedang bertarung dengan beberapa pasukan revolusi. Sedangkan tidak jauh dari taman tengah ibukota, Alan bisa melihat lima monster golem sedang berjibaku dengan lima monster ular juga.
"Kenapa ini menjadi pertarungan antara monster?" Alan memilih untuk mendekati ke arah pertarungan monster golem.
Apa yang Alan lakukan bukan tanpa alasan. Semua yang dilakukan Alan selalu terencana. Alan tahu jika monster golem tersebut adalah monster panggilan Clara. Alan memilih untuk membantu Clara dan yang lainnya terlebih dahulu sebelum membantu pasukan revolusi di taman tengah ibukota.
Karena akan berbahaya bagi Alan dan yang lainnya jika sampai Clara dan yang lainnya kalah. Posisi Alan akan terkepung dari depan dan belakang, yang pastinya akan sangat tidak menguntungkan.
"Jonta... Arahkan monster monstermu ke tengah tengah para player itu!" Alan menghubungi Jonta melalui panggilan sistem untuk memindahkan monsternya yang sedang membantu monster golem untuk menghadapi monster ular.
"Kakak AS... Kamu dimana?" Bukannya menurut Jonta malah berbalik bertanya kepada Alan.
"Lakukan cepat... Aku menunggu waktu yang tepat untuk menyerang mereka." Alan yang sedang berdiri di atap bangunan mengawasi pertempuran antara kelompok yang dipimpin Freya dengan para player anak buah Deathmark. Dirinya juga memastikan jarum beracun di gauntletnya siap untuk digunakan.
__ADS_1
Walaupun terlihat seimbang, sebenarnya kelompok Freya sedang terdesak, pasukan revolusi elit yang Alan latih nampak sudah mulai kelelahan dalam bertarung. Ditambah lagi jumlah mereka yang timpang sangat jauh. Kalau saja pasukan revolusi tersebut tidak dibantu dengan sihir akar Freya yang menghalau atau memperlambat pergerakan para player, pasti pasukan revolusi elit sudah dimusnahkan sedari tadi.
"Aku tidak boleh kehilangan kesadaran lagi..." Alan memantapkan hatinya untuk mulai bergerak setelah melihat monster serigala yang dikendalikan Jonta mulai menyerang para player.
Duar...
Duar...
Para player tentu tidak tinggal diam melihat monster serigala kini beralih mengincar mereka. Mereka pun melancarkan serangan ke arah kelima monster serigala tersebut. Namun sama seperti tadi, kelima monster serigala tersebut selalu saja beregenerasi dengan cepat.
Jleb...
Jleb...
Jleb...
Tiga orang player langsung tergeletak di atas tanah tanpa diketahui penyebabnya. Tubuh mereka mengembang secara perlahan lalu meledak menjadi kepingan daging kecil kecil ketika tubuh mereka tidak sanggup lagi mengembang. Potongan daging dan darah segar menjadi pandangan yang tidak mengenakkan untuk dilihat.
"Pasti ada Assassin! Cepat cari dia!"
Berkali kali teriakan dari para player terdengar, mereka tentu panik setelah melihat tiga orang temannya mati dengan cara yang sangat tragis.
Jleb...
Jleb...
Jleb...
Kali ini Lima orang player kembali tergeletak di tanah, tubuh mereka mengembang seperti temannya tadi dan meledak menjadi serpihan daging dan darah.
"Ada yang bersembunyi di balik monster itu! Cepat serang dia!" Salah satu player melihat bayangan Alan yang sedang berpindah dari satu monster ke monster yang lainnya. Namun yang dilakukan oleh para player tersebut sangat sia sia.
__ADS_1
Karena Alan bersembunyi bukan di balik tubuh monster serigala, namun di dalam bayangan monster serigala. Berapa kali pun para player tersebut menyerang ke arah monster serigala, hanya monster serigala tersebut yang akan merasakan serangan dari para player bukan Alan. Dan aliran mana dari Jonta sudah cukup untuk membuat monster serigala utuh kembali, siap menjadi pengantar dewa kematian para player.
"Bagus Jonta... Terus dekati para player itu..." Dari dalam bayangan Alan menghubungi Jonta agar menggerakkan monsternya lebih mendekat ke arah para player.
Jonta pun merasa sangat bangga dipuji oleh Alan. Seumur umur baru disinilah dirinya merasa mendapat perlakuan dimana dirinya sangat dibutuhkan. Perlakuan yang tidak pernah dirinya dapatkan dari dunia nyata. "Tenang kakak AS... Serahkan saja padaku! Gunakan monster monsterku sesuka hatimu!"
Alan kembali melancarkan serangan jarum beracunnya ke arah para player. Satu jarum satu nyawa, begitu mengerikannya racun epic class, Muscle Reek poiton. Pasukan revolusi yang tadinya bertarung dengan para player memilih untuk mundur setelah tahu akan kedatangan Alan. Mereka takut jika mereka menjadi sasaran salah tembak dari jarum beracun Alan. Kini mereka memilih untuk membantu kelima monster golem menghadapi kelima monster ular.
Sebenarnya Alan tidak ingin menggunakan racun ini, karena efek yang diberikan sangatlah mengerikan. Bayangkan saja... Tubuh mengembang sampai meledak? Player mana yang mau merasakan sensasi seperti itu. Racun ini sangat tidak manusiawi, termasuk bagi Alan sendiri yang menggunakannya sekalipun. Namun Alan tidak punya pilihan lain saat ini. Kondisi tubuhnya yang tidak fit, ditambah kondisi waktu yang sedang tidak mendukung, membuat dirinya terpaksa menggunakan poiton ini.
Jleb...
Jleb...
Berkali kali Alan keluar dari bayangan sambil menembakkan jarum beracun dari gauntletnya dan langsung bersembunyi di dalam bayangan lagi. Alan melakukan hal tersebut dalam hitungan detik, membuat para player tidak bisa memberikan serangan balasan yang tepat sasaran.
"Lari... Kita tidak bisa menghadapinya!" Teriak salah satu player yang sudah tidak tahan beberapa kali melihat tubuh teman temannya meledak menjadi serpihan daging. Rasa mual dan pusing mulai menghinggapi pikiran beberapa player. Walaupun hanya di dalam game, sensasi mual akibat melihat hal yang menjijikkan tetap ada di dalam New World.
Beberapa player mencoba melarikan diri untuk menyelamatkan diri mereka, namun ada juga yang bertahan. Alan juga tidak mempermasalahkan para player yang kabur, dirinya malah bersyukur karena kaburnya para player tersebut bisa membuat Alan menghemat jarum beracunnya.
Tidak perlu waktu 5 menit bagi Alan untuk menghabisi setengah dari jumlah para player anak buah Deathmark. Terlihat jelas seperti apa efektifnya cara bertarung Alan. Tumpahan darah dan daging menghiasi dinding dan jalanan yang menuju ke taman tengah kota tersebut. Membuat siapapun yang tidak siap mental pasti akan muntah jika melewati jalan tersebut.
Para player yang menghadang jalan ke taman tengah ibukota tersebut kini tinggal tersisa tidak lebih dari 70 player, sisanya melarikan diri dari tempat tersebut. Jarum beracun yang Alan miliki pun habis, dengan terpaksa Alan harus keluar dari dalam bayangan untuk menyerang para player dengan panah anginnya.
"Lihat.... Dia mengganti senjatanya! Racunnya pasti sudah habis. Ayo serang dia!" Teriak salah satu swordman untuk menyemangati teman temannya yang semuanya adalah melee class. Memang tanpa lawan Alan sadari, Alan sengaja mengincar para range class terlebih dahulu untuk dibunuh dengan racunnya. Akan sangat menyusahkan jika harus bertarung sambil menghindari serangan dari para range class. Apalagi saat ini tidak ada Shoote Sun yang biasanya menghalau setiap serangan dari range class yang datang.
Melihat para player tersebut menyerang dirinya secara bersamaan, nyatanya tidak membuat Alan gentar ataupun takut. Alan masih dengan tenang menarik Wind Bownya untuk melepaskan panah anginnya. Mencoba mengurangi musuh yang datang ke arahnya.
"Mati kau!"
Berbagai skill langsung dikeluarkan oleh para player tersebut untuk dapat membunuh Alan secara instant.
__ADS_1