
Alan dan pimpinan pasukan itu saling berpandangan muka. Keduanya saling memanggil nama yang sama.
"Hentikan... Kenapa kalian berdua bertarung?" Tanya Freya kepada Alan dan pimpinan pasukan tersebut.
"Kamu mengenal dia?" Alan dan pria tersebut serentak bersamaan saling tunjuk.
Mendengar keduanya bisa sangat kompak, Freya hanya tertawa geli. Keduanya pun saling pandang lagi karena bisa kompak bertanya pertanyaan yang sama kepada Freya.
"As... Perkenalkan... Ini Zane. Pemimpin dari pasukan revolusi. Zane perkenalkan... Ini AS, temanku yang berasal dari desa Middlemist." Freya saling memperkenalkan Alan dan Zane.
"Pasukan revolusi?" Alan memiringkan kepalanya tanda dirinya kebingungan.
"Benar... Kami adalah pasukan revolusi yang ingin mengambil alih pemerintahan dari Raja Robert." Jawab Zane.
"Lalu kenapa kamu menyerangku?"
"Kami mendapat informasi kalau tambang milik kerajaan telah direbut. Kami pun datang kemari untuk membantu mempertahankan tambang."
"Tapi tetap saja aku bingung. Kenapa aku yang jadi sasaran kalian?"
"Informasi yang kami terima adalah Kerajaan mengirimkan Guild petualang untuk merebut tambang kembali. Kami pun mengira kamu bagian dari Guild petualang tersebut. "
"Oh... Maksudmu Heart King Guild."
"Ya... Mungkin itu... Lalu dimana mereka? Apa mereka belum datang?"
"Aku sudah mengirim mereka kembali ke markas mereka." Jawab Alan santai sambil mengangkat tangannya.
"Kamu? Sendirian?"
"Yup..." alan hanya mengangguk.
Mulut Zane langsung terbuka lebar. Kalau dagunya bisa lepas pasti sudah lepas dari tadi. Dia terperangah Alan bisa menghadapi satu pasukan sendirian.
"Kamu mungkin tidak akan percaya Zane. Aku pun juga begitu tadinya. Tapi kedua mataku jadi saksinya, AS menghabisi pasukan itu sendirian." Freya menambahkan.
"Maaf atas kesalahpahaman ini?" Zane yang menyadari akan kemampuan Alan pun meminta maaf. Dirinya dan pasukannya beruntung hanya mendapatkan luka kecil dan tertidur pulas saat bertarung dengan Alan.
"Tidak masalah... Bagaimana kalau kita melanjutkan mengobrol di tempat lain. Aku yakin pasukan kerajaan tidak akan tinggal diam melihat tambangnya direbut."
Zane pun mengangguk dan mengikuti Alan. Dirinya berjalan bersama Freya di belakang Alan.
"Kenapa kamu tidak datang dari tadi. untung saja pasukanku tidak dihabisi dia." Bisik Zane pelan sambil menyikut tangan Freya.
"Aku juga baru tahu kalau pasukan yang datang itu kamu." Balas Freya dengan berbisik.
Alan hanya terkekeh mendengar bisikan kedua orang dibelakangnya.
Alan dan Zane duduk di kursi meja makan rumah Lily. Alan tidak tahu tempat lainnya di Desa South Hill yang bisa dipercaya. Alan takut jika ada mata mata dari kerajaan dan melapor kepada kerajaan. Jadi dengan terpaksa Alan mengajak Zane ke rumah Lily. Sementara pasukan revolusi yang lain Zane perintahkan untuk berjaga di area tambang.
Di perjalanan ke rumah Lily, Zane bercerita kalau dirinya adalah anak angkat dari Arwen, Ayahnya Freya. Zane ditemukan oleh Arwen sendirian di tengah hutan ketika Zane masih kecil. Arwen membawa pulang Zane dan merawatnya sampai besar. Zane dan Freya pun tumbuh bersama layaknya saudara.
Walupun zane seorang manusia, bukan Wood Elf. Arwen dan Freya menganggap Zane sebagai saudara sendiri. Saat para Wood Elf diburu. Zane pun memutuskan untuk bergabung dengan pasukan revolusi. Dirinya berjanji kepada Arwen dan Freya akan mencarikan jalan keluar atas masalah perburuan Wood Elf.
__ADS_1
Sesampainya di rumah Lily, Alan sempat terkejut. Karena Ole dan Zane saling mengenal. Ternyata yang memberikan informasi tentang tambang telah direbut kepada Zane adalah Ole.
"Anak anak memang tidak akan pernah dicurigai sebagai mata mata." Batin Alan. dirinya memuji atas keberanian Ole.
Berdasarkan informasi Zane, pasukan revolusi berjumlah sekitar 2000 an orang dan tersebar di seluruh kerajaan. Zane adalah pemimpin pasukan revolusi bagian selatan. Untuk pemimpin utamanya berada di Ibukota.
Zane juga belum pernah bertemu dengan pemimpin utama. Tapi pemimpin utama selalu memberikan bantuan dana untuk pasukan revolusi bertahan selama ini.
Dari dulu pasukan revolusi selalu berusaha mengurangi kekuatan kerajaan secara sembunyi sembunyi. Akan tetapi, karena kalah jumlah dan minimnya bantuan. Perkembangan pasukan revolusi pun statis. Itulah sebabnya Zane langsung mengerahkan pasukannya untuk melindungi tambang yang sudah direbut. Karena merasa ini merupakan kesempatan emas untuk mengurangi kekuatan kerajaan.
Kehilangan tambang biji besi tentunya akan sangat berdampak pada kerajaan. Kerajaan tidak akan bisa memproduksi senjata lagi tanpa bahan baku dari tambang.
Dengan menghentikan produksi senjata kerajaan. Kerajaan tentunya tidak akan bisa menambah jumlah pasukan secara signifikan apabila terjadi perang besar. Tentunya pasukan revolusi akan sangat terbantu dengan hal ini.
"Baiklah... Sekarang apa rencanamu untuk mempertahankan tambang? Aku yakin pasukan kerajaan akan tiba besok atau lusa." Tanya Alan pada Zane.
"Kita berjaga di tambang. Kita akan habisi pasukan kerajaan disana."
"Semudah itu?" Alan terheran dengan jalan pikir Zane.
"Iya... Aku yakin kita bisa menghabisi mereka."
Brak...
Alan langsung memukul ke meja yang ada di tengah tengah ruangan. Meja sampai bergetar dan semua orang langsung terkejut dan melihat ke arah Alan. Mata alan tajam menatap Zane. Seakan Alan sedang ingin memakan Zane.
"Dengar zane... Kamu pikir pasukan Kerajaan akan semudah itu kamu kalahkan?" Bentak Alan.
"Kamu pikir pasukan Kerajaan datang tanpa persiapan?"
"Kita bisa pakai caramu... Tapi berapa korban yang akan jatuh?"
"Kamu ingin melihat teman temanmu mati?"
Zane dan semua orang terdiam. Semua yang dikatakan Alan benar. Jikalau kini mereka tidak memikirkan rencana dengan matang. Yang ada hanyalah korban berjatuhan dari kedua belah pihak.
"Baiklah... Kamu benar... Lalu apa rencanamu?" Tanya Zane dengan muka yang sedikit pucat.
"Apakah ada yang memiliki peta?" Alan menanyakan pada semua orang.
Alan bisa saja meminta kepada joker untuk menampilkan peta South Hill dan sekitar areanya. Tapi yang bisa melihat peta itu hanya dirinya. Sedangkan Alan perlu menjelaskan kepada semua orang.
Semua orang menggeleng tanda mereka tidak memiliki peta. Alan menepuk jidatnya sendiri. "Pantas saja perkembangan pasukan revolusi statis." Batin Alan.
"Maaf bu lily? Boleh aku pakai meja ibu?" Tanya Alan pada Lily.
Lily hanya mengangguk. Dirinya masih bingung apa yang akan Alan lakukan dengan meja makan kayunya.
'Joker... Tampilkan peta daerah South Hill dan sekitarnya! Lengkap dengan penjelasan!'
[Scanning position. Mencari data di sistem. Klarifikasi data. Peta ditampilkan.]
Alan langsung menggunakan belatinya untuk menggambar peta South Hill dan sekitarnya di meja kayu Lily.
__ADS_1
Lily terperangah setelah melihat hasil gambaran Alan. Meja kayu yang tadinya polos, kini terukir desa South Hill dan sekitarnya. ukiran Alan di meja kayu benar benar halus dan rapi.
Clara, Freya, Zane dan oOe juga tidak kalah terkejut. Mereka tidak menduga Alan bisa hafal dengan daerah South Hill dan sekitarnya. Zane yang paling terkejut. Dirinya sudah berkeliling sekitar desa ini beberapa kali. Tapi tidak bisa sampai sehafal Alan. Mereka saja yang tidak tahu jika Alan hanya menyalin peta yang ditampilkan Joker.
selesai mengukir meja, Alan menjelaskan strategi perangnya kepada semua yang disana. Alan meminta data tentang pasukan revolusi yang Zane pimpin. Alan membagi tugas secara detail kepada setiap orang. Apa saja yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan. Tugas yang Alan berikan pun sesuai dengan data yang diberikan Zane. Setiap orang mendapat tugas sesuai kemampuan mereka.
Alan memberi pewarna pada ukiran untuk menjelaskan area yang seharusnya digunakan dalam rencananya. Alan memilih area pepohonan sebelum masuk ke desa sebagai tempatnya.
Menyergap lawan bisa membuat lawan kehilangan fokus pada rencana mereka.
Alan meminta kepada Zane untuk tetap bersembunyi sampai Alan panggil. Pasukan Kerajaan belum mengetahui kalau pasukan revolusi akan ikut andil dalam perang. Mereka hanya mengetahui Alan dan teman temannya.
Zane awalnya menolak, tapi setelah Alan jelaskan tentang keuntungan dari rencana ini, Zane pun setuju.
Penjelasan Alan benar benar mudah dipahami dan jelas. Zane pun mengakui, dirinya yang sebagai pemimpin pasukan revolusi bagian selatan tidak bisa sebaik Alan dalam membuat strategi perang.
Selesai membagi tugas saat perang, Alan membagi tugas untuk persiapan.
Clara, Freya, dan Zane mengerutkan dahi atas permintaan Alan yang begitu banyak. Bahkan penjelasan sewaktu perang tidak sepanjang penjelasan untuk persiapan.
"Untuk apa kita harus menggali lubang?" Tanya Zane.
"Lakukan saja semua yang aku pinta. Nanti kamu akan tahu sendiri." Jawab Alan dengan ketus.
"Ada yang ingin kalian tanyakan tentang semua ini?" Tanya Alan memastikan kepada semuanya mengerti akan strategi perang dan rencana persiapan.
Semua orang menggeleng.
"Bagus... Kita lakukan tugas masing masing." Komando dari Alan langsung membuat semua orang bergerak. Alan pun juga demikian, ada banyak hal yang mesti dia siapkan.
Sampai malam hari Alan menyiapkan keperluan untuk besok. Mulai dari membuat Red Iron Spark, memasang crystal link, membuat jebakan. Tidak lupa pula Alan mengecek hasil kerja teman temannya.
Alan pun berpamitan untuk kembali ke dunia nyata, dan berjanji akan kembali besok pagi. Alan yakin pasukan kerajaan masih dalam perjalanan, jadi tidak mungkin menyerang pada malam hari.
Alan melakukan aktifitas biasanya didunia nyata sampai malam hari. Dirinya pun kembali ke New World setelah makan malam.
"Kakak AS... Kamu kembali..." Alarm Alan berbunyi lagi, yaitu suara Clara.
"Ya... Bagaimana persiapannya?" Tanya Alan tanpa basa basi.
"Semua sudah siap di posisi Kak. Hanya tinggal Kakak AS."
"Bagus... Aku langsung kesana."
Alan langsung bergerak ke hutan tempat mereka akan menyergap pasukan kerajaan. Dengan bersembunyi di pohon, Alan mengamati jalan setapak yang biasanya digunakan untuk melewati hutan ini.
"Kakak AS... Mereka datang..."
"Bagus... Berapa banyak mereka?"
Clara sempat terdiam sebentar. Menandakan dirinya sedang menghitung.
"Lebih dari 1000 kak..."
__ADS_1
"1000?"