
"Kenapa? Kenapa harus kamu AS?" Toni tidak habis pikir dengan apa yang terjadi. Dirinya sama sekali tidak menyangka jika sosok yang akan menjadi lawannya adalah sahabatnya. Meskipun masih tertutup tudung hitam, dirinya tentu bisa mengenali suara dari Alan dengan sangat jelas.
Alan tidak langsung menjawab pertanyaan Toni, dirinya kini masih harus menghadapi Prioda. Meskipun serangan yang dilancarkan oleh Prioda tidak lah begitu mematikan, pikiran Alan mesti tetap fokus untuk mengontrol Shadow Zone.
"Kamu beruntung... Disini ada orang yang tidak ingin aku bunuh..." Senyum Alan kala menangkis tombak Prioda dengan salah satu belatinya.
"Apa maksudmu?" Prioda mengerutkan dahi, mendengar apa yang Alan katakan.
Alan tidak memperdulikan perkataan Prioda. Dengan tangan kirinya, Alan mengambil sebuah item berbentuk bola kecil dan melemparkannya ke udara yang kosong.
Boom...
Sebuah cahaya merah yang terang langsung bersinar di atas udara. Menjadi pertanda bagi Flyin, Rendemiz beserta Selene untuk menyudahi serangan mereka ke Kuil Cahaya.
###
"Apa maksudnya ini?" Selene yang tengah asyik membelai rambut Vizgraf mengerutkan dahi melihat pertanda mundur yang diberikan Alan. Padahal hasil dari pertarungan ini hampir sudah bisa dipastikan.
Para Angel yang berada di bawah kendali The Command dan enam duplikat tubuhnya hampir tidak menyisakan Angel satupun.
Di sisi lain, Rendemiz yang melihat cahaya merah bersinar di langit Kuil Cahaya.
"Hem.. Apa ada sesuatu?" Berbeda dengan Selene yang nampak begitu kesal dengan keputusan mundur dari Alan. Rendemiz berpikir ada sesuatu yang membuat Alan memilih untuk mundur dari pertarungan. Rendemiz tahu betul, jika Alan tidak akan mengeluarkan pertanda mundur tanpa adanya pertimbangan.
"Baiklah... Sepertinya kita cukup sampai disini..." Flyin membersihkan mulutnya dari darah para player yang dirinya hisap. Lebih dari 50 player anggota Light Guardian menjadi korban keserakahan Flyin akan darah merah. Membuat Flyin benar benar puas dengan darah merah yang dirinya minum.
"Sampai jumpa lagi..." Flyin meninggalkan para player Light Guardian yang mengepung dirinya.
Tidak ada satupun dari para player anggota Light Guardian yang mencoba mengejar Flyin meninggalkan tempat pertarungan. Mereka bersyukur tidak menjadi korban keganasan taring tajam Flyin seperti yang lainnya. Hanya belasan Angel saja yang mencoba mengejar Flyin, tidak membiarkan Demon penyerang Kuil Cahaya untuk kabur.
Namun pengejaran Angel nampak tidak berarti, kecepatan Flyin jauh berbeda dengan para Common Angel yang mengejarnya. Flyin tetap bisa kabur dari tempat pertarungan tanpa kendala yang berarti.
"Kenapa kita mundur?" Satu pertanyaan sewot langsung keluar dari mulut Selene setelah ketiga Demon tersebut berkumpul di lokasi yang telah ditentukan.
"Aku tidak tahu... Dia pasti punya suatu rencana..." Gumam Rendemiz sembari melihat sosok Alan yang masih menghadapi Prioda.
"Siapa Dia Nona?" Tanya Flyin keheranan melihat satu sosok wanita yang dibawa oleh Selene.
"Hem... Dia? Dia mainan baruku..." Gumam Selene perlahan...
"Hah..." Flyin yang bisa membaca isi pikiran Selene tidak ingin berdebat lebih panjang. Bagi dirinya Selene memang memiliki suatu kepribadian yang terbilang sedikit aneh.
###
"Apa yang kamu lakukan?" Prioda sudah berjaga jaga akan adanya serangan dari Alan setelah melihat Alan melempar sesuatu. Namun dirinya bingung sendiri, setelah melihat hanya sebuah sinar merah yang keluar.
"Aku ingin mengakhiri pertarungan ini dengan lebih cepat." Alan tersenyum di balik tudung hitamnya.
__ADS_1
"Tak akan aku biarkan!" Prioda kembali menyerang Alan dengan tombaknya, mencoba menahan Alan untuk tidak melakukan apa yang sedang Alan rencanakan.
"Hem... Sepertinya ada tamu yang tidak diundang..." Gumam Alan setelah mengetahui ada serangan dari luar yang mencoba menghancurkan Prison Dimension. Sebagai player yang mengaktifkan Prison Dimension, Alan tentu bisa mengetahui jika ada yang sedang mencoba menghancurkannya dari luar.
"Kami pikir bisa mengalihkan perhatianmu di hadapanku?" Prioda merasa begitu kesal, melihat lawannya terlihat tidak berniat bertarung dengan dirinya.
Prioda langsung mengeluarkan berkah cahayanya lebih banyak, membuat cahaya putih yang menyelimuti tubuhnya bersinar lebih terang. Begitu berkah cahayanya keluar seutuhnya, Prioda langsung meluncur cepat ke arah Alan.
"Prioda... Hati hati!" Teriak Toni yang melihat Prioda begitu gegabah menyerang Alan. Dirinya ingin membantu Prioda, namun dirinya juga tidak ingin menjadikan Alan sebagai musuhnya. Persahabatan dengan Alan jauh lebih berharga daripada hanya sebuah permainan.
Thang...
Thang...
Berkah cahaya yang menyelimuti seluruh tubuhnya melindungi dirinya dari efek Shadow Zone. Membuat gerakan Prioda menjadi lebih cepat dan kuat.
"Kamu pikir bisa menang melawanku hanya dengan meningkatkan kecepatan dan kekuatanmu?" Alan tetap tenang menangkis serangan tombak Prioda. Serangan Prioda masih bisa dirinya tangkap dengan kasat mata, tidak seperti serangan Rendemiz teman berlatih tanding dirinya yang begitu cepat dengan Timeless Bladenya.
"Jangan besar mulut!" Prioda menggigit giginya sendiri. Tidak percaya jika sosok Alan masih bisa menangkis semua serangannya dengan mudah.
"Light Destruction!" Prioda menembakkan sebuah serangan cahaya ke arah Alan.
Boom...
Tanpa mencoba menghindari serangan Prioda, Alan menerima semua serangan Prioda yang mengarah kepadanya. Asap hitam pun tercipta ketika serangan Prioda mengenai Alan.
"Hahaha... Mati sudah..." Teriak Prioda yang begitu senang melihat serangannya mengenai Alan dengan telak. Light Destruction mengorbankan setengah berkah cahaya yang dimilikinya. Dirinya yakin tidak akan ada yang selamat dari serangan Light Destruction miliknya.
"Lumayan..."
Suara dari dalam kepulan asap hitam membuat Prioda kehilangan akal sehatnya. Dirinya tidak percaya akan ada satu Demon yang bisa menangkal Light Destruction miliknya.
"Kini giliranku!"
Alan sudah muncul di dekat Prioda, The Forgotten Dagger tersemat di tangan kanannya.
"The Forgotten World, Gate In!" Alan menebaskan The Forgotten Dagger di sisi tubuh Prioda.
Slash!
Prioda terlalu terfokus pada lubang hitam yang tiba tiba muncul di tempat Alan menebaskan The Forgotten Dagger, hingga Prioda lupa akan keberadaan Alan yang sudah menghilang dari tempatnya berdiri. Lubang hitam tersebut terus menarik tubuhnya untuk menjadi satu dengan dirinya.
"Itu... Toni bergumam sendiri melihat Prioda sedang berusaha terbang menjauh dari sebuah lubang hitam yang terus menarik paksa dirinya. Terlihat jelas jika Prioda begitu kesulitan untuk bisa lolos dari hisapan lubang hitam tersebut.
"Ikuti aku!" Alan sudah kembali muncul di dekat Toni. Tanpa pikir panjang dan persetujuan Toni, Alan langsung menarik paksa tangan Toni agar mengikuti dirinya.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Aahh..." Toni tidak bisa lagi melawan setelah sebuah jarum menancap di tubuhnya. Tubuhnya kini terasa lemas seutuhnya.
"Diam dan ikuti aku!" Alan tahu Toni akan menolak permintaannya, melumpuhkan Toni adalah satu satunya cara terbaik bagi dirinya untuk membawa Toni lepas dari hisapan The Forgotten World.
Alan langsung membawa tubuh Toni ke tempat Flyin dan yang lainnya menunggu.
"Siapa dia?" Pertanyaan Selene langsung menjadi penyambut kedatangan Alan yang membawa seorang pria.
"Nanti aku jelaskan... Berlindung di dekatku!" Perintah Alan sebelum lubang hitam yang dirinya ciptakan membesar dan menghisap semuanya.
Mata semua Angel tertuju pada sebuah lubang hitam yang tiba tiba muncul di atas langit. Mereka menyipitkan mata agar bisa melihat lubang hitam di kejauhan tersebut lebih jelas.
"Apa itu?" Tidak terkecuali Tara, Tara tahu jika tempat lubang hitam itu muncul menjadi tempat bertarung Prioda. Dirinya hanya tidak bisa melihat dengan jelas karena jauhnya jarak antara dirinya dan lubang hitam.
"Lari!"
"Selamatkan diri kalian!" Suara Angel tiba tiba tergema dari arah munculnya lubang hitam tersebut. Mereka semua nampak sedang terbang secepat mungkin untuk menghindari tempat munculnya lubang hitam.
Namun Tara terlambat menyadari jika lubang hitam di atas mereka semakin besar. Lantai tempatnya berpijak kini mulai bergetar dengan hebat.
"Apa yang terjadi?" Tara merasa panik seketika. Tanah di bawah Kuil Cahaya telah dirinya lindungi dengan sihir cahaya. Mustahil bagi siapapun untuk bisa menggetarkan tanah di bawah kuil cahaya.
Pertanyaan Tara pun terjawab dengan sendirinya. dinding dan lantai bangunan Kuil Cahaya mulai retak, dan setiap retakannya langsung terbang melayang ke atas, menuju ke dalam lubang hitam di atas yang semakin besar.
"Tidak..." Teriak Tara yang merasakan tubuhnya ikut melayang di atas udara. Tangannya mencoba meraih apapun untuk menjadi tempat berpegangan, namun apa daya? Semua bangunan dan benda di sekitarnya juga ikut terhisap ke dalam lubang hitam. Tara dan para Angel hanya bisa pasrah kemana tubuh mereka akan dibawa lubang hitam tersebut.
"Kau memang licik..." Selene kembali mengumpat pada Alan, melihat lubang hitam di atas langit menghisap semua yang ada di sekitarnya.
"Aku hanya mencoba mengurangi tidak mau melukai seseorang..." Balas Alan tanpa mengalihkan pandangan pada bangunan Kuil Cahaya dan tanah di sekitarnya yang sedikit demi sedikit mulai terhisap ke dalam The Forgotten World. Hanya tanah tempat Alan dan yang lainnya berdiri saja yang tidak ikut terhisap ke dalam The Forgotten World. Semua karena Shadow Zone Alan bekerja dengan begitu maksimal untuk membuat tanah tempat mereka berpijak tidak ikut terangkat.
Meskipun nantinya para Angel itu masih hidup setelah terhisap di dalam The Forgotten World, Alan sangat yakin jika para Demon yang ada di The Forgotten World akan merasa sangat bahagia bisa membunuh ratusan Angel yang terhisap.
"Baiklah... Saatnya kembali..." Selene mulai melangkahkan kaki untuk meninggalkan tempat mereka berada. Bangunan Kuil Cahaya telah menghilang seutuhnya, bahkan tanah di sekitar mereka sudah tidak datar lagi. Begitu banyak lubang lubang besar yang tercipta akibat hisapan dari lubang hitam yang Alan ciptakan.
"Jangan terburu buru, kita masih ada satu urusan lagi..." Alan mencegah Selene untuk pergi begitu saja.
Perkataan Alan langsung membuat Selene melirik tajam. Dirinya sudah ingin sekali bermain main dengan boneka baru bermata biru miliknya.
"Maksudmu?"
"Lihat saja... Kalian pasti akan menikmatinya..." Kata Alan sembari membuka Prison Dimension.
Bayangan ribuan player pun mulai bisa terlihat sedikit demi sedikit dengan menghilangnya Prison Dimension. Bayangan ribuan player yang tidak memberikan celah sedikitpun bagi Alan dan yang lainnya untuk bisa kabur.
"Hem... Menarik... Mari kita berpesta..." Gumam Selene sembari menjilat bibirnya. Sudah terbayang bagaimana lezatnya rasa darah merah yang bisa dirinya dapatkan.
"Hem... Kamu memang selalu bisa memberikan jamuan yang layak..." Rendemiz menepuk pundak Alan. Seakan akan Rendemiz sedang berterima kasih kepada Alan karena telah memberikan suatu jamuan untuk dirinya dan kedua Demon lainnya.
__ADS_1