New World

New World
Pertarungan Kuil Cahaya 3


__ADS_3

Jika ada pihak yang patut disalahkan akan kegagalan yang kita alami, maka pihak itu adalah dirimu sendiri. Ketidakmampuan diri dalam mencapai target yang telah ditetapkan, adalah satu bentuk kurangnya usaha yang kita berikan. Kita mungkin bisa beranggapan telah memberikan segenap kekuatan dan kemampuan yang kita berikan. Tapi kita juga tidak tahu, seberapa besar usaha, kekuatan serta kerja keras yang telah dilalui oleh para pesaing kita.


Seperti itulah yang dipikirkan Angel yang menjadi lawan Rendemiz. Dirinya merasa telah mendapatkan kekuatan yang berlimpah dengan mengorbankan teman teman Angelnya. Namun dirinya tidak paham dan tidak pernah bisa paham, apa yang telah dilalui oleh Rendemiz selama setahun belakangan. Mungkin dulu Rendemiz dicap sebagai Demon pecundang, namun hal itu hanya menjadi satu kata bernama dulu.


Kini Rendemiz telah menjelma menjadi sosok High Demon yang sesungguhnya. Terus menerus menempa tubuh dan mentalnya bersama Alan membuat dirinya kini berada di posisi yang seharusnya dirinya berada. Kini dirinya benar benar telah layak untuk menjadi penerus pengguna Timeless Blade yang merupakan senjata turun temurun keluarganya.


"Kau... Bagaimana bi...sa..." Itu bukan pertanyaan, melainkan hanya sebuah pernyataan yang tidak berakhir seperti seharusnya. Sang Angel sudah terlanjur menghembuskan nafas terakhirnya setelah Timeless Blade menembus dada kirinya.


"Kau tidak layak untuk mendapatkan penjelasan." Rendemiz mencabut Timeless Blade dari dada Angel. Membersihkan darah yang menempel pada Timeless Blade dan membuat dirinya tidak terlihat lagi.


"Ayo kita akhiri ini..." Rendemiz kembali mengarah para Angel yang tersisa. Mencoba mengakhiri pertarungan yang berat sebelah ini lebih cepat.


Namun di tengah Rendemiz menghabisi para Angel satu persatu. Sebuah panah biru menyasar tubuhnya.


Thang...


Rendemiz langsung bereaksi dengan menangkis panah biru tersebut dengan Timeless Bladenya. Menjadikan panah biru yang tadi menyasar dirinya hanya menancap di atas tanah.


"Dia bisa menangkisnya?"


"Player?" Sebuah suara seorang pria mengalihkan pandangan Rendemiz. Rendemiz pun langsung terheran, dirinya masih berada di dalam mode tidak terlihatnya. Namun pria berbaju zirah serba silver tersebut bisa mendeteksi keberadaan dirinya, bahkan mengarahkan panah biru tersebut tepat ke arah kepalanya. Jika saja bukan karena Rendemiz yang sudah terbiasa menghindari ratusan panah angin Alan selama berlatih, mungkin kepalanya sudah tertancap oleh serangan panah biru tadi.


"Ikuti aba abaku... Serang secara bersamaan!" Teriak pria yang menyerang Rendemis dengan panah biru tadi.


Dan dengan aba aba pria berzirah serba silver tersebut, semua orang yang muncul bersama pria berzirah silver tersebut langsung menyerang ke beberapa arah.


"Ahh... Apa tadi cuma kebetulan?" Rendemiz memiringkan kepalanya, tidak ada satupun serangan yang dikeluarkan oleh semua player itu yang hampir mengenai dirinya. Mereka semua hanya menyerang tempat Rendemiz tadi menangkis anak panah biru.


Namun sebuah panah biru kembali melesat ke arah Rendemiz. Membuat Rendemiz harus sekali lagi menangkis anak panah biru yang mengincar kepalanya.


"Sepertinya hanya dia yang bisa mengetahui keberadaanku. Hem... Ini akan mudah..." Gumam Rendemiz setelah menganalisa player player di hadapannya tersebut. Meskipun kini dirinya sedang di kepung oleh ratusan Angel dan puluhan player, tidak akan menjadi masalah jika hanya ada satu orang yang bisa mengetahui keberadaan dirinya.


###


Selene semakin ingin mengumpat pada Alan. Dirinya benar benar telah dibuat bosan dengan apa yang harus dirinya lakukan. Tidak ada tantangan nyata sama sekali bagi dirinya di tempat tersebut. Terlebih lagi setelah dirinya menggunakan The Command pada beberapa Angel. Membuat para Angel saling bunuh membunuh antar sesama Angel.


"Aku pikir para Angel itu kuat. Ternyata sama saja..." Gumam Selene sembari meludahkan air liurnya. Anggapan dirinya tentang bangsa yang telah membuat Bangsa Demon terkurung di Dunia Abyss selama seribu tahun ternyata terlalu berlebihan.


Namun di tengah kebosanan Selene, Selene merasakan ada seseorang yang tengah mengincar dirinya.


Slash...


Sebuah tebasan langsung mendarat di bahu kanan Selene. jika saja Selene tidak menghindari serangan tersebut tepat waktu, mungkin lehernya sudah tertebas. Dan kepala pasti akan sudah terlepas dari badannya.

__ADS_1


"Sudah kuduga... Tidak akan semudah itu membunuh Bangsa Demon..." Suara seorang wanita terdengar beberapa meter di sekitar Selene.


Selene pun segera menelisik ke sekitar, dan mendapati adanya satu orang wanita yang bukan Angel. Sorot mata yang begitu indah terpancar dari irish mata biru yang dimiliki wanita berzirah ramping berwarna ungu gelap di hadapannya. Selene langsung terpesona akan tatapan wanita itu, dirinya merasa begitu terhanyut akan keindahan yang terpancar dari sepasang irish mata biru tersebut.


"Kamu ingin diam saja? Baiklah... Aku yang akan menyerang..." Sosok Assassins yang merupakan Vizgraf tersebut langsung menyerang Selene. Dengan lihainya dirinya memainkan kedua pedang pendek yang menjadi senjatanya.


Selene sama sekali tidak berniat untuk bertarung, dirinya begitu menikmati keindahan sepasang bola mata yang dimiliki oleh wanita di hadapannya. Dirinya hanya menghindari setiap tebasan pedang yang dilancarkan oleh Assassin wanita tersebut, tanpa sekali pun memberikan serangan balasan.


Meskipun Selene memiliki begitu banyak peluang untuk mendaratkan serangan balasan, namun Selene tetap tidak melakukannya. Akan sangat disayangkan jika dirinya sampai merusak keindahan dari sepasang mata biru yang dimiliki oleh wanita berambut pirang di hadapannya.


"Baiklah... Kamu akan jadi milikku..." Gumam Selene setelah dirinya semakin terpikat dengan sepasang mata biru tersebut. Dirinya begitu terhanyut akan pesona tatapan wanita di hadapannya. Tidak ingin sekalipun dirinya melepaskan wanita yang akan menjadi salah satu bonekanya.


"Milikmu?" Gumam Vizgraf yang sedikit terheran dengan perkataan Selene, namun dirinya terlambat menyadari apa yang akan Selene lakukan. Tanpa sengaja dirinya memandang sepasang mata yang dimiliki Selene.


Wuing...


Bagaikan tersengat listrik di kepalanya. Vizgraf merasa ada yang aneh di dalam pikirannya.


[Player terkena efek The Command. Tubuh player akan berada di dalam kendali pemilik The Command.]


Dan dengan suara peringatan dari sistem, pandangan Vizgraf langsung berubah gelap. Dirinya bagaikan sedang terjun bebas dalam jurang kegelapan. Sampai akhirnya dirinya merasa telah berhenti, dan mendapati sebuah layar kecil yang menampakkan apa yang dilihat dari mata tubuhnya.


"Dimana ini?" Gumam Vizgraf... Tidak tahu menahu apa yang telah menimpa dirinya.


###


Setiap panah angin yang Alan lepaskan selalu bisa menembus bagian vital Angel. Membuat Angel yang berusaha mendekati Alan akan mati dalam satu atau dua lesatan panah anginnya.


"Jadi seperti ini para Angel?" Alan tidak terlalu berekspektasi mengenai kekuatan Angel yang akan dirinya hadapi. Semakin lemah musuh yang harus dirinya hadapi, semakin baik pula untuk dirinya menjalankan rencananya.


Sebuah tombak berwarna emas pun langsung meluncur dengan cepat ke arah Chiro dan Alan. Alan tahu jika tombak tersebut berbeda dengan tombak tombak yang dipegang oleh Angel lainnya. Dengan segera Alan langsung mengganti senjatanya dan menangkis tombak yang mengarah kepada dirinya dan Chiro.


Thang...


Tombak berwarna emas tersebut langsung terpental, namun bukannya jatuh. Tombak tersebut bagaikan sebuah bumerang yang kembali meluncur kepada pemiliknya.


"Hem... Lumayan..." Gumam Alan pelan sembari berdiri di udara. Alan menggunakan Shadow Zone untuk memadatkan udara di bawah kakinya. Membuat dirinya bisa berdiri dengan leluasa meskipun berada di tengah tengah ketinggiam.


Alan bisa merasakan kekuatan yang berbeda dari serangan tombak barusan. Dirinya tahu betul, jika sosok Angel pemilik tombak tersebut bukanlah seorang Angel biasa. Dari tiga pasang sayap yang dimilikinya saja Alan sudah bisa menebak jika Angel di hadapannya berbeda class dengan Angel yang sedari tadi dirinya bunuh.


"Apa kamu pimpinannya?" Tanya Alan pada sosok Angel tersebut. Jika memang benar, maka tentu pekerjaan dirinya akan menjadi lebih cepat di selesaikan.


"Demon terkutuk! Kembalilah ke dunia mu! Tempat ini tempat suci... Kaki kotormu tidak pantas untuk berdiri di sini." Teriak Prioda pada Alan secara lantang.

__ADS_1


"Tempat suci katamu? Apa yang membedakan tempat suci dengan tempat lainnya? Aku tidak melihat sesuatu yang special dengan tempat ini." Cibir Alan dari balik tudung hitamnya.


"Kurang ajar... Berani kamu menghina tempat suci Dewa Helios..." Prioda meluapkan emosinya. Dirinya segera melesat ke arah Alan yang berdiri di atas udara.


"Chiro... pergilah bantu Flyin... Biar aku atasi dia sendiri!" Kata Alan sembari ikut melesat ke arah Prioda. Shadow Zone dirinya sudah secara otomatis mengeraskan udara di bawah kakinya, membuat Alan bisa berlari dengan leluasa di atas udara.


Thang...


Thang...


Pertukaran serangan di udara pun tidak terelakkan. Di setiap pertukaran serangan antara belati Alan dan tombak Prioda selalu tercipta hempasan angin. Membuat tidak ada satupun Angel yang berani mendekati pertarungan kedua orang tersebut.


Chiro sudah cukup pintar untuk tahu jika dirinya hanya akan menjadi penghambat Alan. Lagipula Flyin lebih membutuhkan keberadaan dirinya daripada Alan. Chiro tahu betul, jika High Angel yang menjadi lawan Alan bisa Alan kalahkan nantinya. Dirinya begitu percaya pada player yang telah menetaskan dirinya tersebut.


Chiro langsung terbang menjauhi kedua orang tersebut, menuju ke sisi barat dimana Flyin sedang berjuang mati matian menghadapi ratusan Angel dan puluhan player sendirian.


"Light Burning!" Teriak Prioda.


Dan dengan satu teriakan Prioda, seluruh tubuh Prioda diselimuti oleh cahaya putih. Membuat setiap pergerakan Prioda langsung berubah menjadi lebih cepat dan kuat.


"Skill peningkatan kekuatan dan kecepatan? Cukup bagus... Tapi aku punya solusinya untuk itu..." Alan tersenyum tipis di balik tudung hitamnya.


"Shadow Zone!"


Wuing....


Aura gelap langsung menyebar sepuluh meter di sekitar Alan. Alan tidak membuat Shadow Zone terlalu besar, dirinya hanya cukup membuat laju Prioda melambat ketika akan menyerang tubuhnya. Sepuluh meter diameter Shadow Zone jauh lebih dari cukup bagi Alan untuk menghentikan laju Prioda yang menjadi lebih cepat.


###


Toni yang sedang menuju ke tempat pertarungan Alan dan Prioda pun terpana akan pertukaran serangan antara kedua orang tersebut. Hempasan angin yang menyebar ke segala penjuru menunjukkan jika kekuatan yang dimiliki oleh kedua orang yang sedang bertarung tersebut tidaklah lemah.


Toni bisa melihat Cahaya putih yang berkilau keluar dari tubuh Prioda. Toni tahu betul jika Prioda sedang menggunakan sebagian berkah cahayanya untuk meningkatkan kekuatan.


"Ini akan cepat selesai..." Gumam Toni setelah melihat keseriusan yang ditunjukkan oleh Prioda. Dirinya tahu sekuat apa High Angel ketika menggunakan berkah cahayanya.


Wuing...


Sebuah aura hitam tiba tiba muncul di udara. Di tengah aura tersebut berdiri sosok yang menjadi lawan Prioda.


"Itu?" Gumam Toni secara perlahan. Dirinya bisa merasakan jika aura hitam yang mengelilingi sosok yang menjadi lawan Prioda bukanlah berasal dari mana. Namun Toni juga tahu, aura hitam tersebut jauh lebih berbahaya daripada pancaran kekuatan ya g berasal dari mana.


[Shadow Zone. Sebuah kekuatan special yang bisa digunakan untuk memberikan efek Crowd Control bagi penggunanya.]

__ADS_1


Suara penjelasan Joker menjelaskan semua pertanyaan Toni akan seperti apa aura kegelapan tersebut.


"Ini gawat... Aku harus segera membantu Prioda!" Toni mempercepat laju papan terbangnya. Jika memang benar aura kegelapan itu memiliki fungsi Crowd Control, maka Prioda akan dalam bahaya.


__ADS_2