New World

New World
Istana Chigaza 4


__ADS_3

Alan mendapati dirinya kini berada di dalam sebuah lorong selebar 3 meter. Dimana dinding dan lantai lorong tersebut terbuat dari bebatuan andesit. Tidak ada lilin maupun obor yang menjadi sumber pencahayaan tertempel di dinding lorong tersebut. Sumber pencahayaan hanya berasal dari beberapa batu kecil yang berpijar di atas lantai. Membuat lorong tersebut terlihat remang remang dan sulit untuk dilihat dengan jelas.


[Player telah memilih Hard Mode. Kumpulkan 3 fragment The Forgotten Dagger dalam 3 jam untuk bisa menyelesaikan ujian. Kegagalan ujian akan memberikan penalti berupa penurunan atribut sebesar 50%.]


"Kejamnya..." Alan yang mendengar penjelasan penalti langsung terperangah. 50%? Bahkan penalti kematian dari Demon Necklet tidak sekejam penalti dari ujian ini.


"Sepertinya aku benar benar harus serius di ujian ini." Alan tentu tidak bisa bermain main dan membuang buang waktu. 3 jam untuk mencari fragment The Forgotten Dagger. Itu artinya setiap satu jam dirinya harus mendapatkan satu Fragment di dalam tempat antah berantah ini.


Terkesan mustahil untuk dilakukan bagi player manapun. Tempat tersebut begitu misterius dan remang remang. Tentu akan sangat sulit menelusuri tempat tersebut demi mencari Fragment The Forgotten Dagger. Tapi tentu tidak bagi Alan.


Alan memiliki specialis pencari item yang tersembunyi, Joker. Alan cukup meminta kepada Joker untuk mencari keberadaan Fragment tersebut, dan Joker tentu akan langsung menampilkannya.


'Joker... Bekerjalah...'


Satu kata dari Alan sudah cukup bagi Joker untuk paham dengan apa yang dimaksud oleh Alan.


Joker langsung menampilkan sebuah peta berbentuk labirin yang begitu rumit. Lika liku jalan, persimpangan, jalan buntu maupun penahan jalan menjadikan peta yang ditampilkan Joker begitu sulit untuk dibaca.


"Bahkan petanya saja sudah sulit dibaca." Alan tersenyum kecut membaca peta yang ditampilkan oleh Joker. Alan tidak bisa membayangkan jika dirinya tidak memiliki Joker. Pasti dirinya sudah dipastikan gagal untuk menyelesaikan tes ini.


Peta yang Joker tampilkan tidak hanya menampilkan struktur labirin dan posisi fragment yang Alan cari. Peta yang Joker tampilkan juga lengkap dengan jebakan jebakan maupun jumlah musuh yang harus Alan hadapi selama di labirin.


"Ini akan sedikit sulit..." Alan memberikan senyum khasnya di balik topeng berwajah senyumnya. Merasa tertantang dengan ujian yang harus dirinya hadapi.

__ADS_1


Baru tiga langkah Alan melangkahkan kaki, Alan harus menghindari sebuah jebakan. Kakinya menginjak sebuah batu pengaktif jebakan. Puluhan anak panah langsung muncul dari dalam bebatuan andesit dan mengincar tubuh Alan. Alan yang sudah mengetahui adanya jebakan tentu dengan mudahnya menghindari setiap anak panah yang menyasar dirinya.


"Sepertinya aku tetap memerlukan Shadow Zone." Walaupun Alan sudah mengetahui adanya jebakan di tempat tersebut. Tapi Alan masih belum mengetahui titik mana yang akan menjadi pemicu jebakan.


Dengan bantuan Shadow Zone tentu Alan akan lebih mudah untuk menghindarkan dirinya dari mengaktifkan jebakan yang ada. Memastikan dirinya bisa sampai di tempat Fragment tersimpan dengan lebih mudah.


[Common Demon.]


Alan berkali kali bertemu dengan Demon yang menjadi penunggu labirin tersebut. Walaupun hanya Common Demon, tentu Demon tersebut akan menyita waktu bagi penjelajah labirin. Tapi tentu tidak dengan Alan, dengan Shadow Zone dirinya bisa menebas Demon yang ada di dalam labirin tersebut menjadi dua dengan sekali tebasan. Menjadikan jiwa Demon tersebut sebagai santapan lezat bagi Shadow Zonenya.


"Jadi ini tujuannya." Alan yang berkali kali bertemu dengan sekumpulan Demon akhirnya paham dengan tujuan utama keberadaan Demon ini. Para Demon yang ada tidak bertujuan untuk membunuh penjelajah labirin. Mereka hanya digunakan untuk menyita waktu yang disediakan. Membuat penjelajah labirin kehabisan waktu dan gagal dalam ujian.


"Sayang sekali... Hal tersebut tidak akan berlaku untukku." Alan tahu tujuan utama dari tes ini adalah menilai layak tidaknya penjelajah labirin untuk menggunakan The Forgotten Dagger. Dan kali ini Alan sedang diuji dalam hal kecepatan dan ketepatan reaksi. Tentu tidak masalah bagi Alan, karena Alan memang memiliki atribut yang special dalam kedua hal tersebut.


Setelah berbelok ke kanan dan ke kiri lebih dari 30 kali. Akhirnya Alan sampai pada tempat tujuannya yang pertama.


Alan sampai pada sebuah lorong yang buntu. Di ujung lorong buntu tersebut terdapat sebuah meja yang terbuat dari batu andesit setinggi setengah meter. sebuah gagang belati tergelatak di atas meja batu kotak tersebut.


Alan melihat peta yang ditampilkan Joker sekali lagi. Memastikan apakah ada jebakan atau tidak di sekitar meja batu kotak yang ada di ujung lorong buntu tersebut.


"Semudah ini?" Alan berusaha mengambil gagang belati yang tergeletak tersebut. Tidak adanya jebakan di sekitar meja kotak batu tersebut tentu membuat Alan sedikit merasa heran.


Keheranan Alan pun terjawab sudah. Gagang belati yang tadinya tergeletak langsung terbang dengan sendirinya. Tepat sebelum Alan bisa meraihnya. Gagang belati tersebut langsung terbang keluar dari lorong buntu tempat Alan berdiri. Menghilang tertelan belokan belokan labirin.

__ADS_1


"Sudah kuduga ini tidak akan mudah..." Alan mengaktifkan Shadow Stepnya untuk meningkatkan agilitynya. Membuat kecepatannya naik dua kali lipat dari sebelumnya. Dirinya langsung mengejar gagang belati yang pergi meninggalkannya.


Walaupun kecepatan terbang gagang belati tersebut cukup cepat, tapi kecepatan Alan yang menggunakan Shadow Step sedikit lebih cepat. Tidak sampai 15 detik Alan mengejar, Alan sudah berhasil mendekati gagang belati yang sedang terbang. Tanpa buang waktu Alan langsung menggunakan Shadow Zone untuk memperlambat kecepatan terbang gagang belati. Membuat Gagang belati terbang bisa ditangkapnya dengan mudah.


"Yap... Dua lagi..." Alan tersenyum puas mendapati gagang belati di tangan kanannya. Sangat terasa jika gagang belati tersebut begitu nyaman di genggam. Alan sudah bisa membayangkan akan seperti apa rasanya dirinya menggunakan The Forgotten Dagger ketika menebas lawan lawannya nanti.


Alan tidak membuang buang waktu lagi. Dirinya segera menuju ke tempat Fragment yang kedua. Lika liku labirin menjadi halangan pertama yang harus Alan lalui. Meskipun tidak bisa disebut sebagai halangan juga, karena Alan sudah tahu jalan mana yang harus dirinya ambil di dalam labirin tersebut.


Puluhan Common Demon dan jebakan yang ada memaksa Alan untuk tetap mengaktifkan Shadow Zonenya. Meskipun sedikit terasa berat untuk tubuh Alan, namun Alan tidak memiliki pilihan lain saat ini. Kecuali dirinya mau waktunya terbuang banyak oleh jebakan maupun Common Demon yang ada.


Setelah setengah jam menelusuri koridor labirin, sampailah Alan pada sebuah tanah lapang yang cukup luas, kira kira seluas lapangan basket. Alan tentu sedikit merasa heran, kenapa ada tanah lapang di dalam labirin. Tapi setelah melihat adanya sebuah benda yang terbang tidak beraturan di tengah tanah lapang tersebut, Alan menghiraukan pertanyaan dalam pikirannya.


Alan mendekati benda terbang tersebut. Kini Alan bisa melihat sebuah besi hitam yang merupakan sebuah pangkal belati. Alan yakin jika dirinya harus menangkap pangkal belati tersebut, seperti dirinya menangkap gagang belati tadi.


Alan memperbesar Shadow Zone yang dirinya aktifkan. Membuat Shadow Zone menjangkau keseluruhan area lapang tempatnya berdiri. Alan tentu tidak ingin berspekulasi dengan hanya mengarahkan Shadow Zone kepada pangkal belati yang kini terbang di hadapannya. Mengingat cara terbang pangkal belati tersebut benar benar tidak beraturan, menutupi keseluruhan area lapang akan mempermudah dirinya untuk lebih cepat mendapatkan gagang belati tersebut.


Alan memperlambat kecepatan terbang gagang belati sampai ke titik terendah yang bisa dirinya lakukan. Membuat gagang belati tersebut kini seakan sedang terbang dengan gerak slow motion. Tanpa basa basi Alan memegang pangkal belati tersebut, mencoba menangkap dan mendapatkannya.


Wuing...


Bagaikan sebuah benda yang abstrak. Alan sama sekali tidak bisa memegang pangkal belati tersebut. Seakan akan pangkal belati tersebut hanya sebuah pantulan proyeksi yang dipancarkan dari sebuah proyektor.


"Kenapa tidak bisa dipegang?"

__ADS_1


__ADS_2