
Pertanyaan dari Alan benar benar mengejutkan Vincent. Dia tidak menduga Alan mengetahui rahasianya.
"Ahh.... asepertinya aku tidak bisa menyembunyikan ini lagi." Gumam Vincent.
"Master... Jika penyakit master ada hubungannya dengan kejadian semalam. Kita harus memperbaikinya sebelum terlambat."
"Kamu tidak mengerti AS... Semua ini sudah terlambat. Jadi aku hanya menikmati sisa hidupku ini saja."
Fenomena di atas bukit memang sudah menjadi rahasia umum warga desa Middlemist. Terutama bagi orang orang yang sudah renta. Tapi mereka tidak ada yang mengambil tindakan karena efek dari halusinasi itu memang sangat adiktif.
Bayangkan... Bisa bertemu dengan orang yang dicintai walaupun orangnya sudah meninggal. Bisa tertawa bahagia walaupun hati sedang gundah. Orang mana yang tidak ingin seperti itu?
"Tapi master... Pikirkanlah Clara... Dia masih kecil. Jika master seperti ini terus, Clara bisa hidup sendiri nantinya."
Vincent merenung setelah mendengar perkataan Alan. Perkataan Alan memang benar. Clara adalah satu satunya semangat hidupnya sekarang.
"Master... Saya tetap harus meminta ijin kepada master untuk menghilangkan fenomena itu. Karena ini juga berhubungan dengan master."
Vincent terdiam, pikirannya benar benar kalut. Dia diantara 2 pilihan. Egois untuk dirinya sendiri dengan terus membiarkan fenomena itu agar bisa bertemu dengan Natalia dalam halusinasinya, atau mengalah agar Clara tidak hidup sendiri.
"Master... Apakah ini yang Natalia inginkan? Master yang terus terusan hidup dalam kebohongan belaka?" Gertak Alan.
Vincent semakin terdiam. Tidak dia sangka dia akan dimarahi oleh muridnya. Kalau saja apa yang dikatakan Alan itu benar, pasti dirinya sudah balas memarahi Alan.
"Ahh... Baiklah.... Semua demi Clara... Lakukanlah yang ingin kamu lakukan."
"Terima kasih banyak Master. "
Clara pun datang membawa makanan. Masakan buatan Clara sangatlah enak. Walaupun ini cuma di dalam game, makanan yang dimakan tidak akan membuat kenyang. Tapi sensasi rasa tetap ada. Alan benar benar takjub dengan masakan Clara. Seakan makan masakan ibunya sendiri.
Selesai makan Alan bertanya kepada Vincent dimana dia bisa menjahitkan pakaian. Clara pun menawarkan diri untuk mengantar Alan.
Penjahit pakaian di desa Middlemist hanya ada satu. Itupun usianya sudah 50an tahun.
"Tuan Talented Alchemist, ada yang bisa saya bantu?" Kata penjahit itu.
aalan terkejut dengan sikap penjahit tersebut. Dia tidak menyangka tittlenya akan mempengaruhi sikap NPC kepadanya.
"Saya ingin menjahit pakaian dengan bahan ini. Apakah anda bersedia membantu? " Alan sambil menyerahkan kulit Black Venom.
Penjahit itu terkejut alan mengeluarkan kulit Black Venom. Monster Black Venom terkenal di desa karena sering memakan warga yang pergi ke hutan. Tidak dia sangka sekarang dia diminta menjahit pakaian dari kulitnya.
"Tentu... atapi biayanya tidak akan murah. Mengingat kualitas dari bahannya akan sangat susah membuat pakaian dari bahan ini." Kata penjahit itu.
"Berapa biayanya?"
"1 silver."
Alan melongo mendengar 1 silver untuk biaya menjahit. Alan hanya memiliki 27 chopper, masih perlu 63 chopper lagi untuk biaya menjahit.
"Hem... Aku tidak memiliki uang segitu banyak. Apakah aku bisa membayar dengan cara lain? "
"Tentu tuan Tallented Alchemist. Anda bisa membayar dengan daging hewan atau monster."
Alan pun mengeluarkan daging lizardman yang dia bawa. Keempat lizardman yang Alan bunuh tadi tidak menjatuhkan apa apa. sehingga Alan memotong motong dagingnya untuk Alan jual di desa.
__ADS_1
Melihat setumpuk daging yang dibawa alan, penjahit itu terkejut. Tidak dia sangka Alan sudah menyiapkan dagingnya.
"Apakah ini cukup?" Tanya Alan
"Cukup tuan." Silahkan kembali besok untuk mengambil baju anda.
Alan pun mengajak Clara untuk pulang ke rumah. Tapi Clara menyuruh Alan untuk pulang sendiri. Clara bilang ada urusan penting yang harus Clara lakukan.
Alan mengangguk tapi berpesan kepada Clara untuk tidak ke hutan sendirian. Clara pun berjanji tidak akan ke hutan sendirian lagi.
Alan kembali ke rumah Vincent untuk belajar membuat potion lagi. asekarang dia sudah menjadi Aperintize Alchemist. Perlu praktek yang cukup agar bisa naik ke Basic Alchemist.
Sampai malam hari Alan belajar membuat potion. Terutama potion untuk menambah Hp dan mana.
[Small heal potion
meregenerasi hp sebanyak 25% pengguna. ]
[Small mana regeneration potion
meregenerasi 25% mana pengguna. ]
Alan cukup puas dengan hasil latihannya hari ini. Dia berhasil membuat 50 small heal potion dan 40 small mana regeneration potion. Alan berhenti dari aktifitas membuat potion setelah mendengar Clara sudah pulang ke rumah.
"Clara... adarimana kamu? Kenapa pulang sampai malam begini? Kakek sungguh khawatir."
" Maaf kakek.... aclara kesayikan bermain. Jadi pulang sampai malam. " Kata Clara yang terlihat jelas jika dirinya berbohong.
Alan tahu kalau clara berbohong. Tapi tidak ingin mempermasalahkannya, yang penting Clara pulang dengan selamat.
####
Alan kembali ke asrama setelah kelas selesai. Dia berencana untuk kembali ke New World untuk menyelidiki fenomena di bukit belakang Middlemist.
Saat Alan akan menyambungkan helm VR nya. Handphone Alan berbunyi.
Terlihat nomer yang tidak Alan kenal memanggil di layar handphonenya.
Dengan enggan Alan mengangkat panggilan.
"Halo?"
"Halo... Apakah ini Alan?" Suara penelepon yang sepertinya tidak asing.
"Benar... Maaf dengan siapa saya bicara?"
"ini Ivan lan."
Alan yang mendengar nama Ivan langsung sumringah. Tidak dia sangka Ivan sekarang sudah memiliki handphone. Kini dia bisa bertukar kabar dengan sahabatnya satu ini.
"Ivan... Bagaimana kabarmu?"
"Baik Lan... Lan... Bisa kamu pulang sekarang?"
Alan langsung tersentak mendengar permintaan Ivan. Dia tidak menduga Ivan akan meneleponnya untuk menyuruhnya pulang.
__ADS_1
"Kenapa Van tiba tiba menyuruhku pulang? apakah ada masalah penting?" Tanya Alan yang mencoba untuk tenang, namun dalam hati dan pikirannya terasa gelisah.
"Nanti aku jelaskan Lan. kamu bisa pulang sekarang Lan? Berhati hatilah di jalan. Nanti aku jemput di stasiun."
"Tapi... Tapi kenapa van?"
"Aku tidak bisa memberitahumu lewat telepon Alan. Kamu pulanglah sekarang. Ingat berhati hatilah."
Hati Alan semakin gelisah, pikirannya langsung membayangkan hal yang tidak tidak. Alan pun langsung berkemas dan menuju stasiun untuk naik kereta tercepat ke middlemist Village.
Di dalam kereta Alan tidak bisa tenang. Berkali kali dia mencoba menghubungi Ivan, tapi tidak pernah mendapatkan respon.
Hal ini sangat mengganggu pikiran Alan. "Ada apa sebenarnya?"
Alan pun mengirimi pesan ke Toni.
"Ton... Aku balik ke Middlemist beberapa hari. ada urusan mendadak." Alan via pesan.
"Kenapa tiba tiba sekali? Apakah ada sesuatu yang terjadi?" Balas Toni.
"Aku juga belum tahu. Nanti aku kabari lagi."
Sesampainya di stasiun Ivan sudah menunggu Alan dengan mobil jemputan.
"Van... Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Alan sambil berjalan ke mobil.
"Masuklah ke mobil dulu Lan..." Jawab Ivan.
"Kamu jangan bikin aku berpikir yang tidak tidak Van."
Ivan hanya diam, sebenarnya Ivan ingin bercerita. Tapi Ivan takut Alan akan bereaksi berlebihan.
"Kita pulang ke rumahmu dulu saja." Kata Ivan mencoba menenangkan Alan.
Sesampainya di dekat rumah Alan. Alan melihat orang orang desa berkumpul di halaman rumahnya.
"Ada apa ini Van? Kenapa warga berkumpul di rumahku?" Tanya Alan panik.
"Lan... Ayahmu..." Ucapan Ivan terhenti.
Alan melihat ada karangan bunga di depan rumahnya.
"Tidak... Tdak mungkin. Ayah... Ayahku... " Alan langsung membuka pintu mobil tidak mempedulikan mobil belum berhenti.
Ivan seketika menghentikan mobilnya. Takut Alan terjatuh dari mobil. Alan langsung berlari ke dalam rumah. Menembus keramaian warga desa.
Di dalam rumah Alan melihat Liliyana sedang duduk di samping peti mati. Liliyana mencoba tersenyum saat melihat Alan. Tapi Alan tahu, senyum itu adalah senyum yang di paksakan.
Alan seketika lemas tak berdaya. Dia seakan mau pingsan, tapi dia mencoba untuk tetap kuat. Dengan perlahan Alan berjalan ke peti mati yang belum di tutup.
Julian sudah tertidur dengan tenang di dalam peti. Wajahnya memancarkan ketenangan.
"Ayah... ayah... ayah... " Alan memeluk peti mati tersebut. Air mata dan tangisnya sudah tidak bisa dia tahan lagi. Ayahnya yang dari dulu selalu membimbingnya kini telah meninggalkannya untuk selamanya.
Tidak akan Alan dengar lagi nasihat nasihat dari ayahnya. Tidak akan ada lagi senyum menenangkan dari ayahnya. Tidak akan ada lagi....
__ADS_1
"Ayah..."