New World

New World
High Demon


__ADS_3

Alan dan Flyin mulai menuruni bukit bebatuan dan akan segera memasuki Pripyat. Alan merasa kecewa setelah melihat Pripyat dari kejauhan. Dari atas bukit Pripyat bisa terlihat sangat jelas. Tidak seperti yang dirinya bayangkan, Pripyat hanyalah kawasan yang menjadi tempat tinggal para Demon secara berkelompok. Bangunan bangunan sederhana yang terbuat dari bebatuan coklat berjajar jajar di kawasan tersebut.


Alan berpendapat jika bangunan bangunan tersebut adalah rumah rumah para Demon. Terlihat jelas jika para Demon tidak terlalu memperdulikan tempat tinggal mereka, yang terpenting bagi mereka adalah mereka bisa hidup. Itu saja!


"Jangan berasumsi sendiri!" Flyin yang bisa membaca pemikiran Alan langsung menyanggah pemikiran Alan tentang kehidupan para Demon secara global.


"Maksudmu?" Alan menaikkan kedua alisnya, mencoba menelisik arti dari perkataan Flyin.


"Pripyat hanyalah daerah kecil di pinggiran dunia Abyss. Dunia Abyss ini luas, Anda perlu melihat sendiri sebelum menentukan pendapat Anda."


Alan hanya terdiam, lebih tepatnya malu. Dirinya malu kepada Flyin karena dirinya langsung berasumsi akan kehidupan para Demon secara global setelah melihat satu daerah di pinggiran dunia Abyss. Betapa dangkalnya pemikirannya setelah memutuskan satu hal dengan melihat satu keadaan. Semua yang dikatakan Flyin memang benar. Terkadang asumsi pikiran seseorang bisa menjerumuskan kepada hal yang tidak benar, semuanya butuh dipastikan sebelum mengeluarkan isi pikiran kita.


Beberapa pasang mata para Demon langsung tertuju kepada Alan dan Flyin yang baru saja memasuki Pripyat. Tatapan mereka begitu sinis, seakan akan mereka tidak suka akan kedatangan pendatang. Alan dan Flyin tentu menganggap tatapan para Demon sebagai angin lalu. Mereka memasuki Pripyat hanya untuk sekedar numpang lewat, bukan untuk beradu tatapan mata dengan para Demon penghuni Pripyat.


Alan melirik ke kanan dan ke kiri di sepanjang jalan, mencoba menghindari untuk menatap langsung para Demon yang hanya berdiri di pinggir jalan. Alan nampak bingung dengan kehidupan di Pripyat ini. Dirinya tidak melihat adanya daerah perdagangan atau pun ladang. Lalu bagaimana para Demon ini bertahan hidup? Apa benar mereka hanya mengandalkan berburu monster sebagai penyokong kehidupan mereka?


Jawaban untuk pertanyaan Alan langsung terjawab setelah dirinya merasakan adanya panas tubuh seseorang yang mendekatinya. Alan melirik ke arah sumber panas yang dirinya rasakan, tapi tidak menjumpai apa yang menjadi sumber panas tersebut.


Sumber panas tersebut terus mengikuti Alan dan Flyin, hingga ke sebuah jalan dimana banyak para Demon yang sedang berlalu lalang di tengah jalan. Alan tidak tahu apa yang dilakukan para Demon tersebut, karena sepenglihatan Alan, para Demon yang berlalu lalang itu hanya berjalan dari satu bangunan ke bangunan yang lainnya.


"Aneh?" Alan sudah merasakan ada hal yang tidak wajar.


Dan benar saja... Sumber panas yang Alan rasakan kini tengah berada persis di belakang tubuh Alan. Alan pun bisa merasakan jika ada angin kecil yang bergerak menerpa lehernya. Alan langsung bereaksi mengangkat tangan kanannya yang terlindungi gauntletnya.


Thang...


Sebuah pisau langsung terlempar setelah membentur gauntlet di tangan kanan Alan. Alan pun terkejut karena mendapati adanya pisau yang muncul tiba tiba. Sontak Alan bereaksi dengan mengarahkan pukulan ke arah sumber panas yang ada di belakang tubuhnya.


Bruk...


Gauntlet Alan nampak membentur sesuatu, namun Alan masih belum bisa melihat sosok apa yang mengenai gauntletnya. Alan baru sadar jika dirinya telah menyerang seorang Demon setelah seorang Demon muncul tiba tiba di dinding bangunan yang searah dengan arah pukulan Alan.


[High Demon.]


Sebuah peringatan dari sistem muncul di pandangan layar Alan setelah melihat sosok Demon yang baru saja dirinya pukul.


"Oh... Kita diserang kah?" Alan masih memasang wajah polosnya. Tidak menduga jika dirinya hampir saja menjadi korban pembunuhan secara diam diam.


"Hati hati Tuan... Sepertinya para Demon ini tidak berniat baik." Flyin memperingatkan.


Alan hanya terkekeh mendengar perkataan Flyin. Memangnya ada Demon yang baik? Bukannya Demon memang selalu digambarkan menjadi sosok jahat?

__ADS_1


"Jangan berasumsi Tuan!" Flyin sekali lagi mengingatkan Alan. Yang hanya dibalas dengan anggukan kepala dari Alan.


"Jangan diam saja! Cepat habisi mereka!" Teriak Demon yang masih memegangi perutnya tersebut dan bersandar di dinding bangunan tersebut. Nampak jelas jika dirinya masih merasakan sakit dari pukulan yang Alan berikan.


Para Demon yang ada di tempat tersebut langsung menarik senjata senjata mereka. Ada yang membawa pedang, tombak, morning star, dan yang lainnya. Namun satu yang bisa Alan pastikan, kualitas senjata mereka jauh dari kata bagus. Bisa dibilang buruk malahan.


"Flyin... Serahkan mereka kepadaku!" Alan tentu tidak ingin membuang kesempatan untuk bisa mengumpulkan jiwa para Demon. Dirinya baru saja mengetahui adanya cara lain untuk bisa mengaktifkan Shadow Blood yang ada di dalam tubuhnya. Dan kini muncul kesempatan untuk bisa melakukannya. Alan tentu menerima kesempatan ini dengan hati yang terbuka.


"Anda yakin Tuan?" Flyin memastikan.


Alan hanya menjawab dengan senyuman nakalnya. Seakan akan dirinya tidak mempermasalahkan pertanyaan Flyin. "Baiklah... Tapi tolong hati hati... Saya tidak siap untuk memberikan laporan tentang kematian Anda pada Tuan Azazel." Flyin pun melangkahkan kaki untuk menepi dari tengah jalan, menghiraukan tatapan para Demon yang menatapnya dengan tajam.


"Punya kacang?" Tanya Flyin pada salah satu Demon yang berdiri di sampingnya. Mencoba mendapatkan cemilan sebagai teman menonton pertarungan. Pertanyaan Flyin hanya di balas dengan melototnya mata merah Demon tersebut.


"Aku anggap itu tidak."


"Kalian... Majulah... Cukup aku sendiri yang menjadi lawan kalian... Mari bermain..." Alan mengambil pedang pendek dan belatinya. Bersiap untuk menghadapi para Demon yang ada di tempat tersebut.


Para Demon langsung marah seketika mendengar perkataan Alan yang sangat kontroversial. Mereka tentu ingin memberikan pelajaran kepada Alan bagaiman kerasnya kehidupan dunia Abyss.


[Common Demon.]


Lebih dari 30 Demon maju menyerang Alan dari beberapa sisi. Alan melihat data yang ditunjukkan oleh sistem, dan hanya menemukan jika para Demon yang maju menyerangnya hanyalah Common Demon.


Alan menghindari serangan demi serangan yang mengarah kepadanya. Demon demon yang mengepung Alan tidak lebih dari Common monster, bedanya mereka memiliki pemikiran. Alan tidak memiliki kendala berarti untuk menghindari setiap serangan sambil seaekali mendaratkan serangan balasan dengan kedua senjata yang dirinya genggam.


Harus Alan akui... Tubuh para Demon yang menyerangnya begitu kuat. Berkali kali Alan mendaratkan serangan ke arah titik vital mereka, namun tidak bisa langsung menembusnya. Alan harus mencicil luka demi luka sebelum melayangkan serangan penghabisan ke para Demon tersebut.


"Apa mereka hanya mengandalkan serangan fisik?" Alan sedikit merenung, karena dirinya tidak menjumpai adanya serangan sihir yang mengarah kepadanya. Semua serangan yang mengarah kepadanya murni adalah serangan fisik, tanpa adanya campur tangan sihir atau kekuatan lainnya.


"Black Breath!"


Alan melompat sambil menyemburkan gas beracun ke arah para Demon yang mengepungnya. Gas beracun langsung mengepul, menyelubungi para Demon yang mengepung Alan.


"Uargh..."


"Uargh..."


Suara rintihan para Demon yang merasakan sakit akibat terkena Black Breath Alan. Bukan hanya sakit di tenggorokan dan dada, mereka juga tidak bisa bergerak di dalam kepulan gas beracun tersebut. Alan pun dengan leluasanya menghabisi satu demi satu Demon yang mengepungnya. Alan tidak bisa menghabisi mereka secara langsung karena tubuh mereka yang kuat, Alan perlu paling tidak mendaratkan tiga serangan di daerah vital sebelum membuat satu Demon terbunuh.


Barulah setelah durasi Black Breath benar benar habis, Alan berhasil menyelesaikan pekerjaan pembantaian para Demon tersebut. Alan pun merasa tidak puas, mengingat biasanya dirinya hanya memerlukan paling lama 30 detik untuk melenyapkan musuh musuhnya yang ada di dalam Black Breath.

__ADS_1


Flyin yang melihat apa yang dilakukan Alan pun tersenyum kecil. Jujur dirinya sedikit terkejut dengan apa yang Alan lakukan barusan. "Mengeluarkan gas beracun? Hem... Sepertinya banyak hal yang masih belum aku ketahui tentang dia... Ini akan menarik."


"Sepertinya aku harus mulai memikirkan tentang STR ku juga..." Gumam Alan sambil membersihkan darah hijau yang mengotori kedua senjatanya. Alan mengibaskan kedua senjatanya agar bisa lekas bersih dari darah hijau yang mengotorinya.


Thang...


Sekali lagi Alan menangkis serangan yang tidak Alan ketahui asalnya. Alan hanya merasakan adanya panas tubuh yang berada di dekatnya. Alan mencoba membalas serangan dengan pedangnya, namun hanya udara yang dirinya tebas.


Thang...


Thang...


Berkali kali Alan harus menangkis serangan yang tidak dirinya ketahui asalanya, dan berkali kali pula dirinya membalas tapi tidak mengenai apapun.


Alan yang merasa jengkel pun akhirnya mengeluarkan skill crowd controlnya.


"Tornado Dance!"


Sebuah tornado langsung muncul di dekat Alan berdiri. Menarik paksa apapun yang ada di dekatnya, kecuali Alan tentunya. Bahkan Flyin yang berada di tepi jalan pun mesti menguatkan kakinya agar tidak ikut terhisap oleh tornado yang tiba tiba muncul.


"Aaaaa..." Sebuah teriakan langsung terdengar dari dalam tornado. Alan langsung mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara. High Demon yang tadi dirinya pukul sedang terbang terseret oleh tornado yang Alan keluarkan.


Alan langsung melompat ke dalam tornado, membuka sayap bajunya dan mengarahkan angin di sekitarnya. Membuat Alan bisa terbang mendekati High Demon tersebut.


"Canon Claw!"


Alan tidak ingin berspekulasi pada serangannya dengan hanya mendaratkan serangan yang biasa pada High Demon tersebut. Alan sudah melihat sendiri bagaimana kuatnya tubuh Common Demon, apalagi High Demon? Tentu saja tubuhnya pasti lebih kuat.


Tubuh High Demon tersebut langsung meluncur tajam ke atas tanah setelah mendapat pukulan keras dari cakar di gauntlet Alan.


Boom...


Alan langsung menghilangkan skill tornado dancenya, dan mendarat di samping tubuh High Demon tersebut. Alan bisa melihat jika perut daei High Demon tersebut sedikit berlubang karena pukulannya, namun High Demon tersebut masih belum mati juga.


"Kuat sekali tubuhnya..." Bahkan serangan terkuat Alan tidak bisa membunuh High Demon dengan satu serangan, menandakan betapa kuatnya tubuh High Demon tersebut.


Alan pun mengoleskan wolf fang poiton pada belatinya dan bersiap untuk mengakhiri nyawa Demon tersebut. Alan yakin jika dengan bantuan poitonnya, akan lebih mudah untuk membunuh High Demon tersebut.


Alan bersiap menancapkan pedangnya ke bekas luka yang dirinya buat.


Thang...

__ADS_1


Pedang Alan tidak pernah sampai pada sasarannya, ada sebuah tangan yang memegangi pedangnya. Menghentikan laju pergerakan dari pedangnya. Alan sempat terkejut melihat ada yang bisa menangkis pedangnya dengan tangan kosong, mengingat dirinya sudah mengoleskan wolf fang poiton pada pedangnya.


Namun Alan lebih terkejut lagi setelah melihat siapa yang telah menghentikan serangannya barusan.


__ADS_2