
[The Forgotten Dagger, legendary item.
Str +174
Agy +242
Int +103
Passive skill :
The Forgotten Dagger adalah senjata khusus yang bisa terbang dengan sendirinya. Pengguna dapat melemparkan The Forgotten Dagger untuk menyerang lawan di sekitar pengguna. The Forgotten Dagger akan bergerak sesuai kehendak pengguna.
Active skill :
Forgotten World.
Pengguna membuka dan menghisap lawan dalam radius 500 meter ke dalam sebuah pintu dimensi menuju ke dunia labirin. Dimana dunia labirin berada sepenuhnya dalam kehendak sang pengguna.
Cooldown 1 hari.
Thousand Stab.
Pengguna memberikan serangan cepat kepada beberapa target di hadapannya. Jumlah maksimal target dalam satu kali penggunaan skill adalah 10 target. Jarak maksimal dengan target 500 meter.
Cooldown 5 menit.
Demon mark.
Pengguna memberi tanda pada target, jumlah target yang bisa ditandai maksimal 5 target. Pengguna bisa memberikan serangan critical kepada target selama jarak maksimal dengan target 10 kilometer.
Cooldown 30 menit.
The Forgotten Dagger adalah salah satu senjata yang digunakan oleh Satan yang tewas dalam perang besar dengan para dewa seribu tahun yang lalu. Keberadaannya telah terlupakan karena Satan jarang menggunakan The Forgotten Dagger sebagai senjata utama.]
"Senjata milik Satan?" Alan teringat akan beberapa mitologi yang pernah dirinya dengar. Dan Satan adalah raja neraka dari mitologi yang dirinya dengar tersebut. Tidak dirinya sangka, Hiro Tamada juga akan memasukkan mitologi Satan sebagai Demon terkuat di dalam New World. Meskipun Satan telah mati seribu tahun yang lalu, paling tidak Satan meninggalkan beberapa senjata. Dan Alan mendapatkan salah satunya.
Satu kalimat dari Alan membuat Flyin harus menahan nafasnya selama beberapa detik. Dirinya tidak menduga sama sekali jika belati yang dipegang oleh Alan adalah salah satu senjata milik raja neraka terdahulu.
__ADS_1
"Tuan... Berhati hatilah... Keberadaan senjata itu bisa menimbulkan masalah besar bagi Anda." Flyin memperingatkan Alan akan bahaya yang mungkin bisa Alan dapatkan. Mengingat Alan memegang salah satu senjata milik raja neraka terdahulu.
"Tenang Flyin... Senjata ini tidak akan disebut sebagai The Forgotten Dagger tanpa suatu alasan." Alan menenangkan Flyin yang tampak gusar. Memang apa yang dikatakan oleh Alan ada benarnya. Pasalnya sangat sedikit lawan yang akan bisa selamat setelah berjumpa dengan pengguna The Forgotten Dagger. Apalagi keberadaan Forgotten World. Pengguna The Forgotten Dagger bisa langsung menghilangkan saksi mata akan keberadaan The Forgotten Dagger jika pengguna The Forgotten Dagger tidak mampu membunuh lawan yang dihadapinya.
Walaupun Alan sudah mencoba menenangkan Flyin. Flyin tetap saja merasakan sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya. Dirinya yakin suatu saat nanti akan ada masalah yang menimpa Alan karena keberadaan The Forgotten Dagger tersebut.
Alan tidak menghiraukan perkataan Flyin terlalu banyak, ada bermacam macam senjata di dalam kotak kaca yang lebih menarik perhatiannya daripada kekhawatiran Flyin yang terkesan berlebih.
Berkeliling ruangan yang dipenuhi kotak kotak kaca berisikan senjata berkualitas tinggi benar benar membuat Alan pusing. Dirinya berkali kali membaca atribut dari senjata senjata yang ada, namun tidak ada yang sekiranya bisa sangat berguna bagi Alan saat ini. Alan memang tipikal orang yang lebih mementingkan fungsi daripada lebel. Lebih baik senjata Gold class tapi bisa berguna, daripada senjata epic class tapi susah untuk digunakan. Itulah yang menjadi dasar Alan dalam memilih senjata.
[AS... Ada satu benda yang akan berguna untuk dirimu.]
Joker tiba tiba memberitahu Alan akan adanya satu benda yang sangat Alan butuhkan.
'Apa itu Joker?' Alan tidak bisa untuk tidak bertanya, sedari tadi dirinya berputar putar dan terus mengamati senjata senjata yang ada di dalam ruangan tersebut. Namun dirinya tidak mendapati suatu barang yang sangat berguna bagi dirinya.
[Sebuah Dimensional Ring terjatuh di belakang kotak kaca yang ada di ujung ruangan.]
'Dimensional Ring katamu?' Alan tentu langsung tersentak. Dimensional Ring atau alat sejenisnya memang adalah satu satunya item yang sangat dirinya butuhkan saat ini. Mengingat dirinya sangat perlu tambahan kapasitas untuk ruang penyimpanannya.
Alan mencoba memeriksa tempat yang ditunjukkan oleh Joker. Mencari tahu kebenaran akan adanya Dimensional Ring yang Joker katakan.
[Dimensional Ring. Gold Item.
Kapasitas ruangan 10 x 10 meter.]
"Dengan ini..." Alan tersenyum puas mendapati sebuah cincin berwarna keemasan yang kini ada di tangannya. Hiasan tiga buah batu rugbi merah tersemat di cincin tersebut. Walaupun hanya gold class, tapi paling tidak cincin tersebut akan sangat berguna bagi Alan. Mengingat dirinya memang sangat membutuhkan item tersebut.
Tidak ingin berlama lama menunggu, Alan mencoba memakai Dimensional Ring yang dirinya temukan.
[Pemakai baru telah teridentifikasi. Menghapus seluruh item yang ada di dalam Dimensional Ring sebelumnya.]
Alan tersentak mendengar suara sistem. Dihapus? Padahal Alan belum tahu apa saja yang berada di dalam Dimensional Ring tersebut. Tapi sistem langsung menghapusnya begitu saja.
"Sepertinya memang Dimensional Ring ini dikhususkan untuk satu pengguna saja." Alan tertawa sendiri mengingat sikapnya yang terkejut akan penghapusan item di dalam Dimensional Ring. Dirinya sempat dihinggapi rasa keserakahan untuk bisa mendapatkan semua yang ada di dalam Dimensional Ring.
"Kurasa semua ini sudah lebih dari cukup bagiku." Alan melihat seisi ruangan tempat dirinya berada. Ruang harta tempat Alan berdiri hanya berukuran 8x8 meter. Itu artinya... Jika Alan mengosongkan seluruh isi ruangan ini, Alan masih punya space yang tersisa untuk menyimpan barang barang yang Alan butuhkan nantinya.
__ADS_1
Satu sentuhan tangan kiri dari Alan, dan benda yang Alan sentuh akan langsung menghilang begitu saja. Seakan akan benda tersebut memang tidak pernah ada. Padahal benda tersebut hanya berpindah ke dalam Dimensional Ring yang Alan pakai.
Perlu setengah jam sendiri bagi Alan untuk bisa mengosongkan seluruh isi ruangan tersebut. Flyin yang melihat apa yang Alan lakukan pun sampai tidak bisa berkata apa apa. Bahkan Alan terlihat lebih serakah daripada seorang Demon sekalipun, ketika Alan mengosongkan ruangan harta Istana Chigaza.
"Jika Chigaza melihat ini, Matanya pasti akan langsung keluar dari kepalanya." Gumam Flyin yang melihat Alan tidak meninggalkan satu barang pun di dalam ruangan tersebut. Namun tentu saja itu hanya kata kiasan dari Flyin. Chigaza telah mati, lagipula kalau Chigaza masih hidup, Chigaza tidak memiliki bola mata untuk dikeluarkan dari kepalanya.
"Hem... Sepertinya aku harus langsung menghubungi Gold Backer setelah kembali ke Main World." Gumam Alan pelan.
[Lalu bagaimana dengan Shoote Sun AS? Apa kamu tidak akan menghubunginya terlebih dahulu?]
'Ah... Kamu benar Joker... Dia pasti sedang sangat marah sekarang setelah aku menghilang begitu lama. Lagipula terakhir aku bertemu dengannya aku membunuhnya.' Alan tertawa sendiri mendengar peringatan dari Joker. Tidak dirinya sangka Joker begitu hafal dengan sikap Shoote Sun.
'Apa kamu merindukannya Joker?'
[Tentu AS... Shoote Sun gadis yang baik...]
'Haha... Kamu benar Joker... Dia gadis yang baik... Begitu juga aku Joker, aku rindu...'
Alan menghela nafas panjang sesaat, sebelum akhirnya meninggalkan ruangan harta Istana Chigaza tersebut.
'Joker... Terima kasih...'
[Untuk apa AS?]
'Karena mengingatkanku akan dirinya... Terima kasih Joker...' Alan meninggalkan ruangan harta dengan senyum kecil di balik topeng berwajah smile. Gambaran wajah Shoote Sun terpampang di dalam benaknya.
Flyin yang bisa membaca isi pikiran Alan pun hanya bisa tersenyum sendiri sambil mengikuti langkah kaki Alan. Dirinya sudah beratus ratus tahun mengikuti Azazel yang bernasib hampir sama dengan Alan. Mereka sama sama tidak bisa bersama dengan wanita yang dicintainya. Hanya saja Alan masih memiliki peluang yang besar untuk bersama dengan wanita yang dicintainya, sedangkan Azazel... Hampir mustahil untuk bisa bersama dengan kekasih idamannya.
###
"Hachi..."
"Kamu flu Marcela?" Tanya seorang lelaki yang tengah duduk di seberang meja Marcela. Mereka berdua tengah duduk di salah satu restoran yang terkenal di kota Lisbon.
"Tidak... Hanya saja aku tiba tiba ingin bersin..." Sanggah Marcela yang langsung mengelap hidung dan mulutnya dengan lap yang ada di pangkuannya.
"Kamu terlalu memaksakan diri belakangan ini... Beristirahatlah sejenak dari New World. Aku tidak ingin sampai melihat kamu jatuh sakit karena terlalu berlebihan memainkan sebuah game itu." Ucap pria yang ada di seberang meja tersebut. Dari perawakannya terlihat jika pria tersebut tiga tahun lebih tua dari Marchela.
__ADS_1
"Aku tidak apa apa Antonio... Dan jangan membawa bawa New World dalam makan malam kita. Aku sudah cukup berbaik hati untuk mau makan malam dengan dirimu." Marchela langsung menaikkan nada suaranya. Menandakan dirinya tidak suka sama sekali dengan apa yang Antonio katakan barusan.
"Baiklah... Baiklah... Habiskan Steakmu... Nanti keburu dingin..." Antonio tentu tidak ingin memperpanjang masalah. Dirinya tidak ingin merusak momen indah bersama dengan Marchela hanya karena satu obrolan tentang dunia game. Lagipula dirinya harus bisa mendapatkan hati Marchela untuk bisa memuluskan segala rencana keluarganya.