
Atlantik tidak percaya dengan apa yang dirinya lihat. Meskipun semua Assassins yang ada di ruangan ini hanya anggota biasa Death Mask, namun tetap saja. Semua anggota Death Mask tetap berada di atas rata rata player biasa. Mustahil bagi seseorang untuk bisa membunuh 20 player anggota Death Mask dalam sekejap.
"Kamu... Siapa sebenarnya kamu?" Atlantik mencoba bertanya kepada pria berjubah hitam di hadapannya. Meskipun dirinya sudah tahu nama pria berjubah hitam tersebut. Tapi dirinya ingin tahu lebih banyak tentang pria berjubah hitam tersebut. Dengan memiliki kekuatan yang begitu hebat, pasti ada sebuah perusahaan besar yang menyokong pria berjubah hitam tersebut di balik layar.
"Namaku AS... Bukan kah tadi aku sudah mengatakannya?" Jawab Alan sembari kembali mendudukkan diri di sofa yang ada di ruangan tersebut.
"A... Apa maumu?" Atlantik mencoba untuk membuka suara, meskipun mulutnya begitu sulit untuk digerakkan. Tekanan Shadow Zone yang dirinya rasakan begitu kuat membuat seluruh tubuhnya terasa begitu kaku dan sulit untuk digerakkan. Tidak... Bahkan mustahil untuk digerakkan. Baru kali ini dirinya merasakan sebuah skill Crowd Control yang begitu hebat dan bisa bertahan dalam jangka waktu yang begitu lama.
"Ah.. Jika saja kamu bertanya seperti itu dari tadi. Tidak akan ada kekacauan seperti ini kan?" Alan menarik Shadow Zonenya kembali ke dalam tubuhnya. Membuat semua yang ada di ruangan tersebut bisa kembali bergerak dengan leluasa.
"Maaf atas kelancangan diriku? Kalau boleh saya tahu... Apa maksud Anda datang kesini?" Atlantik langsung merubah sikapnya, tidak ada lagi sikap arogan nan sombong yang dirinya perlihatkan sedari tadi. Dirinya benar benar tahu, sikap apa yang harus diambil di hadapan seseorang seperti Alan.
"Aku ingin tahu seperti apa organisasi yang kamu pimpin itu..." Jawab Alan dengan singkatnya.
"Itu..." Atlantik sedikit terkejut mendengar pertanyaan dari Alan. Tidak ada player di New World yang tidak tahu tentang Death Mask. Meskipun yang mereka ketahui hanyalah bagian luarnya saja, bukan seluk beluk organisasi bernama Death Mask yang sebenarnya.
Satu pertanyaan dari Alan tersebut, tentu membuat Atlantik menerka nerka darimana Alan berasal.
"Aku ingin tahu semuanya... Mulai dari jumlah anggota, cara kerja kalian, dan juga penyokong dana kalian untuk bisa beroperasi." Tambah Alan sembari menyandarkan punggungnya dan menyamankan posisi duduknya di sofa tersebut.
"Maaf Tuan... Tapi saya tidak bisa memberitahu kepada Anda mengenai hal tersebut. Itu adalah sebuah rahasia besar organisasi kami. Akan sangat berbahaya bagi kami jika sampai informasi seperti itu menyebar." Atlantik mencoba menolak permintaan Alan secara halus. Taku jika Alan tersinggung dengan penolakannya dan melakukan hal yang sama sekali lagi.
"Hem... Begitu ya..." Alan sudah menduga jawaban dari Atlantik. Sebagai organisasi yang bergerak di bidang jasa pembunuh bayaran, tentu informasi seperti itu sangat dijaga kerahasiaannya. Bahkan jika Alan berada di posisi Atlantik saat ini, dirinya juga tidak akan mau menjabarkan informasi tersebut.
"Baiklah kalau begitu... Bagaimana bila aku membeli informasi tersebut?" Alan mencoba memberikan suatu penawaran yang lebih masuk akal. Sebagai organisasi pembunuh bayaran, tentu tujuan utama mereka adalah untuk mencari uang.
__ADS_1
"Maaf Tuan... Tapi saya kira Anda tidak akan sanggup untuk membayarnya." Atlantik tidak percaya dengan apa yang dirinya dengar. Dirinya tidak habis pikir, Alan akan rela mengeluarkan uang hanya demi suatu informasi mengenai Death Mask. Dirinya pun sempat berpikir jika ada salah satu anggota Death Mask yang pernah memiliki urusan dengan Alan.
"Ah... Benar juga... Kalian pasti tidak kekurangan uang. Lalu bagaimana caranya agar aku bisa mendapatkan informasi tentang kalian?"
Alan tentu tidak mau mundur begitu saja. Dirinya benar benar memerlukan informasi tentang Death Mask. Terlebih lagi adalah cara organisasi Death Mask dalam mengumpulkan informasi. Suatu organisasi pembunuh bayaran seperti Death Mask, tentu memiliki suatu badan intelijen yang begitu hebat. Dan Alan memerlukan metode yang dipakai oleh Death Mask untuk dirinya terapkan pada rencana selanjutnya.
Meskipun dirinya memiliki Joker, yang saat ini sedang di pinjam oleh Toni. Namun tetap saja, akan ada informasi informasi yang tidak bisa dideteksi oleh Joker. Dan disitulah nanti kegunaan suatu badan intelijen yang akan Alan bentuk nantinya.
"Itu..." Atlantik terkejut, melihat Alan tetap bersikukuh. "Kalau boleh saya tahu... Apa tujuan Anda ingin mengetahui informasi tentang kami? Apakah ada salah satu anggota kami yang pernah menyinggung Anda? Kalau pun ada... Saya akan dengan senang hati menyerahkan anggota kami tersebut."
Cleo yang mendengar perkataan Atlantik langsung pucat pasi. Selama ini hanya dirinya seorang yang pernah bersinggungan dengan Alan. Jika Alan benar benar menaruh rasa tidak suka kepada dirinya, maka habislah sudah riwayatnya di organisasi Death Mask ini.
"Hah... Jika Anda benar benar bersikeras untuk mengetahui tentang kami, maka Anda harus bergabung dengan kami." Atlantik memberikan suatu penawaran yang pasti akan langsung ditolak oleh Alan. Dirinya paham, orang sekuat Alan tentu tidak akan mau terikat dengan suatu aturan aturan organisasi. Apalagi diperintah oleh orang lain.
"Hem... Kalau seperti itu... Kamu pasti sudah tahu kan jawabanku?" Alan tidak kehilangan ketenangannya. Dirinya tidak keberatan untuk bergabung dengan Death Mask, mengingat bergabung dengan Death Mask bisa menghasilkan uang juga. Namun dirinya kini sedang ada suatu tugas yang tidak bisa dirinya tinggalkan. Tugas dari janji yang lernah dirinya buat kepada seluruh bangsa Demon.
Level bisa dirinya naikkan lagi, tapi bagaimana jika Death Mask hancur karena bocornya informasi? Semua usaha dirinya dan teman temannya selama ini tentu akan sia sia belaka.
"Jangan terlalu cepat mengambil keputusan. Kamu belum tahu apa yang akan aku lakukan ke depannya. Jika kamu menolak, aku tidak bisa menjamin jika Death Mask akan tetap bisa berkembang di Kerajaan ini."
"Apa maksud Anda Tuan?" Atlantik gagal untuk memahami maksud dari perkataan Alan. Jika ada yang bisa membuat Death Mask tidak bisa berkembang lagi di Kerajaan Demon God, itu hanya ada dua pihak. Satu pihak Kerajaan Demon God sendiri, dan satu lagi adalah Kuil Cahaya. Atlantik pun berpikir jika Alan berasal dari salah satu dari kedua pihak tersebut.
"Flyin..." Alan tersenyum kecil di balik tudung kepalanya ketika melihat wajah kebingungan Atlantik. Dirinya pun memberi tanda kepada Flyin untuk menjalankan tugasnya.
"Baik Tuan..." Flyin yang bisa membaca isi pikiran Alan pun melakukan apa yang Alan pinta. Dirinya melepas tudung kepala yang menutupi kepala berhiaskan sepasang tanduk.
__ADS_1
"Itu..." Atlantik semakin terkejut, tidak menduga sama sekali jika pelayan dari Alan adalah seorang Demon. Sebuah Ras yang tidak bisa dipilih oleh para player.
"Terkejut? Ini hanya satu... Dan jika kamu ingin tahu... Aku masih memiliki lebih dari 5000 lagi yang sedang menunggu perintahku."
"Lima ribu?" Bukan hanya Atlantik, Cleo yang sedari tadi menguping pembicaraan dari sudut ruangan pun ikut bereaksi. Dengan 5000 pasukan Demon, Alan tentu bisa menaklukan sebuah kerajaan. Atlantik dan Cleo pun sangat yakin, jika Kerajaan Demon God adalah sasaran pertama mereka.
"Aku bisa mempertimbangkan organisasi yang kamu pimpin untuk ikut bekerja dengan kami nantinya. Tapi tentu kamu tahu syaratnya kan?" Alan sudah merasa menang dalam perundingan di malam hari ini. Sudah tidak ada jalan lagi bagi Atlantik untuk menolak apa yang Alan pinta, kecuali jika Atlantik ingin memindahkan markas Death Mask dari Kerajaan Demon God secara seutuhnya. Dan tentu memindahkan markas Demon God bukanlah suatu pilihan yang bijak, mengingat seberapa besar biaya yang harus dikeluarkan untuk membangun sebuah markas, belum lagi membangun market pasar baru di satu Kerajaan baru. Itu jauh lebih sulit daripada hanya membangun sebuah markas.
Atlantik benar benar terdiam, berpikir dengan begitu masak mengenai langkah yang harus dirinya ambil. Setiap keputusan yang dirinya buat malam ini akan mempengaruhi kelangsungan organisasi yang dirinya pimpin.
"Anda benar benar tidak memberikan saya pilihan lain Tuan..." Atlantik tertawa kecil, tertawa karena menertawakan dirinya sendiri yang kalah dalam satu permainan yang dirinya buat sendiri. Tadinya dirinya bermaksud mempermainkan Alan untuk mendapatkan item yang dimiliki oleh Alan. Namun tidak dirinya sangka, dirinya malah harus dipermainkan oleh Alan demi kelangsungan organisasi yang dirinya pimpin.
"Baguslah kalau kamu sadar..."
"Lalu apa yang harus kami lakukan untuk membantu Anda?" Atlantik tentu tidak ingin kehilangan kesempatan emas. Lima ribu pasukan NPC demon, siapa yang tidak gentar mendengar kata seperti itu? Dan dirinya kini mendapatk kesempatan untuk bisa menjadi partner dari penguasa pasukan demon tersebut. Tentu dirinya tidak akan membuang peluang emas yang tersaji di depan mata.
"Tidak banyak... Aku hanya perlu kalian mencarikan informasi informasi yang aku butuhkan."
"Tentu... Anda cukup memberi tahu saya tentang informasi yang Anda butuhkan. Dan kami tentu akan langsung mencarikannya untuk Anda."
"Bagus... Tapi sebelum itu.. Aku peringatkan satu hal kepadamu. Aku paling benci dengan yang namanya penghianatan." Alan menekankan perkataannya barusan, menandakan dirinya tidak akan segan segan menghancurkan Death Mask jika sampai Death Mask berkhianat darinya.
"Tentu Tuan..." Jawab Atlantik dengan sedikit gugup, meskipun dirinya tidak bisa melihat sorot mata Alan. Namun dari perkataannya saja Atlantik sudah bisa membayangkan konsekuensi apa yang akan dirinya terima jika sampai Alan kecewa kepada Death Mask.
"Kalau begitu.. Mari saya antar Anda berkeliling markas kami. Akan saya jelaskan mengenai organisasi kami sembari menunjukkan seperti apa markas kami." Atlantik bangun dari duduknya. Memberi tanda kepada Cleo untuk menyiapkan semua kebutuhan selama tour di dalam markas Death Mask.
__ADS_1
"Tentu..." Alan mengikuti Atlantik yang mulai menunjukkan jalan yang harus mereka lalui.