
Alan menunggu di luar desa sampai malam hari. Selama menunggu Alan membuat banyak Heal potion dan Mana Regeneration potion. Tidak lupa pula, Alan juga membuat Red Iron Spark potion untuk berjaga jaga jika harus menghadapi pertarungan besar dengan Wood Elf.
Alan bisa melihat adanya api unggun raksasa di tengah tengah desa. Alan pun mengaktifkan zoomnya agar bisa melihat ke area api unggun.
Terlihat para Wood Elf berkumpul di sekitar api unggun. Di depan api unggun terdapat 2 panggung dari batu. Satu panggung berisikan 2 kursi yang terlihat seperti singgasana. Dan satu panggung lagi terdapat 2 tiang. Terlihat seperti panggung untuk eksekusi.
Dua orang Wood Elf naik ke atas panggung dan duduk di kursi singgasana. Salah saty Wood Elf tampak sedikit tua dan berjenis kelamin laki laki. Sedangkan yang satu lagi Wood Elf masih muda dan berjenis kelamin perempuan. Bisa terlihat dengan sekali lihat jika dua orang Wood Elf yang baru saja naik itu adalah bapak dan anak. Pengawal pun tidak luput berjaga di sekitarnya.
Wood Elf laki laki yang diatas panggung berdiri dan mengacungkan tongkat kayunya. Para Wood Elf yang berada di sekitar api unggun pun bersorak.
Clara yang terikat kedua tangannya dibawa ke atas panggung eksekusi. Alan yang melihat Clara dibawa ke atas panggung langsung bergerak mendekat.
Alan melompat dari satu bayangan pohon ke bayangan yang lainnya. Dengan skill shadowingnya, Alan bisa mendekat tanpa terdeteksi penjaga Wood Elf.
Kini alan berada di bayangan pohon terdekat dari api unggun. Dari tempat alan berada, dirinya bisa mendengarkan suara suara di sekitar api unggun dan melihat dengan jelas ke arah kedua panggung.
"Penyusup... Apakah kamu mata mata dari Kerajaan Southountain?" Tanya Wood Elf laki laki yang di atas panggung kepada Clara.
"Tidak... Aku hanya kebetulan lewat dengan temanku." Jawab Clara dengan sedikit ketakutan. Kedua tangan Clara diikat pada kedua tiang, membuatnya tidak bisa berbuat banyak.
"Pembohong... Jawab dengan jujur!" Salah seorang penjaga yang berjaga di samping Clara langsung mencambuk Clara ke arah punggung clClara.
"Ahh...."
Alan sangat marah melihat Clara di cambuk, tapi dia juga masih bisa mengontrol dirinya untuk tidak gegabah menyerang.
"Aku tidak bohong. Aku adalah warga dari desa Middlemist yang kebetulan lewat." Clara yang masih kesakitan karena cambukan di punggungnya mencoba meyakinkan para Wood Elf.
"Jangan banyak alasan... Katakan yang sejujurnya." Penjaga itu mencambuk Clara lagi.
"Aahhh...."
"Hentikan!" Wood Elf perempuan yang duduk di kursi singgasana bangkit dari tempat duduknya.
Penjaga yang ingin mencambuk Clara pun menghentikan cambukannya, dan melihat ke arah Wood Elf perempuan yang cantik jelita tersebut.
"Tuan Puteri... Wanita ini adalah penyusup yang ingin memata matai desa kita. Kita tidak bisa membiarkannya begitu saja." Kata Wood Elf yang tadi Alan lihat di hutan. Dari yang Alan lihat, Wood Elf laki laki itu tampak seperti ketua penjaga di desa ini.
"Aku lihat dia tidak berbohong. Untuk apa kita menyiksa orang yang tidak bersalah?" Balas Wood Elf wanita yang dipanggil Tuan Puteri.
"Tapi Tuan Puteri..." Ketua Penjaga Wood Elf itu berusaha menyanggah tapi terhenti oleh tanda dari Wood Elf laki laki yang di atas panggung.
"Putriku... Yang dikatakan Sora itu benar. Kita tidak bisa membiarkan penyusup masuk ke desa kita." Wood Elf laki laki tersebut membenarkan perkataan Sora yang merupakan pimpinan penjaga.
"Tapi ayah..."
Belum selesai Puteri Wood Elf itu bicara.
"Cukup... Keamanan warga desa ini adalah prioritas utama." Bentak Wood Elf laki laki tersebut.
Puteri Wood Elf itu pun terdiam dan hanya bisa menatap ke Clara. Dari tatapannya tersirat perkataan maaf, Clara yang bertatap muka pun hanya bisa menghela nafas. Seakan sudah pasrah akan keadaan yang menimpanya.
"Eksekusi dia! Kita tidak bisa membiarkan penyusup masuk ke desa ini begitu saja." Perintah Wood Elf yang di atas panggung.
__ADS_1
Namun belum sampai algojo bersiap untuk mengeksekusi Clara. Satu anak panah langsung melesat ke arah api unggun.
Ciu....
Duar....
Anak panah yang masuk ke dalam api unggun langsung menyebarkan api ke segala penjuru. Membuat seluruh penjaga dan orang orang yang di sekitar api unggun panik. Anak panah itu adalah anak panah Alan yang di ikat dengan Red Iron Spark potion.
"Ada serangan... Lindungi Pimpinan dan Tuan Puteri... Semuanya cari tempat perlindungan." Teriak pimpinan penjaga yang langsung bersiaga.
Namun dirinya sudah terlambat. Tepat setelah alan melepaskan anak panahnya, Alan langsung mengaktifkan Shadow Stab untuk berdiri di belakang Wood Elf laki laki di atas panggung. Dagger alan menempel persis di leher Wood Elf tersebut.
Wood Elf laki laki yang masih terkejut dengan semburan api unggun tidak menduga akan ada serangan susulan secepat ini dan langsung mengarah padanya.
"Jangan coba coba untuk melawan. Percayalah, pisauku bisa lebih cepat dari satu kata yang ingin kamu ucapkan." Alan menggertak Wood Elf laki laki itu.
Wood Elf itupun tahu jika Alan tidak sembarangan bicara. Dia pun menuruti perintah Alan.
"Tuan Arwen..." Teriak Sora setelah mengetahui pemimpinnya sedang dalam bahaya.
"Ayah..." Tuan Puteri yang di samping Alan juga ikut berteriak. Dia baru menyadari kehadiran Alan setelah sora berteriak.
Alan langsung merubah posisinya agar tidak membelakangi siapapun, merapatkan genggamannya ke tangan kiri arwen, pisaunya pun juga tidak luput Alan goyangkan sedikit agar para penjaga lebih panik. Para penjaga yang melihat tindakan Alan pun bersiap jika ada kondisi yang terburuk.
"Kakak AS... " Teriak Clara. Wajahnya terlihat sangat lega saat melihat Alan datang menyelamatkannya.
"Kau... Lepaskan Tuan Arwen... Atau gadis itu tidak akan selamat." Teriak Sora sambil mengacungkan pedangnya ke arah Clara.
"Kamu pikir nyawa gadis itu sepadan dengan nyawa pimpinanmu? Hahaha..." Gertak Alan.
Wajah Sora langsung pucat setelah mendengar perkataan Alan." Apa yang kamu inginkan?"
"Hahaha... Bagus... Jadilah penjaga yang pintar... Bebaskan gadis itu dulu. Baru kita bernegosiasi apa yang aku inginkan." Alan menggertak dengan sedikit menekan pisaunya ke leher Arwen.
"Kau..."
"Kenapa? Tidak mau?" Alan menekan lagi pisaunya.
Sora hanya menggigit giginya sendiri dan memerintahkan penjaganya untuk tidak berbuat gegabah.
"Bagus... Biarkan gadis itu pergi."
Para penjaga pun menurut dengan perintah Alan. Clara hanya memandang Alan, dirinya penuh dengan tanda tanya kenapa Alan hanya menyuruhnya pergi, sedangkan Alan masih tinggal. Namun Alan hanya menganggukkan kepala. Tanda kalau Alan tidak memiliki masalah jika ingin kabur.
Clara berjalan keluar dari desa, dan mencari tempat persembunyian yang aman.
"Gadis itu sudah kubebaskan. Cepat bebaskan Tuan Arwen. " Pinta Sora.
"Jangan terburu buru... Kenapa kita tidak bermain main sebentar?" Jawab Alan dengan santainya.
"Kau... Rubah tua..."Sora tidak menduga Alan akan sangat licik.
"Oh... Ayolah... Aku tidak berjanji akan melepaskan pemimpinmu jika kau membebaskan gadis itu." Jawab Alan dengan santainya. Sebenarnya Alan hanya mengulur waktu sampai cooldown Shadowing skillnya selesai. Dia akan sangat membutuhkan skill tersebut untuk kabur.
__ADS_1
"Lalu apa yang kamu inginkan? Cepat bebaskan Tuan Arwen. "
"Hahaha... Kalian lah yang pertama menyerangku dan temanku. Tapi kenapa sekarang kamu begitu panik?"
"Anak muda... Apa yang kamu inginkan? Cepat lepaskan aku." Kata Arwen dengan panik.
"Diam pak tua! Jangan terlalu banyak bicara." Alan menendang kaki Arwen sehingga Arwen berlutut di depan Alan.
"ayah..."
"tuan..."
Semua orang ingin mendekat tapi langsung berhenti setelah melihat dagger Alan masih menempel di leher Arwen.
"Kenapa kalian menangkapku dan temanku? Padahal kami hanya kebetulan lewat." Tanya Alan dengan sedikit menggertak.
Semua orang terdiam tidak berani menjawab. Mereka takut jika mereka bicara, mereka bisa dianggap memberikan informasi kepada orang luar. Dan hukuman untuk pembocor informasi sangatlah berat.
"Ohh... Tidak mau jawab... Baiklah... Kalau begitu kalian lebih suka melihat pimpinan kalian mati." Gertak Alan.
"Tunggu..." Teriak Wood Elf wanita yang dipanggil Tuan Puteri.
"Puteri Freya... " Sora mencoba mencegah.
"Aku akan ceritakan kepadamu. Tapi bebaskan dulu ayahku." Pinta Freya.
"Kamu pikir aku bodoh? Jika kulepaskan kalian akan langsung menyerangku."
"Tidak... Aku berjanji... Aku akan bercerita kepadamu. Tapi bebaskan ayahku. "
"Cerita... Atau..." Akan sudah tidak ingin berbasa basi. Skill Shadowingnya sudah bisa Alan gunakan. Dia bisa kabur kapan saja jika dia mau.
"Biarkan aku yang menggantikan ayahku... Dan aku akan bercerita sambil jadi tawananmu." Pinta Freya.
"Tuan puteri..."
"Freya..."
Semua orang melihat ke Freya yang berjalan mendekati Alan. Mata Freya tertuju pada wajah ayahnya, Freya hanya menganggukkan kepala tanda Freya tidak keberatan sama sekali untuk menggantikan posisi ayahnya.
"Anak yang berbakti... Balikkan badanmu!" Perintah Alan setelah posisi Freya dan Arwen sejajar.
Alan menarik Arwen untuk berdiri. mendorongnya berjalan kedepan. Alan langsung menggunakan Shadowing untuk berpindah ke bayangan Freya dan langsung muncul di belakang freya dengan pisau menempel dileher Freya.
"Turunlah kau... " Perintah Alan pada Arwen agar meninggalkan Alan dan Freya diatas panggung.
Arwen pun hanya bisa menurut. Meskipun tatapan matanya seakan ingin membunuh Alan.
"Bagus... Sekarang ceritakanlah alasan kalian menyerang kami. Jika jawabanmu tidak bisa memuaskan maka... " Alan menekan pisaunya ke leher Freya.
Freya pun berkata dengan suara pelan sehingga hanya Alan saja yang bisa mendengar.
"Kumohon... Bawa aku pergi dari sini..."
__ADS_1