New World

New World
High Demon 2


__ADS_3

"Kurang ajar... Ternyata dia kuat sekali." Rendemiz menyalahkan dirinya sendiri yang terkesan buru buru menyerang Alan. Dirinya tidak menduga jika sosok Demon bertopeng tersebut sangatlah kuat.


Wajah Rendemiz semakin pucat setelah melihat teman temannya dibantai oleh Alan di dalam kepulan gas beracun. Rendemiz pun kembali mengaktifkan kekuatan specialnya untuk bisa menyerang Alan.


Thang...


Thang...


Berkali kali Rendemiz mencoba mendaratkan serangan ke arah Alan, namun dirinya tidak pernah berhasil mendaratkan serangan kepadanya. Rendemiz pun semakin frustasi dengan keadaannya.


Apa yang didapatkan Rendemiz menjadi paket lengkap setelah tiba tiba muncul tornado di dekat Alan. Rendemiz terhisap ke dalam tornado, mengikuti arus angin yang membawanya terbang.


"Aaaa..." Rendemiz benar benar pusing mendapati tubuhnya terbang tidak beraturan. Rendemiz berusaha menyeimbangkan tubuhnya, namun arus angin yang membawanya terlampau kuat. Rendemiz pun hanya bisa pasrah mengikuti arus angin tornado.


Jleb...


Rendemiz merasakan adanya cakar yang menancap tepat di bagian perutnya. Hembusan angin yang lebih kencang dari arus angin tornado langsung memaksa tubuh Rendemiz untuk mendarat di atas tanah dengan kerasnya...


Bruk...


Rendemiz tergeletak tak berdaya di atas tanah. Rendemiz merasakan beberapa tulangnya telah patah akibat terhantam tanah. Pandangannya kini menatap kosong ke arah langit merah kekuningan yang selalu menghiasi dunia Abyss.


Rendemiz melihat sosok demon yang memakai topeng putih tengah berdiri di dekatnya. Gambar wajah tersenyum yang menghiasi topeng putih tersebut nampak sangat mengerikan di mata Rendemiz kali ini. Rendemiz pun yakin jika ini adalah saat saat terakhir dalam kehidupannya.


Dirinya pun menyesalkan keputusannya pergi dari Istana Ayahnya. Andai saja dirinya tidak pergi, dirinya pasti tidak akan bernasib seperti ini. Dirinya pasti masih akan hidup lebih lama lagi, meskipun harus hidup dengan harga diri yang terluka.


Rendemiz bisa melihat pedang pendek meluncur ke perutnya. Dari pedang pendek tersebut sempat terlihat sebuah cahaya keunguan. Rendemiz memejamkan kedua matanya, bersiap untuk merasakan rasa sakit yang lebih lagi, rasa sakit yang akan menjadi rasa sakit yang terakhir kalinya dirinya rasakan.


Thang...


Pedang pendek tersebut tidak pernah sampai di tubuh Rendemiz, tidak secenti pun. Rendemiz pun membuka mata, terlihat satu sosok Demon lagi kini berdiri di dekatnya. Tangan Demon tersebut menggenggam erat pedang yang sedang meluncur ke perutnya, membuat pedang tersebut tidak bergerak secenti pun.


"Flyin? Kenapa?"

__ADS_1


"Anda lebih baik tidak membunuhnya Tuan... Akan menjadi masalah besar jika sampai Anda membunuhnya."


"Apa maksudmu?" Alan memiringkan kepalanya, tidak mengerti masalah apa yang akan didapatnya jika dirinya membunuh Demon yang ada di bawah kakinya.


"Dia adalah Rendemiz, anak sulung dari salah satu Jenderal besar Demon, Asmodias. Akan menjadi masalah besar jika sampai Anda membunuhnya."


Alan tentu terkejut mendapat penjelasan Flyin. Anak dari Jenderal besar Asmodias? Alan bersyukur Flyin telah menghentikan pedangnya. Kalau saja tidak, Alan tidak akan bisa membayangkan apa yang akan dirinya dapatkan nantinya.


Alan tentu tidak perlu menanyakan darimana Flyin mengetahui jika Rendemiz yang sedang terbaring di bawah kakinya adalah anak sulung Asmodias. Flyin bisa saja pernah bertemu dengan Rendemiz atau Flyin secara sengaja telah membaca pikiran dari Rendemiz. Tapi Alan lebih berpendapat jika Flyin telah membaca pikiran Asmodias, mengingat Flyin tidak memperingatkan Alan ketika pertama kali melihat Rendemiz.


"Hah... Sepertinya lukanya cukup dalam." Flyin sedikit terkejut melihat luka yang diberikan Alan kepada Rendemiz. Mengingat Rendemiz termasuk dalam golongan bangsa High Demon.


Tubuh High Demon tentu lebih kuat dari pada Common Demon. Demon di Dunia Abyss dibagi menjadi lima tingkatan. Yang terendah adalah Commom Demon lalu Elite Demon, Advance Demon, High Demon, dan yang tertinggi adalah Super Demon. Untuk Flyin sendiri termasuk dalam golongan Advance Demon.


Struktur tubuh setiap tingkatan Demon pun berbeda beda setiap tingkatannya. Common Demon memiliki struktur tubuh Demon pada umumnya, semakin tinggi tingkatannya. Struktur tubuhnya akan semakin mirip dengan manusia. Sama seperti Flyin, struktur tubuh Rendemiz hampir mirip dengan manusia, bedanya Rendemiz memiliki kedua tanduk di kepalanya.


Flyin masih mencoba menerka nerka kenapa High Demon yang seharusnya lebih kuat dari dirinya tapi bisa kalah melawan Alan. Namun pemikiran itu tidak begitu penting saat ini. Yang terpenting adalah bisa menyelamatkan nyawa Rendemiz.


"Kita harus menyelamatkannya Tuan..." Flyin memandang ke arah Alan dengan tatapan serius.


Alan mengeluarkan beberapa botol heal potion dari tas sistemnya, dan meminumkannya kepada Rendemiz. Setelah meminum lebih dari 7 botol potion, tubuh Rendemiz berangsur pulih seperti sedia kala. Luka luka yang diberikan oleh Alan pun menutup dengan sendirinya.


"Ini?" Flyin terkejut melihat apa yang dilakukan Alan.


"Jangan bilang kamu tidak tahu tentang poiton penyembuh?" Alan menaikkan kedua alisnya setelah melihat wajah keterkejutan Flyin.


"Saya memang pernah mengetahuinya, tapi saya tidak menduga Anda bisa membuatnya juga."


"Masih banyak yang belum kamu ketahui tentang aku."


Rendemiz yang pulih pun mencoba untuk berdiri. Flyin yang berdiri di dekatnya tidak lupa untuk mengulurkan tangannya, membantu Rendemiz untuk berdiri.


"Terima kasih banyak..." Rendemiz merasa nyawanya telah ditolong oleh kedua Demon yang ada di hadapannya. Walaupun bangsa Demon terkenal kejam dan licik, namun Rendemiz memiliki harga diri yang tinggi. Dirinya tentu akan mengucapkan terima kasih kepada Demon yang telah menyelamatkan nyawanya.

__ADS_1


"Tidak masalah... Lagipula tidak akan menjadi masalah besar jika apa yang kami lakukan kepadamu merupakan suatu kesalahan." Alan masih menatap Rendemiz dengan tatapan tajamnya. Seakan mengatakan jika dirinya siap menghabisi Rendemiz jika Rendemiz berusaha menyerangnya lagi.


Rendemiz yang melihat sorot mata Alan dari balik topengnya pun merinding. Dirinya juga sadar diri jika Demon yang memakai topeng tersebut lebih kuat darinya.


"Kenapa Anda bisa berada disini?" Walaupun Flyin telah mengetahui penyebabnya, Flyin tetap menanyakan kepada Rendemiz. Bukan untuk apa, tapi akan lebih baik jika Rendemiz yang menceritakan sendiri tentang masa lalunya. Mengingat Alan tidak bisa mengetahui isi pikiran Rendemiz seperti dirinya. Dan Flyin tidak ingin menceritakan masa lalu seseorang kepada orang orang lain. Hal itulah yang menjadi prinsip dirinya setelah mengetahui kekuatan specialnya dari dahulu. Terkadang masa lalu seseorang hanya akan menjadi luka yang akan selalu tersimpan di dalam pikiran, tidak untuk diungkapkan.


"Aku.. " Rendemiz nampak ragu untuk menceritakan serangkaian kejadian yang memaksanya terdampar di Pripyat. Dirinya tidak yakin jika kedua Demon di dekatnya akan membiarkannya hidup setelah mengetahui jati diri dirinya yang asli.


"Tidak usah memaksakan diri untuk cerita. Bukan kewajiban bagimu untuk menjawab pertanyaan Flyin." Alan mulai melangkahkan kakinya untuk meninggalkan Rendemiz.


"Ayo Flyin... Kita lanjutkan perjalanan." Ajak Alan untuk segera meninggalkan Pripyat. Rasa penasaran Alan akan dunia Abyss lebih besar daripada rasa penasaran kepada Rendemiz.


"Baik Tuan..." Rendemiz tidak menduga perkataan Alan barusan. Seorang yang baru berusia belasan tahun, bisa begitu bijaksana untuk tetap membiarkan seseorang menyimpan luka kehidupannya yang tidak ingin mereka ungkit lagi. Flyin pun mulai melangkahkan kakinya untuk mengikuti Alan.


Rendemiz terdiam mematung melihat kedua sosok Demon tersebut. Baru kali ini dirinya bertemu dengan Demon yang tidak mencoba mencari cari masalah dengannya. Padahal kalau saja ingin, mereka bisa saja menangkap dirinya dan menyerahkannya kepada Ayahnya. Ayahnya pasti akan memberikan kedua Demon tersebut hadiah yang tidak sedikit.


Rendemiz mengalihkan pandangan ke arah jasad para Demon yang tergeletak di tengah jalan. Dirinya bersyukur hari ini tidak menjadi salah satu jasad yang ikut tergeletak di atas tanah. Rendemiz membayangkan apa yang dirinya lakukan sekarang. Teman temannya di Pripyat telah dibunuh oleh Alan. Jika dirinya terus berada di Pripyat, dirinya tidak tahu hal apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Kemana kita selanjutnya Flyin?" Alan terus berjalan tanpa mengalihkan pandangan ke arah Flyin.


Flyin sempat menoleh sebentar ke arah belakang. Melihat sosok Rendemiz yang masih berdiri terpaku, seakan akan Rendemiz sedang memikirkan masalah besar. Flyin pun membaca isi pikiran Rendemiz.


"Sepertinya kali ini kita akan membantu seseorang yang memerlukan bantuan kita Tuan ..."


"Seseorang? Siapa?" Alan berpikir jika Flyin akan bertemu dengan teman lamanya atau siapa yang mungkin sedang memerlukan bantuan dirinya dan Flyin.


"Rendemiz..." Jawab Flyin datar sambil menyusul langkah Alan hingga dirinya mendahului Alan.


Alan langsung menghentikan langkahnya, di balik topengnya kedua mulut Alan terbuka lebar. Alan pun mengalihkan pandangan ke belakang, dan melihatb sosok Rendemiz yang masih berdiri di tengah jalan.


"Hah... Terserah kamu Flyin..." Alan kembali melangkahkan kakinya untuk mengikuti Flyin.


***

__ADS_1


**maaf kalau chapter ini terkesan saya ulang ulang, hal ini saya lakukan untuk menguatkan persepsi rendemiz. mengingat rendemiz akan menjadi salah satu karakter penting kedepannya.


semoga hari kalian berjalan lancar**...


__ADS_2