New World

New World
Satu satunya solusi


__ADS_3

Tubuh Alan terasa sangat lemas. Tidak ada daya sedikitpun yang bisa dirinya kerahkan. Bahkan untuk sekedar menggerakkan jari jarinya ataupun mulut bibirnya dirinya sangat kesulitan.


Thap...


Thap...


Suara langkah kaki Asmodias yang mendekati tubuhnya merambat melalui tanah yang menempel di telinganya. Memaksa masuk ke dalam gendang telinga Alan.


Alan tahu apa yang akan Asmodias lakukan. Tapi dirinya sama sekali tidak memiliki tenaga untuk mencegahnya. Meskipun sekuat tenaga dirinya melawan, hanya asa terbuang yang dirinya dapatkan.


"Apa ini akhirnya?" Alan pun hanya bisa pasrah. Dari sudut matanya bisa terlihat Asmodias siap mengayunkan tombak yang digenggam untuk melakukan tugas penyelesaian.


"Dasar bocah bodoh!!!" Suara umpatan mengusik di telinga Alan. Alan tentu tahu siapa sang pemilik suara. Namun tidak menyangka jika sosok tersebut akan muncul di tempat ini sekarang.


Thang...


Tombak Asmodias yang mengarah leher Alan terhenti oleh sebuah pedang berwarna coklat dengan garis hitam di bagian tengahnya. Membuat Asmodias terkejut akan kemunculan pedang dan sosok seseorang yang menghentikan serangan penghabisannya.


"Apa maksud mu ini Azazel?" Asmodias tentu terkejut melihat Azazel tiba tiba menghalau serangan penghabisannya. Kini Asmodias memandang tajam ke arah Azazel yang ada di dekatnya. Menandakan dirinya sangat tidak suka akan ikut campur Azazel dalam urusannya.


"Maafkan aku Asmodias... Tapi aku tidak bisa membiarkanmu membunuhnya." Azazel memandang balik tatapan mengintimidasi Asmodias. Seakan berkata dirinya tidak takut jika harus bertarung dengan Asmodias.


"Menyingkir atau kamu juga akan menanggung akibatnya." Asmodias memperingatkan Azazel. Dirinya tentu tidak akan segan segan membunuh salah satu Jenderal Demon lainnya. Sosok Alan yang misterius terasa akan membahayakan dirinya di kemudian hari, apalagi Asmodias belum pernah mendengar ada Demon yang memiliki kekuatan seperti yang Alan miliki. Apalagi setelah mendengar dengan sendiri perkataan Alan yang tidak sudi menjadi kaki tangannya.


"Akibat apa? Aku tidak pernah takut..." Azazel mengeluarkan aura pertarungan berwarna putih bercampur kecoklatan pada ujungnya. Membuat tombak Asmodias yang masih bersinggungan dengan pedang Azazel harus terpental.


"Kau..." Asmodias mundur beberapa langkah demi menjaga tombaknya tetap di genggamannya. Dirinya tahu jika peringatan yang dirinya berikan kepada Azazel tidak akan dihiraukan.


Pertarungan... Hanya itu lah satu satunya cara agar peringatan dari dirinya bisa masuk ke dalam pikiran Azazel. Membuat Azazel menyesal telah mengganggu dirinya.


Sementara Flyin yang masih berdiri di atas benteng merasa lega melihat Tuannya Azazel berhasil menyelamatkan Alan. Sosok Flyin lah yang sebenarnya menjadi penyelamat Alan sebenarnya. Setelah dirinya dilemparkan Alan ke atas benteng yang menjadi pembatas Istana Chigaza, Flyin langsung menghubungi Azazel yang berada di Istananya.


Azazel yang menjadi salah satu Jenderal Demon tentu memiliki kemampuan untuk bisa muncul di Istana Chigaza dengan cepat. Walaupun tidak bisa secepat Asmodias yang bisa membuat gerbang teleportasi melalui kekuatan specialnya. Namun sayap sayap angel yang dirinya miliki sudah cukup untuk bisa terbang dengan kecepatan yang super tinggi, hingga akhirnya dirinya bisa sampai di Istana Chigaza tepat pada waktunya.

__ADS_1


"Syukurlah... Anda datang tepat waktu Tuan..." Flyin bergumam sendiri melihat kedua Jenderal Demon tersebut kini saling beradu serangan. Flyin pun melompat dari atas benteng, dirinya berinisiatif untuk memindahkan tubuh Alan agar tidak terkena dampak serangan dari kedua Jenderal Demon yang sedang bertarung tersebut.


"Ayo pergi Tuan..." Flyin memapah tubuh Alan yang terkulai lemas. Dibawanya Alan menuju ke atas benteng Istana, tempat yang sekiranya aman bagi Alan.


Walaupun sama sama Jenderal Demon, nyatanya pertarungan antara Asmodias dengan Azazel tidak terlalu seimbang. Terlihat jelas jika Asmodias bisa mendominasi jalannya pertarungan. Asmodias berkali kali memaksa Azazel harus mundur beberapa langkah ketika pedang Azazel dengan tombak Asmodias saling berbenturan. Apalagi Azazel tidak bisa mengeluarkan skill yang dirinya miliki ketika berada di dekat Asmodias. Membuat pertarungan antar kedua Jenderal Demon tersebut terkesan berat sebelah.


"Kamu akan menyesal telah mengusik urusanku!" Asmodias memutar mutar Abysal Spear di depan tubuhnya, membuat Abysal Spear seakan berubah menjadi sebuah lingkaran tombak. Aliran listrik kecil kecil pun menyelubungi lingkaran yang terukir dari putaran tombak.


"Abysal Curse!"


Slash...


Slash...


Lesatan lesatan petir berkecepatan tinggi langsung melesat ke arah Azazel yang berdiri beberapa meter di hadapan Asmodias. Azazel yang baru saja menyeimbangkan langkah kakinya, terpaksa harus menggunakan sayapnya untuk terbang ke udara. Menghindari serangan petir yang menuju ke arah dirinya.


"Percuma..." Senyum kecil terpancar di ujung bibir Asmodias ketika melihat Azazel terbang. Serangan yang dirinya keluarkan bukanlah serangan sembarangan yang bisa dihindari dengan mudahnya.


Lesatan petir terus keluar dari lingkaran ayunan tombak Asmodias, membuat Azazel harus terbang berkelok kelok untuk menghindari serangan yang datang kepadanya.


"Tidak ada yang bisa selamat dari Abysal Curse ini." Asmodias tertawa lepas melihat Azazel begitu kesulitan terbang berkelok kelok sambil dikepung oleh petir petir yang mengincar tubuh Azazel. Total Asmodias mengeluarkan 77 lesatan petir, dan kesemua lesatan petir tersebut tidak akan pernah menghilang sebelum mengenai targetnya. Setiap lesatan petir akan berbelok dengan sendirinya ketika target menghindarinya. Bagaikan seekor singa yang tidak akan melepaskan buruan yang sudah di depan mata.


Itulah sebabnya Asmodias bisa sesumbar tidak ada yang bisa selamat dari Abysal Curse yang dirinya keluarkan.


Flyin yang melihat Tuannya Azazel sedang kerepotan tentu merasa panik. Dirinya tidak menduga jika Azazel sekalipun bisa kerepotan dalam menghadapi Asmodias. Padahal dirinya tahu dengan pasti, sekuat apa kekuatan yang dimiliki oleh Azazel.


"Bahkan Tuan Azazel juga tidak bisa berbuat banyak..." Flyin menghela nafas panjang. Melihat tawa Asmodias yang memecah keheningan Istana Chigaza.


"Anda harus segera membantu Tuan Azazel, Tuan..." Flyin menatap ke arah Alan yang masih tergeletak lemas. Satu satunya kesempatan bisa mengalahkan Asmodias adalah Alan dan Azazel bekerja sama dalam menghadapi Asmodias.


Namun nampaknya itu merupakan harapan Flyin saja. Alan hanya menatap Flyin dengan tatapan marah dan kesal. Flyin yang bisa membaca isi pikiran Alan tentu mengerti jika Alan ingin sekali bisa menggerakkan tubuhnya dan ikut bertarung bersama Azazel melawan Asmodias. Namun ketidakmampuan Alan menggerakkan tubuhnya memaksa Flyin harus menghela nafas panjang sekali lagi. Berharap jika ada keajaiban yang bisa menolong Tuannya Azazel.


'Joker... Kenapa aku tidak bisa menggerakkan tubuhku?'

__ADS_1


Meskipun Alan tidak bisa menggerakkan tubuhnya, dirinya masih tetap bisa berpikir. Dan hanya dengan berpikir Alan bisa berinteraksi dengan Joker.


[Silent Wave adalah gelombang kejut yang menyerap semua tenaga yang dimiliki lawan dalam area seluas 200 meter di sekitar Abysal Spear. Silent Wave akan menghilang dengan sendirinya setelah 30 menit waktu berjalan.]


'Tiga puluh menit?' Jika saja Alan bisa mengerutkan dahi, mungkin dirinya sudah mengerutkan dahi. Tapi Silent Wave memaksa dirinya hanya menampilkan wajah datar saja.


Tiga puluh menit merupakan waktu yang sebentar jika sedang bersama kekasih, namun ketika bertarung dengan Asmodias. Tiga puluh menit tentu waktu yang sangat cukup bagi Asmodias untuk menghabisi semua lawan lawannya.


'Ada cara menetralisir Silent Wave?'


[Shadow Zone seharusnya bisa mentralisir Silent Wave. Hanya saja diperlukan kekuatan yang sangat besar untuk bisa menetralisir Silent Wave.]


'Apa kekuatanku cukup?'


[Belum AS... Kamu masih perlu lebih banyak jiwa Demon yang kamu serap untuk bisa menetralisir Silent Wave.]


'Ah.... Seharusnya aku membunuh lebih banyak bangsa Litch kemarin...' Alan menyesal tidak membunuh lebih banyak Litch Demon untuk memperkuat Shadow Zone yang dimilikinya.


[Tapi kalau Shadow Blood sendiri yang menggunakan Shadow Zone mungkin bisa AS.]


'Shadow Blood?' Alan tidak menyangka jika Joker memberikan solusi yang berhubungan dengan Shadow Blood.


[Benar... Shadow Blood merupakan kumpulan jiwa Demon yang dikumpulkan oleh Azazel, jika dia yang menggunakan Shadow Zone tentu Shadow Zone akan jauh lebih kuat daripada kamu yang menggunakan.]


Harus Alan akui... Apa yang Joker katakan memang benar semua. Shadow Blood bahkan bisa menggunakan Shadow Zone untuk mengalahkan Dirga ketika Alan belum mengumpulkan jiwa Demon untuk memperkuat Shadow Zone. Jika saja Shadow Blood menggunakan Shadow Zone sekarang, tentu Shadow Zone bisa menetralisir Silent Wave.


Tapi... Alan tentu tidak ingin tubuhnya terambil alih oleh Shadow Blood. Dirinya tidak tahu apakah Shadow Blood akan mengembalikan fungsi kontrol tubuhnya atau tidak nantinya. Akan sangat berbahaya bagi dirinya jika Shadow Blood tidak mengembalikan fungsi kontrol tubuhnya.


Flyin yang bisa membaca isi pikiran Alan tentu tidak menyangka jika Shadow Blood ternyata memiliki jiwa tersendiri. Ribuan jiwa Demon yang Tuannya Azazel kumpulkan ternyata membentuk sebuah jiwa Demon. Flyin tidak bisa membayangkan sekuat apa Shadow Blood itu tersendiri. Mengingat Shadow Blood merupakan kumpulan dari ribuan jiwa Demon.


"Tuan... Tolong..." Flyin menatap ke arah Alan dengan tatapan belas kasih. Untuk pertama kalinya dirinya melakukan hal yang tidak pantas untuk seorang Demon.


'Ah... Flyin...' Melihat tatapan belas kasih Flyin, Alan semakin dilema di dalam pikirannya. Dirinya kalau bisa juga tidak ingin meminta bantuan kepada Shadow Blood. Jiwa Demon yang suatu hari nanti harus dirinya hadapi untuk memperebutkan fungsi kontrol tubuhnya. Namun Alan juga tidak memiliki pilihan lain saat ini, dirinya terlalu lemah untuk bisa menetralisir Silent Wave. Alan pun terpaksa mengambil satu satunya solusi yang Joker tawarkan.

__ADS_1


'Hey... Kau... Jangan pura pura tidak mendengar...' Sapa Alan pada seseorang di dalam pikirannya. Meskipun wujud orang tersebut tidak terlihat sama sekali.


'Hahaha... Akhirnya...' Sebuah tawa terdengar di dalam pikiran Alan. Yang tentunya membuat Alan harus merasa geram mendengar tawa yang dibuat buat tersebut.


__ADS_2