
"Apa ada saran dari kalian?" Remi memandang ketujuh supervisinya yang kini tengah berkumpul di dalam sebuah ruangan. Dengan meja besar bulat di tengah tengah delapan orang, dan selebaran kertas yang tersebar di atas meja, menambah kacaunya pikiran dari masing masing orang yang ada di tempat tersebut.
"Bagaimana bisa biaya seperti itu dimasukkan ke dalam bagian pemasaran?" Keluh salah satu supervisi anak buah Remi.
"Hah... Percayalah... Aku sudah berusaha maksimal agar biaya tagihan itu tidak masuk ke bagian kita. Tapi Tuan Mason bersikeras memasukkan bagian tersebut ke bagian pemasaran. Kita pun tidak bisa menolaknya lagi."
Mendengar nama Mason disebut oleh Remi, ketujuh supervisi pun tidak bisa mengelak lagi. Posisi Mason memang sama tingginya dengan Remi dalam struktur perusahaan, namun Mason memiliki kedekatan pribadi dengan para pemegang saham perusahaan. Membuat posisi Mason sedikit lebih tinggi dari pada siapapun di perusahaan Microboot, bahkan Direktur utama sekalipun akan kesulitan untuk mengganggu gugat keputusan dari Mason.
"Kalau begitu... Lebih baik kita mempercepat acara turnamen yang akan kita adakan. Itu bisa memberikan kita suntikan dana yang cukup dari biaya pendaftaran." Salah satu supervisi memberi saran kepada Remi yang nampak begitu pusing memikirkan mencari dana segar untuk melanjutkan rencana pemasaran tahunan.
"Turnamen?" Seluruh isi ruangan nampak terkejut, kecuali Remi. Karena rencana pembentukan turnamen antar player New World memang masuk dalam rencana tahunan. Tapi rencana tersebut seharusnya di jalankan tepat ketika satu tahun New World berjalan, sebagai bagian perayaan satu tahun New World.
"Kamu benar... Tapi kita perlu banyak persiapan untuk itu. Lagipula... Sistem teleportasi di New World baru saja dikembangkan, akan sulit bagi para player untuk mencapai lokasi turnamen."
"Tapi tidak ada jalan lain Tuan... Kita bisa memberikan pengumuman dari sekarang, dan tentunya para player bisa bersiap siap jika turnamennya diadakan dua atau tiga bulan lagi." Lanjut supervisi yang memberikan saran.
"Hah... Baiklah... Koordinasikan dengan bagian tekhnik dan development! Hitung kalkulasi biaya yang kita butuhkan! Hubungi World Bank, dan atur semua penukaran uang dan koin! Jangan sampai pembentukan turnamen malah menambahkan beban biaya pemasaran."
Remi merasa hanya gagasan tersebut yang bisa memberikannya suntikan dana dalam beberapa bulan ke depan untuk bagian pemasaran. Meskipun mereka harus mengeluarkan biaya terlebih dahulu untuk persiapan, tentu saja semua modal tersebut akan kembali setelah biaya pendaftaran terkumpul.
"Baik Tuan..." Semua supervisi bawahan Remi langsung serempak, merapikan berkas berkas yang mereka bawa untuk segera melakukan apa yang Remi katakan.
"Buat semua siap dalam satu minggu. Aku ingin dalam satu minggu pendaftaran sudah dibuka." Remi menegaskan kalimat terakhirnya, tidak ingin terlalu lama menunda nunda rencananya.
"Dimengerti Tuan..." Semua supervisi segera meninggalkan ruangan rapat. Meninggalkan Remi yang tengah bersandar di kursi empuknya sendirian.
"Hah dasar anak pembuat masalah..." Remi terkesan menyalahkan Alan yang kini terbaring di rumah sakit, jika saja Alan tidak terbaring di rumah sakit. Dirinya tidak akan dipusingkan dengan perubahan rencana pemasaran tahunan.
###
Terbang menaiki Naga Yang membuat perjalanan Alan dan yang lainnya lebih dimudahkan. Dengan mengikuti peta yang ditunjukkan oleh Joker, Alan dan yang lainnya menuku ke Kota Morelia. Tempat segel pintu keluar dunia Abyss berada.
Dari ketinggian Alan dan yang lainnya bisa melihat kota Demon Raider yang mereka lewati tadi, bekas pertempuran yang terjadi antara Behemout dan anak buah Zepar masih membekas di Kota Demon Raider. Meskipun sudah tidak ada asap bekas pertempuran, namun puing puing bangunan yang dihasilkan dari pertempuran masih jelas kentara.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Bukannya Behemout dan Zepar bekerja sama untuk mengalahkan Naga Yin dan Yang? Lalu kenapa Kota Demon Raider hancur seperti ini?" Alan tidak bisa mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi.
"Mungkin saja tadinya Behemout dan Zepar saling bertarung, lalu memutuskan untuk bekerja sama Tuan..." Flyin mengutarakan pendapatnya.
"Bisa jadi seperti itu... Atau kalau tidak... Ada yang sengaja mempermainkan mereka berdua agar saling bertarung, dan akhirnya bekerja sama." Alan justru berpikir jauh kepada pihak ketiga di balik semua ini. Tidak mungkin kekuatan besar di Dunia Abyss akan saling berperang dan tiba tiba bekerja sama tanpa adanya campur tangan pihak ketiga.
"Sepertinya dugaan Anda benar Tuan... Kalau saja tidak ada pihak ketiga di balik kejadian ini, pastinya Behemout dan Zepar akan berada di Kota Demon Raider sekarang."
__ADS_1
"Benar... Apalagi segel itu kini ada di Kota Morelia. Pasti sosok di balik semua ini ada di Kota itu."
"Kota Morelia?" Flyin dan Rendemiz saling berpandangan satu sama lain. Mereka tahu betul siapa yang ada dan menjadi penguasa Kota tersebut.
"Kenapa?"
"Tidak apa apa Tuan... Hanya saja kita akan segera bertemu dengan Demon tercantik di Dunia Abyss." Flyin buru buru menyanggah, bayangan dirinya akan segera bisa melihat sosok Demon tercantik sudah terngiang di kepalanya.
"Demon tercantik? Siapa?" Alan tentu belum mengetahui siapa yang dimaksud oleh Flyin, pengetahuan dirinya tentang Dunia Abyss masih sangatlah minim.
"Marry... Salah satu Jenderal Besar Demon."
"Marry katamu?" Mendengar kata Marry Alan pun teringat akan pesan yang diberikan oleh Asmodias. Sosok Marry harus dirinya waspadai, begitulah isi pesan dari Asmodias.
"Bisa kalian tunggu disini sebentar? Ada hal yang perlu aku pastikan." Alan menarik The Forgotten Dagger, dan membuka pintu dimensi menuju ke The Forgotten World. Dengan satu kali nafas, sosok tubuh Alan sudah menghilang dari atas punggung Naga Yang. Menyisakan The Forgotten Dagger yang tergeletak di atas punggung naga.
"Hah... Dasar... Selalu saja bertindak terburu buru." Flyin mencoba mengambil The Forgotten Dagger yang tergeletak di atas punggung Naga, mencoba mengamankannya agar tidak terjatuh dari punggung Naga Yang.
Namun begitu tangan Flyin menyentuh The Forgotten Dagger, Flyin merasakan kejutan listrik yang luar biasa hebat. Tubuh Flyin bergetar dengan hebatnya akibat kejutan listrik yang tiba tiba. Flyin pun sampai terpental, dan hampir terjatuh dari atas punggung Naga yang sedang terbang.
"Bisa kalian diam? Aku tidak mau repot repot menangkap kalian jika salah satu dari kalian terjatuh." Umpat Naga Yang.
###
"Ada apa bocah? Kenapa kamu tiba tiba muncul?" Asmodias yang tengah menuliskan beberapa huruf rune nampak tidak terkejut akan kemunculan Alan yang tiba tiba. Seakan akan Asmodias sudah tahu jika Alan pasti akan datang kembali dalam waktu dekat.
Justru Alan yang kini tengah terkejut, melihat The Forgotten World telah berubah sedemikian rupa. Padahal baru beberapa hari dirinya meninggalkan Asmodias di dalam The Forgotten World sendirian. Namun Asmodias sudah merubah The Forgotten World hingga nampak begitu berbeda.
"Apa yang kamu lakukan pada duniaku?" Alan merasa sedikit kesal pada Asmodias, yang telah merubah The Forgotten World tanpa persetujuannya. Sebuah Istana baru yang belum selesai dibangun nampak terlihat di tengah tengah labirin, para Shadow Puppet nampak masih menata bebatuan dan pernak pernik yang digunakan untuk membangun Istana tersebut.
"Oh... Aku hanya sedikit memperindahnya, tidak mungkin kan aku yang seorang Jenderal Besar Demon hanya akan tinggal di dalam sebuah labirin." Asmodias nampak begitu bangga dengan apa yang dirinya hasilkan.
"Hah... Sudahlah..." Alan tidak mau mempermasalahkan lebih jauh tentang munculnya sebuah istana baru di dalam The Forgotten World. Mau seperti apapun bentuknya, baginya The Forgotten World tetap dunia yang sepenuhnya di dalam kuasanya. Dirinya bisa saja langsung menghancurkan Istana yang Asmodias bangun menggunakan kekuatan special dan boneka bayangan yang menjadi pekerjanya. Namun tentu saja Alan tidak ingin melakukannya. Dirinya perlu membuat Asmodias nyaman untuk tinggal di The Forgotten World.
"Ada apa kamu datang kesini?"
"Sebentar lagi mungkin aku akan bertarung dengan Marry untuk merebut segel pintu keluar Dunia Abyss."
"Ohh... Sudah dimulai rupa rupanya." Asmodias nampak tidak terkejut sama sekali dengan apa yang disampaikan oleh Alan.
"Kenapa kamu tidak terkejut?"
__ADS_1
"Untuk apa aku terkejut? Segel itu pasti nantinya akan diperebutkan. Siapapun yang memegang segel tersebut pasti akan dipuja oleh semua bangsa Demon."
"Maksudmu?" Alan tidak bisa menangkap maksud dari perkataan Asmodias.
"Kami bangsa Demon sudah lelah untuk hidup di Dunia Abyss yang begitu hina ini. Kami ingin hidup di Dunia yang layak seperti ras ras lainnya. Oleh sebab itu, sang pemegang segel bisa membawa Demon untuk keluar dari Dunia terkutuk ini. Dan pastinya setiap Demon pasti menginginkan hal tersebut, mereka pasti akan memuja pemegang segel untuk membawa mereka keluar dari Dunia Abyss ini."
"Hem... Jadi begitu..."
"Dengar... Marry adalah sosok yang begitu mengidam idamkan pemujaan dari semua yang ada di sekitarnya. Dirinya tidak mau ada sosok lain yang bisa mengimbangi kekuatan maupun kecantikannya. Dia adalah Demon yang penuh dengan tipu muslihat."
"Itu sebabnya dia mengadu domba antara Behemout dan Zepar? Mencoba menyingkirkan mereka dengan membiarkan mereka saling bertarung?"
"Bisa jadi seperti itu. Tapi yang jelas dia begitu menyimpan dendam kepadaku selama ini. Aku yakin dia masih ingin membalas apa yang aku perbuat dulu."
"Dendam apa yang kamu maksud?" Alan mencoba mencari tahu lebih dalam. Jika saja dirinya mengerti akar permasalahan, mungkin dirinya bisa menyelesaikannya tanpa harus ada pertarungan. Baginya yang terpenting adalah dirinya bisa ikut keluar dari Dunia Abyss, tidak peduli siapapun yang memegang segel tersebut.
"Ahh.... Kamu memaksaku untuk bercerita lagi..." Asmodias menghela nafas panjang, seakan segan untuk bercerita. Namun pada akhirnya dirinya bercerita juga.
Alan hanya terdiam mendengar cerita Asmodias tentang hubungannya dengan Marry. Rupa rupanya Marry adalah anak dari Satan, Marry terkesan menyalahkan Asmodias karena telah meninggalkan Satan sendirian ketika perang seribu tahun yang lalu. Membuat Satan harus terbunuh di dalam perang tersebut.
"Ahh... Sulit jika urusannya adalah balas dendam." Alan tidak bisa memungkiri, pertarungan harus benar benar terjadi. Mengingat motif Marry benar benar ingin menghancurkan Asmodias sampai ke dasar dasarnya.
"Ya... Begitulah yang telah terjadi. Untuk itulah kenapa aku dan Marry begitu memperebutkan bantuan dari Chigaza. Pasukan Litch Demon Chigaza tentu akan menjadi tambahan kekuatan yang begitu besar jika perang antara bangsa Demon sampai terjadi."
"Baiklah... Paling tidak aku sudah dapat gambaran apa yang harus aku lakukan." Alan tengah mengerti apa yang harus dirinya lakukan. Paling tidak dirinya benar benar harus bersiap untuk bertarung dengan para Demon yang ada di Kota Morelia.
"Kamu bisa meminta bantuan puteriku Selene. Meskipun tidak sekuat diriku, tapi kekuatan specialnya akan sangat berguna untuk menghalau pasukan yang Marry pimpin."
"Selene?"
"Betul..."
"Lalu bagaimana dengan Rendemiz?"
"Ah... Aku tidak yakin anak itu akan cukup berguna bagimu." Asmodias nampak ragu dengan kapasitas Rendemiz.
"Jangan seperti itu... Dia sudah berkembang jauh selama ini. Akan aku bukakan akses bagimu untuk melihat dunia luar. Kamu perlu melihat sejauh apa Rendemiz telah berubah."
"Tidak masalah... Tapi lebih baik lagi kalau kamu membiarkanku keluar dari sini." Asmodias tertawa kecil menggoda Alan, barangkali Alan akan berbaik hati mengeluarkan dirinya dari The Forgotten World ini.
"Jangan harap!" Alan seketika menghilang dari hadapan Asmodias. Membuat Asmodias hanya bisa kembali menerima kenyataan jika dirinya masih harus terkurung di dalam The Forgotten World.
__ADS_1