New World

New World
Toni... Menangis?


__ADS_3

"Baiklah kalau begitu... Aku pikir ini semua sudah cukup..." Alan bersiap untuk log out, setelah dirinya menjelaskan semua informasi informasi yang dirinya perlukan kepada Atlantik.


"Tentu Tuan... Akan kami kabari segera jika informasi yang Anda butuhkan sudah kami dapatkan."


"Aku harap begitu..." Jawab Alan sembari memberi tanda kepada Chiro untuk berubah wujud dan membawanya terbang keluar dari hutan yang menjadi tempat persembunyian markas Death Hand.


Sosok Chiro pun berubah wujud setelah menerima kekuatan kegelapan dari dalam tubuh Alan. Dan dengan naiknya Alan beserta Flyin, pergilah kedua sosok berjubah hitam tersebut dari markas Death Hand.


"Hah... Akhirnya dia pergi..." Cleo menghela nafas lega, setelah melihat kepergian Alan. Rasa tertekan terus berada di samping Alan benar benar sangat tidak nyaman.


"Ya... Tapi kita beruntung bisa membuat koneksi dengan dia." Atlantik bergumam pelan.


"Tapi bagaimana dengan permintaannya Commander?" Cleo menanyakan perihal informasi yang diminta Alan. Meskipun itu hanya sebuah Informasi mengenai suatu guild, tapi tetap saja. Guild yang diminta informasinya oleh Alan bukanlah guild sembarangan, melainkan sebuah Guild kelas wahid yang bernama Sun Flower Guild.


"Ya... Dia hanya meminta informasi detail mengenai Guild itu, kita tidak memiliki kewajiban untuk membantunya jika dia ingin menjadikan Guild itu musuh." Jawab Atlantik dengan santainya.


Awalnya Atlantik tidak percaya jika Alan meminta dirinya untuk mencarikan informasi mengenai Sun Flower Guild, sebuah Guild yang begitu mendominasi di Kerajaan Black Dessert. Alan meminta informasi yang begitu rinci, mulai dari jumlah anggota guild, kekuatan para petingginya, sampai usaha perekonomian yang Sun Flower Guild jalankan.


Tidak terbayang di dalam benaknya, jika Alan akan menjadikan Guild kelas wahid tersebut musuh. Berdasarkan kabar angin yang dirinya dengar, Sun Flower Guild telah berhasil mengendalikan Kerajaan Black Dessert dari balik layar. Menandakan Sun Flower Guild telah berhasil mengembangkan pengaruh mereka dengan begitu perkasanya. Dirinya berpikir jika Alan adalah player yang begitu gila, menjadikan Sun Flower Guild sebagai musuh.


"Paling tidak kita mendapatkan keuntungan dari apa yang dia minta." Atlantik tersenyum puas, mendapatkan sebuah item dari Alan. Sebuah item yang bisa dirinya gunakan untuk memperkuat Death Mask.


[Red Demon Potion.]


Begitulah tampilan sistem yang Atlantik lihat ketika memandang puluhan botol kaca kecil yang dirinya dapatkan dari Alan. Sebuah potion yang baru pertama kali dirinya lihat sepanjang karirnya di New World. Itu semua karena potion yang Alan berikan kepadanya begitu berharga.


Meskipun Red Demon Potion tidak bisa memberikan penalti kematian 5x lipat seperti yang Alan lakukan pada Cleo, tapi dua kali meningkatkan efek kekuatan dan penalti kematian selama 10 menit setelah penggunaan sudah lebih dari cukup bagi dirinya. Dengan Red Demon Potion, dirinya bisa menaikkan harga jasa untuk sekali pembunuhan setiap anggota Death Masknya.

__ADS_1


"Berikan ini pada Silent Rogue, pastikan dia melakukan tugasnya dengan benar." Atlantik menyerahkan tiga botol Red Demon Potion pada Cleo. Dengan bantuan Red Demon Potion, dirinya yakin jika Silent Rogue akan bisa melakukan tugas yang selama ini terus tertunda, tugas untuk membunuh para petinggi RnP Guild.


"Baik Commander." Jawab Cleo sembari melangkahkan kaki untuk menemui Silent Rogue. Winged Lionnya pun langsung mengikuti Cleo yang pergi meninggalkan Atlantik.


"Hem... Benar benar player yang menarik..." Atlantik bergumam sendiri setelah kepergian Cleo. Dirinya benar benar tertarik dengan Alan. Dirinya ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh Alan setelah dirinya berhasil mendapatkan informasi yang Alan butuhkan. Tentu akan sangat menarik jika ada satu player yang berhasil menghancurkan sebuah Guild kelas wahid.


"Aku sudah tidak sabar..." Batin Atlantik, dirinya pun mengatur panggilan di sistem untuk menghubungi anggota pencari informasi terhebatnya.


###


Matahari hampir sampai pada titik puncaknya ketika Alan membuka mata. Dengan tubuh yang masih lemah, dirinya melepaskan helm VR dari kepalanya. Perlahan tapi pasti Alan mendudukkan diri di ranjang empuk yang menjadi tempat tidurnya.


"Kau sudah bangun Ton?" Jawab Alan ketika mendapati punggung Toni yang tengah duduk di depan meja. Di bawah kaki Toni, Alan bisa melihat adanya beberapa botol bir tergeletak tidak karuan.


"Hem..." Jawab Toni sekenanya.


"Lan..." Toni membalikkan badannya ke arah Alan. Kini Alan bisa melihat jelas mata sembab yang terhias di wajah Toni.


"Eehem..." Alan menahan tawanya, melihat mata sembab yang Toni miliki. Sudah bisa simpulkan jika Toni baru saja menangis. "Kamu menangis?" Alan mencoba menahan tawanya, belum pernah sekalipun dirinya melihat teman satu asramanya tersebut menangis. Mengetahui Toni bisa mengalami hal tersebut adalah sesuatu yang menarik baginya.


"May... May tidak mau menikah denganku Lan..." Lanjut Toni tanpa memperdulikan ejekan Alan. Alkohol yang terkandung di dalam bir telah mempengaruhi separuh pikirannya.


Alan hanya menaikkan kedua alisnya, mendengar apa yang Toni katakan. Meskipun dirinya tidak tahu seberapa jauh hubungan Toni dan May, namun dirinya bisa membaca dengan jelas jika May juga menyukai Toni.


"Maksudmu?" Alan tidak bisa untuk tidak bertanya.


Toni dengan sedikit doyong berjalan ke arah ranjang Alan. Mendudukkan diri di ranjang Alan dan mulai bercerita mengenai apa yang terjadi.

__ADS_1


"Jangan terlalu cepat menyimpulkan, kamu belum tahu kenapa May menolak lamaran dirimu kan?" Alan mencoba menghibur sahabatnya yang sudah setengah tiang tersebut.


"Aku yakin pasti ada laki laki lain Lan..." Celoteh Toni tidak karuan.


"Hah... Sudahlah... Lebih baik kamu istirahat dulu, nanti kalau pikiranmu sudah jernih, kita pergi ke dojo untuk menemui May." Alan mencoba menenangkan Toni yang makin tidak karuan karena pengaruh alkohol.


"Tidak... Aku harus minta penjelasan kepadanya sekarang." Toni berdiri dari ranjang, berdirinya Toni pun sudah sedikit serong karena mabuknya.


"Apa kamu gila? Kamu mau dihajar Andre? Datang datang untuk menemui May dalam keadaan mabuk seperti itu?" Alan mengingatkan sahabatnya akan adanya satu hewan ganas yang menjaga May di dojo.


Bayangan marahnya Andre yang melindungi May pun berhasil masuk ke dalam pikiran Toni. Membuat Toni sedikit berpikir ulang untuk melakukan niatannya.


"Kamu benar Lan... Ada Hewan ganas di sana... Sangat ganas..." Toni menjatuhkan diri di ranjangnya sendiri. Dengan posisi tengkurap Toni pun mulai merasa lebih rileks. Kepalanya yang berputar putar, memaksa Toni untuk memejamkan mata. Dan dengan perlahan, pikirannya pun melayang, menembus alam mimpi yang tengah menantinya.


"Dasar..." Alan menghela nafas panjang, melihat Toni yang begitu mudah tertidur.


"Tapi kenapa May menolak lamaran Toni?" Batin Alan di dalam hati. Tidak mungkin jika May memiliki laki-laki lain selain Toni. Mana ada wanita yang akan menduakan laki-laki seperti Toni? Sudah kaya, wajah di atas rata-rata, ditambah penyayang pula. Alasan pertama saja sudah membuat setiap wanita untuk enggan menduakan Toni.


"Lebih baik jika langsung bertanya kepada May." Alan bangkit dari ranjangnya. Panggilan alam memaksa dirinya untuk menemui sahabatnya sedari kecil. Sahabat yang selalu dengan setia menerima semua curahan isi perut Alan, kamar mandi.


***Pendek? Maaf ya? AF bener bener lagi sibuk soal kerjaan. Ya... Mestinya AF masih bersyukur masih bisa kerja di saat seperti ini. Tapi itulah namanya hidup manusia.... Manusia sudah ditakdirkan untuk hidup dalam rasa kurang.


Sudah dikasih 1 minta 2, dikasih 2 minta 3, giliran diminta ngeluh... hahaha... Malah curhat...


Cukup sekian hari ini... Maaf kemarin tidak update? dan hari ini updatenya juga dikit...


Cukup mantan saja yang nyakitin... Corona jangan... Stay Safe kalian semua... Tetap semangat dan sehat menjalani hati... eh hari..#typomalesrefisi***

__ADS_1


__ADS_2