
Toni tergeletak tak berdaya di ranjang tidurnya. abadannya terasa sakit semua akibat latih tanding dengan Pak Andre kemarin. Walaupun tidak bisa dibilang latih tanding secara normal. Lebih tepatnya Toni menjadi sasaran pedang Andre. Andre seakan tidak memberi ampun kepada Toni walaupun Toni sudah menyerah.
"Kamu sudah bangun ton?" Tanya Alan sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Ah iya Lan... Badanku sakit semua rasanya. Susah banged mau bangun."
"Kenapa memangnya? Kamu sakit?"
Toni mencoba untuk duduk. "Ah... Kemarin aku latih tanding dengan Pak Andre." toni menghela nafas panjang.
"Pak Andre? Pantas saja..." Alan hanya tersenyum bahagia melihat sahabatnya kesakitan. Dia sudah bisa memperkirakan apa yang terjadi kemarin.
"Kamu ini... Temen sakit malah senang..."
"Hahaha.... Makanya lain kali hati hati kalau mau berduaan dengan May." Kata Alan sambil memakai baju. Dia sudah akan bersiap siap untuk berangkat kuliah.
"Ahh... Lagi apes saja aku kemarin. Aku heran kenapa Andre tidak merestuiku dengan May ya?"
"Kenapa kamu tidak tanya ke orangnya langsung saja?"
"Hah? Cari mati pa? Aku kemarin ketahuan memandangi May saja babak belur kaya begini. Apa lagi kalau minta restu?"
"Kita tidak akan tahu kan kalau belum mencoba?" Alan sambil mengangkat kedua bahunya.
"Oh ya Lan... Soal New World. Keluargaku menaungi sebuah guild sekarang. Kamu mau ya gabung ke guildku? Aku jadi Wakil Guild Masternya soalnya. Nanti kamu dapat posisi bagus deh di guild." Tawar toni mencoba mengalihkan perhatian.
"Guild? Keluargamu?"
"Iya Lan... Sebenarnya tidak hanya keluargaku saja yang berinvestasi membuat guild di New World. Tapi banyak perusahaan besar yang juga membentuk guild sekarang."
"Perusahaan perusahaan besar?" Alan terheran. Tidak dia sangka New World akan sangat menarik perhatian.
"Iya lan... Dan salah satunya adalah Sunflower grup. mereka membentuk guild bernama sun flower guild. Dengan bantuan guildku, rencanamu untuk balas dendam akan lebih mudah Lan."
"Sunflower guild?" Alan terkejut dengan perkataan Toni. Apa yang Toni bilang memang betul, dengan bantuan guild Keluarga Toni akan mudah untuk menekan perkembangan Sunflower guild. Bahkan untuk menghancurkannya pun bisa.
"Maaf Ton? Tapi aku sudah merepotkanmu terlalu banyak. Aku tidak ingin merepotkanmu lagi. Lagipula ini adalah dendamku pribadi." Alan menolak tawaran Toni sambil menggendong tasnya.
"Jangan terburu buru menolak. Pikirkanlah dulu." Toni masih berusaha meyakinkan Alan.
"Maaf Ton... Keputusanku final. Aku ingin membalas dendamku dan dendam warga desa dengan tanganku sendiri." Alan pun pergi untuk kuliah.
Toni hanya bisa menghela nafas panjang dengan keputusan Alan. Tidak dia sangka Alan akan sangat keras kepala.
Alan mendengarkan penjelasan dari dosen dengan seksama. Semangatnya sedang berapi api karena mendengar perkataan Toni tentang Sunflower guild.
"Aku sekarang harus meningkatkan kemampuanku di dua dunia. Akan ku pastikan kehancuran Sunflower."
Tidak terasa hari menjelang sore. Semua kelas kuliah Alan pun selesai. Alan berencana akan pergi ke dojo. Dua hari tanpa henti bermain di New World benar benar menekan pikirannya. Dia perlu untuk merefresh pikirannya.
Sesampainya di dojo Alan melihat Toni sedang mengobrol bertiga dengan May dan Andre di bangku depan dojo. Entah apa yang sedang bicarakan. Mungkin masalah hubungan Toni dengan May.
"Sore semua..." Sapa Alan pada ketiganya.
"Ah... Alan... Ayo sini ikut duduk. Habis kuliah kamu?" Tanya andre.
"Iya Pak... Apakah saya mengganggu?" Tanya Alan sambil melirik ke Toni. Toni yang merasa mendapat isyarat dari Alan hanya menggelengkan kepala.
"Tidak... Tidak... Ayo sini duduk... mMy... Ambilkan lah minum untuk kita..." Kata Andre.
Alan pun ikut duduk, sedangkan May masuk ke dalam untuk mengambil minuman.
"Ton... Aku dengar keluargamu membuka investasi ke guild di sebuah game? Benarkah itu?" Tanya Andre tiba tiba.
Toni dan alan langsung saling berpandangan. informasi mengenai Keluarga Toni berinvestasi ke guild Supernova baru diketahui oleh beberapa orang. Mereka berdua bingung bagaimana Pak Andre bisa langsung tahu.
"Benar Pak Andre... Bagaimana Pak Andre bisa tahu? Padahal itu belum sampai 2 hari yang lalu." Kata Toni dengan tenang. Dia ingin menggali informasi lebih tentang darimana Andre bisa tahu akan hal ini.
"Hahaha.... Tidak penting aku tahu darimana. yang terpenting. Apakah bisa dojo ini bekerja sama dengan guild keluargamu?"
"Ahh... Maaf Pak Andre... Untuk urusan guild keluarga saya tidak terlalu ikut campur. Jadi saya tidak bisa memutuskan. Tapi... " Toni beralasan agar dia bisa mencari tahu darimana sumber informasi Andre.
"Tapi apa?"
"Mungkin saya bisa membantu mengajukan proposal ke keluarga saya jika Pak Andre memberi tahu saya darimana Pak andre mendapat informasi ini." Toni dengan tenangnya menjawab.
Toni takut jika di keluarganya ada seseorang yang ingin menjatuhkan keluarganya. Itu sebabnya dia harus tahu darimana Andre mendapat informasi ini.
"Oohhh... Baiklah... Tapi kalian janji jangan beritahu May tentang hal ini." Andre langsung memasang wajah serius.
"Kami janji." Alan dan Toni serempak.
"Dari lokalisasi. Kalian tahu? Wanita wanita disana adalah sumber informasi yang selalu dapat dipercaya."
__ADS_1
"Lokalisasi?" Alan dan Toni langsung serempak. Mereka tidak menduga Andre akan pergi ketempat seperti itu.
"Sssttt.... Nanti May dengar." Kata Andre dengan pelan. Takut May mengetahui kalau ayahnya sering pergi ketempat lokalisasi.
"Tidak ku sangka... Bapak akan seperti itu." Kata Toni dengan senyum liciknya.
Andre merasa dia telah melakukan kesalahan fatal dengan memberitahu Alan dan Toni tentang sumber informasinya.
"Tapi tenang... Rahasia bapak aman bersama kami. Nengenai proposalnya saya akan bantu sebisa saya." Tambah toni.
"Terima kasih Ton. Kamu memang selalu bisa diandalkan." Andre menepuk pundak Toni.
May pun datang membawakan minuman. Melihat Andre dan Toni bisa begitu akur, May sangat senang. Paling tidak hubungannya dengan Toni mendapat respon baik dari ayahnya. Tinggal dari Keluarga Toni yang masih menjadi tanda tanya.
###
"Sudah siap Clara?" Tanya Alan yang sedang menunggu di depan rumah Clara.
Clara hanya terdiam dengan pertanyaan Alan. Sekarang dia dihadapi keadaan dimana dia akan meninggalkan rumahnya. Rumah dimana dia dilahirkan, dibesarkan sampai sekarang.
Alan yang mengerti akan perasaan Clara menghampirinya. "Tenang... Suatu saat kita pasti akan kembali kesini." Kata Alan mencoba menenangkan Clara yang sedang dihantui perasaan gelisah.
"Hah.... Clara siap kak." Dengan menghela nafas panjang Clara memantapkan hatinya untuk meninggalkan rumahnya.
"Lebih baik kita berpamitan ke Kepala Desa. Agar rumahmu bisa dirawat. Siapa tahu malah bisa berguna bagi warga sini." Ucapan Alan bukan tanpa alasan. Mengingat didalam rumah Clara banyak terdapat buku buku tentang Alchemi. Mungkin ada warga yang berminat untuk menjaganya.
"Baik kak... Kakek juga pasti akan setuju dengan hal ini."
Alan hanya bisa tersenyum bangga pada Clara. Cara berpikirnya sudah berkembang karena kematian kakeknya.
"Pak Kepala Desa Mesta... Saya mohon bantuan untuk merawat bekas rumah Vincent. Saya dan Clara akan pergi berpetualang. Mungkin rumah itu bisa bermanfaat untuk warga sini."
"Tuan AS... Terima kasih. Saya pastikan rumah itu akan bermanfaat. Apakah saya boleh menitipkan sesuatu kepada anda?"
[Player mendapat tawaran quest dari kepala desa. Terima?
Reward : Unknown
ya/tidak?]
Alan sempat terkejut. Tapi dengan cepat menerima questnya.
"Saya ingin menitipkan surat permohonan perlindungan ke Raja Kerajaan South Mountain. Karena jarak dan bahayanya, tidak ada warga sini yang berani untuk membawa surat ini ke kerajaan."
"Terima kasih banyak Tuan AS. Maaf telah merepotkan."
Alan dan Clara pun berangkat dari desa Middlemist. Kepala desa hanya mengantarkan kepergian mereka sampai ke batas desa.
Alan dan Clara mulai memasuki hutan. Alan meminta kepada Clara untuk selalu berhati hati. Meskipun Alan juga bisa melacak panas di sekitar 100 meter darinya. Tapi tentu saja Alan tidak ingin ceroboh.
Mengingat hutan ini benar benar masih perawan. Tidak ada player lain atau pasukan Kerajaan yang pernah melewati hutan ini. Jadi jumlah monster di hutan ini pastilah banyak.
Benar saja. Tidak sampai 30 menit mereka berjalan di hutan. Mereka mendapati sekumpulan Iron Monkey yang dulu Alan temui.
"Ssst... Clara... Diamlah. Kita ambil jalan memutar. Kita tidak akan bisa melawan dengan jumlah mereka."
Clara pun hanya mengangguk. Menuruti perintah Alan. Meskipun monyet itu tampak lemah. Tapi dengan jumlah yang banyak. Akan sangat merepotkan melawannya.
Alan dan Clara pun berhasil menghindari sekumpulan Iron Monkey. Mereka berdua tetap waspada dengan bahaya yang ada.
Srek... srek...
Suara semak semak yang bergoyang. Alan yang mendengar akan suara tersebut mencoba melacak panas di sekitarnya.
"Tidak ada apa apa. Mungkin hanya angin." Kata Alan.
Clara pun menuruti Alan dan melanjutkan berjalan. Tapi dari asal semak semak tersebut sepasang mata merah sedang mengintai Alan dan clara. Menunggu Alan dan Clara lengah untuk menyergap.
Jalan di dalam hutan mulai menanjak. Menandakan mereka akan mulai memasuki pegunungan yang membatasi Middlemist dengan dunia luar. Dengan jalan yang sedikit menanjak konsentrasi Alan dan Clara sedikit terbagi.
Slap...
Sebuah bayangan hitam terlihat bergerak dari semak satu ke semak yang lain. Alan yang melihatnya langsung memberi aba aba ke Clara.
"Clara... Hati hati... Akan ada yang datang. Jangan lengah tapi juga jangan terlalu terlihat waspada." Alan menilai lawannya kali ini bisa menghilangkan jejak. Karena bisa lepas dari pelacak panas alan.
Crash...
Tangan kanan Clara langsung berdarah. Menandakan Clara mendapatkan serangan yang tiba tiba. Tapi yang Alan dan Clara lihat hanyalah sebuah bayangan hitam.
"Clara... Kau tidak apa apa? "
"Ya kak... Hanya luka ringan." Untung saja tangan Clara terlindungi armor.
__ADS_1
"Dengar... Kita tidak bisa melacak musuh. Salah satu cara adalah menariknya keluar. Saat aku beri aba aba, kamu harus tahan nafas dan tutup matamu."
"Tapi kak... " Clara tidak mengerti dengan perkataan Alan. Menahan nafas mungkin masih baik baik saja. Tapi menutup mata dihadapan lawan yang sangat cepat? Cari mati namanya.
"Percaya saja padaku." Alan pun langsung meloncat ke atas pohon. Membuat jarak dengan Clara.
Clara yang merasa di tinggal Alan pun berteriak. "Kakak... Kamu tega meninggalkan aku?" Suara Clara seperti mau menangis karena di tinggal Alan sendiri di tengah hutan.
Clara berlari mengejar Alan yang melompat ke pohon satu ke pohon yang lain. Saat Clara berlari sosok bayangan itu muncul lagi menyerang Clara.
clang...
Clara sempat melihat sosok bayangan yang menyerang Clara dari sisi kiri. Dan kebetulan Clara memegang perisainya di tangan kiri. Clara pun bisa menahan serangan bayangan tersebut.
[Shadow Panter, level 30, special elite
Hp 30000]
'Joker.... Apa special skill dari monster itu?'
[Shadow Panter bisa menyelinap kedalam bayangan AS. Membuatnya bisa menghilangkan jejak.]
'Kelemahannya? Berapa presentasi kemenanganku?
[Unsur cahaya akan memberikan damage dua kali lipat. Shadow panter sangat mengandalkan kecepatan. Jika bisa menghentikan pergerakan Shadow Panter bisa di atasi. Presentasi kemenangan 55%.]
'Bagus...'
"Sekarang Clara. "
Alan melihat Clara bisa menahan serangan Shadow Panter. Alan tidak mau menyianyiakan kesempatan ini.
"Black Breath!"
Sekumpulan asap hitam beracun langsung menyembur dari mulut Alan. Mengarah ke aclara dan Shadow Panter. Shadow Panter yang tidak menduga dengan serangan Alan dari arah belakangnya akhirnya terjebak di dalam asap hitam beracun.
Ggggrrrr....
Suara Shadow Panter yang tidak bisa bergerak karena terkena stun. Alan tidak berlama lama.
"Critical Wind Spear "
Tombak angin langsung meluncur ke tengah asap hitam.
cring...
"Apa? Dia tidak mati?" Alan terkejut Shadow Panter bisa mendeteksi serangan Alan dalam kondisi seperti itu.
"Clara... Berjalanlah mundur. Kalau bisa agak cepat." Alan memberi aba aba pada Clara agar keluar dari asap hitam.
Kelemahan dari Black Breath adalah tidak memandang lawan ataupun kawan. Asal kan menghirup racun atau racun masuk ke tubuh lewat lubang tubuh maka akan terkena stun dan teracuni.
[Deff dari Shadow Panter lebih tinggi dari Str mu. Jadi Critical Wind spearmu bisa di tangkis.]
Alan sudah menduganya. Penjelasan joker membuatnya jadi lebih jelas.
Alan langsung berlari mendekati kabut asap dengan memegang belatinya.
"Shadow stab!"
Alan langsung muncul di belakang Shadow Panter. Sebuah tusukan menembus tubuh Shadow Panter. Critical Wind Soear akan mengurangi Deff musuh sebesar 50% jika berhasil di tangkis. Dengan sebuah tusukan Shadow Panter itu terhuyung huyung.
"Masih belum mati?" Alan terheran.
Dengan mengepalkan gauntletnya, sepasang cakar keluar dari ujung tangan Alan.
"Canon Claw!"
Inilah serangan dengan damage terkuat Alan. Jika ini tidak bisa membunuh Shadow Panter. maka pilihan terakhir adalah lari.
Bang....
Tubuh Shadow Panter langsung terbang sejauh 20 meter. Seketika notifikasi terdengar.
[Selamat player berhasil membunuh Shadow Panter.
Mendapatkan exp 8000 poin.
Selisih 12 level mendapatkan 1100% exp. ]
Clara tidak termasuk dari player. Jadi Clara tidak membutuhkan exp untuk berkembang. Yang Clara butuhkan adalah pengalaman bertarung. Jadi seluruh exp menjadi milik Alan.
"Akhirnya..." Alan yang telah mengeluarkan semua skillnya bisa bernafas lega setelah mendapat notifikasi.
__ADS_1