
Mana Stone... Mana Stone merupakan sebuah batu yang mengandung mana sendiri. Mana Stone dapat digunakan oleh para player untuk meningkatkan jumlah kapasitas mana yang mereka miliki, ataupun meregenerasi mana player yang berkurang. Tidak hanya itu, Mana Stone juga dapat digunakan sebagai bahan pelengkap pembuatan senjata. Mana Stone akan semakin memperkuat senjata yang dibuat, karena kandungan Mana yang terkandung di dalamnya.
Karena kegunaannya yang begitu beragam, Mana Stone menjadi perebutan banyak guild. Para guild saling berlomba lomba untuk mengumpulkan Mana Stone dalam jumlah yang banyak. Selain untuk membuat senjata, Mana Stone juga bisa jadi kunci kemenangan ketika terjadi sebuah peperangan.
Mana sudah pasti berkurang ketika player menggunakan skill mereka, untuk itulah... Menambah jumlah mana yang mereka miliki tentu sangat membantu para player ketika bertarung.
Memang untuk menambah mana, para player bisa menggunakan Mana Regeneration potion, tapi tentu mana regeneration potion saja tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan setiap player di dalam sebuah guild. Mengingat Alchemist player begitu susah untuk didapatkan, kalau pun dapat... Mereka pasti akan membayar tinggi untuk jasa mereka.
Mana Stone menjadi satu solusi tersendiri bagi para guild untuk masalah tersebut. Namun satu lagi... Tambang Mana Stone lebih langka daripada player Alchemist. Selama Dua tahun New World berjalan, baru satu tambang Mana Stone yang sudah ditemukan. Itupun berada di Kerajaan North Castle. Sebuah Kerajaan yang terletak di ujung utara Benua Midgard.
Kerajaan North Castle sendiri merasa tidak mampu untuk mengolah tambang Mana Stone. Ekstrimnya cuaca, ditambah dengan medan tempuh yang begitu susah untuk dicapai. Membuat Kerajaan North Castle terus kehilangan prajurit dan warganya untuk memanen tambang Mana Stone. Kerajaan North Castle akhirnya angkat tangan dalam mengelola tambang Mana Stone. Membuat tambang Mana Stone terbengkalai dan tidak berpemilik.
Para Guild yang ada di Kerajaan North Castle tentu menggunakan kesempatan itu dengan sangat baik. Mereka saling berebut untuk bisa menguasai tambang Mana Stone. Meskipun kendala cuaca dan medan yang begitu ekstrim harus mereka hadapi, mereka tentu tidak memperdulikannya. Bayangan mendapatkan keuntungan koin emas dalam jumlah ribuan bahkan jutaan menjadi iming iming tersendiri.
Para Guild tidak terlalu memikirkan akan adanya jatuh korban ketika mereka harus memanen tambang, para player yang menjadi anggota guild memiliki jiwa abadi. Yang tentunya akan hidup kembali setelah mereka mati, meskipun mereka harus kehilangan level dan peralatan. Namun asalkan mendapatkan bayaran yang setimpal dari guild, mereka tentu tidak keberatan sama sekali.
Perebutan tambang Mana Stone sempat menggemparkan New World, berita akan tambang Mana Stone sempat menjadi trending highlight di channel New World. Namun pada akhirnya, sebuah Guild raksasa bernama Polar berhasil menguasai tambang Mana Stone.
Kebesaran nama Polar dan perusahaan yang berdiri di belakangnya tentu membuat semua guild yang mencoba merebut tambang Mana Stone berpikir ulang. Mereka mungkin bisa merebutnya satu kali, tapi mereka tidak yakin jika bisa mempertahankannya lagi jika Polar Guild menginginkan untuk merebutnya kembali.
Untuk itulah... Kini Polar Guild menjadi satu satunya guild yang bisa memproduksi Mana Stone. Membuat mereka bisa memonopoli perdagangan Mana Stone dengan leluasa.
Namun para guild yang ada di New World tidak kehilangan akal. Polar Guild boleh saja menguasai tambang Mana Stone, tapi bagaimana dengan jalur perdagangan? Para Guild lain tentu tahu, jika Polar Guild tidak akan mau rela membayar biaya transportasi yang mahal untuk menteleportasikan paket mereka. Polar Guild tentu akan lebih memilih mengirim paket Mana Stone menggunakan jalur darat. Walaupun penuh resiko, namun keuntungan yang didapat akan jauh lebih besar. Mengingat mahalnya biaya transportasi.
Polar Guild tentu tidak akan bisa melindungi semua Mana Stone yang sedang dikirim keluar Kerajaan North Castle. Dan dari sanalah para guild lain menggunakan kesempatan untuk bisa mendapatkan Mana Stone tanpa harus membayar pada Polar Guild, melainkan dengan jalur perampasan.
Polar Guild juga bukan tanpa persiapan, terlalu seringnya kehilangan paket Mana Stone yang mereka kirimkan, membuat mereka sadar jika mustahil bagi mereka untuk bisa melindungi semua paket kiriman mereka dengan kekuatan Guild sendiri. Untuk itu mereka menyewa sebuah kelompok pembunuh bayaran bernama Death Mask untuk selalu mengikuti setiap paket yang mereka kirimkan. Guild lain mungkin bisa merampok barang kiriman Polar Guild, namun tentu Polar Guild langsung akan membalas perbuatan guild yang melakukan hal tersebut.
Dengan membunuh para petinggi Guild yang merampas Mana Stone hingga puluhan kali, Polar Guild memberikan suatu pelajaran berharga bagi guild guild yang mencoba merampas paket Mana Stone mereka. Mereka bisa saja merampas Mana Stone, tapi tentu mereka harus membayarnya. Jika tidak bisa membayar dengan uang, maka bayarlah dengan nyawa. Begitulah semboyan Polar Guild saat ini dalam masalah Mana Stone.
Langkah yang diambil oleh Polar Guild nyatanya cukup efektif, para guild berpikir ulang untuk merampok paket Mana Stone yang dikirim oleh Polar Guild. Namun ada satu Guild yang terus bersikeras untuk terus merampok Mana Stone, mereka adalah Guild Rock and Play (RnP). Sebuah guild kelas menengah yang sedang berkembang menjadi guild kelas atas.
RnP bukan tanpa alasan untuk melakukan hal tersebut. Guild Master mereka yang memang memiliki kekuatan hebat menjadi penyebab utamanya. Guild Master mereka beranggapan jika tidak ada satu pun player di New World yang mampu menandingi dirinya.
Setelah peperangan dengan guild Triangle Death, RnP memang mengalami perkembangan yang begitu pesat. Mereka terus berkembang dari yang tadinya hanya guild kecil menjadi sebuah guild yang selalu memenangkan peperangan dengan guild lainnya.
Perkembangan yang begitu pesat itulah yang menyebabkan RnP membutuhkan Mana Stone dalam jumlah banyak. Mereka harus terus mencari sumber daya untuk selalu memenuhi kebutuhan player playernya. Membuat RnP menghalalkan segala cara untuk mendapatkan Mana Stone.
###
"Kapten... Kita sudah memasuki wilayah Kerajaan Demon God." Salah satu player pengawal rombongan kuda yang membawa Mana Stone memperingatkan pimpinannya.
"Aku tahu... Perketat penjagaan! Jangan sampai lengah akan adanya serangan dadakan!" Perintah Kapten dari rombongan tersebut, yang bernama Hoster.
__ADS_1
Perbatasan antara Kerajaan Demon God dengan Kerajaan North Castle adalah titik terrawan yang harus mereka lalui. Berulang kali Guild RnP berhasil merampok dan merebut paket Mana Stone yang sedang dikirim di perbatasan yang sedang mereka lalui tersebut.
Dan seperti yang Hoster takutkan, puluhan anak panah langsung terbang ke arah rombongan kereta kuda. "Berlindung! Lindungi para kuda!" Teriak Hoster yang melihat puluhan anak panah diselimuti api mengarah ke kereta kuda. Dirinya tahu betul, jika para perampok tersebut mengincar kuda mereka. Membuat Hoster dan anak buahnya tidak akan memiliki peluang untuk kabur dari penyergapan.
Thang...
Thang...
Tiga orang penyihir di dalam kelompok Hoster langsung membuat perisai pelindung. Melindungi kuda dan semua orang yang ada di dalam rombongan dari anak panah yang mengarah mereka. Tidak ada satupun dari puluhan anak panah tersebut yang berhasil menembus perisai pelindung. Namun kerusakan yang diderita perisai pelindung cukup besar, muncul retakan retakan di beberapa titik.
"Bertahan!" Teriak Hoster pada penyihir kelompoknya, dirinya yang seorang swordman hanya bisa berharap jika penyihir kelompoknya mampu menahan gempuran anak panah berselimut api yang mengincar mereka.
Namun harapan Hoster nampaknya memang hanya sebuah harapan. Semua orang di rombongan Hoster hanya terfokus pada serangan anak panah dari udara. Mereka tidak sadar, jika dibawah kaki mereka telah menunggu sesuatu yang lebih mengerikan.
Duar...
Bagaikan terbelah, tanah tempat Hoster dan anak buahnya berpijak terpental ke atas. Seperti selayaknya sebuah bola yang ditendang ke atas. Hoster beserta anak buahnya, dan kereta kuda yang mengangkut Mana Stone terlempar puluhan meter ke udara. Membuat Mana Stone yang tadinya tertata rapi di dalam kereta kuda, langsung berhamburan ke atas tanah.
"Sial... Apa itu tadi?" Hoster mencoba untuk bangkit. Meskipun dirinya tidak terbunuh, namun tetap saja, terpental ke atas setinggi puluhan meter dan harus terjatuh tanpa persiapan memeningkan kepalanya sejenak.
###
"Eye! Kirim Thousand Arrow!" Perintah Rhodes pada Wolf Eye. Dirinya tidak ingin adanya pertarungan yang berlarut larut dalam penyergapan kali ini.
"Baik Kapten!" Wolf Eye membuka sebuah gulungan. Dengan membacakan mantra yang tertulis di dalam gulungan tersebut, puluhan panah berselimut api langsung menuju ke arah rombongan Hoster yang sedang mendekat.
Thang...
Thang...
"Marking Explosion!" Rhodes menancapkan kedua tangannya di atas tanah. Sebuah energi kecoklatan langsung keluar dari kedua tangannya, mengarah ke rombongan Hoster yang terlindungi perisai pelindung.
Marking Explosion adalah skill andalan Rhodes. Rhodes bisa meninggalkan sebuah tanda dan meledakkannya. Dirinya sudah meninggalkan tanda di jalan yang akan dilewati Hoster dan rombongannya, hanya perlu satu sentuhan. Dan tanda yang sudah Rhodes tanam akan meledak dengan sendirinya.
Duar...
Rhodes tersenyum puas. Melihat semua rombongan Hoster tergeletak di atas tanah. Walaupun tidak bisa membunuh semua rombongan Hoster secara langsung, namun paling tidak dirinya dan anak buahnya bisa kembali melancarkan serangan lanjutan.
"Habisi mereka semua!" Teriak Rhodes, dirinya pun mengambil pedang besarnya untuk segera menghabisi Hoster beserta anak buahnya.
"Ah... Sial... Kenapa harus dia..." Hoster tentu tahu siapa sosok pembawa pedang besar yang sedang berlari ke arahnya tersebut. Salah satu finalis 32 besar dari turnamen New World yang pertama. Rhodes si pembelah gunung, begitulah julukan Rhodes.
Hoster tahu jika dirinya tidak akan bisa menang untuk menghadapai Rhodes, walaupun mereka berdua sama sama berlevel 100, namun atribut yang dimiliki Rhodes lebih tinggi dari dirinya.
__ADS_1
Hoster pun mengeluarkan sebuah bola crystal berwarna merah dari tas penyimpanannya. Bola crystal yang dapat dirinya gunakan untuk memanggil bala bantuan. Hoster tidak berlama lama, dirinya langsung memecahkan bola crystal tersebut. Agar bala bantuan segera datang membantu dirinya.
Sekarang yang harus dirinya lakukan hanyalah berjuang sekuat tenaga, menahan Rhodes dan anak buahnya dari mendapatkan Mana Stone yang dirinya bawa.
"Pergilah! Dan akan kubiarkan kalian hidup!" Teriak Rhodes dengan arogansinya. Tujuan dirinya hanyalah untuk mendapatkan Mana Stone, jika dirinya bisa mendapatkannya tanpa harus bertarung. Maka itu jauh lebih baik dari pada harus membasahi pedang besarnya dengan darah.
"Cuih... Lebih baik aku mati disini!" Hoster Mengumpat, dirinya menggenggam erat pedang panjangnya untuk bersiap menyambut serangan Rhodes.
"Kalau begitu matilah kalian!" Rhodes sekali lagi menempelkan tangannya di atas tanah. Membuat tanah yang menjadi pijakan kaki Hoster dan yang lainnya meledak sekali lagi.
"Hati ha..." Ucapan Hoster belum selesai. Namun ledakan sudah terjadi di bawah kakinya. Sekali lagi dirinya dan anak buahnya harus terpental ke atas dan mendarat dengan penuh luka.
Berbeda dengan ledakan yang sebelumnya, ledakan yang kedua jauh lebih terasa kuatnya daripada ledakan yang pertama. HP Hoster pun sampai turun lebih dari setengah bar. Tidak sedikit anak buahnya yang juga langsung mati karena terkena efek ledakan dari Rhodes.
"Kamu yang telah memilih ini..." Pedang besar Rhodes sudah berhenti di leher Hoster yang masih tergeletak di atas tanah. Membuat Hoster tidak berani untuk mengambil gerakan apapun.
"Kau... Death Mask pasti akan mengejarmu!" Hoster mencoba memperingatkan Rhodes, dirinya sudah memanggil bala bantuan dari Death Mask. Dirinya sangat yakin jika anggota Death Mask akan segera tiba dan bisa melacak Rhodes beserta anak buahnya nantinya.
"Death Mask? Aduh... Aduh... Aku takut..." Rhodes bergaya selayaknya anak kecil. Mengejek Hoster yang memperingatkan dirinya akan bahaya dari Death Mask.
"Death Mask hanyalah sekumpulan sampah pengecut!" Rhodes tidak berlama lama lagi. Dirinya segera memenggal kepala Hoster, mengakhiri salah satu nyawa dari sekian banyak nyawa yang dimiliki oleh Hoster. Wajah kesal Hoster pun bisa terlihat dari kepalanya yang terguling terpisah dari badannya.
"Bereskan semua! Kita segera pergi dari sini!" Rhodes memberi tanda kepada anak buahnya. Meskipun dirinya tidak takut akan kedatangan anggota Death Mask, namun akan lebih bijak jika dirinya bisa menghindari pertarungan.
Namun... Saat anak buah Rhodes mengemasi Mana Stone yang berserakan, mereka dikejutkan oleh dua orang yang muncul tiba tiba di dekat mereka.
Dua orang yang memakai jubah hitam lengkap dengan penutup kepalanya. Tidak ada informasi sistem apapun yang bisa anak buah Rhodes lihat dari kedua orang tersebut. Menandakan mereka tidak bisa memprediksi apakah sosok dua orang tersebut adalah player maupun NPC.
"Bisa kalian beri tahu ini dimana?" Sebuah pertanyaan bodoh keluar dari salah satu sosok berjubah hitam tersebut. Pertanyaan yang tentunya membuat semua orang yang ada di tempat tersebut tertawa terbahak bahak.
"Hei orang tersesat... Aku akan menjawab pertanyaan dirimu, tapi dengan apa kamu bisa membayar jawabanku?" Salah satu anak buah Rhodes mencoba untuk memeras kedua sosok tersebut. Dengan bergaya sok kenal, anak buah Rhodes tersebut memegang pundak salah satu sosok berjubah hitam.
"Oh... Tidak perlu... aku sudah mengetahui jawabannya." Sosok tersebut menegakkan pandangannya, membuat wajah dan irish mata merah menyalanya dapat dilihat dengan jelas. Senyum licik juga terpancar di wajah sosok tersebut, dua pasang taring pun menyembul di ujung bibir sosok tersebut.
Dari sekali melihat, anak buah Rhode bisa mengetahui jika sosok yang ada di hadapannya merupakan bangsa Demon, sebuah ras yang tidak bisa dipilih oleh para player.
"Tolong jangan lama lama... Kita tidak punya banyak waktu..." Kata sosok berjubah hitam yang satu lagi. Menandakan dirinya tidak keberatan dengan apa yang akan temannya tersebut lakukan.
"Baik Tuan... Ini tidak akan lama..." Jilatan lidah keluar dari mulut Demon tersebut, menandakan dirinya sudah tidak sabar untuk bisa meminum darah dari para player yang ada di hadapannya.
"Aaa..." Jeritan anak buah Rhodes membuat Rhodes mengalihkan pandangannya. Dirinya terdiam terpaku, melihat puluhan anak buahnya yang baru saja dirinya tinggal beberapa menit sudah terbujur lemas di atas tanah.
"Siapa kalian?" Teriak Rhodes yang tidak percaya dengan apa yang dirinya lihat. Namun pertanyaannya nampaknya percuma, sosok yang menghabisi anak buahnya tersebut terus menghabisi anak buahnya, dan yang terakhir menghabisi dirinya dengan begitu cepat. Tanpa sempat bagi Rhodes untuk bisa mendapatkan jawaban dari pertanyaannya.
__ADS_1
"Ahh... Terima kasih Tuan..."
"Iiihhh... Terserah kamu saja Flyin..." Alan tidak bisa untuk tidak merasa jijik, melihat Flyin meminum darah para player langsung dari tubuh mereka. Alan pun lebih memilih untuk mengumpulkan Mana Stone yang berceceran di atas lantai, daripada harus melihat Flyin yang dengan rakusnya menghisap darah dari jasad jasad para player yang dibunuh Flyin.