New World

New World
Kota Morelia 3


__ADS_3

"Berani beraninya kamu..." Selene begitu marah kepada Flyin. Meskipun dirinya tidak terluka setelah terjatuh dari punggung Naga Yin, namun tetap saja... Dirinya begitu kesal ditarik paksa oleh Flyin hingga terjatuh dari tunggangannya. Jika bukan karena cambuknya yang tepat waktu melilit sebuah tiang di salah satu bangunan, mungkin dirinya sudah terluka berat saat ini.


Berbeda dengan Selene yang sama sekali tidak terluka, Flyin tidak memiliki cambuk yang bisa dirinya gunakan untuk memperhalus pendaratannya. Dirinya harus menerima tangan kanannya yang patah akibat terjatuh dari ketinggian. Flyin berusaha bangkit dengan susah payah di tengah reruntuhan bangunan yang menjadi landasan dirinya mendarat.


"Aku tidak akan membiarkanmu mati dengan mudah!" Selene mengayunkan cambuknya satu kali di udara. Walaupun cambuknya tidak mengenai tanah, tapi tanah yang ada di sekitar Selene terdapat bekas sayatan. Seakan akan cambuknya tadi telah menyayat tanah tersebut.


"Ah... Sial... Senjatanya ternyata cukup hebat." Flyin tentu melihat bekas sayatan yang ada di tanah tersebut. Telapak tangan dari tangan kanannya yang patah pun tidak luput dari luka sayatan. Luka yang dirinya dapatkan ketika menangkap cambuk Selene.


Slash...


Duar...


Dengan satu kali ayunan cambuk, bebatuan reruntuhan tempat Flyin berdiri pun terbelah menjadi beberapa batu kecil. Untung saja Flyin dengan sigap menghindari serangan Selene. Kalau saja tidak... Mungkin tubuhnya juga ikut terbelah seperti bebatuan di tempatnya berdiri tadi.


"Akan aku pastikan kamu menikmati cara kematianmu!" Selene yang melihat Flyin menghindari lesatan cambuknya kembali menyerang Flyin. Berkali kali dirinya mengayunkan cambuknya ke arah Flyin. Memotong motong apapun yang terkena hempasan angin dari cambuknya.


Namun kemampuan special Flyin benar benar berguna dalam menghadapi serangan cambuk Selene. Dengan terus membaca isi pikiran Selene, Flyin selalu bisa mengetahui arah serangan Selene. Menghindari serangan Selene bahkan sebelum Selene mengayunkan cambuknya.


"Dasar tikus licin!" Selene sedikit mengumpat, mendapati Flyin yang terus terusan bisa menghindari serangannya dengan mudah.


Flyin tahu betul jika dirinya tidak akan bisa menang untuk menghadapi Selene. Yang dirinya inginkan hanyalah mengulur waktu sebanyak mungkin. Jangan sampai Selene mengalahkannya dengan mudah dan kembali ke Istana Marry. Akan sangat berbahaya bagi Alan jika Selene sampai kembali ke Istana Marry sebelum Alan menyelesaikan bagiannya.


Merasa tidak bisa memberikan kematian yang menyedihkan bagi Flyin. Selene pun juga tidak ingin terlalu lama bertarung dengan Flyin. Dirinya tahu jika semakin lama dirinya menghabiskan waktu bertarung dengan Flyin, semakin lama pula dirinya akan terpisah dari Marry. Absolute Love benar benar telah membutakannya, hingga dirinya tidak tahan untuk terlalu lama tidak bersama Marry.


"Six Head!"


Selene merentangkan kedua tangannya, dengan masing masing tangan memegang ujung cambuknya. Dengan satu kalimat dari Selene, tubuh Selene tertutupi sebuah aura keunguan. Aura keunguan tersebut lalu menyebar ke samping samping Selene, dengan perlahan membentuk sebuah tubuh wanita.


"Apa ini nyata?" Flyin tersedak nafasnya sendiri. Melihat di hadapannya kini berdiri 7 Demon wanita yang perawakannya benar benar mirip dengan Selene. Menghadapai Selene satu orang saja dirinya sudah begitu kesulitan. Apalagi kini harus menghadapi Selene beserta enam tubuh duplikatnya.


"Tenang... Aku sudah berubah pikiran... Aku tidak ingin memperlama kematianmu... Akan aku buat ini menjadi lebih cepat!" Selene beserta enam duplikat tubuhnya menyerang Flyin secara bersamaan. Satu persatu mengayunkan cambuknya ke arah Flyin, mencoba menyayat Flyin menjadi potongan potongan kecil.


Flyin mencoba menghindari, namun apa daya? Langkahnya untuk menghindar tertutup oleh ayunan cambuk dari duplikat tubuh Selene. Dengan terpaksa dirinya harus menangkis salah satu ayunan cambuk duplikat Selene dengan tangan kirinya.


Slash...


Satu kali ayunan dari cambuk Selene hampir memotong tangan Flyin, kulit dan daging yang ada di tangan Flyin resmi terpotong, memperlihatkan tulang putih yang menjadi penopang tangan kirinya. Flyin terjatuh, terjerembab di atas tanah, meratapi rasa sakit yang dirinya rasakan di kedua tangannya.


Tangan kanannya telah patah, sedangkan tangan kirinya tersayat begitu dalam. Jika bukan karena Flyin yang sudah terbiasa menghadapi rasa sakit, mungkin dirinya kini sudah menjerit begitu histeris.

__ADS_1


Melihat musuhnya sudah tidak bisa melawan lagi, Selene tidak ingin memperlama pertarungan. Bersamaan dengan enam duplikatnya, Selene melayangkan cambukan ke arah Flyin.


Thang...


Thang...


Setiap cambukan Selene dan duplikatnya berhasil ditepis oleh sosok yang baru saja muncul. Menyelamatkan nyawa Flyin yang telah berada di ujung tanduk.


"Kenapa kamu tidak mencari lawan yang seimbang denganmu?" Sindir sosok yang baru saja muncul tersebut.


Melihat siapa yang datang, Flyin begitu lega. Tadinya dirinya mengira nyawanya sudah tidak tertolong lagi. Namun kini dirinya merasa ada sebuah harapan baru.


"Terima kasih Tuan..." Senyum Flyin yang melihat Azazel berdiri dengan gagah di hadapannya.


"Kamu bisa bangun? Serahkan dia padaku! Minum ini dan bantulah bocah itu! Aku akan menyusulmu nanti!" Azazel melemparkan sebuah botol dengan cairan hijau di dalamnya.


"Baik Tuan..." Flyin segera meminum botol cairan berisi cairan hijau tersebut. Meskipun dengan susah payah dirinya meminumnya, namun dirinya berhasil menghabiskannya.


Luka luka yang diderita Flyin sembuh seketika. Jujur saja... Flyin baru kali ini merasakan penyembuhan luka yang begitu instan. Bahkan Heal potion buatan Alan yang pernah dirinya minum pun tidak sehebat cairan yang diberikan oleh Azazel dalam kasus penyembuhan.


Flyin tidak membuang waktunya terlalu lama. Merasa telah pulih dirinya segera bergegas menuju ke Istana Marry untuk membantu Alan.


"Lawanmu ada disini..." Azazel mengeluarkan gelombang energi kecoklatan. Membuat Duplikat Selene yang berusaha mengejar Flyin langsung terpental beberapa meter ke belakang.


Selene hanya bisa menahan geram. Dirinya terpaksa membiarkan Flyin meninggalkan tempat tersebut, dan harus menghadapi sang Fallen Angel yang pernah mengacaukan Dunia Abyss ketika pertama kali datang dahulu.


###


Kerjasama kelima High Demon yang baru saja muncul benar benar merepotkan Alan. Bahkan dengan bantuan Shadow Zonenya sekalipun, Alan harus dipaksa menahan beberapa serangan yang selalu mengincar titik butanya.


"Sial... Sepertinya aku masih harus terus belajar menggunakan Shadow Zone dengan benar." Alan menggigit giginya sendiri. Sembari menahan serangan tombak dari salah satu High Demon dengan Black Poiton Daggernya. Sedangkan The Forgotten Dagger, masih terus terbang sambil menebas para Demon yang ada di sekitar Alan.


Alan juga tidak luput mencoba menyerang salah satu High Demon menggunakan The Forgotten Dagger, Namun kerja sama yang apik antara masing masing High Demon selalu bisa mementahkan The Forgotten Dagger dengan sempurna. Apalagi keberadaan High Demon yang menggunakan busur di atas benteng. Demon Archer tersebut berlaku sebagai Crowd Control yang hebat. Dirinya bisa membatasi pergerakan Alan dan menangkis serangan The Forgotten Dagger yang mengincar rekan rekannya.


'Joker... Identifikasi setiap High Demon itu!'


[Scanning objek... Menganalisis data objek.]


[Berisha. Kekuatan special Electric Hand.]

__ADS_1


[Thorsen. Kekuatan special Double Wing.]


[Moroz. Kekuatan special Tripel speed.]


[Branco. Kekuatan special Body Shield.]


[Preus. Kekuatan special Sensory Eye.]


"Sensory Eye? Pantas saja..." Alan meneliti satu satu kekuatan special yang dimiliki oleh para High Demon tersebut. Kekuatan special sensory paling menarik perhatiannya. pantas saja jika pemanah yang berdiri di atas benteng tersebut bisa terus menangkis serangan The Forgotten Dagger dan menyulitkan pergerakan Alan. Semua karena kekuatan special yang dimiliki oleh pemanah tersebut.


"Aku harus menghabisinya terlebih dahulu." Gumam Alan di dalam hati sambil terus menangkis serangan tombak yang dilesatkan oleh Thorsen. Sepasang sayap kini telah menempel di punggung Thorsen, membuat pergerakan Thorsen jauh lebih cepat dari sebelumnya.


Namun langkah Alan untuk menyerang Preus terlebih dahulu sulit untuk dilakukan. Jangankan untuk menyerang Preus, untuk bertahan dari gempuran kelima High Demon saja Alan begitu kesulitan.


"Tidak ada cara lain. Sepertinya aku harus menggunakannya..." Alan yang merasa terdesak terpaksa harus menggunakan sebuah kemampuan dari Shadow Zone yang baru saja dirinya kuasai. Kemampuan itupun Alan ketahui setelah melihat Shadow Blood menggunakannya ketika menghilangkan efek Silent Wave. Padahal Alan berencana menggunakan kekuatan tersebut untuk menghadapi Marry. Namun kondisinya sekarang memaksa Alan untuk menggunakannya.


Alan menarik semua Shadow Zone untuk kembali ke dalam tubuhnya. Membuatnya berkumpul beberapa centimeter di sekitar tubuh Alan dengan kepekatan yang luar biasa pekat. Para High Demon dan para Demon yang melihat Alan menarik Shadow Zone tentu tahu jika Alan sedang menyiapkan sesuatu. Mereka berusaha menyerang Alan sebelum Alan menyelesaikan persiapannya.


"Beruntung kalian menjadi yang pertama untuk melihatku menggunakan ini." Langkah setiap Demon yang mencoba menghentikannya begitu terlambat.


"Real Counter!"


Wuing...


Dengan satu kalimat dari Alan, Shadow Zone yang sudah dirinya kumpulkan dan pekatkan di sekitar tubuhnya langsung menyebar ke segala penjuru. Melebihi batas maksimal dari yang pernah Alan keluarkan sebelumnya.


Para High Demon dan semua Demon yang ada pun merasakan efek perubahan dari Shadow Zone yang sekarang. Sayap yang dimiliki oleh Thorsen langsung menghilang. Kecepatan super cepat dari Moroz langsung seakan terhenti. Langkahnya kini bahkan jauh lebih lambat dari seekor kura kura. Petir petir kecil yang menyelimuti tangan Berisha pun menghilang. Pelindung yang melindungi Branco juga ikut lenyap.


Namun yang paling terkejut adalah Preus. Tadinya dirinya bisa melihat dengan jelas kemanapun arah serangan maupun langkah Alan dengan kedua matanya. Namun kini matanya seakan tidak bisa melihat apapun. Pandangannya gelap, seakan akan dirinya kini telah buta seutuhnya.


"Dengan ini akan mudah..."


Alan menarik kembali The Forgotten Dagger yang sedang terbang. Dengan mengaktifkan Shadow Stabnya, Alan menghabisi Preus terlebih dahulu. Akan sangat menyulitkan bagi Alan jika efek dari Real Counter telah hilang, dan Preus masih hidup.


Keempat High Demon yang tersisa seakan mematung. Melihat tubuh Preus terjatuh dari atas benteng dengan kepala yang telah terputus dari tubuhnya.


Ketakutan... Itulah yang mereka rasakan saat ini. Perasaan yang belum pernah mereka semua rasakan, bahkan ketika di hadapan salah satu Jenderal Besar Demon sekalipun.


Namun kali ini... Di hadapan Alan... Mereka merasakan untuk pertama kalinya perasaan yang bernama ketakutan. Sosok Alan yang masih berdiri di atas benteng Istana Marry tempat tadi Preus berdiri, bagaikan seorang dewa kematian yang siap mengambil nyawa mereka semua.

__ADS_1


__ADS_2