New World

New World
Kebetulan Belaka


__ADS_3

Dua orang gadis nampak sedang saling beradu kekuatan. Satu gadis memakai baju penyihir berwarna merah, dengan sedikit corak hitam di bagian tengahnya. Rambut merah darah yang diikat membentuk kucir kuda gadis tersebut semakin mempertegas kesan tegas yang dimiliki oleh gadis tersebut. Dan satu lagi adalah gadis dengan pakaian Assassins berwarna ungu gelap. Dengan rambut pirang sebahu yang dibiarkan terurai, namun tidak meninggalkan kesan cantik pada gadis pemilik rambut tersebut.


"Nampaknya kamu semakin pandai mengatur manamu!" Celoteh gadis berambut pirang, yang baru saja mengayunkan pedang pendeknya ke arah gadis berambut merah darah. Namun tebasannya terhenti beberapa centimeter di dekat tubuh gadis berambut merah darah. Sebuah aura merah yang membentuk api kecil melindungi gadis berambut merah tersebut dari tebasan pedang pendek.


"Gerakanmu juga semakin cepat. Mataku bahkan hampir tidak bisa mengikuti gerakanmu." Senyum kecil terbentuk di bibir gadis berambut merah. Kini giliran dirinya untuk memberikan serangan balasan pada gadis berambut pirang.


"Burn Blash!"


Aura merah yang menutupi gadis berambut merah berubah menjadi api merah yang panas, langsung menyebar ke segala penjuru untuk membakar apa saja yang ada di sekitarnya. Rumput rumput yang ada di bawah kaki gadis berambut merah tersebut langsung terbakar hangus, bagaikan baru saja terkena badai api yang panas.


Gadis berambut pirang tahu jika dirinya tidak akan bisa menghindari serangan tersebut. Satu satunya cara agar dirinya tidak ikut terbakar seperti rumput hanya dengan mengaktifkan skill penyelamatan dirinya.


"Zero!"


Sebuah aura ungu langsung keluar dari tubuh gadis berambut pirang. Melindungi tubuh gadis berambut pirang dari api yang akan membakarnya. Api yang seharusnya membakar tubuhnya langsung lenyap seketika setelah masuk ke dalam aura ungu milik gadis berambut pirang. Membuat gadis berambut pirang bisa menginjakkan kaki di atas tanah dengan selamat.


"Lumayan..." Senyum kecil kembali menghiasi gadis berambut merah, melihat bagaimana gadis berambut pirang menghalau serangannya.


"Jangan senang dulu... Aku masih belum serius..." Gadis berambut pirang kembali memasang kuda kuda. Bersiap untuk menyerang kembali gadis berambut merah darah.


"Violet Dance!"


Aura ungu yang menyelimuti gadis berambut pirang langsung membesar, menandakan tubuh gadis berambut pirang telah menguat seketika. Dengan cepat gadis berambut pirang berlari ke arah gadis berambut merah. Dengan pedang pendeknya di tangan kanannya, dan beberapa senjata rahasia dirinya siapkan untuk dilemparkan ke arah gadis berambut merah.


"Kalau begitu aku juga harus serius."


"Fire Brust!"


Gadis berambut merah mengarahkan kedua tangannya ke depan, dari kedua tangan tersebut keluarlah bola bola api yang menuju ke arah gadis berambut pirang. Tidak memberi kesempatan bagi gadis berambut pirang untuk mendekati gadis berambut merah.


Duar...


Duar...


Bagaikan sedang menembaki hologram, setiap bola bola api yang terlihat akan mengenai gadis berambut pirang hanya numpang lewat begitu saja. Tidak ada satupun serangan bola bola api yang dilancarkan oleh gadis berambut merah mengenai tubuh gadis berambut pirang.


Gadis berambut pirang terus melaju ke arah gadis berambut merah. Semakin memperpendek jarak untuk bisa melesatkan serangan pedang pendeknya.


Thang...


Thang...


Bagaikan sedang menari, gadis berambut pirang terus menerus mengayunkan pedangnya. Mencoba menembus perisai tipis berwarna merah yang menutupi gadis berambut pirang. Gerakan gadis berambut pirang tersebut semakin cepat setiap detiknya, membuat gerakan gadis berambut pirang tersebut sulit untuk diikuti oleh mata.


Tidak mau ketinggalan dengan lawannya, gadis berambut merah juga terus menerus menembakkan bola bola apinya dari jarak dekat. Meskipun serangan bola apinya tidak pernah ada yang mengenai gadis berambut pirang. Namun tentu saja dirinya tidak ingin hanya diam melihat gadis berambut pirang terus membombardir dirinya dengan pedang pendeknya.


"Sampai kapan kamu bisa bertahan? Aku yakin sebentar lagi manamu akan habis untuk mempertahankan perisai ini." Sindir gadis berambut pirang pada gadis berambut merah. Perisai mana yang dibuat gadis berambut merah memang kuat, tapi tentu memerlukan mana yang besar untuk bisa mempertahankannya dalam waktu yang lama.


"Kamu bisa mencobanya sendiri kalau penasaran..." Senyum kecil terbentuk di ujung bibir gadis berambut merah. Mungkin jika player biasa akan segera kehabisan mana untuk bisa mempertahankan perisai pelindung dalam waktu yang lama. Tapi dirinya berbeda, dirinya memiliki satu item yang bisa dirinya gunakan untuk menyerap mana dari serangan yang membentur perisainya. Membuat perisainya akan sangat sulit untuk ditembus.


"Ahh... Sudahlah... Ini akan segera berakhir juga..." Gadis berambut pirang merasa serangan biasa tidak akan bisa menembus perisai gadis berambut merah. Violet Dance hanya bisa meningkatkan kecepatannya, tidak bisa meningkatkan kekuatan serangannya. Perisai pelindung gadis berambut merah bukanlah suatu jenis perisai yang bisa dihancurkan dengan jumlah serangan yang banyak. Namun harus dihancurkan dengan satu serangan yang kuat dan tepat.


"Stack in One!"

__ADS_1


Skill satu ini adalah skill andalan gadis berambut pirang setelah menggunakan violet dance. Stack in One mengumpulkan semua kekuatan yang telah dilancarkan oleh pengguna selama pertarungan, menjadikannya satu serangan yang begitu kuat.


"Coba saja!" Gadis berambut merah tentu tahu apa yang harus dirinya lakukan. Dirinya memusatkan perisainya untuk menahan serangan kuat dari gadis berambut pirang.


Thang...


Benturan antara ujung pedang pendek gadis berambut pirang dengan perisai pelindung gadis berambut merah terjadi. Angin yang cukup kuat langsung menyebar ke segala penjuru, menerbangkan abu dari rumput yang telah terbakar.


Crack...


Perisai pelindung gadis berambut merah pun retak, dan akhirnya pecah. Pedang pendek gadis berambut pirang pun bisa meluncur ke arah tubuh gadis berambut merah.


"Aku menang..." Pedang pendek gadis berambut pirang berhenti satu centimeter di depan leher gadis berambut merah. Tidak melanjutkan lagi pertarungan yang sekiranya sudah gadis berambut pirang itu menangkan.


"Apa kau yakin?" Senyum kecil nampak masih tidak hilang dari bibir gadis berambut merah. Menandakan ada maksud tersembunyi dari gadis berambut merah.


Gadis berambut pirang pun sadar, di bagian perutnya terasa sangat panas. Seakan akan sedang ada api besar yang menyala di depan perutnya.


Gadis berambut merah pun memberi tanda kepada gadis berambut pirang dengan kepalanya, agar gadis berambut pirang melihat ke arah perutnya.


"Ah..." Gadis berambut pirang tidak menduga sama sekali, jika di depan perutnya juga tengah berhenti sebuah bola api merah yang panas. Dari sekali melihat saja, dirinya sudah tahu jika bola api itu jauh lebih pekat dan kuat dari bola bola api yang sedari tadi di lemparkan.


Plok... Plok... Plok...


Suara tepuk tangan membuat kedua gadis nan cantik jelita itu menghentikan aktifitasnya. Mereka menoleh ke arah si pembuat suara tepuk tangan tersebut.


"Hebat.. Hebat sekali..." Sembari bertepuk tangan, seorang Elf menghampiri kedua gadis tersebut. Sebuah senyuman hangat nan tulus tergambar di wajah elf tersebut. Terlihat jelas jika Elf begitu menikmati pertarungan yang sedari tadi dirinya lihat tersebut.


"Commander..." Kedua gadis tersebut langsung memberi hormat pada Elf tersebut. Menandakan mereka berdua memang menghormati sosok Elf yang merupakan Commander dari Light Guardian tersebut. Sang Commander Light Guardian, Poska.


"Commander terlalu memuji. Kami belum ada apa apanya dibandingkan dengan Anda." Red Ascend segera menyanggah pujian Poska, tidak ingin merasa naif hanya karena satu pujian belaka.


"Itu benar Commander..." Sambut Vizgraf.


"Jangan terlalu merendah. Kalian sudah lebih dari layak untuk menjadi seorang Kapten di Light Guardian dengan kekuatan kalian." Poska tidak ingin pujiannya ditolak mentah mentah. Bagi dirinya kedua wanita nan cantik jelita itu memang sempurna. Jika saja kedua wanita tersebut mau untuk menjadi kapten dan memimpin satu batalyon pasukan, pasti Light Guardian akan lebih jauh berkembang. Tentu banyak player pria yang akan dengan senang hati masuk dan menjadi anggota batalyon mereka berdua.


"Terima kasih Commander... Tapi saya tidak tertarik untuk hal itu..." Red Ascend segera menolak dengan halus, sudah berulang kali Poska menawarkan posisi tersebut pada dirinya maupun Vizgraf. Tapi dirinya selalu menolaknya. Tujuannya bermain game New World adalah untuk bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengan Toni, bukan untuk mencari uang ataupun kekuasaan. Dirinya akan selalu mengikuti kemanapun Toni pergi.


Red Ascend tidak tahu alasan Vizgraf juga ikut menolak tawaran tersebut. Sama seperti dirinya, Vizgraf juga ikut memilih untuk tetap berada di batalyon yang Toni pimpin, alih alih menjadi kapten dan memiliki batalyon sendiri.


Mulanya Red Ascend sempat curiga jika Vizgraf berusaha mendekati Toni, namun dugaannya ternyata salah besar. Vizgraf pada dasarnya adalah tipe player yang susah untuk membaur dengan orang asing, hanya dengan Toni dan dirinya saja Vizgraf bisa merasakan kenyamanan. Setidaknya itulah yang bisa Red Ascend simpulkan, melihat sikap dan tingkah laku yang Vizgraf selalu tunjukkan.


"Dia benar Commander... Coba tawarkan posisi itu pada yang lainnya. Kami berdua sama sekali tidak tertarik untuk hal semacam itu."


"Ah... Sudahlah... Sepertinya aku memang tidak bisa merubah keputusan kalian berdua." Poska menghela nafas panjang, setelah dirinya kembali mendapat penolakan untuk yang kesekian kalinya.


"Dimana Toni? Ada hal yang perlu aku diskusikan dengan dia."


"Kami belum melihatnya Commander. Mungkin dia belum log in." Red Ascend langsung menjawab. Apa yang Red Ascend sampaikan memang bukan tanpa alasan, karena selama ini Toni akan langsung menemui dirinya jika Toni sudah log in di New World. Seakan akan Toni adalah pagar yang selalu mengelilingi Red Ascend dari jahilnya player player pria yang mencoba menggoda Red Ascend.


"Sampaikan padanya untuk segera menemui diriku. Ada hal penting yang harus aku diskusikan."


"Baik Commander..." Red Ascend segera menjawab. Dan dengan jawaban Red Ascend, Poska meninggalkan kedua wanita cantik nan jelita tersebut.

__ADS_1


###


[Toni... Red Ascend mengirim sebuah pesan.]


Suara Joker mengejutkan Toni yang tengah berselancar di atas tanah.


Ya... Berselancar... Mungkin jika di dunia nyata berselancar harus lah di pantai, atau paling tidak di atas air. Tapi berbeda dengan di New World. Seorang player bisa berselancar di atas tanah, selama player tersebut memiliki kemampuan untuk mengontrol tanah yang dipijaknya dengan mana yang dimilikinya.


'Bacakan untukku!'


Toni tidak mengalihkan fokusnya pada pepohonan yang sedang dirinya lalui. Dirinya harus berfokus agar dirinya tidak menabrak pohon ketika berselancar di tengah hutan seperti sekarang ini.


[Dimana kamu Honey? Commander mencarimu... Ada hal penting yang ingin dia diskusikan denganmu katanya.]


'Bisa kamu balas?'


[Tentu Toni... Apa yang harus aku sampaikan?]


'Bilang saja... Sejam lagi aku sampai disana. Tunggu aku... Miss u...'


[Pesan terkirim Toni.]


'Bagus... Carikan jalan tercepat untuk sampai ke Ibukota.'


[Scanning area. Menetapkan jalur.]


'Bagus... Kita harus segera sampai di Ibukota.'


Toni merasa bersyukur Alan telah meminjamkan Joker pada dirinya. Jika bukan karena Joker, mungkin dirinya tidak akan bisa menemukan tempat yang dirinya cari. Tempat yang akan dirinya gunakan untuk melamar Red Ascend.


Sesampainya di Ibukota, Toni langsung menuju ke gerbang Teleportasi. Dengan mengeluarkan kartu pass yang dirinya miliki, penjaga gerbang teleportasi langsung mengirimkan tubuh Toni ke tempat yamg ingin Toni tuju.


"Anda mencariku Commander?" Toni langsung menemui Commander begitu dirinya sampai di Kerajaan Hidden Forest. Dengan nafas yang sedikit terengah engah, Toni berdiri dengan tegap di depan Commander Light Guardian.


"Kenapa nafasmu?" Poska sedikit bingung, melihat Toni yang nampak begitu kelelahan.


Wajar saja jika nafas Toni hampir habis... Toni baru saja pulang pergi Kerajaan Hidden Forest - Kerajaan Demon God. Lebih dari setengah benua Midgard dirinya lewati hari ini. Meskipun hanya lewat teleportasi, namu tentu saja.. Berselancar di tengah hutan sedari malam sampai siang cukup menguras staminanya.


"Tidak apa Commander... Hanya sedikit lelah..." Jawab Toni yang masih mengatur nafasnya agar teratur.


"Sudahlah... Ada hal yang harus aku sampaikan. Ini penting... Dan aku ingin kamu menyelidikinya."


"Apa itu?"


"Beberapa hari yang lalu, para Tetua mendeteksi adanya sebuah Dungeon yang begitu kuat. Namun Dungeon tersebut hanya muncul beberapa saat, sebelum menghilang. Aku ingin kamu meneliti apa yang telah terjadi. Jangan sampai usaha kita memberantas semua Dungeon selama ini menjadi sia sia belaka, hanya karena munculnya satu Dungeon itu."


"Baik Commander... Cukup katakan dimana.. Lalu saya dan tim saya akan memeriksanya." Toni begitu percaya diri menjawab perintah dari Commandernya. Selama ini tidak ada satupun Dungeon yang tidak bisa dirinya lenyapkan. Kemunculan satu Dungeon lagi tentu bukan masalah besar bagi dirinya.


"Dungeon itu muncul di Kerajaan Demon God. Persiapkan semuanya dengan teliti, kondisi disana jauh dari kata stabil."


"Ah... Kebetulan sekali..." Senyum Toni merekah, mendengar nama Kerajaan Demin God disebut oleh Poska.


"Ada apa?"

__ADS_1


"Tidak Commander... Kebetulan ada teman lamaku disana. Aku bisa bertanya kepada dia untuk mencari informasi." Jawab Toni yang mencoba menutupi maksud tersembunyinya. Dirinya tentu tidak ingin rencana melamar Red Ascend diketahui oleh semua orang. Toni belum siap untuk mendapat bullying dari orang orang di sekitarnya, bullying yang mengatakan dirinya adalah seorang budak cinta.


__ADS_2