
"Pusatkan kekuatanmu di tangan dan kakimu!"
"Jangan alihkan pandanganmu dari lawan!"
"Usahakan untuk bisa memprediksi pergerakan lawanmu sebelum lawan menyerang!"
Rendemiz sedang berusaha menangkis pedang pedang Alan yang sedang mengarah kepadanya. Terlihat jelas jika Rendemiz begitu kerepotan dalam menangkis setiap pedang Alan yang mengarah kepadanya.
Latihan... Itulah perintah pertama yang Alan berikan kepadanya dalam beberapa hari ini. Rendemiz tidak menduga jika Alan hanya akan memberikan perintah yang begitu sederhana seperti itu. Tadinya dirinya mengira jika Alan akan memperlakukannya selayaknya budaknya. Menyuruh nyuruh dirinya untuk melakukan hal hal yang tidak wajar, atau sekedar melayani dirinya.
Namun ternyata hal tersebut hanya ada di dalam pikiran Rendemiz. Bahkan Rendemiz terkesan kagum kepada Alan yang menganggap dirinya bukan sebagai budak, melainkan lebih kepada teman seperjalanan malahan.
Rendemiz tidak tahu pasti untuk apa Alan melatih dirinya. Dirinya hanya bisa menuruti perintah Alan seperti kesepakatan dengan Alan ketika meninggalkan Pripyat.
"Hah... Hah..." Rendemiz berusaha mengatur nafasnya yang terasa sangat berat. Telah 2 jam lebih dirinya harus menerima gempuran pedang Alan yang menyasar dirinya.
"Kenapa? Lelah?" Alan menyipitkan matanya melihat Rendemiz yang sudah kelelahan. Padahal tubuhnya baru saja akan mulai terasa panas.
"Bisa kita istirahat sebentar?" Pinta Rendemiz yang sudah mulai merasakan lemas di kedua kakinya.
"Baiklah... Istirahat 20 menit." Alan juga tidak ingin terlalu memaksakan latihannya. Dirinya juga tahu akan batas kemampuan tubuh seseorang.
Jujur saja Alan terheran melihat Rendemiz yang cepat kelelahan. Seharusnya tubuh Rendemiz jauh lebih kuat dari pada Flyin. Mengingat Rendemiz tergolong dalam tipe High Demon, sedangkan Flyin hanya Advance Demon. Namun kenyataannya berkata lain. Tubuh Rendemiz benar benar tidak mencerminkan tubuh High Demon. Bahkan dibilang Elite Demon saja bisa tidak masuk kriteria. Seakan akan tubuh Rendemiz adalah tubuh High Demon yang masih anak anak.
"Apa yang Anda sangka semuanya benar Tuan..." Flyin yang melihat Alan duduk termenung sambil memandangi Rendemiz. Flyin baru saja membaca semua isi pikiran Alan mengenai praduga Alan akan tubuh Rendemiz.
"Maksudmu Flyin?"
"Dia hanya perlu latihan untuk mendapatkan kekuatan fisik dari tubuh High Demonnya."
"Hem..." Alan tidak menjawab perkataan Flyin. Dirinya lebih mementingkan untuk menemukan cara tercepat agar bisa membuat Rendemiz menguasai kekuatan tubuhnya.
"Tujuan kita adalah tempat terlarang, akan sangat berbahaya jika dia tetap seperti ini. Kita harus memberikan pelatihan ekstra kepadanya." Gumam Alan pelan sambil memegang dagunya.
__ADS_1
"Anda punya cara Tuan?" Flyin mungkin sudah berumur lebih dari seribu tahun. Tapi dirinya belum pernah melatih murid. Sangat terbukti bagaimana Flyin tidak bisa mengajari seseorang untuk menjadi kuat. Buktinya adalah Alan.
Flyin pernah mencoba mengajari Alan cara untuk menggunakan kekuatan Shadow Blood ketika di Istana Azazel, tapi yang ada hanyalah Flyin hampir membunuh Alan.
"Aku tidak yakin apakah ini akan bekerja untuk bangsa Demon. Tapi setidaknya kita patut mencobanya." Alan terpikirkan beberapa metode yang biasa dirinya gunakan ketika berlatih di dojo.
"Kita mulai dengan membenahi staminanya." Alan mendekati sebuah batu besar yang tergeletak di atas tanah.
Slash...
Batu tersebut langsung terbelah menjadi dua akibat tebasan pedang Alan. Menjadikan batu tersebut cukup kecil untuk diangkat dengan dua tangan.
"Aku ingin kamu selalu membawa batu ini selama perjalanan kita. Jika kamu sudah merasa batu ini terlalu ringan, bilang padaku!" Alan meletakkan batu besar tersebut di samping tubuh Rendemiz yang masih terbaring di atas tanah.
Rendemiz tentu langsung terkejut mendapati sebuah batu hampir saja melindas tubuhnya. Wajah Rendemiz langsung memucat setelah mendengar perintah Alan. Sudah terbayang di pikirannya akan seperti apa lelahnya dirinya ketika harus berjalan sambil membawa batu tersebut.
Tapi Rendemiz juga tidak berani menolak perintah Alan. Dirinya sangat sadar jika hidupnya kini sedang tergantung kepada Alan. Tidak ada pilihan lain baginya selain harus menuruti perintah Alan.
###
Michurine merupakan suatu daerah pepohonan yang lebat. Meskipun juga tidak bisa dibilang pohon seperti pada umumnya. Pohon pada umumnya akan memiliki daun berwarna hijau yang menyegarkan. Namun di Michurine, semua pohon berwarna hitam termasuk dedaunannya sekalipun. Menjadikan Michurine nampak begitu menyeramkan bagi siapapun yang mencoba untuk memasukinya.
"Tuan Zepar... Apa Anda yakin akan masuk ke dalam?" Suara seorang Demon memaksa Zepar harus mengalihkan pandangannya yang tadinya menatap hutan hitam kelam Michurine. Mata Zepar pun langsung menyipit, seakan mata Zepar berkata jika dirinya tidak suka mendengar pertanyaan yang begitu bodoh seperti itu.
"Apa kalian takut?" Zepar memasang senyum kecil, menandakan dirinya tidak ingin mendengar jawaban yang tidak menyenangkan dari para Demon anak buahnya.
Anak buah Zepar juga tidak bodoh. Mereka tahu jika mereka tidak memiliki pilihan lain selain harus mengikuti pimpinannya tersebut. Mereka sadar jika Zepar tidak akan segan segan menghabisi anak buahnya yang tidak menuruti perintahnya.
Tidak sedikit anak buah Zepar yang mempertanyakan maksud dan tujuan Zepar untuk mendatangi Mischurine sedari dulu. Namun Zepar tidak pernah menjawab pertanyaan dari anak buahnya. Dirinya tetap memegang teguh rahasia besarnya, hanya dirinya seorang yang mengetahui tentang rahasia dibalik Mischurine.
Tadinya Zepar ragu untuk mendatangi Mischurine tersebut, walaupun dirinya mengetahui rahasia besar tentang Mischurine. Namun setelah dirinya mendapatkan Timeless Blade, keraguan yang dirinya rasakan langsung sirna. Zepar sangat yakin tidak akan ada bahaya yang bisa mengancam nyawanya di hutan hitam kelam tersebut.
"Tunggu saja para Jenderal kurang ajar itu. Mereka akan menyesal telah menyembunyikan kebenaran di balik hutan ini." Zepar melangkahkan kakinya dengan mantap untuk memasuki daerah bernama Mischurine.
__ADS_1
Dirinya sudah tidak sabar untuk membongkar rahasia besar di balik daerah bernama Mischurine. Sudah terbayang bayang di pikiran Zepar bagaimana wajah malu para Jenderal besar Demon ketika dirinya membuka rahasia yang telah beratus ratus tahun mereka sembunyikan.
Zepar sangat yakin... Akan banyak Demon yang memuja dirinya dan menjadi pengikutnya setelah dirinya membongkar rahasia daerah Mischurine.
PINTU KELUAR DARI DUNIA ABYSS!
Hanya itu yang Zepar tahu tentang rahasia di balik terlarangnya daerah Mischurine untuk didatangi para bangsa Demon. Hal itu pun Zepar ketahui setelah dirinya menggunakan kekuatan specialnya untuk memata-matai salah satu Jenderal besar Demon, Mary. Demon tercantik yang ada di dunia Abyss.
Sebenarnya Zepar tidak sengaja mengetahui rahasia di balik daerah Mischurine. Dirinya menggunakan kekuatan specialnya untuk mencari tahu kesukaan Mary. Jujur saja Zepar jatuh hati kepada Mary, dan berusaha untuk mendapatkan hati Mary. Zepar pun menggunakan kekuatan specialnya untuk membuntuti Mary kemanapun Mary pergi.
Dan bagaikan mendapatkan durian runtuh, Zepar tidak hanya bisa mengetahui apa saja tentang kesukaan Mary, seperti apa bentuk tubuh Mary tanpa baju. Zepar juga mendapatkan rahasia tentang daerah Mischurine ketika Mary sedang bertemu dengan para Jenderal besar lainnya.
Zepar tidak peduli jika para Jenderal besar Demon mengetahui rencananya. Zepar sangat yakin... Jika dirinya bisa menjadi Demon yang dipuja puja oleh bangsa Demon, Mary pasti akan bertekuk lutut di pangkuannya. Mata Zepar benar benar sudah terbutakan oleh kecantikan dari Mary.
"Uargh..."
Suara raungan para monster langsung terdengar ketika Zepar dan anak buahnya memasuki area pepohonan hitam nan kelam. Mata semua Demon yang ada di rombongan tersebut langsung awas, mengawasi sekitar mereka, bersiap jika ada serangan dari monster penghuni Mischurine.
Area Mischurine begitu luas. Bukan waktu sebentar bagi Zepar dan anak buahnya untuk bisa menelusuri hutan seutuhnya. Zepar hanya mengetahui rahasia tentang daerah Mischurine, tidak mengetahui lokasi pasti dari pintu keluar dari dunia Abyss.
Butuh beberapa hari bagi Zepar dan anak buahnya untuk bisa menjelajahi seisi hutan. Barulah di hari keempat, Zepar menemukan suatu tempat yang menurutnya aneh.
Sebuah pohon yang sangat besar, diameter pohon tersebut mungkin sekitar 15 meter, tingginya bahkan lebih mengejutkan. sepanjang mata memandang tidak bisa dilihat ujung pohon tersebut. Bentuk pohon tersebut pun meliuk liuk, tidak lurus seutuhnya. Bahkan terlihat seperti bentuk spiral. Di tengah tengah pohon tersebut nampak cahaya cahaya putih yang mengambang, bergerak gerak secara perlahan. Layaknya gelembung yang sedang melayang di udara.
Namun yang paling membuat Zepar bingung adalah, adanya sebuah jam pasir yang berada di tengah tengah pohon tersebut. Jam pasir tersebut terus menerus menjatuhkan pasirnya dari bagian atas ke bawah. Seakan akan jam pasir tersebut sedang menghitung waktu.
"Ini kah tempatnya?" Zepar berusaha mendekati pohon tersebut. Mencoba memastikan apakah benar tempat yang dirinya cari adalah pohon ini.
"Dasar makhluk hina! Berani kalian datang kemari!" Sebuah suara menghentikan tangan Zepar yang berusaha menyentuh pohon tersebut.
Suara tersebut di ikuti oleh sebuah semburan api hitam yang mengarah ke arah Zepar. Zepar langsung berefleks melompat ke belakang untuk menghindari api hitam yang mengarah kepadanya.
Namun baru saja Zepar mendaratkan kedua kakinya, Sebuah semburan api kembali mengarah kepadanya. Berbeda dengan semburan api yang pertama, semburan api yang kedua ini merupakan semburan api berwarna putih. Semburan api putih tersebut memaksa Zepar untuk kembali mengakselerasikan kedua kakinya.
__ADS_1
Zepar yang bisa menghindari kedua semburan api tersebut, langsung memandang ke arah asal serangan. Mata Zepar langsung terbuka lebar melihat sosok yang menyerangnya.
"Naga?" Dua ekor naga berwarna hitam dan putih tengah berusaha mendarat di depan pohon besar tersebut. menghalangi siapapun dari kelompok Zepar untuk mendekat pohon tersebut.