New World

New World
The power of Abysal Spear


__ADS_3

"Lenyap?" Alan tentu terkejut mendapati kelima prajurit bayangannya hilang begitu saja. Bisa terlihat dengan jelas jika ayunan tombak yang Asmodias pegang sama sekali tidak mengenai kelima prajurit bayangannya.


Asmodias hanya menebaskan Abysal Spear sembari memutarkan tubuhnya. Hanya angin tebasan saja yang mengenai kelima prajurit bayangannya. Namun kelima prajurit bayangannya menghilang begitu saja. Bagaikan air yang menguap lalu hilang begitu saja eksistensinya.


"Senjata yang berbahaya..." Alan bergumam sendiri. Untung saja dirinya sempat menghentikan langkah kakinya untuk mendekati Asmodias. Jika saja tidak... Alan tidak tahu akan seperti apa jadinya. Mungkin saja dirinya akan ikut terhapus sama seperti kelima prajurit bayangannya.


Namun Alan sedikit terheran, melihat The Forgotten Dagger kini tertancap di atas tanah beberapa meter dari tempat Asmodias berdiri. Padahal seharusnya The Forgotten Dagger juga ikut lenyap seperti kelima prajurit bayangannya.


"Apa yang sebenarnya dia lakukan?" Alan mencoba menelisik kekuatan tersembunyi dari Abysal Spear yang Asmodias gunakan. Dirinya tentu tidak mau gegabah menyerang Asmodias tanpa mengetahui kekuatan sebenarnya dari Abysal Spear.


'Joker... Kamu tahu senjata itu?'


[Hampir sama dengan The Forgotten Dagger yang kamu miliki AS... Abysal Spear juga merupakan salah satu senjata terkuat di dunia Abyss. Skill pasif dari Abysal Spear adalah Silencity. Skill tersebut mampu mencegah lawan untuk menggunakan skill ketika berada di sekitar Abysal Spear.]


'Silencity?' Alan tentu langsung mengerutkan dahi. Dirinya tidak menduga sama sekali jika Asmodias memiliki senjata sehebat itu. Pantas saja kelima prajurit bayangannya langsung menghilang tak berbekas, sedangkan The Forgotten Dagger hanya terjatuh dan menancap di tanah.


Obrolan Alan dengan Joker pun terpaksa harus terputus di tengah jalan. Asmodias yang sudah tidak disibukkan dengan apapun di sekitarnya kini langsung menyerang Alan.


Kecepatan Asmodias meningkat dua kali lipat setelah menggunakan Abysal Spear. Dalam sekejap mata Asmodias sudah berada di hadapan Alan untuk menebaskan Tombaknya.


Thang...


Alan terpaksa harus menangkis serangan Asmodias. Tadinya Alan berniat menghindari tebasan Abysal Spear. Namun dirinya tidak bisa mengaktifkan skill Shadowing untuk bisa menghindari serangan Asmodias. Efek silencity benar benar membuat Alan sama sekali tidak bisa menggunakan skill skillnya.


Tubuh Alan terlempar beberapa meter ke belakang akibat satu pertukaran serangan tersebut. Membuat Alan harus tertatih tatih berjalan ke belakang untuk menyeimbangkan tubuhnya.


"Sial... Merepotkan sekali..." Alan mencoba menggunakan Shadow Zone, memperbesarnya hingga beberapa meter di sekitarnya. Mencoba apakah Shadow Zone juga akan terpengaruh dengan skill pasif dari Abysal Spear yang Asmodias gunakan.


Asmodias kembali menyerang ke arah Alan. Tidak memberikan waktu yang lebih bagi Alan untuk sekedar menghela nafas. Langkah Asmodias sedikit melambat ketika dirinya memasuki Shadow Zone, sebuah tekanan memaksa dirinya untuk sedikit memperlambat kecepatannya.


"Apa?" Asmodias nampak terkejut mendapati tubuhnya sedikit terasa kaku untuk digerakkan. Namun dirinya tetap maju menyerang Alan yang masih mencoba mengatur fungsi Shadow Zone.


Thang...

__ADS_1


Thang...


Berbeda dengan pertukaran serangan yang pertama kali. Alan nampak bisa mengimbangi kekuatan dan kecepatan Asmodias. Alan meningkatkan tekanan gravitasi di dalam Shadow Zone hanya untuk Asmodias seorang. Sedangkan untuk dirinya, Alan mengurangi tekanan gravitasi hingga setengahnya. Membuat tubuh Alan terasa lebih ringan dalam bergerak.


"Shadow Zone ku bekerja untuknya?" Alan merasa memiliki kesempatan untuk bisa menang melawan Asmodias selama dirinya bisa menggunakan Shadow Zone. Shadow Zone bukanlah skill yang dimiliki oleh Alan, melainkan sebuah kekuatan special yang dimiliki dari darah Demonnya. Dan Abysal Spear tidak bisa menghilangkan efek yang bukan dari skill.


"Harus ku akui kamu memang hebat bocah!" Asmodias memuji Alan yang nampak bisa mengimbangi dirinya setelah bertukar serangan lebih dari sepuluh menit. Sangat jarang ada orang yang bisa bertahan sepuluh menit setelah Asmodias menggunakan Abysal Spearnya.


"Namun cukup sampai disini keberuntunganmu bocah..." Aliran listrik di tubuh Asmodias melonjak hingga dua kali lipat. Membuat kecepatan Asmodias naik dua kali lipat.


"Sial..." Alan benar benar tersudut kali ini... Serangan Asmodias yang lebih cepat memaksa dirinya menggunakan Shadow Zone lebih keras lagi untuk bisa mengimbangi pergerakan Asmodias.


Thang...


Sebuah Tebasan Abysal Spear tepat mendarat di tubuh Alan. Membuat Alan terlempar ke dalam lautan api yang membakar halaman Istana Chigaza. Baju zirah Deathking Armor yang Alan gunakan langsung retak di bagian yang terkena tebasan. Hp Alan pun turun sampai seperempat bar.


Panas... Itu yang Alan rasakan ketika dirinya mendarat di atas tanah yang tertutup api. Alan segera membuat api yang mulai membakar tubuh dan di area sekitar menghilang dengan Shadow Zonenya. Mencegah HPnya turun lebih jauh lagi.


Wuing...


Sebuah aura hitam memaksa api yang berada di hadapan Asmodias menghilang seketika. Seakan akan api tersebut telah berubah menjadi uap.


"Itu dia..." Entah kenapa Asmodias malah semakin tertarik dengan Alan. Padahal pertama kali dirinya melihat Alan, ingin sekali dirinya membunuh Alan dengan sadis karena telah membunuh Chigaza. Namun melihat kekuatan yang ditunjukkan oleh Alan, Asmodias pun mempertimbangkan untuk membiarkan Alan hidup dan menjadi salah satu senjata untuk menghadapi permainan Marry.


The Forgotten Dagger yang sedari tadi menancap di atas tanah pun terbang kembali ke genggaman Alan. Membuat Alan lebih percaya diri untuk menghabisi Asmodias dengan kedua senjatanya.


"Kali ini giliranku!" Alan melaju dengan cepat ke arah Asmodias. Mengayunkan Black Poison Dagger ke arah bahu kiri Asmodias, Asmodias menangkisnya dengan gagang tombaknya. Alan berganti mengayunkan The Forgotten Dagger di tangan kanannya, kali ini bagian perut Asmodias yang menjadi incarannya.


Asmodias bergerak lebih cepat dengan tombaknya, bagian mata tombak Asmodias menjadi penghalang sempurna bagi The Forgotten Dagger untuk sekedar menggores tubuh Asmodias.


Alan tidak habis akal. Diputarkan badannya hingga tangan kiri Alan yang memegang Black Poison Dagger dapat mengincar leher Asmodias yang terbuka lebar.


Thang...

__ADS_1


Seperti serangan serangan Alan yang sebelumnya. Black Poison Dagger berhenti tepat dua centimeter di depan kulit Asmodias. Seakan akan ada sebuah perisai sihir yang melindungi Asmodias.


"Kamu tidak akan bisa melukaiku bocah..."


Bruk...


Asmodias memanfaatkan terbukanya pertahanan Alan untuk memberikan serangan balik. Sebuah tendangan kaki kanan Asmodias memaksa Alan harus tersungkur kembali di atas tanah. Sedikit darah mulai keluar dari ujung bibir Alan.


"Cuih..." Alan meludah... Membersihkan debu dan darah yang tercampur di dalam mulutnya. Meskipun ini di dalam game, Alan masih bisa merasakan rasa Asin dan debu yang bercampur di dalam mulutnya.


"Menyerahlah... Dan bersumpahlah setia kepadaku... Aku bisa mempertimbangkan untuk tidak membunuhmu..." Asmodias berjalan mendekati Alan yang masih mencoba untuk bangkit. Dirinya tentu tidak ingin menyianyiakan kemampuan yang Alan miliki, namun dirinya juga tidak ragu membunuh Alan jika Alan menolak. Akan sangat berbahaya bagi rencananya jika sampai Alan mendukung pihak lawannya nanti.


"Menyerah? Kata itu sudah lama hilang di dalam kamusku!" Alan membesarkan Shadow Zone... Mencoba mengaturnya hingga ke batas maksimal untuk menekan kekuatan yang Asmodias miliki.


Cepat, kuat, memiliki senjata yang bisa mencegah dirinya menggunakan skill, ditambah pelindung tidak kasat mata yang belum bisa Alan tembus sama sekali. Apa yang bisa Alan lakukan? Namun tentu Alan tidak akan menyerah. Dirinya tidak ingin berakhir menjadi bawahan Asmodias dan menuruti semua perintah Asmodias.


"Shadow Zone... Kita lihat apa saja yang bisa kamu lakukan!" Alan berteriak dan berlari ke arah Asmodias. Dengan kedua belati dan aura hitam pekat yang menyelimuti tubuhnya, Alam mengadu nasib nyawanya.


"Sayang sekali..." Asmodias menggelengkan kepala pelan. Menyayangkan dirinya harus membunuh Alan saat ini. Padahal dirinya sangat yakin, dengan kekuatan special yang Alan miliki. Alan akan bisa menjadi prajurit yang tangguh nantinya, Alan hanya perlu pengalaman dan mentor yang cocok untuk mengajarinya menggunakan kekuatan special yang dimiliki.


"Silent Wave!" Satu bisikan dari Asmodias dan Asmodias menancapkan Abysal Spear ke atas tanah. Seketika gelombang hitam menyebar dari tempat Abysal Spear menancap di atas tanah. Menyebar hingga akhirnya mencapai tubuh Alan yang tengah berlari menuju ke arah Asmodias.


Bagaikan telah hilang tenaganya. Tubuh Alan seketika langsung ambruk di atas tanah, tengkurap dengan wajah yang harus sekali lagi memakan debu debu di atas tanah. Tubuh Alan terasa lemah, bahkan untuk mendongakkan kepalanya dan melihat ke arah Asmodias saja dirinya sudah tidak bisa. Seakan akan Alan sudah tidak memiliki tenaga untuk menggerakkan tubuhnya.


"Aaa...Apa..." Perkataan Alan pun sulit terucap. Bibirnya terasa susah untuk digerakkan.


"Kamu memaksaku melakukan ini... Tapi berbanggalah... Kamu menjadi salah satu saksi dari kekuatan terkuat dari tombakku. Namun sayang... Tidak ada yang pernah selamat setelah melihatku menggunakan kekuatan ini." Asmodias yang telah berdiri di dekat kepala Alan memandang Alan dengan tatapan datarnya. Seakan nasib Alan sudah ditentukan saat ini. Meskipun sayang untuk membunuh Alan, Namun dirinya mau tidak mau harus melakukannya.


Diayunkannya Asmodias untuk bersiap menebas kepala Alan. Membungkam saksi mata akan kekuatan Abysal Spear secara sepenuhnya.


Thang...


Bunyi nyaring terdengar ketika tombak Asmodias di ayunkan. Mata Asmodias terbelalak melihat apa yang terjadi di hadapannya.

__ADS_1


__ADS_2