
Pemakaman Julian dilaksanakan di hari berikutnya. Alan dan ibunya memandangi peti mati yang dengan pelan diturunkan kedalam lubang. Liliyana memeluk Alan dengan hangatnya. Alan merasakan rasa kehilangan yang teramat besar dari pelukan ibunya tersebut.
Alan dan ibunya menaburkan bunga di atas makam Julian. Para pengantar jenazah mulai pergi satu persatu. Hanya tersisa Alan, Liliyana, Ivan, dan paman Alan atau adik kandung Julian. Alan tidak tahu sejak kapan pamannya sudah berada di Middlemist. Karena ini juga baru pertama kalinya Alan bertemu dengan pamannya.
Setahu Alan pamannya tinggal di kota Brisbane, di luar negeri. Dari sanalah kampung halaman Julian. Tapi Alan belum pernah sekalipun di ajak bertemu dengan keluarga dari ayahnya.
"Alan... Kamu harus kuat. Ayahmu adalah orang yang baik. Dia pasti mendapatkan tempat yang lebih baik disana." Kata paman Alan.
"Terima kasih banyak paman." Balas Alan yang masih tetap memandangi nisan ayahnya.
Paman Alan pun pergi dari pemakaman. Ivan juga ikut pergi bersama dengan Liliyana, hanya tersisa Alan sendiri yang masih memegangi nissan ayahnya.
"Ayah... Kenapa ayah tidak menunggu kepulanganku?" Sambil menangis Alan memeluk nisan ayahnya.
Alan teringat terakhir kali obrolan dengan ayahnya adalah ketika dia akan berangkat ke stasiun. Ayahnya berpesan untuk selalu mengingat pesan pesan yang disampaikan ayahnya.
Alan termenung melihat bintang di depan rumah. Pikirannya terbang entah kemana.
"Alan... Kamu baik baik saja?" Ivan yang baru saja datang langsung bertanya kepada Alan karena melihat Alan duduk termenung melihat langit.
Alan menoleh ke asal suara. "Ya... Aku baik baik saja Van."
"Kamu harus sabar Lan... Semua ini pasti yang terbaik."
"Ya Van... Aku hanya menyesali tidak menghabiskan waktu yang cukup bersama ayahku di saat saat terakhirnya."
Suasana menjadi hening setelah Alan berkata. Ivan bisa merasakan kerinduan Alan akan ayahnya. Satu tahun tidak bertemu, begitu bertemu salah satunya di dalam peti jenazah. Bukannya bisa melepas rindu malah melepas tangis kehilangan.
"Lan... Ada yang ingin kusampaikan."
"Apa Van? Katakan saja."
"Me... menge... mengenai penyebab kematian ayahmu lan. "
Alan yang mendengar perkataan Ivan langsung memasang wajah serius. Mukanya dipenuhi tanda tanya. "Apa Van? Penyebab kematian ayahku?"
Alan memang belum menanyakan kepada siapapun kenapa ayahnya bisa meninggal secara tiba tiba. Padahal ayahnya termasuk orang yang menjaga kesehatan.
"Ayahmu terkena serangan jantung Lan. Karena..."
"Karena apa Van?" Alan semakin tidak sabar.
"Karena desa kita... Desa kita direbut oleh salah satu perusahaan internasional Lan."
"Perusahaan internasional? Bagaimana bisa?"
"Aku juga tidak tahu Lan. Perwakilan dari Sunflower grup datang membawa surat kepemilikan tanah yang resmi dari pemerintah. Kita diberi waktu satu minggu untuk mengosongkan ladang kita."
"Sunflower?" Alan terkejut.
Sunflower group adalah salah satu perusahaan pangan kelas internasional. Ladang dan perkebunannya menyebar di beberapa negara.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan warga desa Van? Apakah mereka tidak ada yang protes?"
"Sudah Lan. Semua warga desa datang ke bagian pertanahan di kota Hanley. Tapi tidak ada tanggapan. Ayahmu yang membaca surat kepemilikan tanah tersebut langsung pingsan. Kami sudah mencoba membawa ke rumah sakit di Hanley Town. Tapi..." Perkataan Ivan terhenti.
"Aku tahu... Terima kasih banyak Van. Aku tidak menyalahkan kalian akan kematian ayahku. Kalau ada yang patut disalahkan adalah Sunflower group." Kata Alan dengan mata penuh benci.
"Alan... Jangan gegabah... Apa yang akan kamu lakukan?" Ivan takut Alan akan mengamuk dan mendatangi perwakilan dari Sunflower group.
"Aku tidak sebodoh itu Van. Kita bawa kasus ini ke pengadilan."
Selesai bicara Alan langsung mengambil handphone dan menelepon Toni. Dia ingin berdiskusi tentang masalah ini. Bagaimanapun Alan harus mengakui kalau Toni lebih berpengalaman tentang hal semacam ini.
Tini yang mengetahui kematian ayah alan dan kejadian di desanya terkejut. Dia pun berjanji akan membantu sebisa mungkin dan akan datang ke Middlemist besok pagi.
Keesokan paginya Alan dan Ivan menjemput Toni dan pengacaranya di stasiun. Mereka tidak langsung ke Middlemist Village, tapi mereka berdiskusi di sebuah cafe di Hanley Town.
Dari diskusi itu pengacara Toni bilang kalau masalah mereka memiliki kemungkinan yang kecil untuk berhasil. Karena sekali surat kepemilikan dari pemerintah itu keluar, berarti kepemilikan tanah sudah sah.
Mereka langsung ke pengadilan di Hanley Town untuk mendaftarkan kasus mereka. Baru setelah itu mereka ke Middlemist.
Sesampainya di rumah Alan, Toni mengucapkan bela sungkawa kepada Liliyana dan memperkenalkan diri sebagai teman sekamar Alan di asrama.
Dua hari setelah kedatangan Toni, surat panggilan untuk menghadiri pengadilan pun datang. Pengadilan akan diadakan besok pagi jam 9 pagi.
"Ton... Kamu tidak apa apa menginap di sini beberapa hari? Nanti keluargamu mencari dirimu." Tanya Alan sambil menyeruput kopi di depan rumah. Suasana malam menambah nikmatnya kopi hangat.
"Tenang... Milton sudah mengatur semuanya. Dia percaya kepadaku asal aku bersama denganmu." Jawab Toni.
"Syukurlah... Ton... Thanks Banget. Kamu membantuku sebegitu banyaknya."
"Ini tidak seberapa Lan dibandingkan nilai persahabatan kita. Yang terpenting sekarang adalah kita besok pagi harus memenangkan kasus ini."
"Benar... Yang terpenting adalah ladang ladang milik warga bisa kembali ke tangan mereka."
Ivan pun datang ke rumah Alan. Dia ikut mengobrol dengan Alan dan Tini. Dari cerita Alan dan Toni, Ivan jadi sangat penasaran tentang kehidupan di kota. Ivan pun berjanji suatu saat nanti akan datang berkunjung ke Mediteran City untuk berkunjung ketempat toni.
Keesokan paginya.
"Bu... Alan berangkat dulu ya... Tolong doakan Alan bisa kembali dengan membawa kabar baik." Alan berpamitan ke ibunya. Tadinya Alan ingin mengajak ibunya ke pengadilan, tapi ibunya menolak. Dengan alasan kurang enak badan.
Alan pun berangkat bersama dengan Toni, Ivan, pengacara dan beberapa warga desa.
"Yang mulia... Mohon anda membatalkan surat kepemilikan tanah dari Sunflower Group atas ladang warga desa Middlemist. Hamba merasa kalau surat kepemilikan itu palsu." Pengacara Toni membuat pernyataan kepada hakim pimpinan sidang.
"Keberatan yang mulia. Pihak penggugat tidak memiliki bukti yang cukup untuk menunjukkan surat kepemilikan tanah kami palsu." Pengacara Sunflower group menimpali.
Sidang pun berjalan dengan alot. Adu argumen, penjelasan saksi semua dilakukan masing masing pihak untuk menguatkan argumen mereka.
Berdasarkan pengakuan warga, mereka tidak pernah sekalipun menerima uang atau pun berhubungan dengan Sunflower Group. Hakim pun juga mulai merasa warga Middlemist berhak mendapatkan tanah mereka kembali.
Alan, Toni dan Ivan juga mulai bernafas lega. Melihat jalannya sidang sudah memihak ke pihak mereka.
__ADS_1
Namun ketika persidangan sudah akan dimenangkan, pihak Sunflower Group mendatangkan saksi terakhir dari mereka.
Alan begitu terkejut melihat saksi yang datang. Dia baru satu kali bertemu dengan saksi tersebut sebelumnya, tapi yakin dan pasti mengenal orang tersebut.
"Paman?" Tanya Alan.
Paman Alan hanya tersenyum masam pada Alan dan langsung naik ke mimbar saksi.
"Yang mulia... Perkenalkan nama saya adalah Edgar Mauritius. Saya adalah adik kandung dari almarhum Julian Scraft yang dulunya bernama Julian Mauritius. Saya membawakan surat pernyataan dari Julian. Yang isinya menjelaskan bahwa pihak Sunflower grup telah membeli tanah dari warga Middlemist dan uangnya sudah diterima oleh Julian. "
duar....
Laksana tersambar petir. pernyataan dari edgar benar benar membuat seluruh isi ruangan terdiam.
"Brengsek... Jangan mengada ada kamu.... Ayahku tidak mungkin menjual tanah warga." Alan langsung bangkit dari duduknya mencoba untuk menghampiri Edgar.
Warga desa yang duduk di belakang Alan pun juga ikut bergerak maju. Mereka juga meyakini kalau Julian tidak mungkin menjual tanah mereka pada Sunflower Grup.
Suasana sidang langsung ricuh. Pihak keamanan langsung menghentikan segala usaha yang mencoba mengganggu jalannya sidang.
Hakim juga berkali kali mengetuk palu sidang. Meminta warga yang hadir untuk tenang. Kalau tidak hakim terpaksa akan mengeluarkan mereka dari ruang sidang.
Dengan adanya surat itu, pihak Sunflower grup memenangkan kasus. Tapi hakim yang merasa iba dengan warga desa yang kehilangan tanahnya memutuskan kalau Sunflower Grup wajib mempekerjakan warga desa dengan upah yang layak. Pihak Sunflower Grup pun tidak keberatan dengan keputusan itu.
Alan, Ivan, Toni dan warga desa pulang ke Middlemist dengan wajah yang tertunduk lesu. Hilang sudah ladang turun temurun yang menjadi mata pencaharian mereka.
Alan masuk ke rumah dengan wajah yang lesu.Diia tidak tau harus berkata apa kepada ibunya.
Alan duduk di ruang tamu bersama Toni dan Ivan. Pikiran mereka kosong, seakan tidak tahu harus melakukan apa. Alan pun masuk ke dapur untuk mengambil air untuk Ivan dan Toni. Sebenarnya dia merasa takut untuk bertemu ibunya. Dia belum menyiapkan kata kata untuk menjelaskan kepada ibunya.
Saat masuk ke dapur alan tidak melihat ibunya. Biasanya Liliyana sedang menyiapkan makanan jam segini. Menyadari ibunya tidak ada di dapur alan mencari ibunya ke belakang rumah. Ternyata ibunya juga tidak ada.
Alan pun melihat kedalam kamar ibunya. Siapa tahu ibunya sedang beristirahat di kamar. Alan membuka sedikit pintu kamar ibunya. Terlihat Liliyana sedang tidur dengan tenang. Dia berdandan dengan cantik. Di sampingnya ada sebuah kotak hitam berpita merah.
Alan yang penasaran dengan kotak itu mengambilnya. Tapi tanpa sengaja kaki Alan menyenggol tangan ibunya. Tangan ibunya langsung terkulai lemas ke bawah ranjang.
Alan yang melihat tangan ibunya terkulai lemas langsung memegangnya untuk mengembalikannya ke posisi semula, dan alangkah terkejutnya Alan.
Alan tidak merasakan denyut nadi dari tubuh ibunya. Alan memeriksa detak jantung ibunya. Tapi juga tidak menemukan. Alan menyentuh lubang hidung ibunya, tapi tidak ada nafas yang keluar.
Alan ingin berteriak, ingin menangis. Tapi tidak ada suara apapun yang keluar dari mulutnya. Hanya bisa memeluk ibunya dan air mata membanjiri pipinya.
" I .. I... Ibu.... " Rintih Alan...
"Bu... Bu... Bangun bu... " Rintih Alan lagi.
"Ibu..." Kali ini Alan teriak.
Teriakan Alan langsung mengejutkan Ivan dan Toni yang masih duduk di ruang tamu. Mereka berdua berlari ke kamar Liliyana dan mendapati Alan sedang menangis sejadi jadinya dengan memeluk tubuh ibunya yang terkulai lemas.
Mereka berdua terdiam tidak bisa berkata apa apa.
__ADS_1