New World

New World
pasukan elit


__ADS_3

"teman teman... perkenalkan... ini jonta. dia adalah penyihir yang memiliki skill khusus. summoner undead, monster yang telah membantu kita tadi di pertempuran." alan memperkenalkan jonta pada freya dan clara yang sedang menunggu kesadaran shoote sun.


"salam kenal..." jonta memberi hormat sambil membungkukkan badan.


"salam kenal... namaku clara. sepertinya kita seumuran ya..."


"iya... aku baru 12 tahun."


"salam kenal... aku freya."


jonta merasa sangat senang disambut hangat oleh teman teman alan. semenjak kecil jonta memang tidak pernah memiliki teman, dirinya merasa sangat terharu dapat memiliki teman sekarang.


"lalu kakak ini?" jonta melihat ke arah shoote sun yang tertidur lemas.


"ah... namanya shoote sun. dia akan segera bangun setelah kondisinya pulih. dia adalah player seperti kita." alan menjelaskan kepada jonta. jonta pun hanya mengangguk menjawab perkataan alan.


"jonta... kamu tunggulah disini bersama mereka... ada sesuatu yang harus kulakukan."


alan pun meninggalkan ruangan tersebut untuk menemui igor. dirinya perlu membujuk igor agar bersedia membuatkan senjata yang bagus untuk elman dan prajuritnya.


igor baru saja bangun dari tidurnya. tertidur seharian membuat igor tidak tahu apa apa mengenai hasil perang. "perangnya?" igor langsung berlari keluar ruangan tempat dirinya istirahat untuk melihat apakah peperangan masih berlangsung. namun baru saja keluar dari ruangan dirinya bertemu dengan alan.


"ah... pak igor... kebetulan sekali..." sapa alan pada igor.


"kamu... kenapa disini? perang... ba..."


belum sempat igor selesai berkata, alan menyela perkataan igor. "tenanglah pak igor... perangnya telah usai..." alan mencoba menenangkan igor yang tampak gundah.


"usai? lalu?"


"kita bisa menang... tapi..." wajah alan tentu murung. walaupun pasukan revolusi bisa memenangkan perang, namun jumlah korban yang jatuh tidaklah sedikit.


melihat raut muka alan, igor bisa tahu apa yang akan alan katakan. "hah..." igor menghela nafas panjang.


"bisa bicara sebentar pak igor?" alan mengajak igor untuk berbicara empat mata.


merasa tidak ada yang mesti dikerjakan, dan kelihatannya alan ingin berbicara hal yang penting. igor mengikuti alan untuk berbicara empat mata.


"jadi... apa yang ingin kamu katakan? jangan bilang kalau kamu minta aku untuk membuatkan senjata lagi untukmu!" igor langsung tanpa basa basi setelah dirinya dan alan berada di sebuah ruangan.


"hah... anda memang selalu tidak pernah suka membuang buang waktu." alan menghela nafas setelah mendengar pertanyaan igor yang tanpa basa basi. walaupun pertanyaan igor sangat tepat sasaran.


"hah... benar ya... apa masih kurang senjata yang ku berikan dulu?"


"pak igor... tolong jangan berpikiran buruk terlebih dahulu kepada saya. saya sudah sangat puas dengan senjata yang tuan igor berikan." alan mencoba menjelaskan kepada igor agar igor tidak berpikiran jika alan adalah orang yang serakah akan senjata.


"kalau bukan untukmu? lalu untuk siapa? jangan bilang kamu akan menjualnya!"

__ADS_1


alan menggaruk kepalanya yang tidak gatal setelah mendengar pertanyaan igor. sepertinya igor benar benar menganggap alan orang yang selalu mencari keuntungan di setiap kesempatan.


"tidak pak igor... saya tidak akan menjualnya. saya meminta kepada pak igor untuk membuatkan senjata yang bagus untuk pasukan yang saya bawa."


alan menceritakan tentang elman dan pasukannya. pasukan yang dirinya bawa dari sisi sebelah barat.


"hem... jadi begitu..." igor memegang dagunya, dirinya nampak berpikir keras akan permintaan alan.


"pak igor... niat saya adalah membantu pasukan revolusi. saya melihat pasukan elman dapat berkembang menjadi pasukan yang kuat. yang mereka butuhkan hanya senjata yang berkualitas."


igor melihat tatapan mata alan yang menggambarkan niat yang kuat.


"coba pak igor bayangkan, jika pasukan revolusi memiliki pasukan elit sendiri, kejadian perang seperti hari ini pasti bisa dicegah." alan memberikan gambaran sejelas jelasnya kepada igor tentang rencananya.


"penuhi saja permintaanya igor..." olsen tiba tiba memasuki ruangan tempat igor dan alan berbicara empat mata.


"ah... tuan olsen..." igor langsung bangkit dari duduknya untuk memberi hormat. sementara alan hanya menganggukkan kepala kepada olsen.


"dia benar... kita perlu membentuk pasukan elit yang benar benar kuat. kita tidak tahu kejadian seperti hari ini apakah akan terjadi lagi atau tidak." olsen menambahkan.


"tapi tuan olsen..." igor mencoba menyanggah pendapat olsen dan alan. dirinya takut jika senjata yang dirinya buat akan disalah gunakan jika dibagikan massal.


"tenang pak igor... saya pasti akan menyeleksi siapa saja yang berhak untuk mendapatkan senjata buatan bapak. saya tahu apa yang menjadi kekhawatiran bapak." alan tentu tahu apa yang dikhawatirkan oleh igor. dirinya juga sudah berpikir sampai ke masalah tersebut. tentunya alan punya cara tersendiri untuk menyeleksi pasukan revolusi yang berhak mendapatkan senjata buatan igor.


"serahkan hal itu kepada dia igor. anak ini lebih hebat dari yang kita perkirakan." olsen menambahkan. alan tersipu malu mendengar perkataan olsen.


"ada satu hal yang aku ingin sampaikan kepadamu AS." olsen langsung memasang muka serius. memberi tanda jika apa yang akan dirinya sampaikan merupakan hal yang serius.


"anda perlu bantuan apa tuan olsen?" alan yakin olsen tidak akan memasang muka seserius seperti itu jika tidak ada hal yang penting.


"bukan bantuan... lebih tepatnya adalah memberikan tanggung jawab."


"tanggung jawab?" perasaan alan berkata tidak enak.


"ya... aku ingin kamu menjadi komandan pasukan revolusi, orang nomer dua setelah puteri leoni. menggantikan diriku!"


cethar...


perkataan olsen layaknya petir yang menyambar telinga alan dan igor. mereka tidak percaya dengan apa yang olsen katakan barusan.


"tuan olsen..." igor langsung mencoba membantah perkataan olsen, namun langsung dihentikan oleh gerakan tangan olsen.


"aku tahu apa yang aku putuskan..." " jadi aku harap kamu tidak menolaknya..." olsen menatap alan dengan serius, dari tatapannya alan bisa melihat jika olsen tidak menerima penolakan.


"maaf tuan olsen... sepertinya saya tidak bisa menerima tanggung jawab tersebut."


"kenapa?" olsen tentu tidak senang mendengar jawaban alan. itulah sebabnya dirinya meminta alasan kenapa alan menolak permintaannya.

__ADS_1


"saya merasa jika saya belum pantas untuk posisi tersebut. tuan olsenlah yang lebih pantas."


"hem... justru itulah yang membuatmu pantas. sikapmu yang selalu rendah diri seperti itu sangat dibutuhkan untuk memimpin pasukan revolusi."


"maaf tuan olsen... tapi saya benar benar tidak berani untuk mengambil tanggung jawab tersebut." alan menatap olsen dengan sangat serius, dirinya benar benar tidak berani untuk mengambil alih komando pasukan revolusi. lagipula akan sangat merepotkan jika alan mengambil alih komando pasukan revolusi.


alan adalah player, yang memerlukan levelling untuk meningkatkan kekuatan. jika dirinya menjadi komandan pasukan revolusi, tentu dirinya akan sangat kesulitan untuk menaikkan levelnya.


"jangan terburu buru... kamu pikirkan terlebih dahulu..." olsen masih berharap alan mau untuk menggantikan dirinya.


"keputusan saya final tuan... jika tidak ada yang ingin tuan sampaikan lagi... saya mohon undur diri... ada hal yang harus saya kerjakan." alan langsung bangkit dari tempat duduknya untuk pergi meninggalkan olsen dan igor. jika dirinya terus terusan duduk di ruangan tersebut, olsen pasti akan terus memaksanya.


alan langsung keluar dari ruangan tersebut untuk melakukan seleksi kepada pasukan revolusi yang akan mendapatkan senjata dari igor.


"tuan olsen... apakah anda serius?" setelah alan keluar ruangan tentu igor langsung memastikan kepada olsen tentang niat olsen yang baru saja disampaikan.


"aku serius igor..."


"tapi kenapa dia tuan? masih banyak yang lebih pantas jika memang anda benar benar ingin mundur dari posisi anda sekarang. lagipula... untuk apa anda mundur dari pasukan revolusi?"


"siapa bilang aku akan mundur dari pasukan revolusi?"


"lalu? jika anda tidak mundur? anda bersedia dipimpin oleh dia? menjadi bawahan dia begitu?"


"ya... kenapa tidak? aku yakin dia adalah pemimpin yang hebat. aku tidak keberatan jika dipimpin oleh dia."


"hah..." igor hanya menghela nafas panjang melihat kebulatan niat dari olsen. dirinya tahu betul jika olsen sudah berniat sesuatu hal, sangat sulit untuk membuatnya berubah pikiran.


igor pun memilih untuk pergi dari ruangan tersebut. dirinya perlu menyiapkan bahan bahan untuk membuat senjata yang diminta alan.


"baik... terima kasih sebelumnya kalian semua telah bersedia berkumpul." alan mengumpulkan seluruh pasukan revolusi di halaman pabrik. meskipun para prajurit masih sibuk berbenah, mereka tentu langsung berkumpul ketika diminta berkumpul.


"ada apa? apa akan ada pertempuran lagi?" samar samar alan bisa mendengar bisikan para prajurit di hadapannya. alan pun hanya tersenyum sendiri melihat para prajurit yang hanya berpikir soal perang.


"maaf telah mengganggu aktifitas kalian semua. tapi saya hanya perlu waktu beberapa menit untuk sesuatu hal." alan tidak menjelaskan tujuan utama dirinya mengumpulkan mereka. alan ingin jika apa yang dilakukannya tetap menjadi rahasia. dirinya tidak ingin menimbulkan kecemburuan diantara pasukan revolusi.


'joker... scan mereka! pilih yang hanya memiliki potensi dan sejarah perilaku yang baik.'


[scanning... mengidentifikasi objek...]


bukan masalah besar bagi joker untuk melakukan yang alan pinta. joker langsung menampilkan orang orang yang memiliki potensi besar dan sejarah perilaku yang baik.


"yang saya sebut nama namanya harap untuk tetap berada disini. bagi yang tidak saya sebut, silahkan untuk kembali melakukan aktifitas."


alan menyebutkan 37 nama. sebenarnya alan agak kecewa melihat 37 nama yang dipilih joker. dari 700an pasukan revolusi yang tersisa hanya 37 nama tersebut yang memenuhi syarat.


"baiklah... dengarkan baik baik... mulai sekarang kalian akan berada di bawah komandoku! aku akan melatih kalian semua sampai menjadi pasukan elit."

__ADS_1


senyum langsung terpancar dari setiap bibir ke 37 orang tersebut. mereka tidak percaya jika akan mendapatkan kesempatan untuk menjadi pasukan elit.


__ADS_2