New World

New World
Alan vs Dirda


__ADS_3

Bruk...


Satu hantaman kapak dari Dirda langsung membuat Alan terlempar hingga menabrak bebatuan. Bebatuan di belakang Alan pun sampai retak akibat terkena tubuh Alan yang melaju kencang. Alan langsung meminum potion penyembuh untuk memulihkan Hpnya yang turun seperempat bar.


"Kuat sekali..." Alan berdengus kesal setelah bertukar serangan dengan Dirda. Tidak menyangka jika kekuatan Dirda akan sangat jauh di atas Alan.


Dirda pun tidak membiarkan Alan terlalu lama bersantai, dirinya langsung mengakselerasikan kakinya agar melaju ke arah Alan. Beberapa detik kemudian, Dirda telah sampai di hadapan Alan. Ayunan kapak Dirda kali ini menyasar leher Alan, siap membelah kepala Alan agar terpisah dari tubuhnya.


Thang...


Alan terpaksa mengaktifkan Wind Shieldnya untuk menangkis serangan dari Dirda. Membuat kapak Dirda terpental ke belakang. Durabilitas Wind Shield pun langsung turun hampir setengahnya. Alan tentu memanfaatkan kesempatan yang ada untuk memberikan serangan balasan.


Thang...


Ayunan Wind Short Blade Alan membentur tubuh Dirda. Namun sama sekali tidak memberikan luka goresan kepada Advance Demon tersebut.


"Keras sekali..." Alan yang merasa tidak bisa memberikan luka kepada Dirda, memilih untuk mengambil jarak. Akan sangat berbahaya jika dirinya kembali terkena serangan dari Dirda.


"Sepertinya kamu tidak bodoh..." Dirda hanya tersenyum licik melihat Alan yang mundur mengambil jarak. Dirda mengakui jika apa yang Alan lakukan memang sangat tepat. Itu karena selama ini tidak ada Demon yang bisa memberikan luka kepadanya, setidaknya selama masa hidupnya. Semuanya berkat kekuatan special yang dirinya miliki, Iron Body.


"Tapi sampai kapan kamu akan bisa lari?" Dirda kembali melesat ke arah Alan, berusaha untuk tidak membiarkan Alan kabur.


Common Demon yang sedari tadi melihat pertukaran serangan antara Dirda dan Alan pun kini ikut menyerang Alan. Berusaha membunuh Alan secepat mungkin mereka bisa.


Alan tidak berani beradu senjata dengan Dirda, mengingat dirinya kalah jauh dalam segi kekuatan dengan Dirda. Alan menghindari setiap serangan yang Dirda lesatkan kepadanya.


"Tikus kecil... Hadapi aku secara jantan!" Dirda merasa jengkel sendiri karena setiap serangannya selalu bisa dihindari oleh Alan. Dirda beranggapan jika Alan adalah tikus pengecut yang tidak berani bertarung secara langsung.


Alan tentu tidak menggubris perkataan Dirda, fokus pikirannya lebih tertuju kepada serangan kapak Dirda yang mengincar nyawanya. Apa lagi ditambah ikut bergabungnya Common Demon dalam pertarungan, membuat Alan harus meningkatkan kewaspadaannya dua kali lipat.


"Black Breath!"


Alan merasa kesulitan untuk menghindari setiap serangan yang mengarah kepadanya. Dirinya pun menggunakan Black Breath untuk menghentikan pergerakan para Demon yang menyerangnya.


"Apa... Kenapa ini?" Dirda tentu terkejut mendapati adanya kepulan gas beracun tiba tiba menyelubungi dirinya dan Demon lainnya. Tubuhnya pun tidak bisa bergerak sama sekali.


"Shadow Step!"


Dengan agility yang meningkat dua kali lipat, Alan menebas setiap Common Demon yang mengelilinginya. Alan harus cepat menghabisi semua Common Demon sebelum durasi Black Breathnya habis.


"Aaa..."


"Aaa..."


Teriakan demi teriakan Common Demon memaksa masuk ke dalam telinga Dirda. Membuat Dirda hanya bisa melirik ke kanan dan ke kiri untuk memastikan apa yang terjadi. Namun dirinya juga tidak bisa berbuat apa apa, bahkan untuk membantu teman teman Demonnya. Untuk menoleh saja dirinya tidak mampu.


Setelah menghabisi semua Common Demon, bayangan bayangan hitam mulai merasuki ke dalam tubuh Alan. Memberikan sensasi hangat di dalam darah Alan.

__ADS_1


"Ini dia..." Alan merasa puas mendapatkan jiwa para Demon yang dirinya bunuh. Tujuannya pun kini telah melangkah satu langkah lagi ke depan.


"Apa yang kamu lakukan?" Kepulan gas beracun pun menghilang, kondisi sekitar Dirda mulai terlihat jelas. Dirda merasa sangat marah setelah melihat semua teman Demonnya telah tergeletak lemas di atas tanah. Belum ada satu menit dirinya dan teman temannya memojokkan Alan, namun kini teman temannya telah tergeletak semua.


"Tenang... Kamu akan segera menyusul mereka!" Alan memang sengaja membiarkan Dirda menjadi mangsa terakhirnya. Bukan untuk tampil keren atau apa. Semua karena Alan tidak percaya diri bisa membunuh Dirda selama durasi Black Breath. Alan tentu tidak ingin membuang percuma skill Black Breathnya tanpa hasil, itulah sebabnya dirinya lebih memilih menghabisi Common Demon terlebih dahulu.


"Kamu pikir kamu siapa tikus kecil?" Dirda semakin marah akibat provokasi yang keluar dari mulut Alan. Dirda langsung melayangkan serangan ke arah Alan dengan kapaknya.


Slash...


Slash...


Tebasan demi tebasan Dirda hanya menebas udara. Alan terus menghindari setiap serangan Dirda dengan mudahnya.


Thang...


Thang...


Tidak lupa Alan berusaha mendaratkan serangan ke beberapa bagian tubuh Dirda. Mencoba mencari tahu titik lemah Dirda.


"Hahaha..." Dirda tersenyum bangga, melihat Alan begitu frustasi setelah menyerangnya beberapa kali. Dirinya sangat percaya diri jika Alan tidak akan mampu melukainya.


'Joker... Kelemahannya!'


Di sela sela Alan menghindari serangan Dirda, Alan bertanya kepada Joker untuk meneliti tubuh Dirda.


[Analisis objek. Mengidentifikasi.]


'Apa yang harus aku lakukan?'


Alan tidak bisa lagi untuk berpikir di saat seperti ini. Fokusnya lebih tertuju kepada kapak Dirda yang berusaha menghilangkan nyawanya.


[Kamu harus membuatnya menonaktifkan kekuatan specialnya.]


'Hem...' Alan hanya terdiam. Menonaktifkan? Bagaimana caranya? Mengaktifkan kekuatan special diri sendirinya saja Alan belum bisa, apalagi menonaktifkan kekuatan special orang lain? Mudah dikatakan, sulit untuk dilakukan.


"Sulit bukan berarti tidak bisa..." Alan menggigit giginya sendiri sambil terus menghindari serangan Dirda. Satu satunya cara yang dirinya bisa dirinya lakukan saat ini adalah menguras stamina Dirda. Tapi sampai kapan? Alan tidak tahu seberapa kuat Dirda bisa terus melayangkan serangan kepadanya.


Slash...


Fokus Alan terbagi untuk beberapa saat, bahu kanan Alan pun tersayat kapak senjata Dirda. Tubuh Alan langsung terlempar sampai puluhan meter ke belakang, baru berhenti ketika tubuh Alan membentur batu besar.


"Aaah... Ini sakit..." Alan mengerang sambil memegangi bahu kanannya yang kini terluka. Darah merah mulai keluar dari bahu kanan Alan.


"Darah merah?" Dirda yang melihat darah merah keluar dari bahu kanan Alan tentu langsung curiga. Demon memiliki darah hijau, darah merah berarti menunjukkan jika lawannya bukanlah bangsa Demon.


"Siapa kamu?" Dirda kembali menyerang Alan. Bersiap menghabisi Alan dan bisa melepas topeng yang Alan gunakan. Dirinya ingin segera mengetahui identitas Alan yang sesungguhnya.

__ADS_1


Duar...


Kepulan debu langsung tercipta di tempat Alan terbaring. Namun Dirda tidak mendapati adanya tubuh Alan yang terbaring disana.


"Siapa aku bukanlah urusanmu!" Alan keluar dari bayangan dan mendaratkan serangannya ke arah Dirda.


"Canon Claw!"


Duar...


Tubuh Dirda langsung terpental puluhan meter akibat pukulan gauntlet Alan. Alan segera memanfaatkan situasi untuk meminum potion penyembuh. Namun baru satu botol yang dirinya minum, Dirda sudah kembali menyerangnya.


"Ah... Tidak bisakah aku minum sebentar?" Alan kembali menggunakan skill Shadowingnya untuk menghindari serangan Dirda. Dirda tentu bingung mendapati tubuh Alan yang tiba tiba menghilang.


Thang...


Sekali lagi tubuh Dirda di tebas dari belakang. Namun tetap saja... Tidak ada luka apapun yang dideritanya.


Slash...


Dirda kembali melayangkan serangan ke arah Alan. Namun kembali lagi Alan sudah menghilang tanpa jejak.


"Kurang ajar kau! Keluar dan hadapi aku!"


Dirda semakin murka karena merasa dipermainkan oleh Alan. Setiap serangannya selalu saja menebas udara, dan Alan akan tiba tiba muncul di belakangnya.


Alan terus menerus menggunakan skill Shadowingnya untuk menghindari serangan Dirda. Memeras kerja otaknya sampai titik yang bisa dirinya tahan.


Sepuluh menit pertarungan berlangsung, Alan sudah mulai merasakan beban di otaknya. Gerakan Alan untuk masuk dan keluar dari Shadowingnya pun mulai menurun.


Slash...


Dirda benar benar memanfaatkan kesempatan dengan sempurna. Alan terlaku lama berada di luar bayangan, sehingga Dirda bisa mendaratkan serangan ke pada Alan. Bukan karena Alan tidak mau menghindari, hanya saja skill Shadowingnya masih Cooldown saat itu. Alan terlalu lama satu detik ketika berada di dalam bayangan. membuat dirinya harus menunggu satu detik lebih lama untuk masuk ke dalam bayangan. Seperti itulah cara kerja skill Shadowingnya.


Satu detik sangat cukup bagi Dirda untuk mengalihkan arah serangannya kepada tubuh Alan. Membuat Alan harus sekali lagi terlempar beberapa puluh meter ke belakang.


Pandangan Alan pun mulai gelap. Alan memegang perutnya yang kini terdapat luka bekas sayatan kapak. Hp Alan pun tersisa tidak lebih dari 10 persen.


'Ahh... Apa aku akan mati kali ini?'


'Bocah...'


'Siapa?'


'Tidurlah... Dan akan aku selesaikan masalahmu!'


Sebuah suara terdengar di dalam pikiran Alan. Membuat Alan harus menerka nerka siapa yang bicara.

__ADS_1


'Joker?'


'Hahaha... Tidur! Dan semua masalahmu akan selesai!'


__ADS_2