
"Maafkan aku ayah? Tapi aku harus ikut pergi bersama AS dan yang lainnya." Freya mencoba membujuk ayahnya yang seakan tidak rela melihat anaknya untuk pergi meninggalkan desa lagi. Bagaimana tidak? belum sampai setengah hari Freya dan teman temannya menginjakkan kaki di desa Wood Elf. Dan kini mereka akan pergi meninggalkan desa ini lagi.
"Tapi freya..." Arwen tak kuasa menahan air mata di ujung matanya. Terlihat jelas jika dirinya masih sangat rindu terhadap anak perempuan satu satunya tersebut.
"Ayah... tenanglah... Aku bersama teman teman yang akan selalu siap untuk melindungiku."
Perkataan Freya membuat Arwen tidak bisa mengelak lagi. "Baiklah... Kalau itu maumu. Tapi berjanjilah kamu akan kembali." Arwen tak kuasa untuk menolak permintaan putrinya tersebut.
"Tenang saja ayah... aku pasti akan pulang." Freya memberikan senyum terhangatnya sambil memeluk ayahnya tercinta tersebut.
Alan yang melihat adegan pamitan Freya dan Arwen pun jadi teringat ketika dirinya terakhir kali bertemu ayahnya di stasiun. Masih sangat jelas bagaimana wajah Alan ketika Alan akan pergi berangkat ke kota Mediteran.
"Ayo berangkat..." Perkataan Freya mengejutkan Alan akan bayangan wajah ayahnya. Alan mencoba sekuat tenaga untuk tidak meneteskan air mata di hadapan teman temannya.
"Sudah? Baiklah... Keluarkan semua yang di dalam tasmu..." Freya mengangguk dan langsung mengeluarkan 5 bangkai monster gagak yang tersimpan di dimensional bag freya.
"Ayo... Jonta..." Alan langsung memberi isyarat kepada Jonta untuk melakukan tugasnya.
Jonta langsung mengangguk, tanda mengerti akan apa yang Alan inginkan. "Rise from dead!" seketika kelima bangkai monster gagak yang Freya keluarkan kembali hidup. kemunculan 5 monster gagak yang tiba tiba di desa Wood Elf tentu langsung mengundang perhatian semua orang yang ada di desa.
"Apa ini?" Arwen mengerutkan dahi melihat monster yang tadinya mati kembali hidup lagi. Dirinya melihat sendiri bagaimana freya mengeluarkan kelima bangkai monster gagak tersebut dari dimensional bagnya. Arwen pun mengumpat sejadi jadinya di dalam hati melihat Freya menggunakan dimensional bag warisan leluhurnya untuk menyimpan bangkai monster. Tapi tentu saja Arwen menahan dirinya. Dirinya yakin jika Freya melakukan hal tersebut berdasarkan alasan yang kuat.
"Ayo naik..." Ajak Alan kepada pasukannya untuk naik ke punggung monster gagak. Shoote sun, Freya, Clara, Jonta, 3 orang tetua peri Oread dan pasukan revolusi langsung menempatkan diri mereka di atas punggung monster gagak. Setiap monster gagak bisa menampung 7 orang jadi lima monster gagak lebih dari cukup untuk menampung Alan dan pasukan revolusi.
"Apa kamu yakin ini akan aman?" Nightwalker nampak masih ragu untuk ikut naik ke punggung monster gagak. memang dari rombongan Nightwalker hanya Nightwalker seorang yang mau bersedia untuk ikut Alan ke ibukota. Teman teman Nightwalker langsung mundur setelah Alan memberikan gambaran apa yang akan mereka hadapi di ibukota kerajaan South Mountain nantinya. Mereka lebih memilih untuk tetap berdiam di desa Wood Elf dan hidup dengan tenang. Alan tentu tidak mempermasalahkan pilihan mereka. Bagaimana pun itu adalah hak mereka untuk memilih.
"Yakinlah... Ayo cepat..." Perintah Alan yang sudah tidak sabar melihat Nightwalker begitu enggan untuk naik ke punggung monster gagak. Walaupun sudah Alan bujuk, Nightwalker tetap saja tidak langsung naik ke punggung monster gagak.
"Freya..." Alan yang merasa gemas pada Nightwalker akhirnya memberi tanda kepada Freya untuk mempercepat proses naiknya Nightwalker ke punggung monster gagak.
sret...
sret...
Akar akar tanaman keluar dari dalam tanah dan langsung melilit tubuh Nightwalker. Tubuh Nightwalker yang tengah terlilit akar pun diangkat ke atas dan diletakkan di punggung monster gagak.
__ADS_1
"Eh... Eh... Lepaskan..." Nightwalker mencoba meronta tapi apa daya? Lilitan akar Freya begitu kuat. Nightwalker pun hanya bisa pasrah untuk dibawa terbang monster gagak.
"Bagaimana? Amankan?" Alan menanyakan kepada Nightwalker yang terlihat masih menutup matanya. "Ayo... Buka matamu..."
"Tidak... Jangan paksa aku..." Apa yang Nightwalker tunjukkan menjadi hiburan tersendiri bagi semua orang yang ada di rombongan.
Tidak seperti sewaktu berangkat ke desa Wood Elf yang perlu waktu sehari dengan berjalan kaki. Perjalanan ke istana Oread hanya perlu waktu 3 jam dengan terbang. Rombongan Alan pun bisa memasuki Istana Oread ketika malam mulai menjelang.
"Clara..." Alan memberi tanda kepada Clara untuk menunjukkan dimana letak alat transportasi yang akan mereka gunakan. Clara pun mengangguk, tahu apa yang Alan inginkan.
Clara memimpin jalan di depan memasuki istana oread untuk menunjukkan tempat alat teleportasi tersebut berada. Alan dan yang lainnya pun mengikuti Clara yang seakan sudah menganggap istana tersebut sebagai rumahnya sendiri.
"Darimana kamu tahu jika para peri memiliki alat teleportasi?" Alan tidak bisa menghiraukan rasa penasaran yang menyelimuti dirinya.
"Oh... Kakak penasaran ya?" Canda Clara.
"Ya lah..."
"Aku bertanya banyak hal pada para peri sewaktu kakak log out kemarin. Sebagai pelindung mereka, tentu aku harus tahu apa saja yang perlu aku lindungi." Ucap Clara dengan sombongnya yang hanya dibalas cibiran oleh Alan.
Namun yang paling menarik perhatian Alan tentu adalah sebuah Altar yang terletak di tengah tengah ruangan tersebut. Altar tersebut tidak terlalu tinggi, hanya berselisih 6 anak tangga dari lantai. Namun altar tersebut dikelilingi oleh 6 pilar setinggi 5 meter. Di setiap pilar pilar tersebut juga terdapat ukiran ukiran rune.
"Bagaiman cara mengaktifkan alat ini?" Tanya Alan kepada ketiga tetua peri yang ikut dalam rombongan Alan. Ketiga tetua peri tersebutlah yang nantinya akan mengoperasikan alat teleportasi yang akan mengirim alan beserta teman temannya.
"Kalian hanya perlu berdiri di tengah altar. dan nanti kami akan mengurus sisanya." Jawab salah satu tetua peri.
"Apa kita bisa memilih tempat yang akan kita tuju?" Alan perlu memastikan beberapa hal sebelum dirinya memutuskan untuk menggunakan alat teleportasi tersebut.
"Untuk persisnya kita tidak bisa. Kita hanya bisa mengarahkan kalian pada satu wilayah."
"Hem... " Alan nampak berpikir dengan cermat setelah mendengar penjelasan dari salah satu tetua peri.
"Itu artinya bisa saja kita muncul di ruang singgasana raja robert nantinya?"
"Bisa saja..."
__ADS_1
Harus Alan akui dirinya benci mendengar jawaban dari tetua tersebut. Dirinya paling tidak suka dengan hal hal yang tidak pasti seperti ini. Karena dirinya tidak bisa mempersiapkan rencana yang benar benar matang jika seperti ini.
"Kita tunda dulu keberangkatan kita. Kita berangkat besok pagi." Setelah menimang beberapa alasan, alan yakin ini adalah pilihan yang tepat.
"Apa? Apa maksudmu?" Freya yang nampak paling jengkel dengan keputusan Alan. Dirinya rela meninggalkan kampung halamannya sesegera mungkin untuk bisa mengikuti alan. Tapi malah kini Alan memilih menunda? Jika tahu akan seperti ini Freya memilih untuk tinggal di desanya terlebih dahulu sambil melepas rindu dengan ayahnya.
"Kita tidak tahu dengan pasti apa yang akan menanti kita setelah kita sampai disana. Kita perlu menyiapkan segala kebutuhan kita untuk berjaga jaga."
Alasan Alan memang benar dan masuk akal, namun tetap saja bagi Freya hal seperti itu masih kurang. Kalau hanya untuk bersiap siap seharusnya di desanya juga masih bisa.
"Para tetua... Maaf kalau saya ingin merepotkan lagi. Tapi bisakah kalian menumbuhkan tanaman tanaman ini?" Alan memberikan daftar nama nama tanaman yang alan perlukan.
"Ini... Apa yang ingin kamu buat?" Para tetua tersebut tentu tahu jenis tanaman apa yang Alan inginkan dari mereka.
"Ah... Mungkin Clara belum memberitahu kalian jika aku adalah penguna racun."
"Jadi begitu... Racun ya?" Ketiga tetua tersebut nampak berpikir keras untuk memenuhi permintaan Alan.
"Tenanglah... Kakakku satu ini bukanlah orang yang jahat." Seakan tahu apa yang menjadi pertimbangan dari para tetua, Clara memberikan pembelaan kepada Alan. Tanpa pikir panjang para tetua tersebut langsung setuju untuk memenuhi permintaan Alan setelah dibujuk oleh Clara.
Dengan sihir pohonnya, para peri langsung menumbuhkan tanaman yang belum pernah sekalipun para player atau pasukan revolusi lihat. Mereka langsung terkesima dengan apa yang para peri tunjukkan, sebuah tanaman kecil dengan beberapa bunga berwarna ungu langsung muncul di hadapan mereka.
[Wolfs Bane flower.]
"Bagus sekali... Seperti yang aku harapkan." Walaupun belum pernah melihat secara langsung, tapi bunga yang dihadapannya kini sangat mirip dengan gambar yang ditampilkan oleh joker. Wolf Bane flower inilah yang akan menjadi dasar utama dari poiton barunya.
"Bisakah kalian membuatkan bunga ini dalam jumlah yang banyak?"
pertanyaan Alan tentu langsung membuat para tetua peri mengerutkan dahi. Itu karena mereka memerlukan mana yang besar untuk sekedar membuat satu Wolf Bane flower. "Bisa saja... Tapi kami perlu waktu. Karena untuk membuat satu bunga ini perlu mana dalam jumlah besar."
"Oh... kalau masalahnya hanya mana... Itu mudah..." Alan mengeluarkan stock mana regeneration potion yang dirinya miliki dan memberikan kepada para tetua peri. Para tetua peri pun tidak bisa mengelak lagi untuk tidak memenuhi permintaan Alan. Karena Alan mengeluarkan lebih dari 40 botol mana regeneration potion.
"Kalau masih kurang kalian tinggal bilang saja. Aku masih punya banyak." Alan menunjukkan senyum kepolosannya.
Para tetua pun hanya bisa tersenyum canggung untuk menanggapi Alan. Dengan berat hati mereka menuruti apa yang Alan inginkan.
__ADS_1