New World

New World
Jalur Alternatif


__ADS_3

Alan terperangah melihat Flyin kembali menelan Summoner Crystal. Seharian berburu, Alan dan Flyin telah berhasil membunuh 9 monster. Dan Flyin saat ini sedang menelan Summoner Crystal kesembilannya tanpa menunjukkan dirinya sudah merasa kenyang. Jujur saja Alan tidak tahu, berapa banyak Summoner Crystal yang seharusnya dimakan Flyin dalam satu harinya. Namun menurut Alan, seharusnya 3 atau 4 Summoner Crystal saja sudah cukup bagi Flyin untuk memenuhi kebutuhan Flyin.


"Apa semua Demon memang seperti ini?" Alan sampai berasumsi jika Flyin memang serakah dalam memenuhi hasrat perutnya tersebut. Alan tidak bisa membayangkan seperti apa kehidupan para bangsa Demon di dalam kelompok mereka jika setiap individunya seperti Flyin.


Di sisi lainnya, Alan sangat menyayangkan Summoner Crystal yang seharusnya bisa digunakan dirinya untuk memanggil monster kini hanya menjadi santapan Flyin. Andai saja itu di Main World, Alan pasti akan sangat menjaga Summoner Crystal yang didapatnya. Mengingat Summoner Crystal akan sangat berguna jika dalam keadaan yang mendesak. Alan sudah merasakan sendiri seperti apa manfaat dari bertarung dengan ditemani monster, benar benar sangat membantu.


"Bagaimana kalau kita beristirahat dulu disini Tuan?" Tanya Flyin setelah menghabiskan Summoner Crystal kesembilannya.


Alan hanya menjawab dengan anggukan kepala, mengingat dirinya juga merasa lelah setelah membunuh sembilan monster hari ini. Lagipula level Alan juga telah melonjak jauh sampai level 74. Monster monster yang ada di Abyss benar benar berbeda dengan yang ada di Main World. Di dunia yang bernama Abyss ini, monster monsternya jauh lebih kuat. Alan benar benar harus bekerja ekstra keras untuk membunuh satu dari mereka. Sayangnya monster monster yang ada di dunia Abyss ini tidak menjatuhkan Drop item, entah karena presentasi mereka menjatuhkan drop item begitu kecil atau memang tidak ada sama sekali. Alan masih belum bisa membuktikannya.


Flyin menatakan tempat seadanya bagi Alan untuk beristirahat. Dengan dua batu sebagai sandaran kepala, dan kain tipis sebagai alas untuk merebahkan badan.


"Tidak perlu repot repot Flyin. Aku bisa menata sendiri." Alan merasa sungkan sendiri melihat Flyin menatakan tempat baginya beristirahat.


"Sudah menjadi tugas saya Tuan."


Alan pun hanya tersenyum kecil mendengar jawaban Flyin. Nampaknya jiwa kepelayanan Flyin telah mendarah daging. Dimana pun dia berada akan selalu mencoba memberikan pelayanan yang terbaik, bahkan tanpa pengawasan Azazel sekalipun. Tadinya Alan mengira jika Flyin melayaninya hanya karena perintah Azazel, tapi setelah melihat Flyin yang tetap melayaninya bahkan tanpa pengawasan Azazel, Alan menjadi berpikir ulang.


Di dunia Abyss tidak bisa dibedakan mana malam ataupun siang. Karena langit di dunia Abyss selalu tampak merah kecoklatan, seperti langit senja. Jika tanpa bantuan jam yang ada di sistem, Alan tentu tidak bisa membedakan kapan waktu untuk beristirahat dan kapan waktu untuk beraktifitas.


Setelah beristirahat selama 8 jam, Alan dan Flyin kembali melanjutkan perjalanan mereka. 8 jam tidur sudah cukup bagi Alan untuk mengembalikan kondisi tubuhnya yang tadinya lelah. Alan yang tidak bisa log out dari New World, hanya bisa menggunakan tidur sebagai pengistirahatan otaknya. Alan tentu tidak ingin tubuhnya tiba tiba pingsan karena kelelahan lagi.


Flyin mengajak Alan untuk melihat salah satu kota terdekat yang ada di dekat mereka. Meskipun juga tidak bisa dibilang dekat, karena waktu yang mesti ditempuh untuk sampai ke kota tersebut satu hari dengan berjalan kaki.


Alan tentu merasa sangat antusias mendengar Flyin akan mengajak Alan untuk melihat salah satu kota bangsa Demon. Alan sudah sangat penasaran seperti apa kehidupan para bangsa Demon di dunia Abyss ini. Namun Flyin tetap mengingatkan Alan agar selalu menjaga identitasnya sebagai Elf, agar tidak mendapat masalah yang tidak diperlukan.


Setelah setengah hari berjalan di daerah yang tandus, sampailah Alan dan Flyin pada area bebatuan yang sedikit menanjak. Area bebatuan tersebut membentuk semacam bukit bukit kecil, saling bersautan satu sama lain sehingga membentuk barisan bukit.


"Setelah kita melewati bukit bebatuan ini kita akan sampai pada daerah bernama Pripyat. Saya harap anda bisa segera membiasakan diri dengan para Demon yang ada." Flyin sekali lagi mengingatkan Alan.


Alan hanya mengangguk mendengar penjelasan Flyin, dirinya juga paham apa yang harus dirinya lakukan nanti. Namun baru saja Flyin dan Alan mulai memasuki area bebatuan tersebut, sebuah serangan langsung mengarah ke arah Alan dan Flyin berada.


"Awas Tuan..." Flyin langsung menyeret tubuh Alan agar menghindari sebuah serangan bola api yang mengarah ke arah mereka berdua.


Duar...


Bola api pun menghancurkan bebatuan yang menjadi pijakan Alan tadi. Membuatnya menjadi debu debu yang beterbangan.

__ADS_1


"Siapa mereka?" Alan tidak bisa untuk tidak bertanya kepada Flyin setelah mendapat serangan dadakan.


"Tentu mereka para Demon yang hidup di sekitar sini."


"Demon?" Alan tentu langsung mengerutkan dahi. Bukan karena terkejut akan siapa yang menyerang mereka berdua, Alan lebih memikirkan alasan para Demon tersebut menyerang Flyin dan Alan secara tiba tiba.


Flyin yang bisa membaca isi pikiran Alan pun langsung menjelaskan lebih lanjut. "Kami para bangsa Demon sangat menyukai pertarungan, tidak perlu alasan yang kuat bagi kami untuk saling bertarung. Di dunia Abyss ini, Yang kuat yang akan dihargai."


Alan hanya tersenyum kecil mendengar penjelasan Flyin. Yang kuat yang akan dihargai, aturan tersebut memang selalu bekerja dimana pun itu. Entah itu kuat secara kekuatan tubuh, atau kekuatan finansial, yang pasti... Yang lebih kuat yang akan dihargai.


"Ada 12 orang yang mengepung kita. Bagaimana?" Setelah memeriksa suhu di sekitarnya Alan bisa merasakan ada 12 sumber panas yang bisa dirinya deteksi selain Flyin. Alan tentu meminta pendapat Flyin terlebih dahulu, mengingat Flyin jauh lebih senior daripada dirinya.


"Saya sendiri sebenarnya cukup untuk menghadapi mereka. Tapi tidak ada salahnya menggunakan mereka sebagai latihan untuk Anda. Tapi tolong jangan memaksakan diri Anda." Flyin langsung bergerak dari tempatnya berdiri menuju ke arah rombongan Demon. Meskipun rombongan Demon tersebut bersembunyi di daerah bebatuan, mereka juga tidak bisa luput dari kekuatan special Flyin. Flyin pun bisa mengetahui posisi mereka tanpa masalah.


"Semangat yang bagus Flyin." Alan ikut berlari. Dirinya menuju ke arah yang lainnya.


"Shadow Stab!"


Alan langsung tiba tiba muncul di belakang salah satu Demon yang bersembunyi. Belati Alan langsung menyayat leher salah satu Demon tanpa ampun.


"urgh..." Rintihan dari Demon yang Alan sayat terdengar, membuat ketiga temannya langsung mengalihkan pandangan ke arah sumber suara. Ketiga Demon tersebut langsung melompat ke belakang setelah melihat Alan yang masih memegang belati dengan berlumuran darah berwarna hijau.


[Common Demon.]


"Jadi ini Demon yang ada disini?" Alan sedikit merasa prihatin melihat kondisi bangsa Demon yang seakan busung lapar tersebut. Namun Alan tentu tidak berbelas kasihan pada Demon yang sudah berusaha membunuhnya. Alan langsung bergerak menyerang ketiga Demon tersebut tanpa menunggu mereka menyerang terlebih dahulu.


Walaupun badan ketiga Demon tersebut terlihat kurus dan tidak bertenaga, nyatanya tubuh mereka jauh lebih kuat daripada kelihatannya. Bahkan harus Alan akui jika kekuatan mereka hampir setara dengan setengah atribut Alan. Padahal Atribut Alan termasuk golongan tertinggi untuk para player selevelnya.


Bukan hal yang sulit bagi Alan untuk membunuh ketiga Demon tersebut, hanya bedanya Alan tidak bisa membunuh mereka dengan satu serangan langsung. Alan perlu sedikit memberikan luka sebelum mengakhiri nyawa mereka dengan serangan fatal. Alan juga tidak perlu repot repot menggunakan skill skillnya.


Selesai membunuh ketiga Demon yang tersisa, hal yang aneh terjadi pada Alan. Beberapa bayangan hitam keluar dari tubuh Demon tersebut dan berusaha masuk ke dalam tubuh Alan. Alan yang melihat adanya bayangan hitam menuju ke arahnya langsung berusaha menghindarinya. Dirinya teringat akan rasa sakit yang dirinya rasakan dulu ketika bayangan bayangan hitam tersebut masuk ke tubuhnya. Namun gerakan bayangan hitam tersebut begitu cepat, usaha Alan untuk menghindarinya pun menjadi sia sia.


Namun berbeda saat di Istana Azazel dulu. Kali ini bukan rasa sakit yang Alan rasakan, namun sensasi hangat di dalam tubuhnya. Satu persatu dari keempat bayangan hitam yang masuk ke dalam tubuh Alan selalu memberikan rasa hangat. Alan pun tidak habis pikir dengan yang terjadi pada tubuhnya.


'Joker... Ada apa ini?' Merasa tidak bisa mendapat jawaban, Jokerlah satu satunya yang bisa memberikan jawaban.


[Shadow Blood di dalam tubuhmu menyerap jiwa mereka. Memberikan Shadow Blood yang ada di dalam dirimu kekuatan. Semakin banyak jiwa Demon yang kamu serap, akan semakin kuat Shadow Blood yang ada di dalam tubuhmu.]

__ADS_1


'Apa dengan cara ini aku bisa mengaktifkan Shadow Blood yang ada di dalam tubuhku?'


[Tentu AS. Semakin kuat Shadow Blood yang ada di dalam tubuhmu, semakin cepat pula kamu dapat mengaktifkannya.]


Penjelasan dari Joker sangat cukup bagi Alan untuk mengerti. Intinya dirinya bisa menggunakan jiwa Demon yang dirinya bunuh untuk menjadi lebih kuat. Alan pun kini memiliki jalan alternatif lain untuk bisa mengaktifkan Shadow Blood tanpa harus belajar menyalurkan mana. Jujur saja Alan masih sangat frustasi akan tidak kemampuan dirinya menyalurkan mana. Jangankan menyalurkan, merasakannya pun dirinya belum mampu.


"Sepertinya perjalananku ini tidak akan sia sia." Alan tersenyum kecil, membayangkan dirinya akan segera bisa mengaktifkan Shadow Blood yang ada di dalam tubuhnya.


"Anda sudah selesai Tuan?" Pertanyaan dari Flyin menghancurkan semua lamunan rencana Alan. Alan pun menoleh ke arah Flyin untuk melihat kondisi Flyin. Alan sampai lupa jika Flyin sedang menghadapi kedelapan Demon lainnya.


Namun setelah melihat kondisi Flyin yang sama sekali tidak terluka, Alan jadi merasa percuma mengkhawatirkan dirinya.


"Sudah... Bagaimana denganmu?" Alan hanya berbasa basi. Meskipun dirinya sudah tahu akan jawabannya.


"Demon kecil seperti mereka tidak akan menjadi masalah bagi saya. Mari kita lanjutkan perjalanan." Flyin langsung melangkahkan kaki tanpa menunggu Alan memberikan jawaban.


"Apa kita bisa bertemu dengan Demon seperti mereka lagi?" Alan sambil mengikuti langkah kaki Flyin.


Flyin yang bisa membaca isi pikiran Alan tentu langsung paham dengan maksud Alan.


"Tenang saja Tuan. Bangsa Demon dilahirkan untuk saling bertarung satu sama lain. Anda bisa membunuh mereka selama Anda bisa."


"Baguslah... Kita harus cepat kalau begitu." Alan mendahului langkah kaki Flyin, seakan akan dirinya sedang dikejar waktu.


Melihat apa yang dilakukan Alan, Flyin hanya tersenyum kecil. "Tuan Azazel memang tidak pernah salah."


***


**TANPA MEMAKAI KATA KATA AIR YANG SELALU JERNIH ATAU GADING YANG TAK RETAK. SAYA SELAKU AUTHOR CERITA INI MENGUCAPKAN DARI DALAM HATI YANG TERDALAM...


"MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN PARA PEMBACA SEKALIAN. MOHON MAAF YANG SEBESAR BESARNYA JIKA AUTHOR PUNYA SALAH KEPADA PEMBACA SEKALIAN TOLONG DIMAAFKAN. ENTAH ITU KATA KATA YANG KURANG BERKENAN DI CERITA, KATA YANG GAK ENAK DI COMMENT, ATAU BELUM MAMPUNYA AUTHOR BUAT CRAZY UP...🤭


SEMUA ITU TIDAK LEPAS DARI KETIDAK SEMPURNAANNYA AUTHOR SEBAGAI MANUSIA."


TERIMA KASIH BANYAK KALIAN TELAH SENANTIASA MENDUKUNG CERITA INI DENGAN TERUS MEMBACA DAN MENINGGALKAN LIKE ATAU VOTE.


SEMOGA KITA SELALU DIBERI KESEHATAN, KESEJAHTERAAN, KEMUDAHAN DALAM KEHIDUPAN KITA.

__ADS_1


AMIN**...


__ADS_2