
Toni hanya berjalan mondar mandir di dalam kamarnya. Ke kanan, ke kiri, kembali lagi ke kanan dan ke kiri lagi. Begitu terus seterusnya, sampai ekor beruang yang telah putus tersambung lagi.
Bukan karena apa Toni melakukan hal seperti itu. Dirinya hanya sedang menantikan kepulangan Alan yang entah pergi ke mana. Toni perlu memberitahu Alan jika Poska sedang berencana untuk menyerang Bangsa Demon.
Bukan karena takut akan kalahnya Bangsa Demon jika Poska menyerang. Toni lebih takut jika Poska dan semua Kapten Light Guardian yang Poska bawa sampai terbunuh. Akan memberikan dampak yang begitu besar pada kekuatan yang dimiliki Light Guardian jika Poska dan semua Kapten yang Poska bawa terbunuh.
Dan tentu Toni tidak ingin hal itu sampai terjadi. WMC yang sedang dirinya kembangkan begitu mengandalkan Light Guardian sebagai salah satu organisasi penyokong keamanan untuk setiap gerbang teleportasi yang WMC bangun.
Keamanan gerbang teleportasi yang WMC bangun tentu akan menjadi rentan jika sampai kekuatan Light Guardian turun secara drastis. Apalagi jika para pesaing bisnis WMC mengetahui informasi seperti itu. WMC benar benar akan jatuh terpuruk jika Poska dan semua Kapten Light Guardian yang Poska bawa mati di Kerajaan Demon God.
Ceklek...
Suara pintu kamar asrama yang terbuka membuat Toni langsung siaga di depan pintu masuk kamar asrama.
"Ah... Darimana saja kamu?" Toni merasa lega melihat kedatangan Alan.
"Ada apa kamu bertingkah seperti itu? Macam kamu istriku saja..." Ketus Alan yang merasa heran melihat tingkah Toni. Tidak memperhatikan sikap yang Toni tunjukkan lebih lanjut dan langsung memilih untuk mandi. Keringat di tubuhnya hasil latihan bersama Andre sudah bukan lagi berbau masam. Melainkan sudah berubah menjadi semacam bau makanan basi.
"Ahh.... Segarnya..." Keluh Alan setelah keluar dari kamar mandi. Dengan handuk celana kolor, dan handuk yang masih menempel di pundaknya Alan membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Tidak peduli jika apa yang dirinya lakukan akan membuat basah ranjang tempat tidurnya.
"Lan... Bisa kamu bantu aku satu hal..." Toni yang masih setia menunggu Alan mulai berani bicara. Jujur saja dirinya bingung harus berkata seperti apa kepada Alan. Apa yang dirinya minta bertolak belakang dengan tujuan Alan di New World.
"Ada apa denganmu? Tidak biasanya kamu bersikap seperti itu..." Alan mulai curiga pada sahabatnya satu ini. Biasanya Toni akan langsung mengungkapkan permintaannya tanpa basa basi seperti ini.
"Itu... Aku bingung harus mulai darimana..."
"Hah... Macam bukan kamu saja... Jangan bilang ini soal May lagi... Bukannya hubungan kalian sudah membaik?"
"Tidak... Bukan masalah May... Ini soal Kerajaan Bangsa Demon yang akan kamu bangun..."
"Kerajaan Bangsa Demon? Memang kenapa?" Mendengar Toni menyebut Kerajaan Bangsa Demon Alan jadi sedikit paham jika apa yang akan Toni sampaikan berkaitan dengan New World.
"Jadi begini...." Toni pun menceritakan kejadian sejak dirinya kembali dari Ibukota Kerajaan Demon God. Mulai dari dirinya di sidang oleh para tetua, sampai keinginan Poska yang ingin mempertanggung jawabkan kesalahannya.
"Hem... Lalu?" Alan bangkit dari tidurannya, dirinya masih belum begitu paham dengan maksud dari cerita Toni. Jika memang Poska sang Commander Light Guardian ingin menghalangi kemunculan Kerajaan Bangsa Demon. Maka dirinya cukup menghabisi Poska, tidak ada yang rumit dari cerita yang dibawakan Toni.
"Na... Itulah sebabnya... Aku ingin..." Toni pun mulai menjelaskan hubungan antara WMC dengan Light Guardian. Dan tentu saja Toni ikut menyampaikan permintaannya kepada Alan agar tidak membunuh Poska dan semua Kapten Light Guardian yang datang ke Kerajaan Demon God.
__ADS_1
"Hah... Kamu memang selalu merepotkanku Ton..." Alan kembali merebahkan badannya ke atas ranjang. Memikirkan solusi paling tepat untuk memecahkan masalah yang diminta oleh Toni.
"Tolonglah Lan... Kamu tahu kan WMC ini adalah salah satu cabang usaha keluargaku yang aku bina sendiri... Jika sampai ini hancur... Maka kepercayaan keluargaku kepada diriku juga akan ikut hancur..." Pinta Toni dengan begitu serius pada sahabatnya satu ini.
"Hah... Baiklah... Mau bagaimana lagi... Semua juga demi kamu..." Alan akhirnya mengiyakan permintaan Toni. Meskipun dirinya juga masih belum terpikirkan solusi paling tepat untuk bisa memecahkan permasalahan Toni. Namun dirinya juga sadar diri... Jika nasib Toni di mata keluarganya kini bergantung pada apa yang Alan lakukan.
"Thanks Lan... Kamu memang sahabatku yang terbaik..." Toni mencoba memberikan pelukan pada sahabat terbaiknya tersebut.
"Najis... Jauh jauh kamu..." Alan langsung menghindar, tidak ingin sampai dirinya ternodai oleh tangan penuh dosa milik Toni.
###
Kekalahan yang begitu telak membuat Fire Blade membuka sudut pandang baru akan pola pikir Fire Blade. Apa lagi setelah mengetahui jika dirinya mendapat penalti kematian lima kali lipat dari biasanya.
Yang membuat Fire Blade sedikit gusar adalah, tidak semua anggota Guildnya mendapat penalti kematian lima kali lipat. Hanya dirinya, Gina dan beberapa player saja yang mendapat penalti kematian lima kali lipat. Dari hal itu Fire Blade bisa menyimpulkan, jika hanya para player yang dibunuh oleh sosok berjubah hitam itu saja yang mendapat lima kali lipat penalti kematian.
"Guild Master... Apa kita tidak akan membalas dendam?" Tanya Gina yang memandang Guild Masternya hanya terdiam mematung. Meskipun sosok tubuhnya ada di hadapannya, namun Gina tahu... Jika pikiran Guild Masternya sedang terbang entah kemana.
"Aku tidak akan cukup bodoh untuk melakukan hal seperti itu...." Fire Blade tetap pada pandangan kosongnya.
"Apa kamu masih belum paham dengan keadaan yang terjadi?" Fire Blade kini mengalihkan pandangannya pada Gina yang berdiri di hadapannya.
"Maksud Anda Guild Master?"
"Sosok yang kita lawan... Bukanlah Bangsa Demon... Dia adalah seorang player..."
"Player? Darimana Anda bisa berpikir seperti itu?" Gina tidak habis pikir dengan pemikiran Fire Blade. Mana ada player yang bisa memiliki kekuatan semacam itu. Berpikir jika sosok berjubah hitam itu adalah petinggi Bangsa Demon lebih masuk akal.
"Hanya kita dan beberapa player yang dibunuh oleh sosok berjubah hitam itu saja yang mendapat penalti kematian lima kali lipat. Dia pasti lah seorang player yang memiliki item untuk melipat gandakan penalti kematian."
"Itu berarti..." Gina tidak menyangka, jika Guild Masternya melakukan analisis secara teliti seperti itu.
"Benar... Cepat atau lambat... Keberadaan player itu akan diketahui oleh semua Guild yang ada di dunia... Dan kita harus bisa bergerak sebelum itu terjadi..."
"Maksud Anda Guild Master? Anda ingin merekrutnya menjadi anggota kita?" Gina mencoba menerka isi pikiran Guild Masternya tersebut.
"Jika dia mau... Tapi jika pun dia menolak... Paling tidak kita bisa menjalin hubungan yang baik dengan dia..."
__ADS_1
"Apa Anda yakin dengan hal tersebut Guild Master? Bahkan Dia memiliki kekuatan yang jauh di atas Anda... Aku ragu dia mau menerima apa yang kita tawarkan nantinya..."
"Aku tahu hal itu... Dia memang sangat kuat, dan dia mungkin bisa mendapatkan apapun di New World ini dengan kekuatannya. Tapi belum tentu jika di dunia nyata kan?"
"Jadi... Anda?" Mendengar Fire Blade membawa bawa dunia nyata, itu berarti Fire Blade akan melibatkan sosok yang berada di balik perkembangan RnP Guild selama ini.
"Ya... Aku akan menghubungi Tuan Mathias... Aku yakin Tuan Mathias akan tertarik untuk merekrut sosok berjubah hitam itu." Jawab Fire Blade dengan senyum khasnya.
"Tapi bagaimana jika dia menolak Guild Master?" Gina mencoba mencari alasan untuk menyanggah rencana Guild Masternya. Dirinya masih sedikit ragu akan rencana Guild Masternya. Melibatkan Tuan Mathias yang selama ini memberikan support dana untuk RnP Guild bukan pilihan yang bijak bagi dirinya. Hal seperti itu menunjukkan jika Fire Blade belum sepenuhnya cakap untuk memimpin RnP Guild seutuhnya.
"Percayalah padaku... Sekuat apapun player di dunia maya ini, belum tentu dia juga memiliki kekuatan yang sama di dunia nyata. Kita hanya harus mencobanya terlebih dahulu..." Keputusan Fire Blade sudah final. Tidak akan ada lagi bisa mengganggu keputusannya, kecuali jika Tuan Mathias tidak bersedia mengulurkan tangannya.
Namun kemungkinan seperti itu kecil kemungkinannya untuk terjadi, Tuan Mathias begitu mempercayai Fire Blade untuk mengembangkan RnP Guild hingga RnP Guild bisa menjadi suatu lahan bisnis baru untuk Tuan Mathias.
"Aku akan log out untuk bersiap bertemu dengan Tuan Mathias... Kamu bersiap siaplah... Kita akan langsung berangkat lagi ke Ibukota setelah aku kembali log in."
"Baik Guild Master..." Gina tidak berani membantah. Jika Fire Blade sudah memutuskan satu hal untuk urusan guild, maka itu akan terjadi. Kecuali jika Tuan Mathias tidak menginginkan hal itu.
***Halo semua... Dengan terbitnya chapter ini, maka genap 250 chapter sudah aku menulis cerita ini.
Bener bener gak kebayang bagiku bisa menulis sampai 250 chapter...
Masih teringat jelas bagaimana dulu niatan menulis cerita ini hanya karena iseng iseng belaka. Dari yang tadinya pembacanya hanya bisa dihitung dengan jari, sampai kini juga masih bisa di hitung dengan jari. Jari orang banyak maksudnya.
Terima kasih sebesar besarnya saya ucapkan untuk semua yang telah mendukung cerita ini hingga sampai sekarang. Dari like, comment vote, semua begitu berharga bagiku. Tanpa kalian sebagai penyemangat, mungkin cerita ini akan berhenti di tengah jalan dari dulu.
Saya sadar cerita ini masih banyak kurangnya, jadi jika ada masukan dari para pembaca saya sangat menerimanya dengan tangan terbuka.
Beli beras di warung pak Somat
Berasnya beras ketan
Tau apa hal paling berat?
Ya jelas kondangan ke tempat mantan...
Eeeaaa...***
__ADS_1