
Ken memegang dahi Alan, memeriksa apakah pria Elf di hadapannya ini sedang tidak waras atau memiliki masalah pada otaknya.
"Apa yang kamu lakukan?" Alan tentu merasa risih dengan perlakuan Ken. Dirinya segera menepis tangan Ken yang menempel di dahinya.
"Memastikan apakah kamu memiliki kelainan otak..." Jawab Ken dengan polosnya. Dirinya tidak habis pikir, jika apa yang barusan Alan katakan adalah maksud dan tujuan Alan mendatangi Kerajaan Black Dessert. Tadinya dirinya berpikir jika Alan hanya ingin singgah di Kerajaan Black Dessert untuk bermain wanita seperti dirinya.
Namun kenyataannya sangat berbeda, Alan memiliki tujuan untuk menghancurkan sebuah guild yang bisa dibilang menguasai Kerajaan Black Dessert dari balik layar.
"Apa maksudmu?" Alan sedikit tersinggung, namun dirinya juga sadar. Ken pasti sangat terkejut ketika mendengar Alan mengajak Ken untuk menyerang perkebunan Violet Cactus milik Sun Flower Guild.
"Jangan cepat emosi... Nanti kamu cepat tua..." Ken langsung mencoba menenangkan Alan. "Apa yang akan aku dapatkan jika aku membantumu?"
Ken mengikuti Alan adalah untuk memenuhi janjinya mengajari Alan tekhnik menggunakan mana, bukan untuk membantu mengatasi urusan Alan. Akan selalu ada biaya tambahan untuk suatu hal yang tidak termasuk dalam perjanjiannya dengan Alan.
"Aku tidak ingin berdebat harga denganmu, katakan apa yang kamu inginkan!" Ketus Alan pada Ken.
Sementara Heaven Sins, Jack Wilshere dan Cleo hanya bisa terdiam. Mereka tidak habis pikir jika Ken memungut biaya tambahan untuk permintaan Alan. Padahal dua hari ini, Alan sudah menggolontorkan puluhan koin emas demi memenuhi hasrat Ken di Heaven Throne. Sempat tersirat di dalam pikiran mereka, teman seperti apa Ken itu? Kenapa dia bisa tega memperlakukan Alan seperti itu?
"Aku tahu ini pekerjaan ini tidak hanya untuk dirimu sendiri, tapi juga berkaitan dengan Heaven Throne ini. Member eksklusif dan diskon 50% untuk diriku di tempat ini. Maka akan aku bantu kamu menghancurkan perkebunan itu!"
Alan langsung mengerutkan dahi mendengar syarat yang diajukan oleh Ken. Memberikan diskon di Heaven Throne kepada Ken bukanlah wewenang dirinya, bagaimana pun juga Heaven Throne adalah milik Heaven Sins dan Jack Wilshere.
"Setuju..." Jack Wilshere langsung menjawab syarat yang diajukan oleh Ken. Bagaimanapun juga apa yang akan mereka lakukan ini membantu Heaven Throne keluar dari permasalahan keuangan saat ini. Lagipula, Jack Wilshere merasa ini adalah kesempatan untuk membalas kebaikan Alan yang telah mengenalkan Abyssall Wine kepada Heaven Throne.
"Bagus... Kita bisa mulai memantau lokasi perkebunan mereka. Kita berpencar dan cari semua informasi yang berguna. Kita akan kembali kesini sore nanti dan mulai menyusun rencana." Alan tanpa basa basi lagi, semakin cepat mereka bertindak, akan semakin bagus untuk mereka.
__ADS_1
Semuanya mengangguk dan langsung pergi ke perkebunan Violet Cactus milik Sun Flower Guild yang ada di sebelah barat Balck Dessert City. Alan dan Chiro pergi seorang diri, Ken pergi bersama Jack Wilshere, dan Heaven Sins pergi bersama Cleo beserta Willi.
###
Perkebunan Violet Cactus terletak di sebelah barat Balck Dessert City. Perkebunan seluas 35 hektar yang dikelilingi pagar besi tersebut adalah perkebunan terluas yang ada di New World. Terlihat dengan jelas jika perkebunan tersebut begitu tertata dengan rapi, perusahaan Sun Flower Guild benar benar menggunakan semua tekhnologi pertanian yang ada di dunia nyata untuk diterapkan di perkebunan Violet Cactus di New World tersebut.
Terbang dari ketinggian bersama Chiro dan merefleksikan dirinya agar tidak terlihat dari bawah menggunakan Shadow Zone, Alan kini bisa melihat perkebunan Violet Cactus dengan sangat jelas.
'Joker... Tampilkan aktifitas log in dan log out para player yang ada di tempat itu!'
[Menganalisis data. Membaca log aktifitas sistem. Menampilkan hasil.]
"Tidak buruk juga..." Gumam Alan perlahan setelah dirinya membaca tampilan data yang Joker tampilkan. Dari waktu para player log in dan log out Alan bisa mendeteksi cara pengamanan perkebunan Violet Cactus.
Alan duduk bersila sambil memandangi perkebunan Violet Cactus. Dirinya membayangkan bagaimana jalannya pertempuran jika dirinya menyerang secara frontal dari depan. Dua ribu player mungkin akan terasa mudah di hadapi jika Alan bersama dengan Bangsa Demon dalam penyerangan kali ini. Tapi Alan tidak ingin mengikut sertakan Bangsa Demon. Dirinya tidak ingin kestabilan Kerajaan Bangsa Demon yang baru dibangun, bisa hancur dan berantakan hanya karena satu peperangan.
"Aku tetap harus membuat tim pengalih perhatian dan tim penghancur. Tapi mencegah bala bantuan mereka datang adalah prioritas utamaku." Alan berbicara sendiri di atas punggung Chiro. Chiro yang terbang bersama Alan pun hanya terdiam, dirinya tahu jika partnernya tersebut sedang berpikir dengan keras.
Alan mengajak Chiro untuk terbang mengelilingi perkebunan Violet Cactus beberapa kali. Dirinya harus mengetahui titik titik mana yang memiliki pertahanan yang kuat dan yang tidak.
"Bagus... Kita bisa kembali Chiro!" Perintah Alan pada Chiro setelah lebih dari dua jam terus terbang mengelilingi perkebunan Violet Cactus. Semua informasi yang dirinya butuhkan terasa sudah lebih dari cukup untuk saat ini.
Chiro pun menurut dan meninggalkan lokasi perkebunan Violet Cactus. Alan meminta Chiro untuk mendarat di tengah tengah pada pasir, dirinya perlu menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk penyerangan perkebunan Violet Cactus milik Sun Flower Guild.
"The Forgotten World! Open Gate in!"
__ADS_1
Tubuh Alan dan Chiro pun langsung menghilang begitu saja di tengah tengah padang pasir.
###
"Apa yang kamu lakukan pada dia?" Alan langsung bertanya kepada Asmodias yang terlihat sedang mendandani Grestal. Bisa Alan lihat, jika seluruh tubuh Grestal kini dipenuhi dengan tulisan tulisan rune berwarna merah darah.
"Aku sedang membuatnya menjadi lebih berguna. Nyatanya... Dia tidak seberguna yang kamu pikirkan kemarin. Jadi diam lah!" Asmodias sedikit menaikkan intonasinya ketika menjawab pertanyaan Alan, dirinya benar benar perlu waktu untuk berkonsentrasi.
Alan pun memilih diam, dirinya tidak ingin menganggu Asmodias yang nampak sedang sibuk. Meskipun dirinya begitu penasaran dengan apa yang dilakukan Asmodias pada Grestal, lambat laun dirinya juga akan mengetahuinya sendiri. Dirinya hanya perlu bersabar.
Dua jam berlalu, sudah puluhan kali Alan melihat lingkaran sihir mengelilingi tubuh Grestal dan meresap ke dalam setiap tulisan rune yang ada di tubuh Grestal. Berkali kali juga Alan harus melihat satu satunya Bangsa Titan yang tersisa itu menjerit kesakitan. Grestal pun berusaha memberontak, namun lingkaran sihir yang mengikat Grestal jauh lebih kuat daripada Grestal itu sendiri. Membuat Grestal harus pasrah menerima semua perlakuan Asmodias kepada dirinya.
"Jadi... Apa yang kamu inginkan?" Tanya Asmodias yang sudah menyelesaikan semuanya.
"Itu bisa menunggu... Apa yang kamu lakukan pada Bangsa Titan itu?"
"Seperti yang kamu inginkan bukan... Dia sekarang menjadi lebih berguna. Dia bisa menjadi senjata yang begitu mematikan." Senyum terpancar dari Asmodias. Dirinya ingin menunjukkan kekuatan baru Grestal, tapi dirinya tidak ingin menghancurkan Kota The Forgotten World yang sudah susah payah dirinya bangun selama ini.
"Apa kamu yakin?" Alan mendekati tubuh Grestal yang kini terbaring pingsan. Tubuh Grestal kini bertambah lebih besar dari ukuran semula, yang tadinya hanya setinggi 3 meter, kini bertambah besar hingga mencapai 5 meter.
"Kamu bisa mencobanya di luar jika kamu mau..."
"Baguslah kalau begitu... Kebetulan aku juga memerlukan senjata penghancur saat ini..." Alan tidak menyangka, Asmodias akan bisa merubah Grestal begitu cepat. Tadinya Alan membawa Grestal ke tempat ini untuk menjadikan Grestal sebagai satu senjata rahasia jika terjadi perang besar besaran.
"Sepertinya rencanaku berubah besar besaran..." Gumam Alan yang cukup puas dengan hasil kerja Asmodias. Bahkan dirinya sudah tidak sabar untuk mencoba kekuatan baru yang Grestal miliki.
__ADS_1