
"Kalian istirahat saja dulu... Tidak perlu menemaniku." Alan memberitahu kelima teman temannya selagi dirinya sibuk dengan pembuatan poitonnya. Tangan Alan begitu lihai mengolah tanaman tanaman yang ditumbuhkan oleh para tetua peri untuk diolah menjadi poiton.
"Mana mungkin kami meninggalkan kamu sendirian begini. Apa yang bisa kami bantu? Biar kerjaanmu selesai lebih cepat." Shoote sun menanggapi.
"Baiklah... kalian bisa memasukkan cairan cairan itu ke dalam botol. Pastikan kalian berhati hati. Jangan sampai cairan tersebut mengenai kulit kalian!" Tunjuk Alan pada satu wadah cairan berwarna keunguan.
"Memang kenapa kalau terkena kulit?" Shoote sun tahu jika Alan sedang mengolah poiton jenis baru. Tapi memperingatkan teman temannya agar jangan sampai terkena cairan tersebut? Shoote sun pikir hal tersebut terlalu berlebihan.
"Percayalah... Kalian tidak ingin merasakan rasa sakitnya." Alan tidak terlalu menghiraukan perkataan Shoote sun. Fokus dirinya lebih tertuju kepada cairan yang ada di hadapannya.
Mendengar peringatan Alan tentu semuanya langsung mengerti seperti apa bahayanya cairan di hadapan mereka ini. Mereka berlima pun sangat berhati hati dalam memasukkan cairan keunguan tersebut ke dalam botol.
Tiga jam keheningan menyelimuti ruangan alat transportasi tersebut. Hanya suara dengkuran dari para pasukan revolusi saja yang seakan menjadi lagu soundtrack kegiatan mereka. Pekerjaan Alan pun bisa selesai lebih cepat, karena bantuan kelima teman temannya tersebut.
"Ah... Akhirnya..." Jonta meregangkan badannya setelah berhasil membungkus seluruh cairan keunguan ke dalam botol. Seluruh badannya seakan mati rasa akibat duduk bersila sambil berkonsentrasi memasukkan cairan keunguan ke dalam botol.
"Bisa kita istirahat kah?" Jonta sudah tidak kuat lagi. Rasa lelah telah menumpuk dalam tubuhnya.
"Kalian istirahat saja dulu. Aku masih perlu menyiapkan potion penyembuh dan mana regeneration." Kata Alan sambil mempersiapkan bahan bahan untuk memulai ronde keduanya.
"Masih ada lagi?"
"Kan sudah kubilang agar kalian istirahat dulu. Nanti aku menyusul."
"Hah... Baiklah... Tapi jangan lupa untuk mengistirahatkan badanmu." Shoote sun ikut berdiri untuk meregangkan badannya. Dirinya tahu betul jika Alan sudah memutuskan sesuatu akan sangat sulit untuk dirubah.
"Tenang saja... Pastikan saja kalian semua siap untuk besok."
Shoote sun, Jonta dan Nightwalker mengatur sistem mereka agar log out dari New World. Sedangkan Clara dan Freya langsung mencari tempat yang sedikit nyaman untuk membaringkan badannya. Kini Alan pun bisa benar benar larut dalam pembuatan potionnya.
thik thok
thik thok
"Pagi semua..." Suara Shoote sun yang baru saja log in membuat Alan terbangun dari tidurnya. Padahal belum sampai 1 jam Alan mengistirahatkan matanya.
"Pagi..." jawab Alan dengan enggannya. Rasa ngantuk nampaknya masih menyelimuti matanya. Alan memilih untuk istirahat di New World dan tidak kembali ke dunia nyata, mengingat dirinya hanya memiliki waktu sebentar untuk beristirahat. Akan repot jadinya jika dirinya kembali ke dunia nyata dan tidak bisa kembali ke New World tepat waktu.
"Kamu tidak log out?" Shoote sun yang melihat Alan bangun tidur langsung memasang muka garang.
"Ah... Aku keasyikan membuat potion, jadinya nanggung jika log out."
"Jagalah badanmu itu! Mau sehebat apapun kamu, kamu tetap perlu istirahat. Jangan sampai badan aslimu terkena imbasnya." Shoote sun langsung memberikan ceramah pagi kepada Alan.
"Ya... ya..." Alan hanya bisa membalas dengan dua kata tersebut dan bergegas meninggalkan Shoote sun untuk mengambil air sebagai pembasuh muka. Shoote sun merasa geram sendiri mendapat perlakuan seperti itu dari Alan.
Satu persatu pasukan revolusi juga mulai bangun, diikuti Clara dan Freya. Jonta dan Nightwalker juga hampir bersamaan log in ke New World.
"Baiklah... Semuanya dengarkan aku." Alan memberikan penjelasan singkat sebelum mereka berteleportasi ke ibukota South Mountain.
__ADS_1
"Kita tidak tahu pasti posisi kita nantinya. Jadi aku harap kalian semua langsung bersiap untuk hal yang terburuk ketika kita sudah sampai disana."
Pasukan revolusi mendengarkan apa yang Alan jelaskan dengan hikmat. Mereka semua tahu jika mereka tidak boleh gegabah dan harus mengikuti instruksi dari Alan. Tidak lupa Alan membagikan poiton yang semalam dirinya buat kepada pasukan revolusi.
"Ini?" Pasukan revolusi tentu masih bingung dengan cara kerja poiton terbaru Alan.
"Ini adalah Wolf fang poiton. Pastikan senjata yang kalian gunakan telah terolesi dengan poiton itu. Itu akan membantu kalian dalam pertarungan nanti. Tapi hati hati! Jangan sampai poiton ini terkena ke badan kalian." Pasukan revolusi hanya mengangguk mendengar penjelasan dari Alan.
"Baiklah... Para tetua... Tolong..." Alan memberi tanda kepada para tetua peri untuk menyiapkan proses teleportasi setelah dirinya dan pasukannya berdiri di atas altar.
Tetua peri hanya mengangguk, dan langsung melangkahkan kaki di sela sela pilar yang mengelilingi altar. Masing masing dari tetua peri berdiri di antara 2 pilar bertuliskan rune tersebut.
Semua tetua peri tersebut mengangkat tangannya ke atas sambil membacakan mantra. Lingkaran sihir bertuliskan rune pun muncul di atas tangan setiap tetua peri. Lingkaran sihir tersebut berputar searah jarum jam. Ketika putarannya telah mencapai maksimal, muncul sebuah lingkaran sihir seukuran altar tempat Alan dan yang lainnya berdiri. Lingkaran sihir tersebut bergerak ke atas, sampai menyentuh ujung pilar paling atas.
Dan...
Zing...
Pandangan Alan dan yang lainnya langsung berubah menjadi putih semua.
###
Pagi buta di luar ibukota South Mountain, Pasukan revolusi yang dipimpin Olsen tengah bersiap untuk menyerang pasukan kerajaan yang menjaga pintu masuk ibukota. Mereka tengah menunggu di perbatasan hutan. Dari tempat mereka berdiri, mereka bisa melihat pemukiman dadakan yang terdiri dari tenda tenda yang digunakan pasukan kerajaan untuk beristirahat. Olsen memang sengaja memilih waktu pagi buta untuk menyerang agar pasukan kerajaan sedikit lengah.
"Tuan... Egner dan yang lainnya sudah berangkat." Lapor salah satu prajurit kepada Olsen.
"Bagus... Gurgen... Ayo bersiap. Kamu sudah gatal kan?"
"Dengar... Hari ini adalah hari penentuan untuk perjuangan kita selama ini."
"Hari ini... Dengan kita melangkahkan kaki kita, kita akan mengakhiri pembawa rasa derita untuk rakyat kerajaan ini."
"Oleh sebab itu... Kita akhiri penderitaan rakyat kerajaan ini hari ini juga."
"Kita akan pulang dengan membawakan kebahagian untuk keluarga kita."
"Kita akan pulang untuk melihat senyum indah mereka!"
"Ya..." Jawab pasukan revolusi serentak setelah mendengar kobaran penyemangat dari Olsen.
"Demi keluarga kita!"
"Demi keluarga kita..."
"Serang!"
Pasukan revolusi langsung menyerang ke sisi sebelah selatan ibu kota. Para elementalis, penyihir, dan pemanah langsung melancarkan serangan ke arah tenda tenda pasukan kerajaan.
"Serangan datang..."
__ADS_1
"Serangan datang..."
Suara dari pasukan kerajaan yang berjaga membuat semua pasukan kerajaan yang masih tertidur keluar dari tenda mereka. Mereka tentu tidak menduga jika pasukan revolusi akan menyerang di pagi buta seperti ini.
duar...
duar...
jleb...
jleb...
Ledakan terjadi di beberapa sisi tenda pasukan kerajaan, membuat kobaran api yang merubah gelapnya pagi buta menjadi seterang siang.
"Pasukan... Bentuk formasi!" Teriak komandan pasukan kerajaan yang melihat datangnya serangan pasukan revolusi. Namun langkah yang dirinya ambil nampak sedikit terlambat, pasukan revolusi tengah berhasil memasuki pemukiman pasukan kerajaan.
Pertumpahan darah pun tidak bisa dihindarkan lagi. Pasukan revolusi yang lebih tertata langsung dapat memukul pasukan kerajaan yang masih bersiap akan datangnya serangan.
"Beri sinyal untuk minta bantuan!" Teriak komandan pasukan kerajaan.
ciu...
Duar...
Sebuah kembang api berwarna merah langsung menyala di atas langit setelah teriakan komandan tersebut. Kembang api yang menjadi tanda kepada pasukan kerajaan yang menjaga sisi lain agar membantu ke sisi sebelah selatan.
Olsen yang melihat kembang api tersebut tentu tahu akan maksud dari kembang api tersebut. "Gurgen... Halau bala bantuan mereka yang dari barat!" Kita akan tetap fokus dengan satu pintu masuk!" Teriak Olsen.
Gurgen langsung menuruti perintah dari Olsen. Gurgen dan anak buahnya langsung menuju ke sisi barat untuk menghalau bala bantuan yang datang.
Rencana Olsen nampak berjalan dengan lancar. Walaupun bala bantuan pasukan kerajaan dari sisi timur datang membantu. Kedatangan mereka sudah terlalu terlambat. Formasi dari pasukan revolusi tengah tertata rapi. Sihir sihir dari para elementalis dan penyihir pasukan revolusi selalu bisa mengurangi jumlah pasukan kerajaan dengan maksimal.
"Bagus... Tahan formasi seperti ini! Sebentar lagi kita akan bisa menembus pintu masuk." Olsen yakin pasukan kerajaan tidak akan bisa menahan gempuran serangan dari prajuritnya. Tinggal menunggu waktu saja sampai pintu selatan bisa terbuka.
Duar...
Tiba tiba sebuah ledakan terjadi di tengah tengah pasukan revolusi yang mengakibatkan lebih dari 50 orang langsung mati terbakar.
"Apa yang terjadi?" Olsen tidak melihat adanya serangan sihir yang datang dari arah pasukan kerajaan. Namun tiba tiba ada ledakan di tengah tengah pasukannya.
Uargh...
pertanyaan Olsen langsung terjawab setelah terdengar sebuah raungan di langit. Mata semua orang langsung menuju ke langit, mencari sosok yang mengeluarkan suara raungan tersebut.
"Na... Naga?" Mulut Olsen terbuka lebar melihat seekor naga hitam terbang di atas mereka. Seumur hidupnya baru kali ini melihat sosok seekor naga.
Namun yang lebih mengherankan adalah, Olsen bisa melihat jika ada 10 orang yang terjun dari punggung naga tersebut. Kesepuluh orang tersebut mendarat di tengah tengah pasukannya.
"Siapa mereka?" Olsen yakin jika kesepuluh orang tersebut akan menjadi masalah. Dirinya langsung menghampiri tempat kesepuluh orang tersebut mendarat.
__ADS_1
"Mereka?" Olsen yakin jika dirinya pernah melihat kesepuluh orang tersebut. Ya... Kesepuluh orang tersebut adalah sepuluh dari sekian banyaknya orang yang menyerang pabrik senjata waktu itu. Namun berbeda dengan terakhir kali Olsen melihat mereka. Kesepuluh orang tersebut kini memancarkan aura gelap di sekujur tubuhnya.