
Prang...
Suara pecahan porcelain tergema di salah satu ruangan rumah. Lantai rumah yang terbuat dari marmer, di tambah tingginya plafon ruangan, dan sepinya suasana rumah tersebut, membuat suara pecahan piring yang dibanting tersebut menggema sampai ke semua sudut ruangan rumah.
Terdengar cek cok antara dua orang begitu suara pecahan piring tersebut selesai menggema. Tidak jelas apa yang mereka ributkan, namun satu hal yang pasti... Kedua orang tersebut sama sama tidak mau mengalahkan pendapat mereka. Membuat perdebatan antara dua orang berlainan jenis tersebut tidak akan menemukan titik terang.
Di tangga melingkar yang menyambungkan antara lantai satu dengan lantai dua, duduk seorang wanita yang wajahnya begitu kesal. Wanita tersebut terus menutup kedua telinganya, mencoba mencegah kata kata yang menggema seisi rumah memasuki gendang telinganya.
"Cukup... Sampai kapan kalian akan begitu?" Batin wanita tersebut. Emosi menguasai hatinya. Dirinya benar benar telah lelah harus setiap hari mendengar percekcokan yang terjadi di dalam tempat tinggalnya. Dirinya tidak mau menyebut tempat tinggalnya sebagai rumah, karena dirinya merasa tempat tinggalnya adalah rumah baginya. Rumah seharusnya bisa membuat nyaman siapapun yang menempatinya, bukannya menyiksa seperti yang dirinya rasakan saat ini.
Ingin sekali dirinya keluar dan pergi dari tempat tinggalnya ini, tapi dirinya juga tidak tahu harus pergi kemana. Hidupnya selama ini hanya terbatas pada lingkungan rumah mewah dan sekolah. Tanpa pernah tahu siapa saja yang menjadi tetangganya.
Suara adu argumen yang sedari tadi dirinya dengar pun berhenti. Berganti menjadi suara langkah kaki yang terdengar mendekati tempat wanita tersebut duduk.
Si wanita langsung berdiri, mengusap sedikit air mata yang sempat mengalir dari ujung matanya. Segera berlari menuju ke lantai dua tempat kamarnya berada.
Namun sayang... Langkah kakinya tidak secepat yang dirinya harapkan. Salah satu orang yang sedari tadi berdebat mendapati dirinya yang sedang berlari ke atas menyusuri tangga melingkar.
"Marchela..." Suara teriakan seorang wanita yang tidak lain adalah ibunya.
"Marchela tunggu!" Teriak ibunya sekali lagi. Melihat anaknya tidak berhenti dan terus melangkahkan kaki mendekati kamarnya berada.
Sang ibu pun mengejar anaknya ke atas. Dirinya merasa berhutang penjelasan kepada anaknya, karena telah dengan sengaja bertengkar dengan suaminya dan diketahui oleh anaknya. Sangat tidak bijaksana bagi seorang orang tua, jika sampai perdebatan antara sepasang suami istri diketahui oleh anaknya. Hal itu bisa menjadi penentu perubahan psikologis anak. Apalagi Marchela sedang pada masa labil labilnya remaja.
"Marchela... Buka pintunya sayang..." Sang ibu mengetuk pintu yang kini dikunci dari dalam oleh Marchela.
Marchela yang tengah menenggelamkan kepalanya di atas bantal tidak mengindahkan panggilan ibunya. Isak tangis menjadi temannya saat ini, lembut dan empuknya bantal seakan menjadi teman yang paling mengerti akan kesedihannya. Sedih karena merasa kekuarganya tidak lagi bisa seharmonis ketika dirinya kecik dulu.
Ingin sekali dirinya kembali menjadi anak anak, dimana dirinya bisa dimandikan kasih sayang yang begitu banyak dari kedua orang tuanya. Bukan seperti sekarang, dimana dirinya harus terus mendengar perdebatan yang tiada habisnya antara sepasang pria dan wanita yang katanya adalah sepasang suami istri.
"Marchela.. Maafkan Ibu nak..." Suara ibunya mulai melambat, Marchela bisa mengetahui dari suara serak ibunya, jika ibunya juga ikut menangis di balik pintu kamarnya.
Namun hal itu tidaklah cukup untuk menggoyahkan hati Marchela. Marchela benar benar ingin sendiri, lebih baik dirinya berteman dengan sepi daripada harus mendengar bermacam penjelasan dan alasan yang keluar dari salah satu orang tuanya. Dirinya benar benar tidak tahan dengan kondisi rumahnya, ingin sekali dirinya membawa tubuh yang ditopang kakinya untuk pergi dari tempat yang seharusnya dirinya panggil rumah tersebut.
Namun apa daya? Dirinya hanyalah seorang tuan puteri dari satu keluarga terpandang. Dirinya tidak pernah sekalipun keluar rumah tanpa adanya pengawalan. Bahkan jalan untuk menuju ke sekolahnya pun dirinya tidak hafal, apalagi mau pergi kabur dari rumah? Marchela tentu tidak cukup bodoh untuk melakukan hal seperti itu.
Pandangannya pun terarah pada satu buku yang ada di meja di samping ranjang tempat tidurnya. Sebuah buku dengan tulisan New World di bagian sampulnya. Terdapat sebuah tombol berwarna merah di bagian bawah tulisan New World tersebut.
Buku itu adalah pemberian ayahnya untuk ulang tahun dirinya yang ke 16. Diambilnya buku tersebut, dan di dudukkannya pada pangkuannya. Dengan sedikit keraguan, Marchela menekan tombol merah tersebut.
Ceklek...
Ceklek...
Buku pun berubah menjadi sebuah helm, lengkap dengan sepuluh sarung jari di dalamnya. Shoote Sun tahu betul fungsi dari helm tersebut. Ayahnya sudah menjelaskan dengan panjang lebar bagaimana dirinya harus menggunakan helm tersebut.
__ADS_1
Suara ketokan pintu di pintu kamar Marchela tidak mau berhenti, membuat Marchela semakin merasa risih dengan apa yang dilakukannya ibunya tersebut.
Merasa semakin penat, akhirnya Marchela memakai helm beserta kelengkapannya. Membaringkan tubuhnya, dan membawa pikirannya jauh ke alam lainnya.
[Welcome to New World...]
[Identifikasi retina dan sidik jari. Pengguna baru telah ditemukan. Silahkan masukkan nama untuk akun Anda.]
Marchela terdiam sesaat, dirinya bingung harus memberi nama apa pada akun barunya tersebut. "Sepertinya nama ini cocok untuk keadaanku sekarang. Lagipula nama adalah doa kata sebagian orang." Setelah mempertimbangkan beberapa saat, Marchela memutuskan untuk memberi nama Shoote Sun pada akunnya, yang berarti matahari yang berkilau. Dirinya berharap ayah dan ibunya bisa melihat keberadaan dirinya, dan mengembalikan kondisi keluarganya seperti dulu lagi.
[Sebuah Special Chip telah ditemukan... Silahkan pilih class yang Anda inginkan.]
Di tampilan layar Marchela muncul beberapa pilihan class untuk Marchela pilih. Ada tiga pilihan yang bisa Marchela pilih.
Hand of Helios. Special Class bertipe cahaya.
Quen of Fire. Special Class bertipe api.
Marchela tentu tidak curiga dengan adanya hal tersebut Dirinya tentu berpikir jika seluruh player baru di New World akan mendapatkan pilihan class seperti dirinya di awal permulaan game. Padahal sebenarnya itu semua karena ayah Marchela.
Ayah Marchela adalah pemegang saham terbesar di perusahaan yang menaungi New World, Microboot. Dengan satu kata dari ayahnya, dan apalagi itu adalah hadiah ulang tahun untuk anaknya, Ayah Marchela menjadikan helm VR milik Marchela bisa langsung mendapatkan special class sejak awal permainan. Lagipula hal seperti itu akan lebih menjamin keselamatan Marchela ketika Marchela bermain di New World.
Marchela memilih Hand of Helios, karena menurut dirinya class tersebut berkaitan dengan namanya. Sangat tidak matching jika dirinya memilih Gaia Protector tapi nama akunnya Shoote Sun.
[Player telah berhasil membuat sebuah akun baru. Player akan di kirim di Ibukota Kerajaan South Mountain.]
Pandangan Marchela pun berubah secara perlahan, awalnya gelap dan sebuah titik sinar terlihat di kejauhan. Titik sinar tersebut semakin membesar dan dirinya mendapati telah berada di dalam sebuah perkotaan.
[Player mendapatkan Special Quest dari Special Class yang dimiliki. Mencegah bangkitnya musuh Dewa Helios, Satan sang Raja Demon.]
__ADS_1
Marchela atau Shoote Sun sedikit bingung. Mencegah bangkitnya Sang Raja Demon? Dimana dirinya harus mencari petunjuk? Tapi karena tidak adanya batas waktu untuk Quest yang dirinya dapatkan, Shoote Sun tidak terlalu menghiraukannya. Dirinya ingin menikmati waktu bebasnya di dalam game bernama New World ini.
Hari demi hari Shoote Sun bermain game New World. Awal mula dirinya merasa begitu bahagia, bisa berpetualang sendirian tanpa adanya sebuah pengawalan yang selalu mengekang dirinya. Namun lama lama dirinya semakin merasa bosan. Apalagi dirinya selalu dimanfaatkan oleh player lain yang satu kelompok dengan dirinya. Special Class yang dirinya miliki membuat dirinya lebih kuat daripada player player biasa.
Merasa jengah karena selalu dimanfaatkan, Shoote Sun pun memilih untuk menyembunyikan identitas Special Class miliknya. Dirinya benar benar ingin mencari teman yang tidak mencoba untuk memanfaatkan dirinya. Bukan hanya teman yang mau berteman dengan dirinya karena special class miliknya.
Barulah setelah dirinya bertemu dengan seorang player yang menyelamatkan dirinya di dalam hutan, perjalanan permainan game Shoote Sun berubah total. Player tersebut bernama AS.
Player tersebut tidak special, tampan pun juga tidak. Hanya saja player tersebut memiliki satu yang Shoote Sun cari selama bermain game, yaitu perhatian.
Meskipun terlihat cuek, tapi Shoote Sun bisa tahu... Jika AS adalah player yang sangat memperhatikan teman temannya. Dia selalu mengedepankan keselamatan teman temannya daripada keberhasilan quest. AS dan kedua NPC yang bersama dirinya, memberikan sesuatu yang begitu dirinya idam idamkan, keluarga yang saling menjaga.
Permainan game New World Shoote Sun semakin berwarna setelah pertemuan dengan AS. Setiap hari dirinya selalu menantikan petualangan baru yang akan dirinya dapatkan ketika bermain game bersama AS.
Semakin lama bermain, semakin besar pula rasa kekaguman yang Shoote Sun miliki pada sosok AS. Bahkan dirinya dirinya merasa AS adalah alasan dirinya mau bermain New World setiap hari. Kehangatan yang dirinya rasakan di antara kelompoknya, menjadi candu tersendiri untuk dirinya. Shoote Sun ingin selalu bermain bersama mereka, tanpa memperdulikan Special Quest yang dirinya dapatkan.
Namun nyatanya, semua tidak sesuai rencananya. AS tiba tiba membunuh dirinya dan menghilang begitu saja. Shoote Sun berusaha menghubungi AS dengan mengirimkan pesan pesan suara pada akun AS. Namun semua pesan tersebut tidak pernah tersampaikan.
Shoote Sun pun memilih untuk meninggalkan Kerajaan South Mountain, demi menyelesaikan Special Quest miliknya. Dirinya hanya berharap suatu hari bisa kembali dipertemukan dengan player yang bernama AS tersebut.
Satu tahun berjalan, dengan permainan yang terkesan membosankan, Shoote Sun terdampar di Kerajaan bernama Kerajaan Black Dessert. Petunjuk tentang Special Quest yang dirinya dapatkan menuntun dirinya sampai pada Kerajaan ini. Dirinya dipertemukan dengan sebuah organisasi bernama Kuil Cahaya.
Shoote Sun pun akhirnya berhasil menyelesaikan Special Quest yang dirinya dapatkan. Dirinya berhasil menggagalkan sebuah kelompok penyembah Demon yang sedang melakukan ritual pemanggilan Demon di Kerajaan Black Dessert bersama dengan para anggota Kuil Cahaya.
Shoote Sun berhasil mendapatkan gelar Priest dari Kuil Cahaya untuk kontribusinya menyelesaikan Quest. Membuat dirinya kini memiliki posisi yang lebih tinggi daripada seorang pendeta di Kuil Cahaya. Bahkan Shoote Sun memiliki satu pasukan pelindung Kuil Cahaya tersendiri bernama Three Light Pilar. Bersama kedua Priest lainnya, Shoote Sun berhasil mengembangkan Kuil Cahaya di Kerajaan Black Dessert dan menghabisi ajaran penyembah Demon yang ada di Kerajaan tersebut.
Shoote Sun juga berhasil menjalin kerja sama dengan pihak Kerajaan Black Dessert dan Guild yang berkuasa di Kerajaan Black Dessert, Sun Flower Guild. Membuat perkembangan Kuil Cahaya menjadi lebih mudah untuk digencarkan.
Semua nampak lancar? Tapi tentu tidak... Kali ini dirinya dan kedua Priest harus menghadapi perlawanan Bangsa Titan yang menolak ajaran Kuil Cahaya dengan keras. Berbulan bulan pertarungan antara Bangsa Titan dengan Kuil Cahaya dan Sun Flower Guild sering terjadi. Kekuatan bangsa Titan benar benar tidak bisa diremehkan. Fisik dan postur tubuh mereka jauh lebih kuat daripada seorang Angel sekalipun.
Pertarungan antara Kuil Cahaya dengan Bangsa Titan bagaikan pertarungan yang tidak akan pernah ada akhirnya.
"First Priest... Apa yang mengganjal pikiranmu?" Suara seorang pria mengalihkan lamunan Shoote Sun yang tengah memikirkan bagaimana awal awal dirinya bermain di New World. Semua terasa begitu berbeda dengan saat ini, meskipun dirinya memiliki posisi tinggi dan berusaha menegakkan kebenaran saat ini. Namun tidak bisa dirinya sangkal, dirinya merasakan rindu akan petualangan yang sempat dirinya dulu rasakan.
"Ah... Second Priest... Kamu mengejutkanku..." Shoote Sun mengalihkan pandangannya pada pria yang kini berdiri di sampingnya.
"Jangan terlalu dipikirkan... Kita pasti bisa mengalahkan Bangsa Titan itu..."
Mendengar kata kata Second Priest, Shoote Sun hanya mengerutkan dahi. Di dalam hatinya dirinya hanya menertawakan pria di sampingnya yang mencoba memberikan kesan bisa membaca isi pikirannya.
"Aku tidak pernah ragu tentang hal itu..." Shoote Sun menjawab dengan nada cuek seperti biasanya. Sangat jarang sekali siapapun di Kuil Cahaya bisa melihat senyuman dari gadis berambut silver yang dikenal sebagai First Priest.
"Jika Anda tidak ragu... Lalu apa yang menjadi beban pikiranmu saat ini?" Second Priest sedikit mengerutkan dahi mendengar jawaban dari Shoote Sun.
"Itu bukan urusanmu..." Jawab Shoote Sun sembari meninggalkan tempatnya berdiri. Meninggalkan Second Priest yang hanya bisa menatap kepergian First Priest dari sampingnya.
__ADS_1
"Sombong sekali..." Batin Second Priest. Jika bukan karena posisi First Priest lebih terpandang daripada dirinya, mungkin Second Priest sudah menyerang First Priest barusan.